
Pov.Aini
Angin bertiup sepoi-sepoi menyapu dedaunan yang jatuh berserakan di tepi jalan, di sebuah halte
aku duduk sendiri anganku melayang terombang-ambing bersama hembusan angin yang
menyapa. Sejuk namun tak sampai ke hatiku. Hatiku masih terasa perih, luka ini seolah tak mampu
aku untuk membalutnya sendiri.
Aku mencoba untuk merenungi apa yang telah terjadi,sunggu aku telah melakukan sebuah kesalah
besar. Aku terlalu ceroboh dalam mengendalikan perasaan. Karena kecerobohanku aku kehilangan
kepercayaan yang begitu besar dari keluarga angkatku. Keluarga yang dulu telah membantu
mengangkat derajatku. Keluarga yang menaruh kepercayaan dan harapan begitu besar kepadaku.
Dan aku pun begitu.
Aku juga diam-diam telah menyimpan angan dan harapan yang tak kalah besar juga untuk
menunjang karir dan masa depanku. Aku berharap dengan kepercayaan yang mereka berikan itu
aku bisa merubah nasibku dan keluargaku dikampung. Tapi cinta telah menghilangkan segalanya.
Cinta telah memporak porandakan mimpiku.
Aku juga terus berandai-andai jika saja dulu aku lebih dahulu menyediki siapa Farenzy dan andai
saja aku tahu lebih awal jati dirinya mungkin aku tak akan berani menaruh hati dan cintaku
padanya. Sungguh, cinta ini telah membuatku kehilangan kendali dalam urusan hati.
Tapi apa pantas aku terus menerus menyalahkan diriku sendiri dan juga cinta? Apakah tidak ada
lagi orang dan hal lain yang patut disalahkan disini?
Toeet..toet..toet..
Suara klakson sebuah bus mengagetkanku membuyarkan lamunan yang tengah asik ku nikmati.
Nikmati? Ah, tidak tahu lah apa namanya. Yang jelas tadi aku sedang melamun.
Bus berhenti, aku segera naik untuk menuju ke kantor agensiku supaya bisa bertemu dengan
Nyonya Lili. Sepanjang perjalanan aku atak tahu entah seperti apa perasaanku tak mampu aku
untuk menjelaskannya. Lima belas menit perjalanan yang ku tempuh dengan bus umum dan
ribalah kini aku didepan kantor agensiku, aku turun dengan masih membawa koperku, aku masuk
dan langsung menanyakan keberadaan Nyonya Lili kepada sang resepsionis yang bertugas
didepan meja tamu. Kemudian resepsionis itu menelpon mungkin keruangan Nyonya Lili aku
katakan mungkin karena setelah ia menelpon lalu ia mempersilahkanku untuk masuk keruangan
Nyonya Lili dan menemuinya disana.
Aku melangkah kearah ruangan sesuai dengan yang baru saja resepsionis itu arahkan. Dan benar
saja didepan pintu ruangan itu tertulis nama Nyonya Lili kemudian tanpa pikir panjang aku
langsung mengetuknya. Sejurus kemudian terdengar suara Nyonya Lili mempersilahkan aku untuk
__ADS_1
masuk. Kugenggam gagang pintu itu sambil aku mengatur napasku sebisa mungkin jangan
sampai aku menagis.
Ckrieeek..
Pintu ruangan Nyonya Lili terbuka, dan nampak disana Nyonya Lili sedang duduk menghadap ke
laptop yang ada dimeja kerjanya.
"Permisi Nyonya..!" Aku menyapa Nyonya Lili dan karana sapaanku tadi memaksanya untuk
mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk dimana aku saat ini
sedang berdiri dengan perasaan yang tak bisa lagi aku ungkapkan. Sesak. Dada ini terasa sesak
namun hampa.
"Hei.. Aini, Nuraini..! Ayo sini nak, silahkan masuk." Nyonya Lili bangun dan berdiri dari duduknya
lalu mempersilahkan aku masuk.
Seketika terenyuh rasanya hati ini mendengar ia menyebutku dengan sebutan "Nak(anak)."
Semakin luluh lantah rasanya jiwaku. Sapaan yang seolah sangat kurindu. Aku langsung berlari
menghampirinya dan tanpa aba-aba aku langsung memeluk Nyonya Lili. Tangisku pecah dalam
pelukannya. Bak seorang anak yang baru saja bertemu dengan ibunya aku mengis sejadi-jadinya
tanpa melepaskan pelukan tersebut bahkan kini aku semakin erat memeluk tubuh Nyonya Lili dan
ia pun membalas pelukankundengan elusan-elusan lembutnya dipunggung dan rambutku.
