
Pov. Tuan Syaeful
Aku mengutuk malam pergantian tahun kali ini. Aku benci semua kejadian memalukan yang terjadi padaku. Sungguh semua diluar kehendakku. Malam yang tadinya aku bayangkan akan kulalui dengan penuh keindahan dan kenikmatan namun yang terjadi malah sebaliknya.
Meski dalam segala tuduhan yang pihak kepolisian Hong Kong tuduhkan padaku semua sama sekali tidak ada bukti yang memojokan aku namun aku masih tetap harus menyiapkan segalanya agar aku bisa bebas dari sini secepatnya.
Menyesal, tapi siapa yang mau disalahkan selain diriku sendiri. Aku kecanduan bermain serong dengan wanita lain. Bahkan tanpa aku ingin tahu latar belakangnya. Siapa dan seperti apa dia dikehidupan sehari-harinya. Yang aku pikirkan hanyalah kesenangan dan kenikmatan semata.
Aku khilaf. Aku lupa akan kewajiban dan tanggung jawabku terhadap Tri sebagai isteri sahku. Aku bahkan sama sekali tak menganggapnya ada dalam kehidupanku. Hanya dengan alasan demi anak-anak maka aku bksa mempertahankan status perkawinan kami. Kini aku menyesal. Aku malu pada diriku sendiri terlebih dengan Tri.
Dia yang selama ini berulang kali aku buat menangis. Dia yang selalu mengingatkan aku untuk bertaubat namun semua selalu aku abaikan. Tak pernah sedikitpun aku mengubisnya. Aku bahkan menjadi monster yang selalu membuatnya mencucurkan air mata. Bahkan mungkin hingga kini segala perasaannya padaku sudah tak ada lagi. Mungkin sudah tak ada lagi rasa iba dihatinya untukku. Ku akui semua ini memanglah salahku.
Sementara Lina Wong wanita simpananku yang kini telah menjeratku kedalam permasalahan yang sebenarnya sama sekali tidak aku mengerti. Narkotikalah, prostistusilah entak apa lagi itu sebutan-sebutannya aku sama sekali buta akan hal-hal semacam itu. Aku sangat benci dan amarahku memuncak tiap kali aku melewati sel tempat ia ditahan. Aku muak, aku bahkan jijik mau muntah melihat wajahnya. Dasar penipu..! Aku tak akan tidur dan kedinginan dalam dinginnya jeruji besi seperti ini jika aku tidak kalap terlalu menginginkannya.
***
Sudah hampir satu minggu bamun hingga saat ini belum juga ada jengukan yang datang untukku. Apa kabar keluargaku? Apa mereka semua sudah sangat membenciku karena aku sudah terlalu mengecewakan mereka. Ataukah mereka sibuk diluar sana mencarikan kuasa hukum dan pengacara untukku. Atau ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk menjengukku.
Rasa bosan karena terkurung dalam sel tahanan ini mulai menjamur kedalam otakku. Aku ingin secepatnya keluar dari sini. Pikiranku melayang entah kemana. Aku khawatir akan keadaan keluargaku. Aku juga khawatir akan keadaan perusahaan.
Namun mendengar desas-desus dari para sipir bahwa wabah penyakit yang baru itu kini kian merebak. Kematian akibatnya semakin hari semakin banyak. Bahkan pemerintah membuatkan sebuah pekuburan masal untuk para pasien covid-19 ini. Aku semakin bergidik mendengarnya. Dan kabarnya juga diluaran sana keadaan semakin memburuk dengan dilakukannya lock-down yang sangat ketat. Sehingga para warga tidak bisa keluar rumah. Semua kegiatan dihentikan, persediaan bahan pangan semakin menipis. Dan kompanye kesehatan semakin digalakan.
__ADS_1
Sejenak aku berpikir mungkinkah ini penyebabnya bahwa tak ada kunjungan ataupun jengukan untuk kami para tahanan. Karena sebelumnya aku mengira hanya aku yang tidak mendapat kunjungan atau jengukan tapi ternyata semua tahanan merasakan hal yang sama. Mungkin ini penyebab keluarga kami tidak bisa datang menemui kami disini.
