
Pov.Farenzy
Malam ini adalah awal musim dingin, baru saja aku mengantar Aini pulang. Setelah tadi dia meminta ku untuk menemaninya pergi ke Victoria Park untuk melihat salju pertama turun. Katanya dia belum pernah melihat salju. Dan katanya juga dia selalu mengidam-idamkan menyentuh salju pertama seperti halnya yang ada dalam drama-drama korea yang sering ia lihat di tv.
Ah,namanya juga perempuam selalu saja begitu. Selalu menginginkan apa yang mereka lihat nampak indah dan menyenangkan maka itu pula yang mereka harapkan yerjadi di kehidupan nyata. Padahal sebenarnya tidak selamanya apa yang terlihat indah pada orang lain belum tentu juga seindah yang kita rasakan jika kita mengalami hal yang sama. Bagi ku sifat seperti itu adalah manusiawi, dalam kondisi ini sama sekali tidak ada yang bisa di salahkan.
Kedekatan hubungan ku dengan Aini begitu sangat aku rasakan. Tapi aku masih saja berusaha untuk menyembunyika jati diriku dari Aini. Dan tetap merahasiakan hubungan kami dari keluarga ku.
Tapi meski begitu aku kadang tak sengaja seolah ingin memberi tahunya tentang siapa sebenarnya aku. Seperti saat aku memberi tahunya bahwa besok aku akan pergi ke Turki. Hampir saja aku mengatakan kalau aku pergi untuk urusan bisnisku. Tapi untungnya otak ku selalu sigap sehingga selalu sudah tersedia jawaban untuk tiap pertanyaan dari Aini. Waktu itu dia bertanya memangnya aku punya bisnis apa hingga sampai harus pergi ke turki. Lalu aku spontan menjawab bahwa sebenarnya itu adalah bisnis milik pak Saeful (papaku) dan aku hanya sekedar disuruh meninjau saja.
Dari itu aku mulai hati-hati saat berbicara atau pun bercerita pada Aini. Tapi tetap saja kadang aku tak sengaja mengatakan secara jujur padanya. Walaupun entah dia curiga atau tidak, entah dia percaya atau tidak dengan alasan-alasan ku selanjutnya yang jelas aku selalu berusaha untuk menutupnya rapat-rapat.
Dan bahkan baru saja tadi saat kami berdua sedang berada di mobil ketika perjalanan pulang dari Victoria Park menuju ke apartemen orang tuaku, Aini bertanya padaku apakah aku pernah melihat salju sebelum kami pindah ke kota Hong Kong ini. Dan mulutku langsung menjawabnya dengan mengatakan 'iya pernah', dengan nada tidak percaya lalu Aini bertanya lagi 'kapan?' gelabakan aku menjawabnya dan perlahan aku mencoba untuk menjelaskan padanya bahwa sebenarnya aku adalah ini keturunan Indo-Turki.
Lalu setelah itu aku baru merasa sedikit lega karena beruntung Aini tidak bertanya lagi tentang hal itu. Tapi tetap saja aku harus berhati-hati semoga lain kali jangan sampai mulutku ini kembali mengatakan hal-hal yang sebenarnya ada pada ku. Aku takut kalau terlalu sering kecolongan Aini akan curiga.
Sesampai dirumah aku segera mandi dengan Air hangat, lalu menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuh ku. Kemudian aku membawa sebuah kasur lipat ke tempat dekat perapian tersebut. Sambil bersantai dan menghangatkan tubuhku dan membuka laptop ku, aku memeriksa beberapa berkas yang masuk di perusahaan hari ini dan mulai menyiapkan bahan untuk pekerjaan yang akan aku tinjau saat di Turki besok.
Hemm.. besok aku harus pergi ke Turki untuk meninjau secara langsung perkembangan cabang perusahaan ku yang ada di sana. Dan jika semua berjalan lancar maka aku berencana untuk menambah dua anak cabang sekaligus disana. Sementara aku peegi ke Turki pekerjaan ku yang ada di Hong Kong ini akan aku serahkan kepada Asisten ku di kantor.
