
Pov. Tuan Syaeful
Beberapa hari yang lalu Farenzy putra sulungku baru saja pulang dari Turki negara asalku. Sepulangannya dari Turki sesuatu yang sangat tidak pernah aku bayangkan apa lagi harapakan telah terjadi. Ya, waktu itu paginya aku bertengkar hebat dengan Tri isteriku. Sebenarnya masalah yang terjadi bukanlah masalah baru. Melainkan masalah lama. Yang sepertinya memang senghaja Tri besar-besarkan. Katanya dia tidak tahan melihat kenakalan ku bersama dengan sekretarisku, Lina Wong. Ah, sejak kapan juga Tri punya rasa cemburu sebesar itu hingga ia bisa-bisanya menyebut Lina sebagai pelakor. Apa dia baru sadar. Kemana saja ia selama ini? Dasar bo**h. Dia pikir aku mau peduli dengannya, hemmm.. tidak akan. Cuiih..!
Setelah pertengkaranku dengan Tri tak selang beberapa waktu ia pun pergi meninggalkan kantor, entah ia pergi kemana aku tak mau tahu tentang itu. Malah aku bersyukur tidak ada dia dikantor aku dan Lina bisa leluasa berduaan. Pikirku.
Tapi ternyata aku salah, masalah yang lebih besar ternyata datang tiba-tiba tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Saat aku dan Lina hendak keluar dari kantor setelah sebelumnya aku sudah lebih dahulu memastikan kalau Tri sungguh sudah pergi jauh dari kantor, tapi saat aku dan Lina hendak keluar dari lift ternyata anak ku Farenzy datang. Kejadiannya menurut ku sangat dramatis. Bagaimana tidak, ketika pintu lift terbuka dan Lina menggandeng mesra tanganku sambil ia bermanja di pundakku saat itu pula Farenzy tepat berada di hadapan kami. Kami sama-sama terkejut.
"Papa..!"
"Farenzy..?"
Kami sama-sama terkejut, dan mungkin juga kami sama-sama tidak percaya dengan apa yang nampak dihadapan kami masing-masing. Aku tak percaya bahwa saat ini ada anakku memergoki kelakuan burukku yang selama ini aku sembunyikan. Mungkin begitu juga dengan Farenzy, putraku ini juga terkejut karena ia tidak yskin bahwa yang saat inu sedang berhadapan dengan aku ayahnya dalam posisi bergandengan mesra dengan wanita lain bukan mamanya.
__ADS_1
"Papa memalukan..!" Bentaknya dengan tegas lalu kembali berbalik berjalan menuju mobilnya yang ada di area parkir. Dan aku tetap berusaha untuk mengejarnya.
"Ren, dengar papa dulu. Papa bisa jelaskan ini semua salah paham. Semua tidak seperti yang kamu lihat. Renzy, Ren..! Tunggu papa..!" Kemudian aku menarik lengan Farenztmy memaksany untuk menghentikan langkah.
Ia berhenti, dan membalik kan badan menghadap ke arah ku.
"Jangan sentuh aku..! Aku malu punya papa seperti kamu ."
"Tidak nak, jangan marah dulu, dengar papa akan jelaskan. Dia hanya.."
Putraku Farenzy tidak mau mendengarkan ucapanku. Ia tetap terus melangkah pergi mendekati mobilnya dan ia masuk tanpa peduli dengan panggilanku.
Kemudian ia memacu laju mobilnya keluar dari area parkiran. Dadaku terasa sesak. Menyesal. Mengapa hal semacam ini harus terjadi. Sejak kecil putraku tak pernah sedikitpun membantah apa lagi melawanku. Ia sangat menghormatiku dan mempercayaiku. Tapi mungkin hari ini adalah akhir dari semuanya. Aku telah mengecewakannya. Mungkin dia tak akan pernah mempercayaiku seperti sebelumnya. 'Dasar ceroboh..!' aku membentak diriku sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, Lina masih berdiri terpaku didepan pintu keluar. Disatu sisi hatiku menyalahkannya mengapa ia tadi harus memamerkan kemesraan di tempat umum, tapi disisi lain juga membelanya ia tidak bersalah tapi akulah yang bersalah. Aku terlalu memanjakannya hingga ia kini semakin lama semakin berani menunjukan siapa dia dan ada hubungan apa antara dia dan aku kepada semua orang.
