
Pov.Tuan Saeful
Malam ini adalah malam penghujung di tahun 2019 ini. Besok sudah memulai hari baru di tahun 2020. Sudah tiga hari ini aku tidak pulang kerumah. Dua hari yang lalu aku menyewa sebuah kamar hotel yang sengaja aku pesan khusus untuk aku dan Lina. Malam ini aku dan Lina akan merayakan malam tahun baru bersama. Rencana kami berdua ku rasa sudah sangat matang. Malam ini kami akan bersenang-senang tentunya. Tak ada yang bisa menghalangi hasrat kami yang membara ini. Tidak istriku Tri, dan tidak juga putraku Farenzy. Bagiku kini mereka bukan apa-apa dan tak berarti apa-apa pula. Mereka hanya hal sepele yang selalu mengusik kesenanganku saja.
Akhirnya malam yang aku tunggu-tunggu telah tiba. Setelah bersantap malam bersama Lina, aku duduk disebuah kursi dan menyalakan televisi. Lina duduk disampingku dan bergelayut manja di pundakku. Sungguh bahagia rasanya, seperti dunia ini hanya milik kami berdua saja.
Detik, menit dan jam berjalan dannberlalu begitu saja. Aku seakan tak ingin mengakhiri kebersamaan yang indah ini. Kulirik jam di tanganku saat ini menunjukan pukul 22.35 waktu Hong Kong. Aku berdiri sejenak melihat keluar jendela. Malam yang indah dengan gemerlap lampu jalanan serta irama musik yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Mungkin dari rumah warga disekitar. Karena saat ini pemerintah sedang membatasi kegiatan masyarakatan.
Aku dikejutkan dengan pelukan Lina yang datang dari arah belakangku. Tak hanya sekedar memelukku ia juga bahkan dengan beraninya menc**mi di area sekitar leherku. Sejenak aku menggeliat. Dan otomatis badanku pun memutar hingga membuat posisi kami saling berhadapan dengan dekatnya dan saling menatap, tangan Lina ia angkat hingga melingkari leherku.
Aku menariknya hingga kini tubuh kami semakin dekat bahkan sangat menempel. Dada mon**knya yang seakan semakin menantangku, dengan kulit putih mulus serta leher yang jenjang dan dagu runcing juga bibir tipisnya yang basah diiringi dengan kerlipan mata yang menandakan ia memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.
Lina menarik tanganku, dan kami berjalan menuju sebuah tepat tidur. Disamping ranjang yang indah dengan kasur busa empuknya, Lina dan aku kini berdiri berhadapan. Ia menatapku dengan tatapan penuh arti. Dan tak akan ku sia-siakan kesempatan baik ini. Aku segera mengangkat tubuhnya yang indah itu dan membaringkannya diatas tempat tidur.
Jiwa lelakiku kian merasa tertantang untuk menyalurkan hasrat yang seakan membara terbakar nafsu. Kami saling berc**bu. Ia juga semakain berani kini Lina membuka satu per satu kancing kemejaku hingga tertanggal dari tubuhku.
Semua kurasa begitu indah. Ingin aku selamanya seperti ini bersama Lina. Nafasku mulai tersenggal. Ia juga semakin nakal dan berani memulai segalanya. Tapi..
Tok..tok..tok...
Suara pintu kamar hotel tempat dimana kami sedang akan memulai bercinta ria di ketok dengan keras. Lina menatapku, aku segera mengerti arti tatapannya. Ia memintaku untuk melihat dulu siapa yang datang. Tapi aku tak mau peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.
__ADS_1
Tok..tok..tokkk..!!
Treeet..treeet...treeeeet..
Suara ketokan pintu diikuti dengan dengan suara bell di pencet dari luar. Pertanda ada orang yang ingin kami bukakan pintu. 'sial...!' gumamku dalam hati.
Aku segera beranjak tanpa mengangkat dan memakai kemejaku terlebih dahulu. Berlalu meninggalkan Lina, aku menuju pintu. Kubuku kumcinya dan segera kutarik sejurus itu pintupun terbuka.
'Polisi'. Aku kaget.
