Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.79. Pertolongan Dari Pihak Agensi


__ADS_3

Pov.Aini


Angin bertiup sepoi-sepoi menyapu dedaunan yang jatuh berserakan di tepi jalan, di sebuah halte


aku duduk sendiri anganku melayang terombang-ambing bersama hembusan angin yang


menyapa. Sejuk namun tak sampai ke hatiku. Hatiku masih terasa perih, luka ini seolah tak mampu


aku untuk membalutnya sendiri.


Aku mencoba untuk merenungi apa yang telah terjadi,sunggu aku telah melakukan sebuah kesalah


besar. Aku terlalu ceroboh dalam mengendalikan perasaan. Karena kecerobohanku aku kehilangan


kepercayaan yang begitu besar dari keluarga angkatku. Keluarga yang dulu telah membantu


mengangkat derajatku. Keluarga yang menaruh kepercayaan dan harapan begitu besar kepadaku.


Dan aku pun begitu.


Aku juga diam-diam telah menyimpan angan dan harapan yang tak kalah besar juga untuk


menunjang karir dan masa depanku. Aku berharap dengan kepercayaan yang mereka berikan itu


aku bisa merubah nasibku dan keluargaku dikampung. Tapi cinta telah menghilangkan segalanya.


Cinta telah memporak porandakan mimpiku.


Aku juga terus berandai-andai jika saja dulu aku lebih dahulu menyediki siapa Farenzy dan andai


saja aku tahu lebih awal jati dirinya mungkin aku tak akan berani menaruh hati dan cintaku


padanya. Sungguh, cinta ini telah membuatku kehilangan kendali dalam urusan hati.


Tapi apa pantas aku terus menerus menyalahkan diriku sendiri dan juga cinta? Apakah tidak ada


lagi orang dan hal lain yang patut disalahkan disini?


Toeet..toet..toet..


Suara klakson sebuah bus mengagetkanku membuyarkan lamunan yang tengah asik ku nikmati.


Nikmati? Ah, tidak tahu lah apa namanya. Yang jelas tadi aku sedang melamun.


Bus berhenti, aku segera naik untuk menuju ke kantor agensiku supaya bisa bertemu dengan


Nyonya Lili. Sepanjang perjalanan aku atak tahu entah seperti apa perasaanku tak mampu aku


untuk menjelaskannya. Lima belas menit perjalanan yang ku tempuh dengan bus umum dan


ribalah kini aku didepan kantor agensiku, aku turun dengan masih membawa koperku, aku masuk


dan langsung menanyakan keberadaan Nyonya Lili kepada sang resepsionis yang bertugas


didepan meja tamu. Kemudian resepsionis itu menelpon mungkin keruangan Nyonya Lili aku


katakan mungkin karena setelah ia menelpon lalu ia mempersilahkanku untuk masuk keruangan


Nyonya Lili dan menemuinya disana.


Aku melangkah kearah ruangan sesuai dengan yang baru saja resepsionis itu arahkan. Dan benar


saja didepan pintu ruangan itu tertulis nama Nyonya Lili kemudian tanpa pikir panjang aku


langsung mengetuknya. Sejurus kemudian terdengar suara Nyonya Lili mempersilahkan aku untuk

__ADS_1


masuk. Kugenggam gagang pintu itu sambil aku mengatur napasku sebisa mungkin jangan


sampai aku menagis.


Ckrieeek..


Pintu ruangan Nyonya Lili terbuka, dan nampak disana Nyonya Lili sedang duduk menghadap ke


laptop yang ada dimeja kerjanya.


"Permisi Nyonya..!" Aku menyapa Nyonya Lili dan karana sapaanku tadi memaksanya untuk


mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk dimana aku saat ini


sedang berdiri dengan perasaan yang tak bisa lagi aku ungkapkan. Sesak. Dada ini terasa sesak


namun hampa.


"Hei.. Aini, Nuraini..! Ayo sini nak, silahkan masuk." Nyonya Lili bangun dan berdiri dari duduknya


lalu mempersilahkan aku masuk.


Seketika terenyuh rasanya hati ini mendengar ia menyebutku dengan sebutan "Nak(anak)."


Semakin luluh lantah rasanya jiwaku. Sapaan yang seolah sangat kurindu. Aku langsung berlari


menghampirinya dan tanpa aba-aba aku langsung memeluk Nyonya Lili. Tangisku pecah dalam


pelukannya. Bak seorang anak yang baru saja bertemu dengan ibunya aku mengis sejadi-jadinya


tanpa melepaskan pelukan tersebut bahkan kini aku semakin erat memeluk tubuh Nyonya Lili dan


ia pun membalas pelukankundengan elusan-elusan lembutnya dipunggung dan rambutku.


