
Pov.Farenzy
"Ayo lah sayang makan.. yuk aku suapin ya.." Aku mencoba untuk membujuk Aini.
"Bagaimana mungkin perutku bisa merasa lapar mas, sedangkan pikiran ku saja masih kacau balau." Aini menghela nafas, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Sayang... Kamu harus tenang jangan banyak pikiran. Kamu pasti bisa sembuh dalam waktu dekat." Aku kembali menenangkan Aini.
"Heem.." Aini mengangguk pelan.
"Ya sudah,.ayo buka mulutnya. Aku suapin ya. A..a.." Aku mencoba mengajak Alini untuk membuka mulutnya. Dan aku berhasil ,kali ini Aini mau memakan nasinya. Aku menyuapinya hingga beberapa suapan.
"Sudah mas. Aku sudah kenyang." Kata Aini.
"Ayo donk dimakan lagi ya sedikit lagi." Aku kembali membujuknya.
Namun Aini tetap saja menggelengkan kepalanya. Aku tidak bisa memaksanya lagi. Yang penting dia sudah makan mesku hanya beberapa suapan saja.
"Mas,.."
"Iya apa?"
"Kamu nggak makan mas?"
"Iya nanti aku makan, kan gantian dengan mereka."
"Kapan ya mas aku pulang dari sini. Bosen rasanya disini terus."
"Kan tadi kata dokternya besok pagi. Sabar ya Ai, besok pasti kita pulang."
"Iya mas."
Lalu mama, papa, nenek dan juga Nasya datang. Mereka sudah selesai makan siang. Aku dan Aini berusaha untuk bersikap biasa saja didepan mereka, seolah kami berdua tidak ada hubungan apa pun. Entah sampai kapan aku dan Aini akan merahasiakan hubungan kami ini. Terutama tentang siapa aku. Kadang aku berpukir untuk memberi tahu Aini bahwa aku adalah putra dari mama dan papa, majikan Aini. Tapi aku juga takut kalau Aini tahu nanti bagaimana kalau ia malah mengakhiri hubungan kami.
"Assalamualaikum.." Salam Nasya.
"Waalaikumsalam.." aku dan Aini menjawabnya bersamaan.
__ADS_1
"Kami semua sudah makan siang, kamu sudah makan siang Ai?" Tanya mama pada Aini.
"Sudah bu." Jawab Aini.
"Ren, sekarang kita gantian sana kamu makan siang dulu. Kami semua sudah." Kata nenek pada ku.
"Iya nek."
"Sudah sana makan dan sholat dulu." Sambung nenek lagi.
Aku langsung beranjak dan pergi meninggalkan mereka. Saat sedang makan siang, pikiranku jadi melayang pada Aini. Kasihan dia, dia mengalami musibah ini jauh dari keluarga dan orangtuanya. Aini pasti mengalami trauma. Aku harus bisa membantunya pulih secepatnya. Aku ingin selalu ada di dekatnya tapi sepertinya itu tidak mungkin karena nanti hanya akan menimbulkan kecurigaan kuargaku saja.
Selesai makan siang aku kembali keruangan tempat dimana Aini sedang dirawat. Lalu mama memanggilku keluar sebentar.
"Ren, kami akan pulang dulu kamu disini sendirian temani Aini nggak apa-apa kan? Nanti malam kita gantian. Biar mama dan papa yang jaga Aini." Kata mama pada ku.
"Iya ma, nggak apa-apa." Jawabku. Lalu aku dan mama kembali masuk kedalam ruangan perawatan Aini.
"Ai, kami pulang dulu ya, disini ada Farenzy kalau ada apa-apa panggil saja dia." Ucap mama pada Aini.
"Iya bu." Jawab Aini.
"Iya nek. Nenek hati-hati dijalan ya."
"Iya nduk."
Lalu mama, papa, Nasya, dan juga nenek pulang, tinggal aku dan Aini kembali berdua disini, diruangan rumah sakit ini.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu ya. Biar aku yang jagain kamu disini." Kataku pada Aini. Lalu aku menarikkan selimut Aini dan merapikannya. Aini tertidur sementara aku duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Sampai kapanpun aku akan selalu menjaga kamu sayang. Bisikku dalam hati.
