
Pov. aini
Bulan-bulan berlalu dengan angkuhnya. Pergi dengan menyisakan kenangan tersendiri pada setiap sendinya. Aku sendiri merasa begitu banyak kejadian dan peristiwa yang telah ku lalui hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Dan saat ini musim pun telah berganti, musim dingin kini telah datang.
Farenzy menelpon ku mengajak ku pergi Victoria Park untuk menyaksikan turunnya salju pertama pada musim dingin ini. Tak mampu aku menolaknya, aku sudah membayangkan ini sejak lama. Seperti dalam drama-drama korea kesukaanku. Dimana orang-orang menganggap indah pada waktu turun salju pertama di pergantian musim. Farenzy menjemput ku, tapi ia datang menjemput hanya sampai pada lantai dasar apartemen saja. Entah sampai kapan kami akan menjalani hubungan yang sembunyi-sembunyi seperti ini.
Lalu kami menuju Victoria Park menggunakan mobil miliknya. Sesampai disana orang-orang sudah banyak berkumpul meski hanya sekedar berpoto selfi.
"Mas aku senang sekali bisa mendapatkan kesempatan ini. Rasanya seperti mimpi saja."
"Memangnya kamu belum pernah melihat salju?"
"Belum lah mas, memangnya di Indonesia ada berapa musim?"
"Iya nggak maksudku, mungkin saja pernah bermain ke arena bermain di mall-mall yang ada wahana saljunya."
"Mana pernah. Makan saja susah."
"Owh.. ya sudah maaf deh."
"Iya mas nggak apa-apa."
"Sayang, sini coba lihat itu saljunya sudah mulai turun."
"Iya mas."
"Coba sini tangan mu."
Farenzy mengangkat tanganku dan menengadahkannya ke arah atas sedangkan ia berada di sampingku dengan posisi sedikit kebelakang. Hampir tak ada jarak antara kami berdua. Begitu dekat. Begitu indah. Seindah salju putih yang mulai berjatuhan.
Setelah beberapa saat terasa waktu seakan terhenti larut dalam hangatnya dekapan, lalu Farenzy melepaskan tangannya dan bergeser sedikit ke arah depan ku.
" Salju pertama yang datang malam ini menjadi saksi putihnya cinta ku untuk kamu Aini." Farenzy mengangkat kedua telapak tangan ku hingga setinggi dadanya. Lalu kemudian ia menciumi punggung tanganku.
"Jangan pernah tinggalkan aku ya mas. Aku juga sangat mencintaimu mas. Entah apa yang akan terjadi dengan diriku andainya mas pergi dari hidupku."
"Iya sayang. Semoga Allah tidak akan pernah memisahkan kita kecuali dengan ajal."
"Iya mas, amin."
__ADS_1
Kemudian karena semakin lama cuaca semakin dingin kami memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang, Farenzy terlebih dahulu mengajak aku untuk sejenak minum kopi di cafe terdekat yang ada disekitar Victoria Park.
"Kita mampir dulu ke kafe yuk, minum kopi dulu sebentar supaya bisa sedikit menghilangkan rasa dingin ini." Ajak Farenzy padaku.
"Ayuk mas. Ini lebih dari dingin rasanya badanku seperti mau beku."
"Iya aku tahu, karena ini adalah kali pertama kamu merasakan hawa musim dingin. Apa lagi tadi tanganmu menyentuh salju tanpa alas tangan."
"Iya mas. Dingin banget menggigil rasanya tubuh ku."
"Ayok cepat kita minum kopi untuk menghangatkan tubuh."
Kemudian kami pergi ke sebuah cafe dan minum kopi. Kopi yang masih menguap karena maru saja mendidih seakan hilang rasa panasnya. Aku menyeruput kopi ku. Sama sekali tidak terasa panas. Tuhan..! Seperti ini kah dinginnya musim dingin.
"Mas kita pulang saja yuk."
"Memangnya mengapa? Kan kopi kita belum habis."
"Iya tapi aku sudah tidak tahan lagi mas. Dingin banget mas."
"Ya sudah yuk."
