Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 12. Sahabat Baru


__ADS_3

Pov. Nasya


Selama sepuluh tahun aku nenek dan juga kakakku ikut mama dan papa pindah ke Hong Kong ini baru sekarang aku merasa punya kenalan dan berteman senyaman ini. Namanya Aini, sebenarnya ia hanyalah Asisten dirumah kami. Mama membayarnya khusus untuk mengurus nenek yang sakit. Tapi dia sangat pandai dan lincah. Dia juga sangat ramah,sehingga ia bisa dengan mudah kenal dan dekat dengan siapa pun. Termasuk juga aku. Sebenarnya dari awal mama pernah beberapa kali mengenalkan aku dengan anak-anak keturunan indonesia juga disini kata mama supaya aku betah. Tapi tak satu pun dari mereka yang bisa betah berteman dengan ku ataupun aku betah berteman dengan mereka. Semua pertemananku tak ada yang berlangsung lama.


Mama selalu memarahiku saat mama tahu kalau aku ada masalah dengan teman-temanku. Sebenarnya aku tak pernah mau membuat masalah lebih dahulu. Tapi mereka. Anak-anak Hong Kong ini. Mereka selalu menganggapku sebagai orang asing. Bagiku mereka tak ada yang pantas untuk berteman denganku. Tapi hanya ada satu orang yang selalu mau menerimaku apa adanya sedari awal kepindahan kami. Bahkan sebelum aku mendaftar di sekolah baruku waktu itu, dia sudah mulai menunjukan perhatiannya padaku. Namanya Kim Young Han. Dia anak laki-laki yang juga tinggal di apartemen kami tapi hanya berbeda lantai. Kami tinggal di lantai 12 dan Young Han begitu ia biasa di sapa, bersama keluarganya tinggal di lantai 2. Awal perkenalan kami ialah saat aku masih baru disini. Mama menyuruhku untuk turun membuang sampah lalu saat aku naik aku lupa kami tinggal di lantai berapa. Sedangkan di lift hanya ada Young Han dan aku. Begitu Young Han keluar dari lift di lantai dua aku pun ikut keluar juga. Tapi ternyata aku salah tempat keluar lift. Beberapa kali aku mencoba mencari rumah kami tapi aku tak menemukannya. Mau bertanya pada scurity tapi aku belum lancar berbahasa kantonis. Setelah lumayan lama tak kunjung bisa pulang akhirnya aku menangis di samping pintu lift. Young Han yang melihatku datang menghampiri dan bertanya.


"Lei co kan met ye? (Apa yang kau lakukan?). Tanya Young Han padaku. Aku terus saja menangis.


"Lei hai pin wai? (Kamu siapa?), Jeng man, lei wan pingkoa (kamu cari siapa?) Dan aku masih tetap menangis.


"Yao tantinwa? ( Mau menelpon? )" Dia menyodorkan handphone miliknya padaku. Aku yang melihatnya begitu baik dan perhatian segera mengambil handphone yang ia sodorkan padaku. Aku memencet nomor hp mama beberapa saat kemudian mama mengangkatnya.


"Wei...(halo)." Sapa mama


"Mama.. aku nggak bisa pulang.." kataku sambil menangis.

__ADS_1


"Nasya, kamu dimana? Aku nggak tahu ma aku ada dimana sekarang." Jawavku sambil terisak.


"Kamu tahukan apartemen kita yang mana?" Tanya mama.


"Iya ma, nasya tahu. Tapi Nasya lupa kita tinggal di lantai berapa." Jawabku lagi.


" Ini kamu pakai hp siapa?"


"Nggak tahu ma ada anak laki-laki seumuran Nasya dia tadi merhatiin Nasya dia nanya-nanya Nasya, lalu ia ngasih Nasya Hpnya supaya Nasya menelfon meluarga."


"Owh.. ya udah, coba kamu kasih dulu hp ini ke yang punya. Mama mau bicara sama dia."


Lalu entah apa yang mama katakan pada young han, tapi tiba-tiba young han menarik lenganku dan kamasuk ke lift. Kemudian young han memencet tombol lift dan ia mengantarku pulang.


"Lei kiu meng-menga? (Siapa nama mu?)." Tanya Young Han padaku.