"Sudah. Sudah diamlah Ai. Ada apa ceritakanlah dengan tenang supaya ada lega dihatimu. Ayo
Kemudian ia mengajakku duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja. Iya menuntunku dengan
lembut agar aku bisa bercerita padanya dengan tenang tentang apa sebenarnya yang telah terjadi
padaku.
Perlahan aku bisa menceritakan kejadian demi kejadian yang telah aku alami. Nyonya Lili sangat
baik, ia sudah seperti ibu bagi kami para TKW di Hong Kong ini khususnya yang beragensikan
penyaluran melalui Nyonya Lili dan kawan-kawannya.
"
Aini, saya sangat senang kamu bisa bercerita seperti ini padaku. Saya harap kamu kuat dalam
menghadapinya. Karena sebenarnya masih banyak sekali kasus-kasus yang terjadi pada tenaga
kerja kita dari indonesia di sini. Bahkan tak banyak yang harus kehilangan nyawa mereka karena
peemasalahan dengan majikan mereka. Lalu sekarang apa keputusan mu Ai?" Pertanyaan dari
Nyonya Lili membamgunkanku dari lamunan.
"Maksud Nyonya?" Aku balik bertanya pada Nyonya Lili aku merasanmasih belum paham dengan
kalimatbterakhir Nyonya Lili tadi yang tiba-tiba menanyakan apa keputusanku.
"Maksud saya begini Aini, apa kamu masih akan tetap bertahan di Hong Kong ini dengan mencari
__ADS_1
pekerjaan lain ataukah akan pulang ke indonesia saja?" Jelas Nyonya Lili padaku dan kali
ininakunmengerti dan paham akan maksud pertanyaan Nyonya Lili terdahulu.
"Saya masih ingin tetap bekerja disini Nyonya. Tapi bagaimana caranya supaya saya bisa
mendapatkan pekerjaan secepatnya? Apakah pihak egensi bisa membantu saya untuk
menemukan pekerjaan baru?" Tanyaku pada Nyonya Lili.
"Syukurlah kalau begitu Ai, saya sebagai egenmu disini sangat senang mendengar keputusanmu
itu. Ya, tentu saja nanti kami pihak agensi akan akan berusaha semaksimal mungkin untuk
membantu mencarikan pekerjaan baru untukmu Ai." Tutur Nyonya Lili.
"Berapa lama Nyonya saya harus menunggu pekerjaan baru itu?" Aku kembali bertanya padany.
"Secepatnya." Tegas Nyonya Lili.
"Sehari? Dua hari? Tiga hari?" Tanyaku lagi.
Sejenak Nyonya Lili mengulum senyum lalu tertawa kecil.
"Untuk itu saya belum bisa memastikannya Ai. Tapi untuk sementara waktu saya bisa membantu
menyediakan tempat tinggal untuk mu Ai." Jawab Nyonya Lili.
Banyak dan panjang obrolanku dengan Nyonya Lili dikantor Agensi siang ini. Kemudian Nyonya Lili
mengajakku makan siang bersamanya. Lalu kami kembali kekantor agensi, aku sudah
menyampaikan permohonan kepada Nyonya Lili supaya merahasiakan keberadaanku saat ini
terutama dari pihak kelauarga Tuan Syaeful. Alasanku karena ku saat ini benar-benar butuh
ketenangan. Dan aku juga enggan untuk berhubungan komunikasi dalam bentuk apapun lagi
dengan mereka.
Sore harinya Nyonya Lili kembali memberi pilihan untukku apakah akubakan ikut pulang
bersamanya ataukah akan akan tinggal di penampungan.
"Saya masih sangat butuh ketenangan Nyonya. Jika boleh saya ingin ikut Nyonya pulang saja.
Karena jika dipenampungan saya pasti akan kembali terhimpit dengan kesedihan-kesedihan lagi."
Tuturku.
"Iya Ai saya juga paham. Tapi saya juga merasa tidak enak dengan kawan-kawanmu yang juga
bermasalah jika membawamu pulang kerumahku. Aku khawatir mereka juga akan merasa iri dan
ini juga bisa membahayakan mu Ai. Percayalah Aini saya pasti akan mendapakan pekerjaan baru
untukmu dalam waktu secepat-cepatnya" Jelas Nyonya Lili.
Dan akhirnya akupun menerima saran dari Nyonya Lili untuk tinggal sementara dinpenampungan
TKW di Hong Kong. Tapi tak apa, disini aku juga bisa bertemu dengan kawan-kawanku yang juga
beradu nasib di Hong Kong. Malam harinya kami saling bercerita tentang pengalaman kami
masing-masing. Pengalaman dalam mengahadapi getirnya hidup dinegeri orang.
__ADS_1
Bersmbung...