Sementara Aini terlelap dalam tidurnya aku menatap wajahnya lekat dari kursi tempat aku duduk. Wajahnya kemayu yang sendu. Mungkin karena luka di punggungnya yang mengakibatkan luka yang sangat parah sehingga tulang punggungnya patah. Kasihan dia. Andai saja hubungan kami sudah resmi dan mendapat restu pastilah aku akan membiarkannya terlelap dalam dekapanku. Terbintas dalam pikiranku untuk memberi tahukan kepada keluarga ku akan jalinan hubungan antara aku dan Aini saat ini. Dan aku juga ingin memberi tahu Aini bahwa aku adalah putra dsri majikannya. Tapi aku masih sangat ragu akan itu. Entah apa aku juga belum tahu apa sebenarnya yang membuat aku ragu untuk mengungkap semuanya.
"Mas, aku haus." Suara Aini membuyarkan lamunanku.
"Owh..iya sayang, tunggu ya aku ambilin." Lalu aku menuangkan air minum yang sudah ada di meja dan kemudian memberikannya pada Aini. Untuk saat ini Aini minum masih menggunakan selang sedotan karena Aini masih belum bisa bangun, ia harus tetap dalam posisi berbaring atau paling tidak bisa miring sedikit ke samping.
"Ini sayang diminum dulu airnya."
__ADS_1
"Iya terimakasih mas."
Aku membantu Aini untuk sedikit memiringkan tubuhnya agar ia bisa lebih mudah minum. Lalu setelah minum Aini kembali aku baringkan seperti semula.
"Mas, apa kamu masih mau melanjutkan hubungan kita?" Tiba-tiba Aini bertanya yang sama sekali tidak aku mengerti maksudnya.
"Maksud kamu apa Ai?" Aku balik bertanya padanya.
"Bagaimana kalau aku lumpuh seperti ini selamanya, apa kamu masih mencintaiku mas?" Tanya Aini lagi.
"Iya, jelas lah sayang. Apa pun keadaan kamu dan sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu. Aku menarik kursi yang ada di samping meja tunggu itu. Lalu duduk disamping Aini. Ku raih tangan Aini. Kungenggam jari-jemarinya yang mungil di banding dengan tanganku yang lebih kekar. Aku meyakinkan Aini.
"Kamu percayakan sayang sama aku?" Tanya ku padanya. Aini hanya mengangguk dan tersenyum sipu. Ku elus wajahnya yang lembut dengan punggung tanganku. Lalu Aini menarik tanganku dan balas menggenggam tanganku.
"Janji ya mas, jangan pernah tinggalkan aku."
"Iya Aini sayang."
Tak terasa waktu terus berlalu hingga malampun tiba. Aini kembali terlelap dalam tidurnya, mungkin efek dari suntikan bius yang diberikan oleh dokter tadi. Ada sedikit kekesalan dihatiku, karena sebentar lagi mama dan papa akan datang sedangkan aku pasti akan disuruh pulang. Sepertinya aku tak ingin berpisah dari Aini.
Aku ingin selalu seperti ini. Bersama dengan Aini. Menghabiskan waktu berdua dengannya. Tapi untuk sekarang itu masih menjadi hal yang tidak mungkin. Karena kami masih harus tetap merahasiakan prihal hubungan kami. Dan sekarang yang paling penting adalah mesembuhan Aini. Itu saja lebih dari segalanya. Aku yakin Aini ku pasti kuat ia pasti bisa melewati semua ini.
"Assalamualaikun.." Ternyata mama dan papa sudah datang.
"Waalaikumsalam.." Jawabku.
"Bagaimana keadaan Aini Ren?". Tanya mama.
"Aini sedang istirahat." Jawabku.
"Oya ini kami bawakan makanan untuk kamu makan malam." Mama memberukan sebuah bungkusan makanan. Lalu aku mengambilnya.
"Oya kamu boleh pulang sekarang Ren.. untuk malam ini biarkan kami yang menjaga Aini disini."
"Iya, aku pulang dulu ya ma.. pa.." Aku berpamitaan.
"Aini aku pulang dulu ya, dan besok mungkin aku juga belum bisa menemani mu disini karena aku harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanlu dahulu." Aku berpamitan pada Aini meski saat ini ia sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Bersambung..