Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.19. Bahagia Tak Terkira


__ADS_3

Sekarang usiaku sudah mencapai sembilan belas tahun. Ulang tahun ku kali ini ku rasa sangat spesial. Berbeda dengan ulang tahun-ulang tahunku sebelumnya. Kali ini aku merayakannya di tanah rantau. Di Hong Kong. Sangat jauh dari hangatnya dekapan keluarga. Tapi aku masih bisa merasakannya. Dimalam ulang tahunku aku sempat menelpon ke tanah air. Ayah, ibu, adik-adikku memberikan ucapan ulang tahun untukku. Tak terasa air mataku menetes, sedih. Baru ini kali pertama aku jauh dari mereka. meski aku bisa menelpon dan vidiocall dengan mereka setiap saat kapanpun aku mau tapi tetap saja jarak yang jauh masih sangat aku rasakan. Kerinduan masih saja sering menggema di hatiku.


Dimalam ulangtahun ku kemarin juga aku mendapat kejutan ulang tahun dari keluarga majikanku. Mereka mengerjaiku. Meski sesudahnya mereka memberikan kado untukku tapi sebelum itu sempat membuatku merasa sangat ketakutan dan sedih. Bagai mana tidak nenek mengatakan katanya kotak perhiasannya hilang.


Lalu semua seisi rumah digeledah dan terakhir dikamar dan lemariku. Dan ternyata kotak perhiasan itu ada di dalam lemariku. Entah kapan dan bagaimana kotak itu bisa masuk kedalam lemariku dan entah siapa juga yang memasukannya aku sama sekali tidak tahu. Yang jelas waktu ituaku sangat jetakutan sekali. Aku samasekali tidak mencurinya. Tapi barang bukti ada menunjukan kalau akulah yang mencuri. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.


Bu Tri dan Nasya tidak mau mendengarkan ucapanku. Aku bahkan berani bersumpah. Lalu Nasya keluar dari kamarku. Aku semakin takut. Apa lagi yang akan ia lakukan. Tapi ternyata dalam hitungan beberapa menit saja Nasya kembali lagi ke kamarku. Dia membawa sesuatu ditangannya. Lalu ia mengeluarkannya dan ternyata itu adalah sebuah kue ulang tahun mini dengan sebuah lilin kecil diatasnya.


Setelah kejutan yang diberikan Nasya dan bu Tri di kamarku, lalu kami pergi ke kamar nenek. Dan ternyata nenek pun sudah bisa berjalan. Sungguh luar biasa nikmatMu ya Robb.. aku sangat terharu, di malam ulang tahunku aku mendapat dua kejutan sekaligus dari keluarga majikanku ini.


Siang harinya Farenzy mengajakku ketemuan di taman, setelah aku selesai mengerjakan ujian akhir untuk kedua kursusku tentunya. Dan pada waktu yang sudah kami sepakati aku dan Farenzy bertemu di taman. Aku tak menyangka kalau ternyata dia Farenzy juga tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Dia memberiku ucapan selamat ulang tahun dan sebuah kafo kecil. Ya sebuah kado kecil yang berisi sebuah kalung mas putih dengan leontinnya. Sangat indah. Ya, tuhan.. mimpi apa aku?


Lalu selain itu ada sesuatu yang akupun tak menyangka. Sebuah kejadian yang tak akan pernah aku lupakan. Mungkin ulang tahunku kali ini sangat spesial sehingga aku menerima banyak sekali kejutan-kejutan dan hadiah. Tiba-tiba Farenzy mengambil tanganku lalu ia menggenggam jari jemariku. Dan menatapku dengan tatapan tak biasa yang membuat aliran darahku seakan terhenti seketika itu juga. Jantungku berdetak semakin tak karuan.


"Ai.. aku mencintaimu, apa kamu mau menjalin hubungan denganku?" Kata-kata Farenzy semakin membuat suasana hatiku gunjang-ganjing tak menentu. Apa? Dia bilang dia mencintaiku? Oh... Tuhan.. begitu sempurnakah dunia ini kau ciptakan. Ku kira hanya aku yang merasa jatuh cinta padanya tapi ternyata dia juga. Dia masih menggenggam erat tanganku dan masih menatap lekat padaku. Aku coba untuk mengatur nafasku yang semakin tak beraturan, lalu mencoba menjawab kata-katanya. Walaupun sebenarny aku sendiri juga masih bingung apa yang harus ku katakan untuk memberi jawaban atas pertanyaannya tadi.


