
Pov. Bu Tri
Malam ini Aini aku usir dari rumah kami, aku sengaja memberi tindakan tegas untuknya karena
rasa kekecewaanku padanya yang begitu besar. Semula aku telah memberikan segenap
kepercayaanku padanya. Aku telah memperlakukan Aini lebih dari sewajarnya. Itu semua aku
lakukan hanya karena merasa iba dan senang bisa menemukan orang yang mampu menghibur
hati ibuku. Dimana ibuku yang tadinya sakit parah karena merasa bahagia atas kehadiran Aini
ibuku bks sembuh total. Karena rasa terimakasih itulah aku memberinya berjuta-juta kepercayaan
yang tidak ku berikan kepada asisten-asistenku yang lain.
Begitu besar dan tulus kepercayaanku pada Aini, namun semua harus berakhir dengan
kekecewaan yang seakan tak ada batas. Dia justru telah menikamku dari belakang. Aini tanpa
sepengetahuanku telah menjalin hubungan percintaan dengan putra kesayanganku. Lalu
bagaimana mungkin aku bisa menerima semuanya dengan begitu saja. Tidak. Aku tidak boleh
dilemahkan oleh kelembutan sikap Aini diluarnya sedangkan dalam jiwa dan batinnya ia seperti
seekor singa yang sedang kelaparan.
Bukankah aku sudah memberitahukan padanya seperti apa dan bagaimana kriteria calon menantu
yang kuidamkan. Sama sekali tidak ada persamaan dengan diringa. Sebegitu angkuhkah Aini
sehingga ia mengabaikan pilihanku hanya dengan alasan Cinta. Apa cinta? Hhh.. Wanita seperti
dia tidak ada cinta dihatinya yang ada hanyalah mengejar kekayaan semata. Ya ialah secara diakan
orang kampung. Yang kegidupan sehari-harinya saja masih serba kekurangan. Bukannya bersyukur
mendapat kepercayaan yang begitu besar dari aku dan keluargaku malah ia sengaja manfaatkan.
"Hai ma.. sedang apa?" Tiba-tiba suara sapaan iru mengejutkanku, yang tidak lain adalah Nasya
putriku.
"Eh, kamu Nas. Ada apa?" Tanyaku pada Nasya.
Dia diam dan menampilkan senyum manisnya. Seolah ia sedang merasa sangat senang saat ini.
"Kok malah cengengesan begitu?" Tanyaku lagi penuh selidik.
"
Ah, nggak ada apa-apa ma. Cuma Nasya merasa ada sesuatu yang beda saja hari ini dirumah kita
ini. Rasanya.. ya beda sajalah begitu." Jelasnya dan ia kemvali tersenyum.
"Emm.. mama tahu apa maksudmu." Timbalku.
"Menurut mama?" Nasya balik bertanya padaku.
"Ya, kamu merasa lega karena dirumah ini sekarang sudah tidak ada lagi Aini yamg biasanya selalu
membuat urat-urar saraf kita berdua menegang." Terangku pada Nasya.
"Yuups.. betul sekali.. mamaku memang cerdas..!" Jawab Nasya kemudian ia langsung
menghambur dan memelukku.
Memang benar ada sesuatu yang beda terasa sejak kepergian Aini dari rumah kami. Tapi
__ADS_1
sebenarnya hingga saat ini kejadian tersebut belum diketahui oleh suamiku. Namun tak apa,
Syaeful tidak akan bisa berbuat apa-apa karena urusan Aini adalah urusanku. Semoga putraku
Farenzy juga perlahan akan bisa melupakan Aini, dan semoga secepatnya ia mengerti dan
memahami tujuanku melakukan ini pada Aini. Ini adalah yang terbaik untuknya. Untuk putraku
Farenzy.
" Ma, tapi bagaimana kalau Aini kita usir dari sini dan malah pergi kerumah kakak?" Pertanyaan
Nasya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"Em.. iya ya. Ah, tapi sepertinya itu tidak mungkin Nas. Aini saat ini pasti sedang menangis di tepi
jalan mencari pertolongan dan tidak ada yang mau membantunya." Jawabku meyakinkan Nasya
meski sebenarnya aku sendiri juga belum yakin dengan apa yang baru saja aku katakan.
"Oke ma. Tapi bagaimana jika ia menelpon agensinya dan ia bekerja sama dengan agensinya untuk
melaporkan kita kepada kepolisian Hong Kong?" Nasya lagi-lagi mengajukan pertanyaan yang
semakin membuat otot-otot kepalaku menegang.
"Nasya, dia tidak akan berani melakukan itu. Dia yang bersalah disini jadi kalau dia yang berani
melaporkan kita, itu berarti dia memasang jaring untuk dirinya sendiri paham kamu?" Aku
mengatakan itu pada Nasya dengan nada sedikit meninggi.