Dan lalu kami pun pulang. Disepanjang perjalanan Farenzy sering menertawai ku karena aku masih kampungan katanya. Belum terbiasa dengan cuaca dingin. Ia tertawa karena melihat ku seperti mau beku.
"Memangnya sebelum pindah ke Hong Kong ini kamu sendiri apa pernah mas melihat salju?"
"Pernah."
"Dimana?".
"Di Turki. Dulu sewaktu masih kecil aku pernah beberapa kali pergi ke Turki saat sedang musim dingin."
"Turki? Waktu masih kecil?"
"Ehheeem.. e.. iya.. maaf sayang aku belum pernah cerita ya. Kalau sebenarnya aku ini adalah keturunan Indo-Turki. Ayahku adalah orang turki dan menikah dengan ibuku wanita asli indonesia dari jawa tengah."
"Owh.. begitu."
"Iya sayang. Oya sayang nanti pulang kalau mau mandi harus pakai air panas ya."
__ADS_1
"Iya mas."
Akhirnya kami sampai di depan apartemen, aku turun dan kami pun berpisah. Cuaca malam ini memang sangat dingin. Bahkan menurutku bisa membekukan. Aku berjalan masuk kedalam apartemen. Memencet tombol lift. Dan pulang. Sampai dirumah Nasya membukakan pintu untukku setelah aku memencet bell didepan pintu.
"Hei.. Aini, dari mana kamu malam-malam dingin seperti ini?" tanya Nasya pada ku.
"Aku baru saja melihat salju pertama turun diusim dingin ini Nas. Selama ini, itu yang selalu aku idam-idamkan. Seperti yang ada dalam drama-drama korea itu lho.."
"Owh.. terus dengan siapa kamu melihatnya Ai?"
"Aku bersama teman ku yang ada di apartemen seberang sana."
"Owh.. aku kira dengan pacar mu.."
"Iih.. Nasya, pacar dari mana?"
"Ya siapa tahu saja ada. Kalian pergi kemana tadi?"
"Cuma ke Victoria Park saja."
"Owh.. Ramai tidak disana?"
"Uhh.. Ramai sekali Nas."
"Lalu apa yang kamu rasakan saat pertama kali bertemu salju?"
"Emm... Aku menengadahkan telapak tangan ku, lalu salju satu persatu jatuh. Aku sangat senang saat pertama kali salju menyentuh kulitku. Serasa aku sedang bermimpi, namun ini nyata. Tapi setelah beberapa saat tubuhku terasa sangat dingin, kemudian aku dan temanku putuskan untuk pulang saja.
"Oya Nas, aku sangat kedinginan. Aku tidur dulu ya."
"Oke Aini."
Kemudian aku langsung masuk kamar dan segera mengambil selimut. Sungguh ini adalah pengalaman pertama kali berada di musim dingin. Badanku memang menggigil kedinginan, tapi hati ku terasa begitu hangat karena cinta mampu memberikan kehangatan yang mendalam untuk hati dan jiwaku. Aku mencoba untuk memejamkan mata namun bayangan kemesraan saat tadi aku bersama Farenzy semakin nampak membayang di pelupuk mataku.
Aku jadi salah tingkah sendiri. Kadang ku ambil gawaiku karena mendadak ingin menghubungi Farenzy tapi sejenak kemudian aku kembali menaruhnya karena tidak mau mengganggu malam harinya. Kemudian aku bangun dari pembaringan ku dan duduk menghadap kaca rias, lalu aku tersenyum melihat wajah ku yang ada di cermin. Tak lama setelah itu aku kembali membaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Suasana hati ku sungguh bahagia tak menentu. Membuat semua jadi kacau balau namun semua tetap terasa indah. Semoga keindahan cinta yang aku rasakan ini tak akan pernah berakhir hingga nanti.
Entah pukul berapa dan entah berapa lama aku dalam keadaan demikian, namun saat aku rasakan kantuk mulai menyerang mataku dan membuat semua fungsi otak ku seolah terhenti dan akhirnya aku pun terlelap dalam keindahan mimpi dengan di hiasi oleh irama cinta yang menggema. Lalu semua menyatu seirama dengan keheningan malam di awal musim dingin yang baru saja datang menyapa.
Bersambung...
__ADS_1