"Mas, Farenzy ini apa-apaan sih?" Aku mencoba untuk mengelak, pura-pura jual mahal. Ku tarik tanganku dari genggamannya. Tapi ia tidak melepaskannya.


"Aku serius Ai. Aku jatuh cinta sama kamu. Aku mencintaimu Aini. Apa kamu mau menerima cintaku?"


Jujur saja lidahku terasa kaku untuk menjawabnya. Detakan jantungku terlalu kuat sehingga menghimpit pita suaraku. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan disertai sebuah senyuman untuk meyakinkannya bahwa aku juga mencintainya.


"Kamu menerima cintaku Ai?" Tanya Farenzy tak percaya.


"Iya. Aku juga mencintaimu mas." Jawabku meyakinkannya.


"Sungguh?"

__ADS_1


Sekali lagi aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman spesial untuknya. Lalu tanpa mampu untuk ku halangi Farenzy langsung menarik tubuhku kedalam pel**annya untuk beberapa saat lamanya. Tuhan..! sungguh, ini kali pertama aku merasakan keindahan cinta. Rasanya aku tak ingin lepas dari pel**annya. Tapi walau bagai manapun aku harus bisa mengontrol emosiku. Segera aku lepaskan tubuhku. Lalu Farenzy mengelus rambutku. Dan menggenggam erat tanganku.


"Terimakasih Ai."


"Untuk apa?"


"Karena kamu sudah mau menerima cintaku. Aku merasa sangat bahagia sekali."


"Iya mas. Tapi.."


"Tapi apa?"


"Bagaimana kalau.Bu tri dan pak Saeful tahu tentang hubungan kita. Apa yang akan terjadi nanti."


"Ah.. sudahlah, nanti itu urusanku. Kalau kita saling cinta bagaimana? Tidak ada yang bisa menghalangi perasaan kita Ai. Bukankah kamu, emmm... maksudku kita hanya kerja sementara saja untuk mereka setelah kontrak kerja habiskan tidak ada urusan lagi."


"Untuk sementara ini iya."


"Sampai kapan?"


"Sampai semuanya siap untuk menerima kenyataan yang ada."


"Iya berapa lama?"


"Tergantung nanti. Yang jelas sekarang kita harus sabar dulu ya."


"Iya mas."

__ADS_1


"Oya, yuk kita makan siang."


"Ayok."


Setelah itu kami makan siang di sebuah restouran di pinggir jalan. Kemudian setelah makan siang Farenzy mengantarku pulang sampai depan Apartemen, lalu ia pamit untuk kembali ketempat kerjanya katanya.


Hari ini sungguh hari yang luar biasa bahagianya bagiku. Sesampainya aku dirumah, kutemui nenek yang sedang menonton acara TV.


"Nek, sore nanri kita ke taman yuk.." ajakku pada nenek.


"Untuk apa Ai, nenekan sudah sehat." Jawab nenek.


"Enggak, kan walaupun sudah sehat tapi nenek harus tetap sering-sering menghirup udara terbuka."


"Owh.. ya sudah, nanti kita ke taman. Oya kamu pasti mau cuhatkan sama nenek? Iya kan? Mau cuhat apa?"


"Iih.. nggak nek.."


"Tuh . Wajah kamu memerah. Berarti tebakan nenek betulkan?"


"Ah.. terserah nenek saja lah."


Sore harinya aku dan nenek pergi ketaman. Sekedar mencari angin diudara terbuka. Ini juga penting untuk kesehatan nenek. Aku ingin curhat sama nenek tapi aku takut nenek tahu hubunganku dengan Farenzy. Ya sudah aku batalin saja. Aku hanya mengajak nenek bercerita dan bercanda gurau seperlunya saja.


Kemudian setelah aku rasa cukup untuk aku dan nenek berjalan-jalan disekitar taman,aku mengajak nenek pulang. Sesampai dirumah aku membantu nenek menyiapkan air panas untuk nenek mandi. Kemudian setelah itu aku juga mandi. Hingga malam tiba aku menyiapkan makan malam untuk aku, nenek dan juga Nasya. Sementara Bu Tri dan Pak Saeful mereka akan makan malam diluar malam ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2