__ADS_1
Aku hampir saja lupa, bahwa aku harus mengusulkan kepada mama dan papa untuk segera memberi pekerjaan baru pada Aini. Kasihan juga dia jika terlalu lama menggantung. Ya memang sih untuk sementara ini mama dan papa ku masih tetap memberikan gaji pada Aini sesuai dengan tugasnya untuk mengurus nenek. Tapi aku paham apa yang Aini rasakan ia merasa tidak enak seolah ia memakan gaji buta. Karena saat ini nenek ku sudah betul-betul sembuh dari sakit stroke yang dulu sempat ia derita selama beberapa tahun.
Dan sekarang nenek sudah tidak butuh pengurusan apa pun lagi dari Aini. Sedangkan aku sangat keberatan kalau sampai Aini harus di kembalikan ke agennya dan dicarikan lagi pekerjaan yang lain oleh pihak agennya. Aku khawatir, takut bagaimana kalau nanti dia tidak mendapatkan majikan baru yang baik padanya. Aku tidak mau kalau Aini sampai mendapatkan perlakuan-perlakuan yang tidak mengenakkan dari majikan barunya tersebut.
Maka dari itu aku harus bisa meyakinkan mama dan papa bahwa Aini bisa mereka pekerjakan di perusahaan milik papa. Karena bukankah mama dan papa ku sendiri juga pernah memasukan Aini ke kursus dan mama juga papa sudah tahu bagaimana kualitas seorang Aini. Aini bisa menjadi lulusan terbaik waktu itu, berkat ketekunan dan kegigihannya.
Ya, aku mantap memikirkan hal itu, Aini harus bekerja di perusahaan papa dan hal itu akan segera aku usulkanpada mama dan papa sepulang ku dari Turki nanti, kemudian setelah itu nanti jika Aini sudah bekerja disana perlahan-lahan akan aku beritahu ia bahwa sebenarnya aku ini adalah pewaris utama dari majikannya. Dan aku juga berencana untuk memberi tahu publik tentang hubungan kami. Terutama memberitahukan kepada keluarga ku terlebih dahulu.
Malam semakin larut, perlahan suhu dingin yang kurasa semakin berkurang lalu kuatikan perapian ku dan aku segera pergi ke kamar untuk tidur. Karena besok pagi aku akan melakukan perjalanan ku Turki.
Alarm subuhku berbunyi, membangunkan aku dari lelap tidurku semalam. Aku segera memanaskan air untuk mandi. Kemudian aku langsung mandi lalu sholat subuh dan kemudian aku tidak kembali tidur, tapi aku memeriksa kembali barang-barang dan juga berkas-berkas yang akan ku bawa.
"Halo, Assalamualaikum selamat pagi cantik."
"Iya, halo waalaikumsalam. Iih.. pagi-pagi sudah menggoda ku."
"Lalu apa kamu tergoda dengan sapaanku?"
"Ya, nggak lah. Biasa aja."
__ADS_1
"Masa iya?"
"Iya lah mas."
"Oya sayang, sebentar lagi aku mau berangkat ke Turki. Kamu disini jaga diri baik-baik ya."
"Iya mas, jangan khawatir. Mas jalankan saja apa yang menjadi tugas mas. Jangan di sia-siakan kalau mendapat kepercayaan besar seperti itu. Pak Daeful dan bu Tri itu orang-orang yang sangat baik. Jadi jangan sampai mas mengecewakan mereka."
"Oke sayang, oya sudah dulu ya aku mau sarapan. Nanti kita tetap komunikasi melalui medsos."
"Oke mas. Nanti hati-hati ya di jalan."
"Iya sayang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku menutup saluran telephone kami. Setelah aku mengisi perutku dengan sarapan aku segera mengambil koperku dan bersiap untuk pergi ke bandara. Tapi sebelum itu aku tetap menyempatkan untuk menghubungi asistenku di perusahaan untuk meyakinkan bahwa dengan kepergian ku untuk beberapa hari ini tidak akan ada hal-hal lain yang mengakibatkan kerugian pada perusahaan. Dan asistenku pun menjamin hal itu tidak akan pernah terjadi. Lalu baru lah aku pergi ke Turki dengan tanpa membawa sedikit pun beban rasa was-was pada perusahaan yang aku tinggalkan.
Bersambung..
__ADS_1