
Pov. Bu Tri
Beberapa hari yang lalu aku sudah menghubungi pihak agensi penyalur tenaga kerja dari Indonesia. Aku meminta untuk di carikan seorang tenaga asisten untuk bekerja mengurus rumah dan segala macam keperluan kami sekeluarga. Aku memutuskan untuk mencari asisten lagi karena sekarang Aini anak angkat kami sudah sibuk bekerja di perusahaan milik kami. Dan dirumah hanya ada ibu saja, danibu ku juga tidak boleh terlalu cape karena khawatir sakit strouke yang dulu pernah ia derita akan berpengaruh dengan beberapa organ tubuhnya jika ia merasa terlalu lelah.
Tadi malam pihak agensi sudah menghubungiku melalui saluran telepon. Katanya seorang asisten yang aku inginkan sudah ada dan sudah mereka interview, dan hari ini mereka memeinta ku untuk datang menginterviewnya langsung kalau cocok boleh aku membawanya untuk bekerja dengan ku.
Aku sampai di depan kantor agensi penyalur tenaga kerja tersebut kemudian aku langsung memarkirkan mobilku. Lalu masuk menemui pihak agensi tersebut. Disana hampir semua ada di kantor itu adalah orang indonesia.
"Selamat pagi." Aku menyapa seorang yang ada di bagian resepsionis.
"Iya nyonya sda yang bisa saya bantu." Timbal gadis cantik tersebut pada ku.
"Iya saya Trihapsah, yang beberapa hari yang lalu meminta untuk di carikan asisten untuk bekerja dengan saya, dan tadi malam saya menerima telepon katanya asisten yang saya pesan sudah ada orangnya dan saya diminta untuk datang agar bisa menginterviewnya langsung hari ini." Jelasku.
"Oya nyonya Tri benar sekali apa yang baru saja anda katakan. Tunggu sebentar ya, saya akan memanggilkan nyonya Lili terlebih dahulu untuk mempertemukan anda dengan asisten yang sudah kami siapkan."
"Baiklah, saya akan menunggunya."
Kudian gadis resepsionis tersebut menelpon orang yang tsdi ia sebut nyonya Lili. Ia memberitahukan akan kedatangan ku saat ini. Beberapa menit kemudian nyonya Lili datang. Ia datang bersama seorang perempuan muda. Tapi sepertinya ia lebih dewasa umurnya dibandingkan dengan Aini. Aku segera beridiri menyambut kedatangan mereka.
"Selamat pagi nyonya Tri." Sapa nyonya Lili pada ku.
"Iya selamat pagi juga nyonta Lili." Jawab ku.
"Maaf kami datang agak telat, apa anda sudah menunggu dari tadi nyobya Tri?"
__ADS_1
"Ah iya, tidak apa-apa. Saya disini juga belum terlalu lama."
"Syukurlah kalau begitu, saya sangat senang bisa kembali berjumpa dengan nyonya Tri. Oya bagaimana kabar Aini?"
"Iya, kabar Aini baik-baik saja. Saat ini ia sudah sibuk dengan pekerjaannya di kantor kami. Ia anak yang mandiri dan juga cerdas. Aini dapat dengan mudah menyesuaikan diri dilingkungan mana saja ia berada. Ia bahkan sama sekali tidak canggung bahkan sejak pertama kali aku bawa ia kekantor. Aini sangat mudah bergaul. Aini juga menitipkan salam untuk mu nyonya Lili."
"Wah..syukurlah. Aku sangat senang mendengar kabar baik tersebut tentang Aini. Berartikan aku tidak mengecewakan mu nyonya. Dan semoga asisten berikutnya ini yang juga kami siapkan untuk anda tidak mengecewakan. Semoga dia juga kelak bisa bernasib sama seperti Aini. Oya sampaikanjuga salam balik ku untuk Aini."
"Iya semoga saja, asalkan ia bisa menjaga kepercayaan yang saya berikan maka akan saya tambah lagi kepercayaan tersebut."
"Oya bagaimana kalau kita langsung saja mulai perkenalannya. Nyonya Tri anda boleh menginterviewnya sendiri jika anda menginginkan hal itu."
"Baiklah nyonya. Saya mulai ya." Aku sedikit membelokan kursi yang aku duduki supaya bisa berhadapan dengan si calon asisten tersebut. Kemudian aku mulai bertanya.
"Boleh saya tahu nama mu?"
