
Pov. Bu Tri
Dua hari yang lalu anak ku Farenzy baru pulang dar Turki, negara asal papanya. Tapi semenjak kepulangannya aku belum bertemu dengannya. Padahal hari itu, ia berjanji akan menemuiku dirumah. Memang saat kami bertemu aku sedang terburu-buru pergi menunggalkan kantor karena lelah melihat tingah laku suamiku. Tapi waktu itu aku bertemu dengan Farenzy saat aku baru saja akan mengeluarkan mobilku dari area perkiran sedangkan mobul Farenzy baru saja akan masuk. Ia menemui ku dan menanyakan aku akan kemana karena katanya ia sengaja menemui aku dan papanya di kantor karena kangen dengan kami oranf tuanya. Ku katakan padanya bahwa aku sedang cepat-cepat mau ada meeting dengan klien beberapa menit lagi. Syukur ia pun mengerti dan akhirnya ia pergi menemui papanya sendiri.
Ia tak tahu kalau saat itu sebenarnya aku tidak pergi meeting melainkan pergi ke klub bersama beberapa kawan lama ku sekedar menghilangkan kepenatan yang menggunung di hatiku. Entah apa dan bagaimana pertemuan Farenzy dengan papanya aku juga tidak menanyakan lebih lanjut baik kepada Farenzy maupun dengan papanya.
Namun meski begitu, aku dan suamiku sepakat untuk menutupi segalanya serapat mungkin permaslahan kami didepan anak-anak. Sehingga mereka tidak ada yang tahu kemelut apa yang sedang terjadi antara aku dan papa mereka. Seperti halnya tadi malam, kami bersama-sama mengambil keputusan untuk mengangkat Aini menjadi salah satu anggota keluarga kami didepan anak kami Nasya. Ya, karena ini merupakan permintaan dari Nasya sendiri supaya kami mengangkat Aini menjadi anak angkat kami. Dan itu kami sama-sama sudah menyetujui keputusan tersebut. Farenzy kami kabari setelah keputusan itu deal kami ambil.
Saat ini hatiku seperti sudah membeku. Tak ada lagi yang ku harapkan dari laki-laki yang sekarang ini masih berstatus sebagai suamiku. Segala rasa sepertinya sudah hilang dan musnah. Ia bahkan tak pernah menghargaiku. Dia berbuat semaunya saja di hadapanku. Sungguh kalau aku boleh jujur, tak ada lagi alasan bagi ku untuk bertahan. Karena kalau aku pikir-pikir masalah anak-anak mereka berdua sudah dewasa, mereka pasti akan tahu dengan sendirinya tentang mana yang benar dan mana yang salah. Mereka juga sudah mempunyai kehidupan mereka masing-masing. Hanya saja mereka belum menikah. Dan Nasya yang masih kuliah.
"Ren kamu kapan mau menemui mama?" Tanyaku pada Farenzy saat ia menelphon kubdan menanyakan kabarku.
"Nanti ya ma, untuk saat ini Farenzy masih sibuk-sibuknya ma ngurus perusahaan yang baru saja buka cabang baru." Itu jawaban dari putraku. Sebenarnya aku sedih mendengar jawavan itu karena ia lebih mementingkan perusahaannga ketimbamg aku.
Tapi, ya sudahlah. Mungkin benar putraku sedang sibuk. Akunpun tak mau mengganggunya. Toh, perusahaan yang ua kelola ialah perusahaannya sendiri. Dan justru aku harus bangga padanya. Karena banyak dinluaran sana anak-anak yang sudah seumurannya yang masih terkatung-katung mencari pekerjaan atau bahkan mungkin ada juga sebagian yang masih menggantungkan diri dengan orang tua. Sedangkan putraku, ia anak yang sangat mandiri dan juga cerdas. Karena diusianya yang masih muda ia sudah mampu membangun dan mengelola perusahaannya sendiri.
Pagi ini aku tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Aku sudah terbiasa dengan tatapan iba para karyawan kami. Aku mengerti apa pun yang mereka pikirkan tentang kehidupan rumah tangga kami bagiku itu adalah lumrah. Karena apa yang mereka saksikan di kantor ini seperti sebuah serial drama. Aku dan suamiku bekerja di kantor perusahaan milik kami dan suamiku berselingkuh dengan sekretarisnya secara terang-terangan didepan mataku. Dan aku hanya diam saja tak banyak yang bisa ku lakukan selain membiarkannya melakukan semua sepuasnya. Hatiku sudah ikhlas dengan apa yang ia lakukan.
