
Masih Pov. aini
Setelah memasuki lift, kemudian Farenzy memberi tahuku bahwa ia tinggal di lantai 23, sambil ia memilih angka tersebut. Lalu kami naik menggunakan lift tersebut. Setelah sampai di lantai 23 lift berhenti dan kami pun keluar. Farenzy mengjakku kearah salah satu pintu
Dan ia memberitahuku bahwa itulah rumahnya.
"Aini sayang, inilah rumahku." Farenzy mengatakannya sambil ia membuka pintu rumah tersebut.
"Ayo sini silahkan masuk." Lanjutnya.
Aku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk kedalam rumahnya. 'Sangat bersih dan rapi.' Pikirku. Itu kesan pertama tatkala aku mulai menginjakan kakiku di dalam rumah Farenzy. Dari ruang tamunya saja terkesan bahwa orang yang menempati rumah itu sangat menjaga kebersihan di setiap sudut rumah.
"Waaah.. ini benar rumahmu mas?" Tanyaku penuh rasa kagum.
"Iya, memangnya kenapa? Memang tidak besar dan juga tidak bagus dan jauh dari kata mewah tapi aku bangga karena ini adalah hasil dari jerih payahku sendiri. Aku bekerja siang dan malam tak kenal lelah hingga akhirnya aku bisa membeli apartemen ini Ai. Sedikitpun sama sekali tidak ada bantuan dari siapapun bahkan dari orangtuaku sendiri pun tidak." Terang Farenzy padaku.
"Ayo sini ikut aku kita duduk disana saja." Lanjut Farenzy sambil ia menarik tanganku dan mengajakku ke salah satu ruangan lain lagi.
Aku semakin berdecak kagum saat menyaksikan ruangan demi ruangan yang ada di rumah Farenzy ini. Sungguh luar biasa. Ternyata rumah Farenzy sangat besar dan mewah namun tetap elegan dengan tampilan warna-warna tembok yang pas dan sama sekali tidak membuat rasa ketenangan itu sirna sama sekali. Justru sebalinya. Yaitu menumbuhkan rasa nyaman dan damai yang sangat kental.
Berada dilingkungan apartemen mewah sama sekali tidak membuat Farenzy menunjukkan segala kesuksesannya. Aku bahkan sempat meragukan kalau ia adalah asisten dari keluarga Tuan Saeful juga sama seperti diriku.
Tapi siapa dia sebenarnya? Apa sebenarnya pekerjaan Farenzy selama ini? Apakah mungkin dia juga memiliki pekerjaan lain yang aku tidak tahu. Tapi apa pekerjaannya sehingga mampu membuat Farenzy menjadi orang kaya di Hong Kong ini.
Tapi mengapa ia seakan tak pernah mau bercerita padaku walau hanya sekedar memberitahu saja ia tak pernah.
"Hei, sayang ada apa? Kenapa malah jadi bengong seperti itu?"
"Emm..eh, iya mas maaf. Aku jadi terkesima sangkin kagumnya aku sama kamu mas." Ungkapku.
__ADS_1
"Ah, kamu biasa sajalah sayang. Enggak usah lebay seperti itu." Jawab Farenzy sambil ia kembali menarik lenganku pertanda aku harus kembali mengikuti langkahnya. Dan aku menuruti saja seperti apa yang ia inginkan. Aku kembali mengikuti langkahnya dari belakang.
Hingga tiba di sebuah kursi sofa di tengah ruangan yang besar sepertinya ini adalah ruang tengah tempat Farenzy biasa menonton TV dan bersantai ria.
"Duduklah! Tunggu aku disini sebentar. Aku meletakkan barang-barang belanjaan ini terlebih dahulu." Pintanya.
"Baik mas." Jawabku.
Sementara itu Farenzy berlalu meninggalkanku sendirian dan ia pergi dengan membawa semua bahan belanjaan yang tadi kami berdua beli sebelum pulang.
Aku duduk dikursi sofa tersebut dan memperhatikan sekelilingku. Tapi, mataku terhenti pada sebuah gambar berupa poto keluarga dengan ukuran 5R yang terpasang disalah satu sudut dindingnya. Aku segera berdiri dan melangkah mendekat ke arah poto keluarga tersebut.