"Kamu berasal dari indonesia mana?"
"Saya dari Cianjur Jawa Barat."
"Orang sunda?"
"Iya nyonya."
"Apa kamu bisa masak? Dan bersih-bersih rumah?"
__ADS_1
"Saya bisa nyonya."
"Apa kamu bisa tidur paling akhir dan bangun lebih awal dari semua orang tang ada dirumah?"
"Saya bisa nyonya."
"Baiklah Dina, dalam bekerja dengan saya semua orang adalah sama. Saya punya peraturan yang sangat dasar untuk semua pekerja saya yaitu pertama tidak boleh mencuri, kedua tidak boleh berbohong dalam hsl apa pun. Harus berlaku sopan dengan siapa saja. Dan tidak boleh membantah apa pun perintah saya serta harus fokus bekerja sesuai dengan tugas yang sudah saya tentukan. Apa kamu bisa mengikuti semua peraturan yang saya buat Dina?"
"Bisa nyonya."
"Baiklah, sepertinya anda sangat cekatan ya. Saya suka anda, dan saya harap anda bisa bekerja dengan baik kepada saya. Dan saya juga ingin kamu bisa menjaga kepercyaan yang saya berikan. Saya putuskan untuk menerima kamu sebegai asisten saya. Selamat ya Dina." Aku mengulurkan tanganku dan menjabat tangan Dina. Dina menyambut dan membalas jabatan tanganku.
"Wah.. selamat ya Dina, kamu beruntung. Kamu mendapat majikan yang sangat baik seperti nyonya Tri ini. Tolong jangan kecewakan nyonya Tri dan jangan permalukan saya ya. Ingat, kamu harus jaga sikap mu dalam setiap pekerjaan yang kamu lakukan.
Setelah berpamitan dengan semua pihak agensi tersebut aku membawa Dina keluar dari kantor agensi itu dan kemudian aku pulang kerumah bersama dengan Dina. Diperjalanan aku mengajak Dina bercengkrama masih seputar perkenalan. Aku memberitahunya tentang siapa dan bagaimana aku dan keluarga kami. Serta juga memberitahunya tentang Aini.
"Dina, kita sama-sama orang indonesia. Semoga ini akan membuat mu betah bekerja dengan saya." Tutur ku pada Dina. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan.
"Saya berasal dari malang, saya menikah dengan suami saya yang berasal dari Turki. Kami sudah hampir dua puluh lima tahun tinggal dan membangun bisnis kami di Hong Kong ini. Saya mempunyai dua orang anak laki-laki dan permpuan. Anak-anak kami sudah tinggal bersama kami sejak sepuluh tahun terakhir. Tadinya mereka tinggal di Indonesia bersama nenek mereka, ibu saya. Tapi sekarang mereka dan juga ibu saya sudah ikut tinggal disini bersama saya dan suami. Selain itu, dirumah juga ada anak angkat kami namanya Aini. Dulu dia juga adalag asisten kami sepertimu. Tapi karena kebaikan dan ketekunannya sehingga kami memberinya kepercayaan yang lebih. Kami mengangkatnya menjadi anak, kami memasukannya kekursus, lalu memindahkan pekerjaannya menjadi sekretaris di kantor cabang perusahaan kami." Terangku.
Sementara itu Dina hanya sesekali mengangguk perlahan dan tersenyum saat aku melirik ke arahnya. Kemudian tibalah aku dan Dina di area parkir apartemen kami. Aku memarkirkan mobil, lalu mengajak Dina untuk turun dan berjalan menuju lantai dimana keluarga kami tinggal. Aku memberitahunya tentang bagaimana cara memasuki Lift, dan memberi tahunya dimana rumah yang kami tinggali berada.
Sesampai dirumah, sudah ada ibuku yang membukakan pintu untuk aku dan Dina. Sementara anakku Nasya sedang kuliah, Aini dan suamiku sudah berangkat kerja lebih dulu sejak pagi tadi. Aku memnganalkan Dina pada ibu dan memberitahunya tentang tugas-tugas apa saja yang akan Dina kerjakan selama ia bekerja bersama ku.
Kesibukanku pagi ini menjemput Dina dari pihak agensi, mewawancarainya, dan mengantarnya pulang kerumah kami membuat ku sedikit bisa melupakan sedikit galauku karena kekacauan yang sedang aku hadapi dalam biduk rumah tangga bersama suamiku.
__ADS_1
Bersambung..