
Pov. Nasya
Setelah sholat magrib dirumah kakakku akupun pamit pulang dengannya. Kurasa sudah cukup untuk pembelajarankubhari ini bersama kakakku. Meski masih hanya sekedar membahas cara pembuatan judul, daftar isi, dan cara pebulisan kata itu saja sudah lymayan menambah ilmuku.
Kakakku memintaku untuk makan malam terlebih dahulu dengannya namun aku menolak karena khawatir mama mencariku. Setelah berpamitan akubpulang dengan diantar kakakkubhingga ke area parkir. Lalu ku pacu mobilku menuju rumah. Dan akupun pulang. Sesampai dirumah ternyata benar mama dan papa sudah menungguku. Kemudian mereka bertanya aku dari mana saja.
"Nasya..!" Suara papa memanggilku.
"Iya pa." Jawabku.
"Sini, mama dan papa ada yang mau tanyakan pada Nasya." Ajak papa.
Aku datang setelah meletakkan tas yang tadi berisi laptopku diatas tempat tidur.
"Iya ma, pa. Ada apa ya?" Tanyaku.
"Sini duduk dekat papa." Ajak papa tanpa sempat menjawab pertanyaanku. Kemudian akupun datang dan duduk didekat mama dan papa.
"Dari mana saja kamu seharian ini Nas?" Mama mulai bertanya. Membuat aku sedikit merasa kesal. Masa aku yang sudah sebesar ini kemana-mana harus izin dulu dengan mereka. Pikirku.
"Ma, tadi siang Nasya pergi dengan teman-teman Nasya. Sorenya Nasya pergi kerumah kakak. Nasya minta bimbingan kakak untuk penggarapan tugas akhir kuliah Nasya. Dan ini sekarang Nasya barubpulang dari rumah kakak." Jelasku.
"Sungguh?" Tanya papa lagi.
"Sungguh pa. Coba saja telepon ke kakak kalau mama dan papa tidak percaya Nasya." Aku menjawab dengan nada kesal.
"Ya sudah kalau memang benar begitu. Nggak usah cemberut begitu. Mama dan papa cuma merasa khawatir saja kata Dina kamu seharian tidak ada dirumah. Sedangkan harinininku sedang tidak ada jadwal kuliah dikampus. Makanya mama dan papa khawatir. Kamu anak gadis mama dan papa. Kami tidak mau kamuengalami hal-hal yang tidak ki inginkan." Jelas mama padaku.
Aku hanya diam dan menatap kosong kedepan. Gerah semakin terasa apa lagi dihadapkan dengan berbagai macam pertanyaan seperti ini. Di tambah lagi suhu tubuh yang masih tinggi karena memang aku belum mandi.
"Udah ma pa? Nasya mandi dulu ya. Nanti kita cerita lagi." Aku segera berdiri dan beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuaku yang masih duduk disofa. Aku pergi kekamarku dan mandi.
Tok..tok..tok..
Suara pintu kamarku di ketok.
"Iya siapa?" Jawab ku dari dalam kamar tanpa membukakan pintunya.
"Saya Nas, kalau sudah selesai.mandi ao kita makan dulu. Saya sudah siapkan semua makanan dimeja makan." Suara Dina memanggilku untuk makan malam.
"Iya duluan saja. Sebentar lagi aku menyusul." Jawabku dari dalam kamar.
Tak terdengar lagi suara Dina, mungkin ia sudah pergi. Atau mungkin ia menyusul Aini dikamarnya.
__ADS_1
Aku keluar dari kamar setelah mandi dan mengganti pakaianku lalu ikut membaur makan malam bersama keluargaku malam ini. Aku duduk disamping nenekku. Sesekali pikiranku masih melayang kepada Aini dan kakakku. Hati bertanya benarkah mereka tidak ada hubungan spesial apapun?
Sungguh aku tak bisa menepis rasa kecuriagaan ku ini. Aku jadi khawatir dengan kakakku. Jangan sampai Aini memanfaatkan kebaikan yang kami sekeluarga berikan padanya. Aku tidak mau kakakku masuk kedalam jeratan Aini. Karena tidak ada yang tahu.seperti apa isi hati manusia. Meski terlihat baik dari luar namun belum tentu baik pula didalamnya.
Apa yang Aini inginkan jika benar ia memiliki hubungan spesial dengan kakakku? Masih kurangkah kebaikan keluarga kami selama ini padanya? Ataukah ada hal lain yang ingin ia kuasai disini.
Ini semua tidak bisa dibiarkan. Kakakku tidak boleh punya hubungan spesial dengan Aini. Tapi, aku belum bisa mengambil keputusan sepihak. Bagaimana jika benar hubungan mereka hanya sebatas pertemanan biasa saja. Aku tidak boleh berburuk sangka. Ini harus aku selidiki lebih mendalam lagi. Jangan sampai malas aku yang terkena jeratku sendiri.
"Hai.. Nasya apa yang sedang kamu pikirkan? Dari tadi kok malah melamun saja?" Tiba-tiba Aini mengagetkanku.
