Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 75. Aku Terusir Dari Rumah


__ADS_3

Tak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini selain menangis. Ya menangis, menangis dan menangis


saja. Saat beradu pandang dengan mama aku merasa bahwa mungkin apa yang baru saja mama


katakan adalah benar. Aku memang bersalah karena tidaknpernah berusaha untuk


memcaribtahunjati diri Farenzy yang sesungguhnya. Aku hanya terpesona dengan ketampanan


wajahnya dan mengabaikan pentingnya tahu siapa dia dan darimana ia berasal. Apa yang dulu ku


tolak dalam hatiku yaitu cinta, kini justru telah menjerumuskanku kedalam penilaian yang sangat


rendah dan hina dari orang-orang yang telah memberikan kepercayaan lebih terhadapku.


Aku kehilangan keluarga angkatku dalam sekejap. Itulah bayangan yang sangat menakutkan yang


selama ini selaluenghantyiku semenjak aku tahu siapa Farenzy. Semenjak akubtahu bahwa ia


adalah Tuan Muda dalam keluarga angkatku ini. Aku tak bisa membantah semua kata-kata mama.


Apa yang mama katakan tentang diriku semua seperti benar adanya. Lidahku terasa kaku dan


tangisku semakin pecah.


"


Aini, apa benar yang dikatakan mama mu itu nduk?" Tiba-tiba nenek mengalihkan pertanyaannya


kepadaku.


Dan aku kembali tak bisa berkata-kata apapun. Aku hanya tertunduk dan menangis saja.


"Tuh kan nek, benar apa yang tadi mama katakan." Sambung Nasya.


"Nasya diam..! Nenek bertanya pada Aini." Nenek meninggikan nada suaranya. Hingga membuat


Nasya terdiam memaku.


"


A..a..aku dan Farenzy saling mencintai nek..!" Aku menjawab pertanyaan nenek dengan terbata-


bata.


"Sejak kapan kalian mulai menjalin hubungan?" Tanya nenek lagi padaku.


Sejenak aku terdiam, aku berpikir apa yang seharusnya aku lakukan. Apakah aku harus jujur


ataukah tidak. Dan akhirnya walaupun berat aku terpaksa menjawab pertanyaan nenek dengan


penuh kejujuran.


"Se..sejak, musim dingin lalu nek." Aku menjawab pertanyaan nenek dengan sedikit terbata lalu aku


tertunduk tak mampu lagi melihat tatapan mata nenek yang seolah tak percaya dengan apa yang


baru saja ku katakan.


"Sunggu? Apa kamu tidak sedang berbohong Aini?" Tanya nenek lagi.


Kali ini aku tak bisa lagi menjawab pertanyaan nenek dengan kata-kata. Aku hanya menggelengkan


kepala pertanda bahwa aku sedang tidak berbohong padanya.


" Mengapa kau kalian menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi? Jika benar bahwa kamu


tidak mengetahui sipa Farenzy sebenarnya." Kata-kata nenek kembali membuatku tetsentak.

__ADS_1


"Karena Farenzy melarang saya untuk memberitahukan kepada siapapun tentang hubungan yang


ada diantara kami nek." Aku menjawab dengan penuh kesungguhan pertanyaan nenek tadi.


"Saya mengira bahwa kami adalah sama disini yaitu bekerja untuk keluarga papa Saeful sebagai


pesuruh. Maka dari itu saya berpikir mungkin Farenzy melarangku untuk memberitahu kalian


tentang hubungan kami karena ia takut kami kehilangan kepercayaan dan pekerjaan dari keluarga


ini nek." Aku kembali melanjutkan penjelasanku kepada nenek.


Dan sampai disini nenek hanya diam seolah ia enggan untuk mendengarkan penjelasanku lagi,


membuat aku terpaksa harus terdiam juga. Tak ada yang tahu betapa hancur perasaanku saat ini.


Suasana seketika menjadi hening.


Aku larut dalam kesedihan dan kehancuran serta pikiranku melayang karena tak tahu entah apa


lagi yang akan aku hadapi setelah ini.


"Mengapa kamu sampai berpikir bahwa Farenzy adalah suruhan dan bukan putra dari Tri dan


Saeful?" Suara serak nenek kembali memecah keheningan.


"Maaf nek, karena sejak awalnpertemuan kami yang saya lihat Farenzy bekerja dengan apanyang


mama dan papa perintahkan untuknya." Jawabku dengan menahan isak tangis.


"Dasar bod*h..! Apa kamu tidak melihat begitu besar perusahaan putraku, hah? Dan bagaimana


mungkin kamu tidak pernah mendengar atau melihat bagaimana orang-orang ditempat kerjamu


memperlakukannya? Ah, sudahlah sekali pembohong tetap pembohong." Mama kembali


membentakku.