"Yah mama, Nasyakan cuma bertanya bagaimana jika seandainya begitu. Kok mama malah
marah." Nasya memasang wajah murungnya.
"Lagian kamu sih banyak tanya." Tibalku ketus.
kalau Aini saat ini sedang tidak bersama kakak ma." Pinta Nasya padaku.
"
Ah, sana kamu saja yang telepon kakakmu. Mama sedang malas bicara padanya. Lagi pula mama
sangat yakin kalau Aini tidak akan pergi kerumah kakakmu untuk meminta bantuan. Mungkin Aini
saat ini sedangencoba mencari teman-temannya yang dari Indonesia yang sekiranya bisa ia mintai
tolong." Jelasku pada Nasya.
"Mama tahu siapa saja kawan-kawan Aini?" Nasya kembali bertanya.
Kali ini aku tidak menjawab pertanyaan Nasya tapi aku hanya menggelengkan kepala saja
pertanda bahwa aku sama sekali tidak tahu siapa saja kawan-kawan Aini. Karena yang ku tahu
ialah sejak hari itu ketika Aini pertama kali datang untuk bekerja dengan keluarga kami ia tidak
pernah memberi tahuku tentang siapa-siapa saja teman-temannya hingga detik kemarin malam
saat aku mengusirnya dari rumah kami. Tapi aku tidak mau peduli dengan itu karena tidak penting
bagiku yang terpenting ialah Aini sudah tidak mengganggu kehidupan keluarga kami lagi.
Dan benar apa yangbtadi Nasya katakn bahwa aku harus bisa memastikan jika Aini benar tidak
bersembunyi dirumah putraku Farenzy. Meski saat ini aku sedang tidak ingin berkomunikasi
dengan Farenzy namun akunharus bisa menemukan cara supaya aku bisa menyelidikinya.
__ADS_1
"Oke ma, ayo kita coba telepon kakak. Biar nanti Nasya saja yang bicara dengan Kakak jika mama
sedang malas bicara dengannya." Nasya langsung mengambil gawainya dan mencari kontak
kakaknya lalu ia menelponnya.
"Tersambung ma." Bisik Nasya padaku lalu ia menunggu teleponnya diangkat oleh sang kakak
dengan penuh khawatir terlihat dari raut wajahnya yang seolah menegang kemudian ia menggigit
ujung dari salah satu sudut bibirnya.
Aku hanya diam sambil memperhatikan ekspresi demi ekspresi dari puteiku Nasya. Berulang kali ia
menghubungi nomor telepon kakaknya namun meaku tersambung tapi sepertinya Farenzy tidak
mau mengangkat panggilan telepin dari Nasya adiknya.
"Bagaimana Nas?" Aku bertanya pada Nasya.
"Tidak ada jawaban dari kakak ma." Jawab Nasya.
" Owh.. ya sudah mungkin kakakmu sedang sibuk dengan pekerjaannya." Kataku pada Nasya.
"
Atau mungkin ia sedang sibuk mencari keberadaan Aini."
"
Ah, itu tidak mungkin Nasya. Kakakmu tidak tahu kalau Aini sudah tidak berasama kita lagi disini."
"Mama..! Semua mama bilang tidak mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin ma didunia ini." Tegas
Nasya padaku membuat aku tersentak dengan nada kerasnya.
"Iya tapi bagaiman kakakmu bisa tahu? Jelaskan pada mama..!"
"Ma, sekarang ini jaman teknologi. Semua serba maju, semua serba bisa. Dan dirumah ini juga
bukan hanya ada aku dan mama tapi ada nenek dan juga Dina. Ingat itu ma..!"
"Terus maksud kamu apa?"
"Ya, bisa saja Aini menelpon kakak memberi tahu kakak apa yang terjadi dengannya. Lalu diam-
diam kakak membantu Aini karenakan kita tidak tinggal serumah dengan kakak ma. Jarak tempat
tinggal kakak dengan kita juga berjauhan. Atau misalnya Aini juga tidak memberitahu kakak, tapi
bagaimana jika nenek dan Dina yang memberitahukannya? Tidak ada yang tidakungkinkan ma?
Semua bisa saja terjadi ma..!" Jelas anakku Nasya dan ini yang harus aku akui bahwa Nasya
sangat cerdas dalam pemikiran-pemikiran logis semacam ini.
"
Ahh, sudahlah terserah apa.yang akan terjadi dengam Aini diluaran sana mama tidak peduli selagi
aman untuk kita dan tidak merugikan kita untuk apa kita harus pusing-pusing memikirkannya."
Jawabku.
Namun meski begitu sejujurnya kadang kala akunjuga merasa khawatir bagaimana jika benar
seperti yang baru saja Nasya katakan namun di sisi hatikubyang lain aku juga membantahnya
sendiri.
__ADS_1
Bersambung...