"Ah, kamu Ai. Kaget aku." Aku menghela napas sejenak mencoba untuk menetralisir aliran darahku.
"Ayo bangun, saya dan Dina mau membereskan meja makannya." Kata Aini lagi padaku.
Dengan malas aku bangun dari kursi tempat tadi aku makan malam. Entah habis dimana makananku tadi sepertinya tidak berasa diperutku.
"Nasya, sini nduk duduk sama nenek." Ajak nenekku yang tengah duduk disofa santai sambil memakan cemilan dan menonton acara televisi.
"Nasya malas nek, Nasya mau kekamar aja. Cape." Jawabku pada nenek dan kemudian aku pergi berlalu kekamarku.
Sesampainya aku dikamar juga tak tahu apa yang harus aku kerjakan dikamar. Sejenak aku membuka-buka laptopku mengulang-ulang apa yangbtadi sudah aku pelajari dari kakakku. Tapi kemudian rasa jemunpun menghampiri.
Akhirnya kuputuskan untuk keluar saja dan pergi menemui Aini. Ku lihat Aini sedang bersama dwngan Dina baru keluar dari dapur. Mungkin baru saja membantu Dina mencuci piring. Gumamku.
"Iya sudah selesai Nas. Ada apa ya?" Tanya Aini balik padaku.
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku cuma lagi suntuk nih. Yuk temani aku dikamarku." Aku mengajak Aini ke kamarku. Ini adalag caraku supaya aku bisa bercengkrama dengannya sehingga nantinya aku bisa menyelidiki apa sebenarnya hubungan yang ada antara Aini dan kakakku Farenzy.
"Ayuk." Aini menerima.ajakanku tanpa penolakwn sedikitpun darinya. Tentu saja ini kesempatan baik untukku dan tidak bisa aku lewatkan begitu saja.
"Din kamu tolong lanjutkan pekerjaanmu sendiri ya. Aini mau ikut denganku sebentar." Kataku pada Dina.
"Iya Nas." Jawab Dina.
Kemudian aku dan Aini pergi kekamarku. Dikamarku memang ada laptopku yang masih menyala.
"Kamu sedang apa sih Nas, akhir-akhir ini aku perhatikan sepertinya sangat sibuk?" Tanya Aini padaku.
"Ini Ai, aku sebenarnya sedang memasuki penggarapan Tugas akhir untuk kuliahku. Jadi aku sibuk. Tadi saja aku pergi kerumah kakakku untuk meminta ia mengajariku cara-cara pembuatan tugas akhir." Jawabku.
"Owh.. Memang kakakmu sedang tidak sibuk Nas?" Aini kembali bertanya.
"Tidak, dan walaupun dia sibuk aku akan meminta waktu disela-sela kesibulannya untuk mengajariku." Jawabku pada Aini.
__ADS_1
"Owh.." Aini mengangguk.
"Kamu akhir-akhir ini apa tidak sibuk Ai?"
"Tidak. Pekerjaan belum ada yang sangat sibuk dikantor."
"Bagaimana dengan kekasihmu?"
"Pacar maksudmu Nas?"
"Iya itu maksudku. Apa hubunganmu dengannya baik-baik saja?"
"Aku tidak punya kekasih ataupun pacar Nasya. Disini aku bekerja."
"Ah yang benar saja. Tapi banyak juga lho orang-orang yang tadinya pergi untuk bekerja tapi sesampai ditempat bekerja mendapatkan kenalan dan mereka pacaran."
"Iya Nasya, masa kamu tidak percaya padaku. Memang banyak yang seperti itu. Tapi aku disini tidak mau mengecewakan keluarga kalian. Kalian sudah terlalu baik padaku Nas."
"Bagaimana dengan kakakku?"
"Maksudmu?"
"Iya kak Farenzy? Apa kamu sering bertemu dengannya?"
"Bertemu dengannya? Iya kadang-kadang jika ia kebetulan bertemu tidak sengaja dan mengajakku pulang bersama atau makan siang bersama serperti tadi siang aku sedang ke sebuah restoran dan kebetulan bertemu dengannya hingga akhirnya ia juga kembali mengantarku kekantor. Tapi setelah itu ya sudah tak ada komunikasi apapun lagi."
"Apa kamu tahu siapa pacara kakakku Farenzy?"
"Tidak." Jawab Aini denfan diikuti gelengan kepalanya.
"Owh.. aku kira kamu tahu siapa pacara kakakku. Tapi hubungan kalian apa benar hanya sebatas pertemanan seperti itu saja?"
"Iya Nasya, hanya begitu saja seperti yang tadi aku jelaskan." Jawab Aini.
"Owh.. ya sudah kalau begitu nanti kapan-kapan kita labjutkan obrolan ya Nas." Lanjut Aini.
"Lho kamu mau kemana?"
"Mataku sangat ngantuk, aku kekamarku dulu ya."
"Ya sudah iya."
Aini pergi dan aku masih tetap dikamarku menimbang jawaban apa yang tadi Aini berikan padaku. Semoga saja ia tidak berbohong.
__ADS_1
Bersambung...