Seolah ada sentuhan energi menambah kekuatan untukku. Sehingga aku bisa sejenak mengangkat


kepalaku. Kulihat nenek memandang penuh arti kepadaku. Lalu ku aligkan pandangan pada mama


dan Nasya. Terlihat keduanya menatap tajam kepadaku. Kuhela napas panjang segingga bisa


sedikit mengurangi penat hatiku lalu ku seka air mata yang dari tadi seolah tak henti-hentinya


mengalir.


"Begini saja Aini, saya mau malam ini juga kamu harus pergi dari sini dan jangan lagi


menampakkan wajahmu didepan kami. Dan saya akan menelpon agen yang menanganimu. Lalu


terserah mereka apa sebaiknya yang harus dilakukan untukmu. Tapi yang jelas malam ini juga


kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Mengerti?"


Tangisku kembali pecah. Kali ini aku tak bisa menahan kaki ku segingga aku melangkah kedepan


mama dan tersungkur didepan kakinya. Aku memohon pada mama agar janganelakukan hal ini.


Tapi mama sepertinya benar-benar sudah tidak peduli lagi padaku.


"Maa..! Aini mohon jangan lakukan ini ma..! Aini sayang mama, sayang kalian semua..!" Aku


menangis dan memeluk kaki mama.


Tapi, mama mendorongku hingga aku terjatuh kebelakang. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak ada

__ADS_1


lagi rasa malu untuk menumpahkan tangisku. Rasa hancur semakin menguap dihatiku. Aku takut,


aku sedih, aku kecewa dan aku juga menyesal.


"Pergi...!! Saya bilang sekarang juga pergi...!!" Tegas mama sambil jari telunjuknya menunjuku


kemudian menunjuk kearah pintu depan.


"Maaa..! Maafkan Aini ma...!" Aku kembali memohon pada mama.


"


Ah.. sudah sana pergi, telinga kamu tidak berfungsi ya? Dari tadi mama bilang kamu harus pergi


darisini malah minta maaf lagi-lagi dan lagi. Kalau mama bilang pergi ya kamu harus pergi. Begitu


saja kok susah." Nasya menimpali permohonan maafku pada mama.


Mendengar kata-kata Nasya aku semakin merasa tak berdaya. Dengan perlahan aku menarik


tubuhku untuk bangun dan berdiri. Dengan sedikit berlari kecil akubpergi menuju kamarku. Cepat-


cepat ku kemasi pakaianku.


"Kamu mau pergi kemana Ai?" Tiba-tiba Dina membuka pintu kamarku dan masuk menemuiku.


Aku tidak menjawab pertanyaan Dina karena aku juga bingung entak akan pergi kemanakah aku


saat ini. Aku teringat dengan Sri. Temanku sesama TKW yang dulu satu PT denganku. Dan juga


kebetulan tinggal dan mendapat majikan masih berdekatan denganku disini. Tapi sejak dua bulan


yang lalu aku sudah tidak ada kontak lagi dengan Sri.


Entah apa kabar Sri saat ini, semoga dia baik-baik saja. Seolah tanpa mempedulikan kehadiran


Dina dikamarku aku tetap sibuk mengemasi barang-barangku yang sekiranya penting untuk aku


bawa. Dan tak lupa ku cari buku diaryku disana ku tulis banyak nomor telepon teman-temanku


yang mungkin saja bisa aku mintai pertolongan. Ku cari juga alamat apartemen Sri yang dulu ia


berikan padaku dan aku menulisnya disana. Tak perlu menunggu waktu lama akhirnya aku


menemukan alamat Sri tersebut. Ada sedikit rasa lega setelah menemukan alamat tinggal Sri.


"Din, aku pergi ya. Titip nenek ya Din jangan sampai nenek sakit lagi kalau ada apa-apa hubungi


aku." Pintaku pada Dina setelah selesaiengemasi barang-barangku.


"Iya Ai, tapi kamu mau pergi kemana malam ini?" Dina kembali bertanya.


"Kemana saja Din, yang jelas aku haris pergi dulu dari sini." Jawabku sambil ku tarik koperku keluar


kamar.


Saat melewati ruang yengah kulihat disana ada nenek, mama dan juga Nasya. Mungkin papa


belum pulang makanya papa tidak ada disana. Ku beranikan diriku untuk berpamitan dengan


nenek walaupun tidak dengan mama dan Nasya.


Kulihat nenek meneteskan air matanya saat aku berpamitan dan mencium punggung tangannya.


Malam ini jadi saksi kepergianku dari rumah Tuan Syaeful. Ku langkahkan kakiku dengan kuat dan


mantap meski tak ada arah dan tujuan pasti akan kemana tujuanku. Yang jelas aku kini pergi. Aku

__ADS_1


telah terusir dari lingkungam keluarga angkatku.


Bersambung...


__ADS_2