
Tak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini selain menangis. Ya menangis, menangis dan menangis
saja. Saat beradu pandang dengan mama aku merasa bahwa mungkin apa yang baru saja mama
katakan adalah benar. Aku memang bersalah karena tidaknpernah berusaha untuk
memcaribtahunjati diri Farenzy yang sesungguhnya. Aku hanya terpesona dengan ketampanan
wajahnya dan mengabaikan pentingnya tahu siapa dia dan darimana ia berasal. Apa yang dulu ku
tolak dalam hatiku yaitu cinta, kini justru telah menjerumuskanku kedalam penilaian yang sangat
rendah dan hina dari orang-orang yang telah memberikan kepercayaan lebih terhadapku.
Aku kehilangan keluarga angkatku dalam sekejap. Itulah bayangan yang sangat menakutkan yang
selama ini selaluenghantyiku semenjak aku tahu siapa Farenzy. Semenjak akubtahu bahwa ia
adalah Tuan Muda dalam keluarga angkatku ini. Aku tak bisa membantah semua kata-kata mama.
Apa yang mama katakan tentang diriku semua seperti benar adanya. Lidahku terasa kaku dan
tangisku semakin pecah.
"
Aini, apa benar yang dikatakan mama mu itu nduk?" Tiba-tiba nenek mengalihkan pertanyaannya
kepadaku.
Dan aku kembali tak bisa berkata-kata apapun. Aku hanya tertunduk dan menangis saja.
"Tuh kan nek, benar apa yang tadi mama katakan." Sambung Nasya.
"Nasya diam..! Nenek bertanya pada Aini." Nenek meninggikan nada suaranya. Hingga membuat
Nasya terdiam memaku.
"
A..a..aku dan Farenzy saling mencintai nek..!" Aku menjawab pertanyaan nenek dengan terbata-
bata.
"Sejak kapan kalian mulai menjalin hubungan?" Tanya nenek lagi padaku.
Sejenak aku terdiam, aku berpikir apa yang seharusnya aku lakukan. Apakah aku harus jujur
ataukah tidak. Dan akhirnya walaupun berat aku terpaksa menjawab pertanyaan nenek dengan
penuh kejujuran.
"Se..sejak, musim dingin lalu nek." Aku menjawab pertanyaan nenek dengan sedikit terbata lalu aku
tertunduk tak mampu lagi melihat tatapan mata nenek yang seolah tak percaya dengan apa yang
baru saja ku katakan.
"Sunggu? Apa kamu tidak sedang berbohong Aini?" Tanya nenek lagi.
Kali ini aku tak bisa lagi menjawab pertanyaan nenek dengan kata-kata. Aku hanya menggelengkan
kepala pertanda bahwa aku sedang tidak berbohong padanya.
" Mengapa kau kalian menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi? Jika benar bahwa kamu
tidak mengetahui sipa Farenzy sebenarnya." Kata-kata nenek kembali membuatku tetsentak.
__ADS_1
"Karena Farenzy melarang saya untuk memberitahukan kepada siapapun tentang hubungan yang
ada diantara kami nek." Aku menjawab dengan penuh kesungguhan pertanyaan nenek tadi.
"Saya mengira bahwa kami adalah sama disini yaitu bekerja untuk keluarga papa Saeful sebagai
pesuruh. Maka dari itu saya berpikir mungkin Farenzy melarangku untuk memberitahu kalian
tentang hubungan kami karena ia takut kami kehilangan kepercayaan dan pekerjaan dari keluarga
ini nek." Aku kembali melanjutkan penjelasanku kepada nenek.
Dan sampai disini nenek hanya diam seolah ia enggan untuk mendengarkan penjelasanku lagi,
membuat aku terpaksa harus terdiam juga. Tak ada yang tahu betapa hancur perasaanku saat ini.
Suasana seketika menjadi hening.
Aku larut dalam kesedihan dan kehancuran serta pikiranku melayang karena tak tahu entah apa
lagi yang akan aku hadapi setelah ini.
"Mengapa kamu sampai berpikir bahwa Farenzy adalah suruhan dan bukan putra dari Tri dan
Saeful?" Suara serak nenek kembali memecah keheningan.
"Maaf nek, karena sejak awalnpertemuan kami yang saya lihat Farenzy bekerja dengan apanyang
mama dan papa perintahkan untuknya." Jawabku dengan menahan isak tangis.
"Dasar bod*h..! Apa kamu tidak melihat begitu besar perusahaan putraku, hah? Dan bagaimana
mungkin kamu tidak pernah mendengar atau melihat bagaimana orang-orang ditempat kerjamu
memperlakukannya? Ah, sudahlah sekali pembohong tetap pembohong." Mama kembali
membentakku.