"Sudah. Sudah diamlah Ai. Ada apa ceritakanlah dengan tenang supaya ada lega dihatimu. Ayo


Kemudian ia mengajakku duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja. Iya menuntunku dengan


lembut agar aku bisa bercerita padanya dengan tenang tentang apa sebenarnya yang telah terjadi


padaku.


Perlahan aku bisa menceritakan kejadian demi kejadian yang telah aku alami. Nyonya Lili sangat


baik, ia sudah seperti ibu bagi kami para TKW di Hong Kong ini khususnya yang beragensikan


penyaluran melalui Nyonya Lili dan kawan-kawannya.


"


Aini, saya sangat senang kamu bisa bercerita seperti ini padaku. Saya harap kamu kuat dalam


menghadapinya. Karena sebenarnya masih banyak sekali kasus-kasus yang terjadi pada tenaga


kerja kita dari indonesia di sini. Bahkan tak banyak yang harus kehilangan nyawa mereka karena


peemasalahan dengan majikan mereka. Lalu sekarang apa keputusan mu Ai?" Pertanyaan dari


Nyonya Lili membamgunkanku dari lamunan.


"Maksud Nyonya?" Aku balik bertanya pada Nyonya Lili aku merasanmasih belum paham dengan


kalimatbterakhir Nyonya Lili tadi yang tiba-tiba menanyakan apa keputusanku.


"Maksud saya begini Aini, apa kamu masih akan tetap bertahan di Hong Kong ini dengan mencari

__ADS_1


pekerjaan lain ataukah akan pulang ke indonesia saja?" Jelas Nyonya Lili padaku dan kali


ininakunmengerti dan paham akan maksud pertanyaan Nyonya Lili terdahulu.


"Saya masih ingin tetap bekerja disini Nyonya. Tapi bagaimana caranya supaya saya bisa


mendapatkan pekerjaan secepatnya? Apakah pihak egensi bisa membantu saya untuk


menemukan pekerjaan baru?" Tanyaku pada Nyonya Lili.


"Syukurlah kalau begitu Ai, saya sebagai egenmu disini sangat senang mendengar keputusanmu


itu. Ya, tentu saja nanti kami pihak agensi akan akan berusaha semaksimal mungkin untuk


membantu mencarikan pekerjaan baru untukmu Ai." Tutur Nyonya Lili.


"Berapa lama Nyonya saya harus menunggu pekerjaan baru itu?" Aku kembali bertanya padany.


"Secepatnya." Tegas Nyonya Lili.


"Sehari? Dua hari? Tiga hari?" Tanyaku lagi.


Sejenak Nyonya Lili mengulum senyum lalu tertawa kecil.


"Untuk itu saya belum bisa memastikannya Ai. Tapi untuk sementara waktu saya bisa membantu


menyediakan tempat tinggal untuk mu Ai." Jawab Nyonya Lili.


Banyak dan panjang obrolanku dengan Nyonya Lili dikantor Agensi siang ini. Kemudian Nyonya Lili


mengajakku makan siang bersamanya. Lalu kami kembali kekantor agensi, aku sudah


menyampaikan permohonan kepada Nyonya Lili supaya merahasiakan keberadaanku saat ini


terutama dari pihak kelauarga Tuan Syaeful. Alasanku karena ku saat ini benar-benar butuh


ketenangan. Dan aku juga enggan untuk berhubungan komunikasi dalam bentuk apapun lagi


dengan mereka.


Sore harinya Nyonya Lili kembali memberi pilihan untukku apakah akubakan ikut pulang


bersamanya ataukah akan akan tinggal di penampungan.


"Saya masih sangat butuh ketenangan Nyonya. Jika boleh saya ingin ikut Nyonya pulang saja.


Karena jika dipenampungan saya pasti akan kembali terhimpit dengan kesedihan-kesedihan lagi."


Tuturku.


"Iya Ai saya juga paham. Tapi saya juga merasa tidak enak dengan kawan-kawanmu yang juga


bermasalah jika membawamu pulang kerumahku. Aku khawatir mereka juga akan merasa iri dan


ini juga bisa membahayakan mu Ai. Percayalah Aini saya pasti akan mendapakan pekerjaan baru


untukmu dalam waktu secepat-cepatnya" Jelas Nyonya Lili.


Dan akhirnya akupun menerima saran dari Nyonya Lili untuk tinggal sementara dinpenampungan


TKW di Hong Kong. Tapi tak apa, disini aku juga bisa bertemu dengan kawan-kawanku yang juga


beradu nasib di Hong Kong. Malam harinya kami saling bercerita tentang pengalaman kami


masing-masing. Pengalaman dalam mengahadapi getirnya hidup dinegeri orang.

__ADS_1


Bersmbung...


__ADS_2