Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.8 Kursus Komputer dan Bahasa Ingris


__ADS_3

"Aini sini, kami mau bicara." Bu Tri memanggilku.


Badanku mulai panas dingin. Ada apa. Apa aku pernah berbuat salah. Apa aku mau di pecat. Aduh..ada apa ini. Banyak sekali pertanyaan tak menentu di hatiku. Tapi baik lah apa pun itu akan aku hadapi, dan akan aku terima. Semoga hal baik yang akan terjadi.


"Iya bu." Sahutku dan aku langsung datang menghampiri bu Tri dan juga pak Saeful di ruang keluarga.


"Ai, apa kamu betah disini? Apa kamu suka tinggal dan kerja dengan kami?" Tanya bu Tri yang membuatku semakin penasaran.


"Iya bu. Aku betah juga suka kerja disini. Sama bapak dan ibu. Ada apa ya bu. Ibu kok tanya Aini begitu?". Aku memberanikan diri menanyakan balik.


"Owh..syukurlah kalau kamu suka dan vetah tinggal disini. Oya gimana ibuku menurut mu apa ada perkembangan kesehatannya?". Tanya bu Tri lagi.


"Alhamdulillah nenek sudah lumayan sehat bu. Sekarang dia sudah bisa bangun dan duduk sendiri ditempat tidurnya. Dan juga sudah bisa melatih bicaranya sedikit-sedikit supaya lidahnya tidak terlalu kaku." Jelasku apa adanya.


" Owh.. ya sudah kalau begitu. Kamu tamatan sekolah apa di indonesia?". Sekarang giliran pak Saeful yang bertanya.


"Saya tamatan SMA pak." Jawabku.


"Kamu bisa bahasa ingris dan komputer?" Bisa sedikit-sedikit pak.


" Aini kira-kira kamu bisa nggak ngatur waktu kamu." Bu Tri kembali bertanya.


"Maksudnya ngatur waktu yang gimana ya bu?"


" Begini Aini. Kami mau daftarin kamu kursus bahasa ingris dan komputer. Kenapa bahasa ingris dan komputer?. Karena kalau bahasa kantonis kami anggap kamu sudah bisa. Dan komputer itu juga tak kalah pentingnya. Kalau kamu bisa atur waktu untuk jaga ibu saya, dan kursus nanti akan ada bonus untuk kamu." Jelas bu Tri.

__ADS_1


Sementara itu aku hanya diam saja. Aku bingung mau jawab apa. Memang tugas menjaga nenek Siti tidaklah terlalu bamyak menyita waktuku. Ada jam-jam kosong di antara kegiatan-kegiatan ku bersama nenek Siti. Dan juga aku punya hari libur sehari dalam seminggu. Mungkin di waktu-waktu itu lah aku bisa menyempatkan diri untuk kursus seperti yang diinginkan oleh bu Tri dan pak Saeful.


Tapi bagaimana apa aku harus menjawabnya sekarang. Apa semua tidakterlalu terburu-buru. Dan untuk apa pula aku kursus bahasa ingris dan komputer. Apakah kedua kursus itu ada kaitannya dengan pekeejaan ku sebagai asisten penjaga jompo. Ah..sepertinya sama sekali tidak ada kaitannya kedu kursus itu dengan pekerjaanku saat ini.


"Bagaimana Aini apa kamu bisa mengatur waktumu?". Bu Tri membuyarkan lamunanku dengan kembali mengajukan pertanyaan padaku.


" Iya akan aku usahakan bu." Jawabku.


"Jangan hanya diusahaakan tapi kamu harus mau dan harus bisa ya. Kami benar-benar berharap kamu bisa menerima tawaran dari kami ini." Titah bu Tri.


"Iya bu aku mau." Jawabku.


"Nah... Begitu donk.. Saya suka kalau seperti ini." Bu Tri tersenyum seperti ada kelegaan di raut wajahnya.


"Iya bu. Terimakasih ya bu, pak." Aku berterimakasih kepada keduanya karena sudah memberikan kesempatan emas untukku mendapat ilmu yang berbeda di rantauan ini.