Tapi aku harus lebih kuat lagi menghadapi semua kenyataan ini, karena mulai hari ini aku berangkat kerja bersama Aini. Aini akan mulai bekerja di perusahaan kami. Tapi tidak sekantor dengan aku dan suamiku. Ia akan kami pekerjakan dinkantor cabang yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kantor pusat tempat aku dan suamiku berada.
__ADS_1
"Ai, ini kantor pusat kita. Tempat mama dan papa bekerja. Tapi nanti kamu tidak disini melainkan di kantor cabang ya. Setelah ini mama akan antar kamu ke tempat kerja kamu."
"Iya ma."
Aku mengenalkan Aini dengan beberapa orang penting dinperusahaan kami, tujuannya supaya mereka bisa membimbing Aini dalam menjalankan pekerjaannya nanti. Dan aku lihat Aini pun begitu antusias dan bersemangat. Setelah selesai berkeliling, dan berkenalan dengan para karyawan di kantor pusat aku membawa Aini ke kantor cabang dimana ia akan bekerja nantinya.
Sesampai di kantor cabang tersebut aku juga melakukan hal yang sama dengan yang tadi aku lakukan pada Aini di kantor pusat. Aku mengenalkannya pada beberapa staf penting dan mengajaknya berkeliling mengenalkannya seluk- beluk ruangan yang ada di kantor cabang ini. Hanya saja disini aku mengumpulkan semua karyawan tanpa terkecuali dari kepala cabang hingga scurity dan OB lalu meminta Aini untuk mengebalkan dirinya didepan mereka semua.
Lalu mereka satu persatu juga berkenalan dengan Aini serta menyebutkan pada bagian mana mereka bertugas. Setelah selesai semuanya aku dan kepala cabangnya mengantar Aini ke ruangan kerja yang akan ia gunakan. Lalu aku meminta kepala cabang tersebut untuk perlahan mengajarkan Aini tentang pekerjaannya yang akan Aini jalani nantinya yaitu sebagi sekretaris di kantor cabang ini.
"Ma, Aini sangat berterimakasih atas posisi yang sekarang mama dan papa berikan kepada Aini. Terimakasih atas kepercayaan ini ma, semoga Aini bisa menjaganya hingga nanti."
"Aini, hari ini kamu mulai bekerja disini ya. Mama harap kamu bisa mempelajari segalanya dengan cepat dan mudah. Oya sebentar lagi mama.akan kembali ke kantor pusat kamu tinggal disini. Nanti saat jam pulang ada Farenzy yang akan menjemputmu. Mama akan memintanya untuk itu."
"Iya ma."
"Mama pergi dulu ya Ai."
"Iya ma. Hati-hati dijalan."
__ADS_1
"Oke sayang."
Kemudian aku pergi meninggalkan Aini diruanganya. Aku sudah menyerahkan segala keperluan Aini kepada beberapa orang kepercayaan ku untuk membantu Aini menjalankan fungsinya sebagai sekretaris baru. Aku juga sudah menelfon putraku Farenzy untuk menjemput Aini saat jam pulang kerja nanti.
Kini aku kembali ke kantor pusat untuk kembali melakukan pekerjaan ku.
"Sudah selesai ma mengantar Aini?" Tiba-tiba aku dikagetkan dengan kedatangan suamiku dan sekretaris plus nya di ruanganku. Kenapa aku sebut Lina Wong sebagai sekretaris plus? Ya, karena ia disini menjalankan dua pekerjaan sekaligus yaitu sebagai sekreraris perusahaan kami dan sebagai wanita simpanan suamiku.
"Ah, kalian rupanya. Iya sudah selesai. Aini sudah mulai bekerja disana. Kalian ada perlu apa?."
Jawabku dan kemudian aku bertanya balik.
"Tidak ada apa-apa cuma mau izin keluar sebentar mencari makan." Jawab suamiku.
"Makan? Bukankah sekarang belum waktunya makan siang?" Tanyaku lagi.
" Iya tapi memang belum tapi kami ingin keluar lebih awal supaya bisa berduaan lebih lama."
Dasar ib**s..! Geramku dalam hati. Sungguh keterlaluan. Tapi tak da lagi rasa cemburu dihatiku. Karena hatiku sudah membatu dengan tingkah laku suamiku.
__ADS_1
Bersambung...