Kami para tahanan semakin sering diminta untuk keluar menghirup udara dilapangan terbuka dan berolahraga. Tapi jatah makanan kami semakin hari semakin tak menentu. Semakin sealakadarnya saja. Para sipir mengatakan bahwa persediaan makanan untuk kami hampir habis sedangkan entah kapan pemerintah akan melakukan pengiriman jatah makan bulanan untuk kami para tahanan ini.
Malam ini adalah malam yang mencekam bagi kami. Karena kami mendapat kabar bahwa wabah penyakit Corona atau covid-19 ini sudah menyebar hingga mengenai kami para tahanan. Karena tadi siang sudah ada tiga orang yang terindikasi terinveksi virus ini. Dan sorenya ketiga orang tersebut langsung meninggal secara bersamaan. Sangatengerikan.
Dan setelah ketiga orang tersebut ada lagi empat orang lain yang dibawa ke klinik panahanan yang ada di sekitar lembaga tempat dimana kami ditahan ini. Dan sipir mengatakan bahwa mereka mamsih dalam.pemeriksaan.
Ciri-ciri pentakit ini mirip dengan flu. Batuk, filk, demam dan tenggorokan kering. Jangka waktu penularannya antara tujuh sampai empat belas hari. Itu menurut informasi dari para sipir yang mereka sampaikan pada kami para tahanan.
Namun aku masih tetap bersyukur karena didalam sel dimana aku ditahan ini hanya ada aku seorang diri. Tidak berkerumun seperti pada sel-sel lainnya. Tapi aku harus tetap waspada karena disini tidak ada orang yang peduli dengam keadaan dan kesehatanku selain diriku sendiri.
Malam berlalu dengan rasa dingin yang membuat sekujur tubuhku terasa seperti akan beku. Pagi harinya setelah berentrean panjang untuk bergantian mandi kemudian berantrean lagi untuk mengambil sarapan pagi. Kemudian kami dikumpulkan untuk berolah raga hingga mentari mulai naik dan sinarnya memantul indah pada putihnya salju kami kembali digiring memasuki sel kami masing-masing layaknya gerombolan itik yang diging untuk memasuki kandang pada sore hari.
Sedikit kerinduanku akan rumah bisa terobati mendengar kabar yang disampaikan oleh sipir tadi. Meski aku tidak mendengar langsung suara Tri isteriku, namun apa yang disampaikan oleh sipir sudah cukup untuk bisa memberi sedikit rasa lega untukku.
***
Dua hari setelah hari itu, aku kembali menerima telepon. Kali ini dari putriku Nasya. Sipir kembali memanggilku katanya ada telepon lagi untukku.
"Halo." Aku menyapa dengan semangat.
__ADS_1
"Iya halo papa." Sahut putriku. Betapa senangnya hatiku mendengar suara putriku. Hingga tak terasa airmataku pun menetes.
"Nasya, apa kabarmu nak?" Tanyaku dengan sedikit gemetar.
"Alhamdulillah kabar Nasya baik pa. Papa sendiri gimana kabar?" Jawab anakku.
"Ada apa nak? Mengapa kamu menelpon papa." Aku kembali bertanya pada Nasya.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa pa. Cuma Nasya sangat merindukan papa. Tapi masih dilarang untuk melakukan kunjungan pa." Jawab putriku.
Sementara hanya diam dan air mataku tak henti-hentinya menetes. Tak sanggup lagi rasanya aku melanjutkan kata-kataku. Hingga akhirnya aku meminta Nasya untuk mengakhiri telepon.
"Papa juga sangat merindukanmu nak. Oya sudah dulu ya Nas, waktu telepon untuk papa sudah habis."
"Iya pa. Papa jaga diri baik-baik ya. Jaga kesehatan papa. Nasya sayang papa."
"Iya nak. Papa juga sayang Nasya. Assalamualaikum."
"Waalikumsalam pa."
Dan akhirnya percakapan kamipun diakhiri dengan tangis yang tak bisa lagi aku bendung. Tak ada rasa malu di hatiku. Didepan semua orang tangisku pecah.
__ADS_1
Bersambung...