Putraku Farenzy pasti sangat terluka, tapi aku tak tahu apa lagi yang bisa aku lakukan. Karena apa yang baru saja ia lihat adalah benar adanya. Ya, aku telah menghianati pernikahanku dengan mamanya. Tapi tidak, aku tidak berhianat. Tri sendiri sudah tahu dengan hubungan ku dan Lina dan sepertinya tak ada masalah baginya. Hanya saja anak-anak kami yang selama ini tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi antara hatiku dan mama mereka. Putraku Farenzy selama ini selalu membangga-banggakan sosok diriku sebagai papanya dia juga sangat menyegani dan menghormati serta sangat mempercayaiku. Tapi entah kalau sekarang setelah peristiwa tadi. Masih adakah segala kepercayaan Farenzy tersebut untuk ku.
Lina Wong datang menghampiriku kemudian ia kembali bergelayut manja di lenganku. Aku tak pernah bisa menolak saat ia melakukan kemanjaan-kemanjaannya kepadaku, meski sebenarnya dihatiku sedang membara api kemarahan namun seketika itu juga langsung padam. Ia menarik ku seolah memintaku untuk tak usah peduli dengan siapa pun bahkan dengan putraku sekali pun. Hanya boleh peduli dengannya saja. Lalu kami berjalan menuju parkiran dan aku segera mengambil mobilku kemudian melaju bersama Lina menuju kesebuah Restourant dimana kami berdua biasa makan siang.
Sebenarnya pikiranku sedang kacau balau tak menentu. Antara marah, khawatir putra ku melakukan hal-hal yang membahayakan, sedih, menyesal juga entah masih banyak lagi yang lainnya semua perasaan ku campur aduk tak menentu. Aku ingin segera pulang menyusul Farenzy dan memohon padanya supaya ia bisa memaklumi kesalahanku dan berharap ia bisa menerima kenyataan yang ada. Namun kemanjaan Lina yang manis mampu menyudutkan segala rasa galau yang ada.
Aku dan Lina makan siang dengan tanpa halangan meski aku diselumuti seribu rasa yang tak menentu kadang datang kadang juga pergi tanpa peduli dengan angkuhnya seangkuh keegoisanku tak peduli dengan hati mereka yang mungkin sangat mengharapkan kehadiranku untuk sepanjang umur mereka. Tapi inilah Cinta, sebuah rasa dimana tak ads yang pernah tahu kapan ia akan datang dan kapan ia akan pergi. Hanyankehambaran yang tiba-tiba menjadi isyarat ketiadaannya. Sulit dipercaya memang, tapi inilah relasi hidup. Yang mana tak selamanya apa yang tadinya kita rasa indah akan selamanya indah. Dan tak selamanya yang kita miliki akan menjadi milik kita, akan ada waktunya semua akan hilang dan pergi meninggalkan kita.
Meski aku sudah terbiasa memamerkan kemesraanku dengan Lina di depan Tri yang hingga kini madih bersetatus sebagai isteriku, namun beda lagi dengan Farenzy. Entah kenapa tiap kali aku berada dalam kesendirian dan aku teringat dengan putraku tersebut tubuhku seakan langsung gemetar. Seakan ada sebuah ketakutan yang menghampiri ku.
Hingga aku mencoba untuk memberanikan diri untuk berbicara padanya meski hanya melalui saluran telephone. Berulang kali aku mencoba untuk menelponnya namun tak satu pun panggilanku yang ia angkat. Bahkan aku juga mengirimkan pesan melalui WA tapi tidak juga ia balas. Hanya ia baca saja. Lalu ku kirimkan pesan suara untuknya. Berharap putraku akan mengerti dan memahami kenyataan yang ada bahwa aku sudah tidak mencintai mamanya hanya saja aku mencoba untuk tetap mempertahankan rumah tangga kami demi dia dan adiknya.
__ADS_1
Tapi pesan suara yang aku kirimkan pun tak ada tanggapan darinya. 'Farenzy, jangan benci papa nak..!' seruku dalam hati.
Bersambung..