Dari arah yang sedikit jauh sepertinya aku tidak asing lagi dengan orang-orang yang ada di poto tersebut. Namun aku belum sempat melangkah lebih dekat lagi kearah poto itu untuk memastikan siapa saja orang-orang tersebut. Keluarga dari Farenzy kah itu? Seperti apa wajah kedua orangtuanya? Namun tiba-tiba aku dikagetkan dengan sentuhan Farenzy yang datang dari arah belakangku. Ia menepuk pundakku dan langsung mengangkat tubuhku tanpa permisi terlebih dahulu.
"Kamu sedang apa sayang?" Tanyanya ketika ia berhasil mengangkat tubuhku hingga kini posisi tubuhku tepat berhadapan dengannya.
"I Love U Aini." Kalimat itu keluar dengan begitu saja dari mulut Farenzy. Aku tak mampu melihat tatapannya yang semakin membuatku mabuk kepayang.
Jantungku berdebar semakin kencang saat Farenzy semakin mendekatkan wajahnya kepadaku. Kurasakan hembusan napasnya yang semakin hangat. Ku pejamkan mataku karena tak sanggup melihat apa yang akan ia lakukan lagi selanjutnya.
Aku hanya bisa pasrah atas apapun yang akan terjadi.
Hingga kurasakan sesuatu yang tiba-tiba menempel di bibirku. Aku sekin gemetar. Dan ke**pan itu tak mampu aku menolaknya. Sumpah demi apapun, ini adalah pengalaman pertamaku sejenak aku menikmatinya dunia seakan penuh sensasi. Tapi rasa takut itu tiba-tiba datang menghampiriku. Aku takut terjerumus lebih jauh lagi. Aku takut akan berbuat dosa. Aku takut, dan entah apa lagi yang aku takuti. Aku hanya bisa langsung menarik wajahku dan melepaskan rangkulan tangan Farenzy.
"Ada apa sayang?" Tanya Farenzy seakan tanpa salah.
"Maaf mas. Seharusnya kita tidak melakukan itu." Jawabku.
"Apa kamu belum pernah melakukannya sebelum ini Ai?" Farenzy kembali melemparkan pertanyaannya padaku.
__ADS_1
Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan menggelengkan kepala. Pertanda benar bahwa sebelumnya aku memang belum pernah melakukan hal semacam ini.
"Mas." Aku menyapanya.
"Iya? Ada apa lagi sayang?" Tanya Farenzy padaku.
"Aku mau tanya sesuatu boleh?" Tanyaku balik padanya.
"Iya boleh. Emmm.. aya aku tahu kamu pasti akan menanyakan halyang sama juga kan, apa aku pernah melakukannya sebelum ini? Ya, ya aku akui dulu aku pernah melakukannya beberapa kali."
"Bukan itu mas."
"Lalu apa lagi? Ah, kamu ini sok jual mahal saja."
"Mas, itu..."
"Driing..dring.. driiiiiing..!"
Tiba-tiba telepon berbunyi sebelum aku sempat menanyakan pada Farenzy apakah poto yang terpajang itu adalah poto masa kecilnya dan keluarga atau bukan, karena sepertinya aku sudah tidak asing lagi dengan poto tersebut. Sepertinya aku pernah melihat poto yang sama, tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya. Yang jelas sudah tidak asing lagi bagiku.
Farenzy beranjak menuju meja telepon, meninggalkanku yang masih mematung dengan kekacauan yang mencekam dalam diriku dan ini hanya aku sendiri yang merasakannya. Segalanya terasa begitu cepat. Namun masih menyisakan getaran aneh yang aku sendiri tak paham apa arti semua ini.
"Sayang, mamamu baru saja menelpon, ia menanyakanmu. Aku bilang kalau aku nasih mengajakmu berjalan-jalan sore dan mampir sejenak kerumahku." Kata Farenzy padaku sambil ia mendekat kearahku dengan senyum yang sumberingah.
"Ayo mas antar aku pulang. Aku takut nanti mama akan marah kalau dia tahu tentangbhubungan kita." Aku mengatakannya dengan nada khawatir. Ya, benar aku saat ini sedang khawatir jika mama sampai tahu apa yang telah terjadi antara aku dan Farenzy ia pasti akan.segera memecat Farenzy dan Farenzy akan kehilangan pekerjaannya. Dan tidakenutup kemungkinan begitupula denganku.
Kemudian Farenzy mengantarku pulang dengan masihenyisakan pertanyaan dihatiku. Siapa saja orang-orang yang ada dalam poto yang terpajang didinding rumah Farenzy tadi.
Bersambung...
__ADS_1