Seolah ada sentuhan energi menambah kekuatan untukku. Sehingga aku bisa sejenak mengangkat
kepalaku. Kulihat nenek memandang penuh arti kepadaku. Lalu ku aligkan pandangan pada mama
dan Nasya. Terlihat keduanya menatap tajam kepadaku. Kuhela napas panjang segingga bisa
sedikit mengurangi penat hatiku lalu ku seka air mata yang dari tadi seolah tak henti-hentinya
mengalir.
"Begini saja Aini, saya mau malam ini juga kamu harus pergi dari sini dan jangan lagi
menampakkan wajahmu didepan kami. Dan saya akan menelpon agen yang menanganimu. Lalu
terserah mereka apa sebaiknya yang harus dilakukan untukmu. Tapi yang jelas malam ini juga
kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Mengerti?"
Tangisku kembali pecah. Kali ini aku tak bisa menahan kaki ku segingga aku melangkah kedepan
mama dan tersungkur didepan kakinya. Aku memohon pada mama agar janganelakukan hal ini.
Tapi mama sepertinya benar-benar sudah tidak peduli lagi padaku.
"Maa..! Aini mohon jangan lakukan ini ma..! Aini sayang mama, sayang kalian semua..!" Aku
menangis dan memeluk kaki mama.
Tapi, mama mendorongku hingga aku terjatuh kebelakang. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak ada
__ADS_1
lagi rasa malu untuk menumpahkan tangisku. Rasa hancur semakin menguap dihatiku. Aku takut,
aku sedih, aku kecewa dan aku juga menyesal.
"Pergi...!! Saya bilang sekarang juga pergi...!!" Tegas mama sambil jari telunjuknya menunjuku
kemudian menunjuk kearah pintu depan.
"Maaa..! Maafkan Aini ma...!" Aku kembali memohon pada mama.
"
Ah.. sudah sana pergi, telinga kamu tidak berfungsi ya? Dari tadi mama bilang kamu harus pergi
darisini malah minta maaf lagi-lagi dan lagi. Kalau mama bilang pergi ya kamu harus pergi. Begitu
saja kok susah." Nasya menimpali permohonan maafku pada mama.
Mendengar kata-kata Nasya aku semakin merasa tak berdaya. Dengan perlahan aku menarik
tubuhku untuk bangun dan berdiri. Dengan sedikit berlari kecil akubpergi menuju kamarku. Cepat-
cepat ku kemasi pakaianku.
"Kamu mau pergi kemana Ai?" Tiba-tiba Dina membuka pintu kamarku dan masuk menemuiku.
Aku tidak menjawab pertanyaan Dina karena aku juga bingung entak akan pergi kemanakah aku
saat ini. Aku teringat dengan Sri. Temanku sesama TKW yang dulu satu PT denganku. Dan juga
kebetulan tinggal dan mendapat majikan masih berdekatan denganku disini. Tapi sejak dua bulan
yang lalu aku sudah tidak ada kontak lagi dengan Sri.
Entah apa kabar Sri saat ini, semoga dia baik-baik saja. Seolah tanpa mempedulikan kehadiran
Dina dikamarku aku tetap sibuk mengemasi barang-barangku yang sekiranya penting untuk aku
bawa. Dan tak lupa ku cari buku diaryku disana ku tulis banyak nomor telepon teman-temanku
yang mungkin saja bisa aku mintai pertolongan. Ku cari juga alamat apartemen Sri yang dulu ia
berikan padaku dan aku menulisnya disana. Tak perlu menunggu waktu lama akhirnya aku
menemukan alamat Sri tersebut. Ada sedikit rasa lega setelah menemukan alamat tinggal Sri.
"Din, aku pergi ya. Titip nenek ya Din jangan sampai nenek sakit lagi kalau ada apa-apa hubungi
aku." Pintaku pada Dina setelah selesaiengemasi barang-barangku.
"Iya Ai, tapi kamu mau pergi kemana malam ini?" Dina kembali bertanya.
"Kemana saja Din, yang jelas aku haris pergi dulu dari sini." Jawabku sambil ku tarik koperku keluar
kamar.
Saat melewati ruang yengah kulihat disana ada nenek, mama dan juga Nasya. Mungkin papa
belum pulang makanya papa tidak ada disana. Ku beranikan diriku untuk berpamitan dengan
nenek walaupun tidak dengan mama dan Nasya.
Kulihat nenek meneteskan air matanya saat aku berpamitan dan mencium punggung tangannya.
Malam ini jadi saksi kepergianku dari rumah Tuan Syaeful. Ku langkahkan kakiku dengan kuat dan
mantap meski tak ada arah dan tujuan pasti akan kemana tujuanku. Yang jelas aku kini pergi. Aku
__ADS_1
telah terusir dari lingkungam keluarga angkatku.
Bersambung...