"Besok aku dan bapak mau kerja dan juga Nasya mau kuliah. Nanti seperti biasa kamu diantar Farenzy aja ya. Kayaknya besok dia bisa menyempatkan waktunya untuk mengantar kamu kursus." Bu Tri memberi tahuku.


Darahku seakan berdesir seirama dengan jantungku saat bu Tri menyebut nama Farenzy. Ada apa? Duh... Jangan ke GR an deh kamu Aini. Sebenarnya aku sangat ingin bertanya pada bu Tri tentang siapa sebenarnya Farenzy itu.Apa dia juga Asisten mereka sama sepertiku, kerabat mereka ataukah siapa. Tapi mulutku terasa begitu berat untuk bertanya. Lidahku terasa kaku. Entahlah yang jelas besok aku akan kembali bertemu dengannya. Si wajah tampan yang membuatku tak bisa tidur tiap kali habis bertemu dengannya.


Pagi ini aku sudah menyelesaikan semua tugasku untuk nenek Siti. Nenek siti sudah kududukan di tempat tidurnya. TV dikamarnya sudah ku hidupkan.


"Nek, Aini sebentar lagi mau keluar dulu ya. Mungkin sekitar satu atau dua jam. Ini permintaan dari bu Tri dan pak Saeful. Aini diminta untuk kursus. Maka nanti Aini akan pergi untuk ke tempat kursus itu nek. Nenek Aini tinggal dulu nggak apa-apa kan nek?" Aku memberi tahu nenek.


Nenek Siti hanya membalas dengan anggukannya dan senyuman serta berkata iya dengan nada yang masih kurang jelas dan masih serak.

__ADS_1


"Iyaa.." jawab nenek Siti dengan suara serak dan berat.


Tak lama setelah itu ada suara bell dari luar. Aku bergegas membukanya.


"Suadah siap Ai?" Tanyanya. Farenzy datang menjemputku.


"Sudah. Tunggu sebentar aku pamit dulu dengan nenek." Kataku pada Farenzy.


"Nek.. Aini berangkat dulua ya. Assalamualaikum." Aku berpamitan dan mencium punggung tangan nenek. Lalu aku dan Farenzy berangkat ke tempat kursus.


Sepanjang jalan aku nggak berani banyak bicara. Paling aku menjawab seperlunya kalau Farenzy bertanya saja. Aku berusaha untuk menguasai hatiku. Aku tidak mau terlalu dibawa oleh peraan yang semakin tidak jelas ini. Aku berusaha membantah segala hayal yang datang dengan pesona pria yang samasekali belum aku tahu jati dirinya.


Sesampai di tempat kursus Farenzy mendaftarkan aku. Lalu aku di panggil untuk di interview. Hari ini hari aku sekaligus mendaftar di dua tempat yaitu tempat kursus komputer dan yang kedua ke tempat kursus bahasa ingris. Kedua tempat itu berbeda tapi hanya berjarak sekitar 50meteran saja. Hari ini aku belum mulai belajar tapi besok.


"Ai, mungkin besok aku nggak bisa ngantar kamu ya.. kamu bisa kan berangkat sendiri?" Tanya Farenzy. Memberi isyarat kalau besok kami tidak bisa bertemu.


"Iya bisa." Jawabku.


"Ingatkan jalannya?" Tanyanya lagi.


"Iya ingat."


"Awas jangan sampai kesasar ya. Ini simpan nomor handphone ku. Kalau kamu ada perlu boleh hubungi aku kapanpun." Farenzy memberikan nomor handphonnya padaku. Aku menyimpan nomor handphone yang ia berikan.


Duh.. Farenzy,ada apa denganku. Aku sungguh nggak sanggup menahan detakan jantungku tiap kali bertemu dengan kamu. Rasanya jantungku mau copot. Sebenarnya kamu itu siapa sih.. aku pengen banget kamu ajakin aku ngobrol, curhat, dan semacamnya. Tapi kalau aku yang harus nagajakin kamu duluan rasanya nggak mungkin juga. Aku takut malah nanti kecewa. Kamu udah punya pasangan apa belum? . Sssttt Aini.. sadar. Jangan terlalu bermimpi. Fokus kerja Aini, Fokus kerja...!!!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2