
Pov. Farenzy
Sudah berbulan aku menyimpan rasa yang tak biasa ini. Meski sebelumnya aku juga pernah merasakan jatuh cinta namun kali ini berbeda. Bahkan sangat berbeda. Setiap saat aku selalu ingin tahu kabar dan keadaannya. Walaupun kadang aku sendiri tak berani terlalu sering menghubunginya meski sekedar mengiriminya pesan di whatsApp. Bertanya apa kabarnya, ia sedang apa, bagaimana pekerjaannya, dan lain sebagainya. Aku takut mengganggu kesibukan-kesibukannya. Tapi kalau sehari saja aku tak menghubunginya ada rasa ingin tahu yang sangat besar dalam batinku.
Musim semi sudah datang, bunga-bunga mulai bermekaran. Berwarna-warni bertaburan di jalan menghiasi setiap sudut kota Hong Kong. Matahari bersinar terang mengeringkan embun pagi yang menetes di dahan dan dedaunan. Aku berdiri menghadap jendela kamarku. Mataku menerawang jauh kedepan hampa tanpa titik tujuan. Andaikan diusiaku yang beranjak kepala tiga ini sudah mempunyai pasangan, pastilah pagi hariku tidak akan terasa sunyi seperti ini. Setidaknya seperti pengalaman yang diceritakan teman-teman sebayaku yang sudah menikah. Ketika bangun pagi sudah ada yang lebih dahulu menyiapkan sarapan pagi. Memberikan handuk saat selesai mandi dan menyiapkan pakaian ganti. Lalu keluar kamar dan makan sarapan pagi bersama. Terlebih lagi kalau sudah mempunyai buah hati pastilah akan semakin bersemangat lagi.
Dreett..dreeett..dreeettt..
Suara getaran Handphoneku membuyarkan lamunanku. Ku ambil lalu ku lihat ternyata ada pesan dari Aini.
"[Assalamualaikum, mt pagi Farenzy..]"
Hatiku bergetar tak menentu, meski ia hanya sekedar menyapaku lewat pesan tapi mampu membuat getaran dahsyat dalam batinku. Aku segera mengetik balasan untuk pesan Aini tersebut.
"[ Waalikum salam Aini, iya mt pagi juga. Kamu lagi apa Ai? Bagaimana dengan kerjaanmu?. Emmm maksudku nenek apa sudah selesai mandi dan makan..]" balasku.
Tak menunggu lama kemudian datang bakasan lagi dari Aini.
"[Ini aku baru selesai sarapan, hari ini aku libur. Untuk urusan nenek kalau aku libur seperti ini akan diurus oleh Nasya.]" Balasnya.
Owh.. ternyata hari ini Aini libur. Aku ingin mengajaknya keluar meski sekedar melihat-lihat bunga yang bermekaran di taman. Tapi apa Aini mau aku ajak jalan berdua denganku. Lalu bagaimana dengan mama, papa, juga Nasya kalau mereka tahu apa mereka tidak akan marah pada Aini? Sementara sampai sekarang Aini masih belum tahu siapa aku.
"[Owh.. kamu libur. Gimana kalau hari ini kita keluar sekedar jalan-jalan dan makan saja. Kamu mau nggak?]" Kurimkan lagi pesanku. Sementara menunggu balasan dari Aini hatiku terasa dag dig dug tak menentu. Lalu masuklah balasan dari Aini.
"[Oke, ya udah jemput aku dirumah ya.]" Balasnya. Yes, aku seperti ingin berjingkrak-jingkrak. Segera aku bersiap-siap untuk pergi menemuinya. Memang benar aku belum mengungkapkan apa yang aku rasa karena aku menunggu momen yang tepat. Sebab bagiku tak mudah untuk mengungkapkan perasaan yang sangat indah ini. Karena aku masih belum ingin Aini tahu siapa aku yang sebenarnya.
__ADS_1
Sesampainya didepan apartemen mereka, setelah memarkirkan mobilku aku menghubungi Aini memintanya untuk turun menemuiku. Karena kalau aku yang harus naik keatas menjemputnya aku takut Nasya akan curiga lalu memberitahu mama dan papa. Oke lah kalau hanya aku yang kena ocehan mama dan papa tapi bagaimana kalau Aini juga terkena imbasnya. Bisa-bisa ia kehilangan pekerjaannya dan aku tidak mau kalau sampai itu terjadi.
