Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 20. Indahnya Cinta Saat Berbalas


__ADS_3

Pov. Farenzy


Aku pernah jatuh cinta sebelumnya, namaun tak pernah seindah ini. Hatiku tak pernah sebahagia ini. Di taman tadi aku sempat kurang percaya diri. Tapi tetap nekat. Kuungkapkan apa yang selama ini ada dalam hatiku. Perasaan cinta yang tak terbendung untuk Aini. Dan saat menunggu jawaban darinya hatiku semakin tak menentu. Tapi, dari tatapannya aku tahu kalau dia juga merasakan apa yang aku rasa. Aku sangat yakin Aini akan menerima cintaku. Dan semakin yakin saat ku tatap matanya dan ku genggam erat tangannya. Hingga kulihat ia nampak mengangguk dan diikuti dengan senyuman manisnya. Dia menerima cintaku. Sungguh luar biasa. Hatikupun bersorak kegirangan.


Saat makan siang bersamanya, mataku seolah enggan untuk berpaling dari menatap keindahan setiap pada setiap inci yang ada padanya. Rambutnya yang berkilau, matanya yang indah, hidungnya, bibirnya, dagunya. Sungguh ini sebuah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dari yang pernah aku lihat sebelum-sebelumnya. Sungguh tak membosankan berhadapan dengan pemandangan yang seindah ini. Aku ingin selamanya berada didekatnya dan tanpa melepaskan pandangan sekedippun darinya.


Tapi setelah makan siang itu kami harus kembali berpisah. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku di kantor. Aku mengantarnya pulang hanya sampai di depan apartemen saja. Heeemmm hati ini terasa berbunga-bunga seindah bunga-bunga di musim semi. Di kantor aku tidak bisa terlalu fokus dengan pekerjaanku karena bayangannya yang seolah selalu menari di pelupuk mataku. Hingga tiba saatnya pulang dan semua pekerjaan sudah selesai aku berniat mengunjunginya dan membawakan makanan-makanan kecil sekedar untuk cemilannya.


Tapi ah ... Aku membatalkan rencana ku itu. Aku lupa bahwa mama sedang cuti kerja, berarti mama sedang ada dirumah. Tidak mungkin aku menemui Aini sekarang yang ada malah akan membuat mama curiga saja. Aku menghela nafas panjang karena tidak bisa melakukan apa yang ingin ku lakukan.


Aku hanya menghubungi Aini melalui pesan. Seperti biasa sekedar menanyakan ia sedang apa, dan bagaimana keadaannya. Dan bagaimana pekerjaannya. Malam harinya aku kembali menghubunginya tapi kali ini melalui telephone.


"[Halo, Ai kamu sedang apa?]".


"[Enggak ini baru saja selesai makan malam]".


"[Owh.. bagaimana dengan nenek? Maksudku kesehatannya apa semakin membaik lagi?]".


"[Emm.. iya Alhamdulillah nenek sudah jauh semakin membaik dari hari ke hari]".


"[Syukurlah..]".


"[Kamu sendiri sekarang sedang apa mas?]".


"[Aku huga baru selesai makan malam]".


"[Owh..]".


"[Oya Ai, besok pagi kamu berangkat kursus jam berapa?]"


"[Jam delapanan mas, ada apa ya mas?]".


"[Gimana kalau besok pagi aku jemput?]".


"[ Enggak apa-apa sih mas kalau tidak merepotkan]".

__ADS_1


"[Ya enggaklah]".


Obrolan kami di telephone malam ini sebenarnya cukup panjang, bagaimana tidak kami berbincang di telephone selama lebih dari dua jam. Maklumlah, melepas rindu. Hingga Aini mengatakan katanya matanya sudah mulai mengantuk. Lalu kami sama-sama menutup saluran telephone dengan hati yang lega karena rindu yang menggema telah terobati.


Kesejukan pagi pun menyapa dengan embunnya, deru-derang kendaraan menyatu dengan kicauan burung didahan pepohonan tepi jalan. Aku semakin bersemangat menghadapi hari. Sebentar lagi akan kembali berjumpa dengan Aini pujaan hatiku. Ku ambil sepotong roti ku olesi slay kacang kesukaanku. Lalu segera ku raih hanphone ku. Aku menayaka. Pada Aini apakah dia sudah siap untuk berangkat ke tempat kursusnya bersama ku.


"[Maaf mas, aku nggak bisa berangkat kursus sama kamu karena aku akan diantar oleh Bu Tri]".