__ADS_1


"Ngo kiu Nasya. (Namaku Nasya)." Jawabku. Lalu ia pun memberi tahuku namanya Kim Young Han biasa di sapa Young Han.


Dari saat itulah kami berteman. Kami sering bertemu walau hanya untuk bermain skuter, ataupun bermain bola basket di lapangan apartemen kami. Aku juga pernah diajaknya beberapa kali bermain kerumahnya. Mama, papa,adik, dan kakak, juga kakek dan nenek young han mereka semua sangat baik dan ramah.


Hingga saat ini aku dan Young Han masih berteman tapi karena beberapa kali mama memarahinya, menuduh Young Han berpengaruh buruk padaku. Young Han akhir-akhir ini seperti menjaga jarak denganku. Hingga aku sangat sering merasa kesepian. Aku seperti kehilangan sahabatku. Aku tak punya lagi tempat untuk sekedar berbagi cerita. Hingga baru-baru ini aku mengenal sosok Aini.


Pertama aku melihatnya saat akuasih kesel dengan mama. Di dapur pagi itu. Ya aku sengaja membanting-banting semua barang apa saja yang ada didekatku. Sebenarnya sih tidak ada tujuan sama sekali hanya pelampiasan kekesalanku dengan mama saja. Pagi itu aku lihat dia berdiri didekat meja makan. Dalam hati aku sempat bertanya siapa gadis ini? Sepertinya dia orang baru dirumah kami. Apa mama mencari Asisten baru lagi sebagai pengganti Lenny. Tapi aku lihat raut wajahnya dia bukanlah orang Chinise, wajah melayu indonesianya sangat kentara. Tapi pagi itu aku masih malas mau bercakap-cakap. Aku biarkan saja ia membersihkan pecahan gelas yang sengaja aku pecahkan.


Barulah keesokan harinya aku mencoba untuk mendekatinya. Aku sengaja mendatanginya saat ia sedang menyuapi nenekku makan. Saat itulah aku berkesempatan untuk mengenalinya. Aku ajak ia berkenalan, bercerita banyak hal, dan sejak saat itu aku dan Aini mulai akrab. Bagiku dia bukan lagi hanya sekedar Asisten dirumah kami untuk mengurusi nenek ku melainkan juga adalah teman sekaligus sahabat baruku. Aku mengusulkan supaya Aini masuk kursus. Aku sudah bilang ini ke mama dan papa, papa dan mama juga menyetujuinya. Kata papa dan mama sebaiknya Aini dimasukan ke kurusus Bahasa Ingris dan Komputer saja.


"Memangnya mengapa ma, pa, kok kursus komputer dan juga bahasa indris bukankah itu tidak berkaitan dengan pekerjaan Aini?" Tanyaku saat itu pada mama dan juga papa.


"Papa dan mama juga menilai Aini anak yang sangat baik, ia pantas mendapatkan itu Nasya. Kalau nanti nenekmu sampai sembuh totalkan kita tidak bitih tenaganya lagi untuk merawat nenekmu, atau kita bisa ganti Asisten lain. Dan Aini bisa kita minta kerja di perusahaan kita. Lumayankan gajinya akan lebih besar jika ia bekerja di perusahaan kita ketimbamg hanya sebagai Asisten untuk menjaga nenekmu. Ini nanti akan papa beritahukan juga kepada pihak Agennya. Semoga Agennya mengizinkan. Karena ini demi kajuan Aini." Terang papa pada ku."


Dan beberapa hari setelah itu Aini didaftarkan kursus seperti yang mama dan papaku usulkan. Ia mendaftar dengan diantar oleh kakakku Farenzy. Tapi kakak ku pernah bilang ke aku bahwa Aini jangan sampai tahu kalau dia adalah anak dari mama dan papa kami. Entah apa lagi rencana kakakku, ia tidak memberitahunya padaku.

__ADS_1


Setiap aku pulang kuliah aku selalu menemuinya walaupun sekedar untuk curhat tentang kegiatanku dikampus. Begitupun malam hari sebelum tidur kalau Aini sudah beres semua pekerjaannya aku ajak ia untuk saling bercerita atau pun sekedar untuk makan mie sambil menonton tv. Aku berencana diwaktu liburnya nanti aku akan mengjak Aini sekali-kali bejalan-jalan meliling Hong Kong supaya bisa menambah wawasannya.


Bersambung...


__ADS_2