Diluar pintu sudah berdiri empat orang berseragam polisi dengan jaket hitam dan pistol juga borgol di tangan. 'Ada apa ini?' pikirku. Lidahku terasa kaku. Tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
Aku terkejut bukan main. Barang terlarang? Prostistusi?. Apa-apaan ini?
Tanpa banyak bicara keemapat polisi itu langsung masuk kekamar hotel kami. Lina langsung berdiri dengan tatapan tak percaya. Salah satu polisi itu langsung menggeledah lemari dan tas milik aku dan Lina. Salah satu lagi langsung memborgol tangan Lina. Tanpa perlawanan Lina mengikuti saja apa yang mereka perintahkan.
"Lìnà xiǎojiě nǐ bǎ nà jiàn wéijìn wùpǐn fàng nǎ'erle?" (nona Lina dimana anda menyimpan barang haram itu)?.
"Wǒ bù bǎocún rènhé dōngxī". (saya tidak menyimpan apa pun).
"Bù sāhuǎng..!" (Jangan bohong..!) Bentak sapah satu polisi terhadap Lina.
__ADS_1
Kemudian salah satu dari mereka yang tadi menggeledah tas milik Lina menemukan sesuatu dari sana. Ada sebuah bungkusan berwarna putih. Polisi itu lalu menyobeknya dan memperlihatkan kepada kami semua.
"Wǒ zài lì nà xiǎojiě de bāo lǐ fāxiànle zhège dōngxī ." (ini barangnya saya temukan di tas nona Lina).
Aku terkejut bukan main. Lina yang kukira polos dan lugu itu ternyata adalah seorang pengedar narkotika jenis Ciu dan Sabu. Kemudian aku dan Lina digiring kekantor polisi. Pikiranku kacau. Hatiku hancur. Malam ini yang tadinya aku kira akan aku habiskan dengan indah bersama Lina di kamar hotel tapi malah yang terjadi sebaliknya.
"Xiānshēng, wǒ shénme dōu bù zhīdào. Wǒ méiyǒu gānshè tā fēnfā fēifǎ wùpǐn." (saya tidak tahu apa-apa tuan. saya tidak ikut campur dengannya dalam pengedaran bparang haram itu).
"Dào bàngōngshì lái jiěshì yīxià." (Ikut saja kekantor nanti jelaskan disana).
Tak ada pilihan lain lagi bagiku selain mengikuti saja apa perintah dari polisi-poilisi ini. Saat berjalan keluar dari hotel itu aku hanya bisa tertunduk. Aku malu. Karena aku terjebak dalam permainanku sendiri. Apa yang harus kukatakan pada anak-anak dan isteriku. Bagaumana nasip perusahaanku jika nantin aku di penjara.
Awal tahun yang sial..! Aku benci ini semua. Inikah pembalasan atas penghianantanku selama ini kepada anak dan isteriku . Aku sudah menyia-nyiakan mereka. Kepalaku terasa semakin lama semakin berat. Didalam mobil polisi yang membawa aku dan Lina malam ini aku tertunduk penuh penyesalan.
Sesampai di kantor polisi, mereka meminta aku dan Lina untuk mengisi data diri. Tangan ku gemetar. Air mataku tak bisa untuk aku bendung. 'Memalukan kamu Saeful..!' Aku memaki diriku sendiri dalam hati.
Kemudian setelah selesai mengisi lembaran data diri tersebut. Aku menyerahkannya pada seorang polisi yang bertugas mengintrogasi kami. Aku bahkan tak sempat lagi mempedulikan Lina. Pikiranku melayang hanya penuh penyesalan karena telah menghianati orang-orang yang selama ini mempercayaiku dan mencintaiku sepenih hati.
Kemudian datang salah seorang polisi lain menghampiri, ia mengatakan bahwa mereka sudah menghubungi keluargaku melalui telepon memberitahukan keberadaanku saat ini dikantor polisi. Aku semakin tertunduk, kepalaku seakan semakin berat. Entah apa yang akan ku katakan pada mereka. Anak-anak dan juga isteriku. Karena sebentar lagi mereka pasti akan segara datang.
Bersambung ...
__ADS_1