
Masih Pov. Bu Tri
Aku masih belum beranjak dari tempat dudukku disofa dimana aku menghempaskan tubuhku tadi saat pertama kali masuk rumah. Bahkan posisiku pun masih sama seperti tadi yaitu dengan tubuh dan kaki seakan selonjor bermalas-malasan.
Namun sebenarnya saat ini aku sedang berada di level galau yang tak menentu. Karena kekhawatiranku dengan hubungan yang terjalin antara putraku Farenzy dan Aini anak angkatku. Selintas pikiranku menerawang kosong seperti sebuah kertas yang terbamg tertiup angin. Terombang ambing tak tahu akan kemana ia terjatuh. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan sebuah sapaan salam dari arah pintu masuk. Hingga semuaenjadi buyar.
"Assalamuaikum..!" Suara Aini datang.
"Waalaikumsalam." Spontan aku menjawab salamnya.
"Dari mana saja kamu Ai? Bikin mama khawarir saja. Tadi mama jemput kamu di kantor orang kantor mengatakan kalau kamu sudah pulang. Tapi saat mama sampai rumah Dina dan nenekmu mengatakan kalau kamu belum pulang. Mama jadi bingung kemana kamu pergi. Mana satupun kami tak ada yang tahu kontak teman-temanmu entah itu yang sesama orang kita ataupun yang bukan." Sejenak aku menghela napas panjang untuk menguruangi sedikit tekanan emosiku yang hampir saja menguasai seluruh isi kepalaku.
"Lain kali kalau pulang kerja langsung pulang ya. Jangan keluyuran lagi. Mama ini orangtuamu. Mama bertanggung jawab atas keselamatanmu Aini. Kalau ada yang mengajakmu pergi kemana-mana kasih kabar mama, atau Dina dan nenek dirumah. Jadi kami tahu kemana kamu pergi." Lanjutku.
Sementara itu Aini hanya diam dan tertunduk berdiri didepanku seperti patung. Kudian ia baru menjawabku.
"Iya ma. Maafkan Aini ya ma. Tadi Aini lupa nggak pamit dulu. Aini juga nggak tahu kalau mas Farenzy akan mengajak Aini pergi-pergi dulu. Aini kira kami mau langsung pulang. Maafkan Aini ya ma. Tolong mama jangan marah dengan Aini ya ma..! Aini mengaku ini semua kesalahan Aini." Jawabnya dengan masih menundukan kepala.
Terlihat airmata Aini bening menetes dipipinya kemudian secepat kilat ia langsung mengangkat tangannya dan menyeka air matanya tersebut. Melihat itu tiba-tiba rasa iba dan kasihanku datang. Aku tak tega melihat Aini meneteska air matanya. Aku percaya Aini anak yang baik tidak mungkin ia mengianatiku yang bukan lagi sebagai majikannya melainkan kini aku sebagai orangtua angkatnya.
"Ya sudah sana pergi kekamarmu. Mandi dan ganti baju." Perintahku pada Aini.
" Iya, ma. Aini mandi dulu ya ma." Jawabnya dengan nada sedikit serak di tenggorokan.
Kemudian Aini pergi meninggalkanku. Setelah itu aku pun beranjak juga dari tempat dudukku tadi dan melakukan hal yang sama dengan Aini. Yaitu mandi dan mengganti bajuku.
Setelah mandi dan mengganti bajuku, aku kembali keluar dari kamar. Aku ingin menanyakan sesuatu pada Aini. Sesuatu itu ialah tentang apa hubungannya dengan putraku Farenzy. Tapi ternyata saat aku keluar dari kamar kulihat Aini sedang bercengkrama dengam Ibuku di balkon. Akhirnya dengan berat hati aku terpaksa mengurungkan dahulu niatku tersebut.
Tak lama kemudian putriku Nasya pun pulang dari kuliahnya. Aku ingin menceritakan tentang apa yang masih kurasakanengganjal dihatiku saat ini.
__ADS_1
"Assaalamualaikum ma." Sapa Nasya sambil iaenyalamilu dan mencium punggung telapak tanganku seperti yang biasa ia lakukan sejak kecil dulu karena seperti itulah yang ibuku dan saudara-saudara kami dikampung ajarkan tentang adab dan kesopanan terhadap orang yang lebih tua.
"Waalikumsalam Nas. Sudah pulang sayang?" Tanyaku pada Nasya.
"Iya ma. Cape banget nih. Nasya langsung kekamar dulu ya ma." Jawabnya. Kemudian ia menghilang dibalik pintu kamarnya yang langsung ia tutup.