Itu bunyi pesan balasan yang baru saja ku terima dari Aini. Ah..sialan, ternyata pagi ini aku gagal bertemu dengannya. Karena mama yang akan mengantarnya. Sementara aku tidak mungkin bisa menghalangnya karena aku belum mau kalau mama sampai tahu hubungan kami. Aku tidak mau mengacaukan segalanya. Aku tidak mau Aini kehilangan kepercayaan dari orang tuaku dan juga kehilangan pekerjaannya. Karena aku sadar disini, di Hong Kong ini Aini tidak mempunyai siapa-siapa. Dia hanya seorang diri disini. Dia jauh dari sanak saudara dan kerabatnya.


Baiklah tadi pagi aku gagal bertemu dengan Aini akan aku coba siang ini mengajaknya makan siang bersama. Semoga saja dia mau dan tidak ada halangan lagi untuk kami bertemu.


"Ai siang nanti kita ketemuan di tempat biasa yuk..!" Ajakku saat aku menghubunginya di telephone.


"Iya mas, nanti tunggu aku di taman ya.."


"Oke.. Aini sayang.."


"Ih.. mas Farenzy ini apa-apaan sih.."


"Iya nggak boleh.."


"Nggak boleh atau kamu yang malu-malu?"


"Iya, bener lho nggak boleh kan kita belum sah jadi suami isteri."


"Ya enggak apa-apa lah Ai, kan cuma manggil 'sayang' aja. Enggak yang bukan-bukan. Ini Hong Kong Aini. Bahkan di Indo saja kan nggak apa-apa orang pacaran saling panggil dengan sebutan 'sayang'. Atau kamunya yang kuper?"


"Iihh.. mas ini,ya sudahlah terserah mas Farenzy saja."


"Oke oke..tapi kita jadikan ketemuannya?"


"Iya mas jadi."


Siang sebelum sampai jam makan siang aku sudah mengatakan pada sekretarisku di kantor bahwa aku akan keluar lebih dahulu. Aku pergi menemui Aini. Sesampai di taman aku menunggu Aini beberapa menit lamanya. Lalu kemudian ia datang menghampiriku dari arah belakang.

__ADS_1


"Dor..!" Aini mengagetkan ku.


"Eh... Ya ampun.. aku kira siapa. Lho kok kamu datang dari arah sana?"


"Iya, memangnya kenapa? Kan disana ada jalan tembusan lain. Khusus pejalan kaki."


"Owh .. aku tidak tahu. Maaf ya nona manis."


"Iih.. apa-apaan sih mas.. katanya mau makan siang jadi nggak nih?"


"Iya pasti jadi donk."


Lalu aku dan Aini pergi makan siang dikedai tempat biasa kami makan. Setelah itu aku langsung mengantar Aini pulang. Kesannya memang sedikit kurang baik, karena setelah makan siang kami langsung pulang tanpa jalan-jalan terlebih dahulu. Tapi bagaimana pekerjaanku dikantor masih sangat banyak yang harus aku selesaikan. Dan aku. Berjanji pada Aini bahwa nanti jika ada waktu libur aku akan mengajaknya berjalan-jalan melihat-lihat keindahan kota Hong Kong ini.


"Ai, nanti kalau hari libur kita jalan-jalan ya." Ajak ku.


"Kemana?" Tanya Aini.


"Ke tempat yang kamu belum pernah kunjungi. Kamu mau kan?"


"Iya aku mau." Jawab Aini dengan semangat.


"Ya sudah sekarang kita pulang dulu ya. Aku juga mau balik ke kantor. Di kantor masih ada banyak sekali pekerjaanku." Jelasku pada Aini.


"Iya mas. Oya mas besok lusa aku akan ada acara kelulusan untuk kursusku. Mas Farenzy bisa datangkan?"


"Emmm... Besok lusa ya? Bisa..bisa.. nanti aku akan datang. Oya acaranya pagi?"


"Iya mas. Pagi."


"Ya sudah nggak usah khawatir nanti aku pasti datang."


Akhirnya kami sampai di depan apartemen tempat Aini dan keluargaku tinggal. Aku memberhentikan mobilku lalu Aini turun kemudian aku kembali memacu mobilku untuk kembali ke kantor. Cuaca di akhir musim semi sudah semakin terasa. Sekarang hari-hariku sudah tak sesunyi dulu lagi. Ada Aini yang mengisi hatiku. Cinta yang begitu indah kini telah tumbuh dengan sejuta mimpi.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2