Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 86. Nenek Kembali Sakit Tapi Aini belum juga Aku temukan


__ADS_3

Pov. Farenzy


Hari ini aku kembali masuk kerja meski sebenarnya mood-ku masih sangat berantakan pasca


kehilangan Aini. Aku merasa sudah hampir semua seluk beluk kota Hong Kong ini aku telusuri


namun hasilnya masih juga nihil. Aku dan orang suruhanku sama-sama belum juga menemukan


titik terang keberadaan Aini.


Tinggal satu langkah lagi yaitu meminta data penerbangan dari bandara Internasional Hong Kong.


Supaya aku bisa mengetahui apakah Aini sudah pulang ke Indonesia ataukah masih ada di Hong


Kong. Selain itu aku juga akan bertanya kekantor Imigrasi guna untuk mengumpulkan informasi


supaya aku juga bisa secepatnya menemukan Aini.


Pekerjaanku di kantor memang belum bisa seutuhnya aku kerjakan. Aku masih meminta bantuan


dari beberapa bawahanku untuk menghendel beberapa pekerjaan yang biasanya aku kerjakan


sendiri.


Setiap saat aku juga selalu menghubungi orang-orang suruhanku untuk meminta informasi


dari mereka. Namun hingga detik ini mereka belum ada yang melaporkan bahwa mereka


menemukan titik terang tentang keberadaan Aini. Tuhan..! Ada dimanakah Aini saat ini? Apakah


Aini baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkannya.


***


Baru saja ada telepon masuk dari Nasya. Meski sebenarnya aku sedang malas untuk sekedar


bertegur sapa dengan Nasya dan mama tapi masih ku paksakan juga untuk mengangkat telepon


dari Nasya tersebut.


Dan betapa terkejutnya aku saat menerima kabar bahwa nenekku saat ini sedang sakit parah dan


dilarikan kerumah sakit. Ini juga menambah bahan pikiranku. Aku semakin tidak bisa


berkonsentrasi dalam menjalankan pekerjaanku dikantor. Anganku semakin buyar.

__ADS_1


Ada apa lagi ini ya Tuhan..! Belum juga selesai masalah satu sudah datang lagi masalah lainnya. Aini belum aku


temukan dan sekarang nenek malah sakit parah lagi.


Tapi entah mengapa setelah Nasya menutup teleponnya aku tiba-tiba berpikir bahwa sakitnya


nenek ini ada kaitan eratnya dengan kepergian Aini dari rumah. Apa mungkin karena nenek selalu  


merasa sedih atas perlakuan mama dan Nasya sehingga membuat Aini pergi dari rumah sehingga batin nenek menjadi sangat terpukul.


Kasihan nenek. Dia sudah menganggap Aini seperti cucunya sendiri.


Tapi mama dan Nasya justru


mengusirnya hanya karena Aini dan aku saling mencintai. Apakah salah jika cinta itu hadir diantara aku dan Aini? Bagiku tidak ada yang membedakan antara kami dengan manusia lainnya dimuka


bumi ini, kami juga butuh cinta dan mencintai. Aku tidak menyangka kekayaan telah membutakan mata hati mama. Mama terlalu angkuh terhadap para gadis yang ada disekitarku.


Mungkin jika sudah tiba waktunya nanti aku akan berbuat nekat saja sehingga mama tidak akan bisa lagi mencampuri urusanku. Aku akan menikah dengan gadis mana saja yang aku cintai.


Mungkin dengan Aini jika Aini mau kembali menerima aku sebagai kekasihnya. Ah, sudah lupakan saja dulu prihal mamaku. Sekarang aku akan fokus dulu mengurus nenek. Kesembuhan nenek adalah hal yang paling utama. Dan bagaimana caranya agar aku bisa kembali membawa Aini pulang segimgga bisa membantu kesembuhan nenek.


Aku pamit untuk pulang lebih awal dengan para karyawanku. Lalu aku segera mengambil mobilku


dan mengarahkan lajunya menuju rumah sakit dimana nenek sedang dirawat disana. Dalam hati


Sesampainya aku dirumah sakit aku langsung menuju ruangan IGD. Disana ada mama, Nasya dan juga Dina. Kulihat mereka semua seakan sangat cemas.


"Bagaimana keadaan nenek?" Aku bertanya sambil mengelilingkan pandanganku kearah mereka bertiga secara bergantian.


Mama hanya menunduk saja dan diam tanpa menjawav pertanyaanku.


Sedangkan Nasya dan Dina saling beradu pandang kemudian melihat kearahku secara bersamaan.