Tak menunggu waktu lama akhirnya Aini datang. Kulihat ia keluar dari lift kemudian berjalan kearahku. Dari jarak beberapa meter dia sudah melemparkan senyum manisnya pada ku. Semakin membuat hatiku bergetar.
"Hei.. sudah lama menunggu?" Sapanya.
"Nggak juga tuh.." jawabku.
"Mau kemana kita?" Tanya Aini
"Maunya kemana?" Aku bertanya balik padanya.
"Terserahlah aku ikut aja."
"Owh.. ya sudah yuk naik mobil."
"Kamu beli apa?" Tanyaku pada Aini.
"Nggak tahu mau beli apa. Yuk kita lihat-lihat disana." Aini menarik tanganku menuju sebuah toko yang menjual pakain sehari-hari. Lalu ia mengangkat sebuah baju yang tergantung di hanger.
"Ini bagus nggak?" Tanya Aini sambil menpelkan baju tersebut ketubuhnya.
"Emmm.. lumayan bagus." Jawabku.
"Tanya harganya..!"
__ADS_1
"Wei koko.. kei to ( halo bang, ini berapa)?" Tanyaku kepada si penjual pakaian itu.
Lalu si penjual itu memberitahukan harganya. Aini mengambil satu baju itu. Kemudian kami pergi ke sebuah toko lagi disampingnya Aini memilhkan sebuah kaos oblong untukku. Tapi aku tidak suka. Lalu kami berjalan lagi ketoko lainnya. Aini menunjuk dua buah baju yang sama dengan ukuran yang berbada.
"Bagaimana kalau ini?"
"Emmm.. bagus-bagus."
"Ya udah kita ambil ini ya. Punya aku satu dan untuk kamu juga satu."
Aku mengangguk pertanda setuju. Aini juga mengambil baju copelan itu. Setelah puas berkeliling-keliling disekitaran pei ho street. Lalu aku mengajak Aini pergi ke kedai makanan halal. Aini memilihkan beberapa menu untuk kami berdua makan siang.
"Setelah ini mau kemana lagi kita?" Tanyaku pada Aini.
"Nggak tahu, aku ikut aja." Jawabnya.
"Oke gimana kalau kita ke Times Square, kamu setuju?"
"Tempat apa itu?"
"Pusat lerbelanjaan, disana juga ada the snow chamber-nya (ruangan bersalju)."
"Ayuk.. kita kesana.. Sebelum musim dingin. Supaya nanti pas musim dingin datang aku nggak kaget lagi."
Akhirnya aku dan Ainipun pergi ke times square. Tak terasa hari semakin sore. Aku mengajak Aini pulang. Diperjalanan aku dan Aini bercanda gurau. Sungguh bahagianya hatiku. Semoga Aini memahami tentang apa yang kurasakan. Sebenarnya sewaktu di perjalanan pulang, sempat terlintas dalam pikiranku. Apa sebaiknya aku ungkapkan sekarang saja? Tapi, ah.. nanti saja. Aini belum memberikan signal yang cukup kuat untuk menerima cinta dari ku. Aini sepertinya masih cuek-cuek saja. Seolah ia tak memiliki perasaan apapun terhadap aku. Ini yang masih menjadi PR untukku. Bagaimana caranya supaya Aini juga memiliki perasaan yang sama denganku. Entah bagaimana supaya aku bisa mencuri hati Aini. Sungguh, Aini adalah gadis yang sanagat-sangat cuek dan sepertinya dia kurang peka dengan perasaan orang lain. Aku hanya mengantar Aini sampai di depan apartemen saja. Selebihnya ku biarkan Aini pulang sendiri. Aku berpesan padanya supaya jangan sampai ada orang dirumah yang tahu kalau dia tadi oergi bersamaku. Ku katakan bahwa kalau sampai Bu Tri (mama) tahu bisa gawat urusannya. Dan Aini pun mengangguk pertanda ia mengerti. Lalu aku pamit pulang pada Aini dan kami berpisah. Kulajukan mobilku menuju rumahku. Sungguh indah hari ini aku rasakan.
__ADS_1
Bersambung...