Tadinya aku berniat untuk menceritakan apa yang sedang menjadi dilema.di hatiku pada putriku Nasya nunelihat sikapnya yang seperti itu, mungkin benar bahwa ia sedang sangat kelelahan sehingga belum bisa aku ganggu.
Aku memutuskan untuk kembali saja kekamar. Namun baru saja aku masuk kekamar, pintu kamar sudah kembali diketok. Aku membukanya ternyata suamiku. Dia juga baru pulang.
Malam tiba, dan kini saatnya kami untuk makan malam. Dina sudah memasak berbagai macam menu untuk makan malam kami kali ini. Aku berusaha untuk menghilangkan segala prasangkaku terhadap Aini, namun entah kenapa hati ini selalu saja penasaran sevelumemdengar langsung jawaban dari Aini tentang ada hubungan apa sebenarnya dia dengan putraku Farenzy.
"Hei, Nasya ada apa dengan You punya mama. Papa perhatikan dari tadi sepeetinya sedang berpikir keras tentang sesuatu." Tiba-tiba perkataan suamiku itu membuyarkan lamunanku.
"Nggak tahu tuh pa, ada apa dengan mama." Putriku menjawab papanya.
"Emmm.. ah, tidak ada apa-apa pa. Mama cuma merasa masih sedikit kurang enak badan saja." Jawabku.
"Nggak usahlah pa. Nanti mama akan minta Aini saja untuk memijit-mijit badan mama. Kamu bisa kan Ai mijitin badan mama setelah ini?" Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan kepada Aini supaya mereka tidak terus-terusan memperhatikan keadaanku.
"Iya ma bisa." Jawaban Aini membuatku merasa lega karena dengan begitu kupikir akan mudah bagiku untuk bercengkrama dengannya. Aku akan menanyakan ada hubungan apa dia dengan Farenzy.
Setelah selesai makan malam, aku segera bangun dari dudukku dan mengajak Aini untuk memijiti tubuhku.
"Ayo Ai, kamu pijitin mama dikamar kamu saja ya Ai. Mama nggak tahan badan mama terasa pegal-pegal semua." Aku mengajak Aini.
"Tunggu sebentar ya ma, Aini bamtu beres-beres meja makan ini dulu." Kata Aini padaku.
"Ah, sudah letakkan saja biar Nasya yang banruin Dina." Bantahku.
__ADS_1
"Nasya juga cape ma, Nasya mau langsung kekamar aja lah." Elak putriku Nasya.
"Nasya, bantu dulu Dina sebentar..!" Sambung suamiku.
Kemudian Nasya dengan wajah cemberut membantu Dina. Sementara Ibuku pergi duduk di sofa dan menonton acara televisi. Suamiku kekamar membuka laptopnya.
Aku dan Aini berjalan menuju kamarnya, sebenarnya aku sedang berbohong tapi entah Aini menyadarinitu ataukah tidak. Aku tidak sedang ingin di pijiti namun hanya ingin sekedar bertanya saja. Tapi biarlah, kalau tidak menggunakan cara ini aku tidak bisa berduaan dengan Aini dan mengeluarkan apa yang afa dihatiku. Sesampai dikamar Aini aku langsung duduk di pembaringannya.
"Ayo ma,mama berbaring saja biar Aini pijiti badan mama." Pinta Aini. Aku menuruti saja apa yang baru saja Aini katakan. Aku membaringkan tubuhku dan kemudian Aini mulai memijitiku.
"Ai, mama mau tanya sesuatu boleh?"
Aku memmulai pembicaraan dengan Aini.
"Boleh ma,mau tanya apa?" Lanjut Aini.
"Begini Ai, kamu jawab jujur ya. Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Farenzy?" Aku bertanya pada Aini.
"Kami nggak ada hubungan apa-apa ma. Cuma sebatas teman biasa saja." Jawab Aini singkat.
"Sungguh?" Tanyaku lagi.
"Sungguh ma. Tadi mas Farenzy menelponku menanyakan apakah aku mau pulang bersama dengannya. Aku kira mama tidak akan menjemputku sehingga akunmenerima ajakna mas Farenzy itu." Jelas Aini padaku.
"Oh, ya sudah kalau kalian benar-benar tidak ada hubungan apa-apa. Kamu harus jaga jarak ya dengannya." Pintaku.
"Iya ma. Mama nggak usah khawatir ya ma." Jawab Aini.
Setelah aku yakin bahwa mereka tidak ada hubungan apa-apa aku meminta Aini untuk menyudahi pijitannya. Lalu aku keluar dari kamar Aini dan menemani ibuku menonton acara televisi.
__ADS_1
Bersambung..