"Dokter sedang memeriksanya kak." Jawab Nasya.


"Papa apa sudah diberitahu?" Aku kembali bertanya pada Nasya.


"Sudah kak." Jawabnya lagi.


Kemudian aku juga duduk dikursi tunggu. Mama masih terdiam dan menunduk. Nasya mundar-mandir sepertinya dia sangat gelisah. Sedangkan Dina hanya diam dan berdiri disamping mama. Tidak lama kemudian papa juga datang dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana keadaan Ibu?" Papa bertanya pada mama.


Mama masih saja diam dan tertunduk. Entah apa sebabnya sehingga mama terlihat begitu sedih dengan keadaan nenek.

__ADS_1


Mungkin mama merasa bersalah dan menyesali kesalahannya. Ataukah ada hal lain yang membuat mama bertingkah seperti ini. Tapi apa? Ya sudahlah biarkan dulu mamaku bersikap seperti apa saja yang ia mau. Mungkin dengan begitu dia berharap akan ada belas kasihan dariku.


Mama memang keterlaluan. Dia rela mengorbankan keadaan dan perasaan anggota keluarganya demi apa pun yang ia inginkan. Dia tidak peduli dengan apa yang orang lain alami, bagi mama semua harus sesuai dengan kemauan dan kehendaknya saja.


"Dokter sedang memeriksanya." Tiba-tiba bersuara mama menjawab pertanyaan papa tadi.


Seketika semua pandangan mengarah kepada mama. Kemudian setelah itu mungkin mama


menyadari bahwa semua orang memandang aneh kepadanya mama kembali menundukan


kepalanya.


" Ada apa sebenarnya ma? Mengapa Ibu tiba-tiba sakit?" Tanya papa menyelidik.


"Maafkan aku..! Ini semua salahku." Jawab mama dengan lirih dan nampak air matanya mulai jatuh.


"Maksud kamu apa?" Tanya papa.


"Ya, Ibu pingsan setelah berdebat denganku pa. Maafkan aku..!" Jawab mama setelah ia menelan ludahnya dan mengusap air matanya.


"Berdebat masalah apa lagi sih ma. Mamakan tahu kalau kamu punya Ibu sudah tua dan


kondisinya juga lemah. Lalu apa lagi yang kamu perdebatkan?" Tanya papa dengan nada sedikit meninggi. Sepertinya papa marah dengan mama.


"Iya, aku salah. Sekali lagi aku minta maaf..!" Jawab mama dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi.


Lalu Nasya melangkah menghampiri mama lalu ia berdiri disamping mama kemudian ia menepuk- nepuk pundak mama. Pemandangan yang mengesalkan sebenarnya, tapi mau tidak mau aku


terpaksa menyaksikannya. Mengapa aku katakan sebagai pamandangan yang mengesalkan? ya, karena hatiku sedang tidak bisa percaya dengan mama dan Nasya. Air mata merekapun tadak bisa mengubah suana hatiku.


"Yang saya tanya apa yang kamu perdebatkan dengan Ibu?" Tanya papa pada mama.


"Tentang kepergian Aini." Jawab mama singkat kemudian ia membuang pandangannya kearah lain


yang berlawanan dengan keberadaan papa saat ini.


Oh, jadi itu sebabnya nenekku tiba-tiba sakit seperti ini. Ternyata karena nenek telah berdebat dengan mama. Mungkin nenek tidak bisa menerima perlakuan kasar yang sudah mama dan Nasya lakukan terhadap Aini.


Kemudian setelah menunggu selama kurang lebih setengah jam, maka seorang dokter keluar dari dalam ruang tempat dimana nenek dirawat. Lalu papa segera menghampirinya dan disusul juga oleh mama dibelakangnya. Terdengar papa menanyakan keadaan nenek.


Dan kemudian dokter itu memberikan penjelasanya kepada mama.


Ternyata keadaan nenek sudah agak lumayan membaik. Nenek sudah sempat sadar namun saat ini nenek sedang tidur karena diberi obat oleh dokter agar nenek bisa istirahat. Setelah itu seorang suster datang menghampiri kami dan ia mengatakan bahw nene sudah bisa dipindahkan ruanganya untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.


Aku dan papa segera pergi mengurus segala administrasinya lalu kami memindahkan nenek keruangan kelas 1 VIP. Dengan bigini semoga saja bisa lebih cepat memberikan kesembuhan

__ADS_1


untuk nenek karena pelayanannya yang berbeda. Itu adalah harapa dalam batinku.


Bersambung...


__ADS_2