
Pov. Penulis
"Apa? Aini pergi dari rumah kita?" Tuan Syaeful bertanya penuh ketidak percayaan terhadap Tri
sang isterinya.
"Iya pa." Jawab Nyonya Tri.
"Mengapa bisa? Apa yang telah terjadi?" Tuan Syaeful kembali bertanya.
"Maaf pa, tapi mama terpaksa mengusirnya sehingga ia pergi dari sini." Nyonya Tri mengakui jika ia
yang telah mengusir Aini hingga Aini pergi dari rumah mereka.
Sementara Tuan Syaeful sangat terkejut mendengar apa yang baru saja isterinya katakan. Ia
bingung, ada masalah apa sebenarnya bukankah hubungan keluarga mereka selama ini baik-baik
saja. Dan Ainipun sepertinya tidak pernah berbuat kesalahan. Tapi mengapa Tri sampai
mengusirnya dari rumah.
"
Apa yang telah kamu lakukan ma? Dia punya orang tidak pernah berbuat salah." Tuan Syaeful
bingung dengan sikap isterinya.
"Papa yang tidak tahu apa yang sudah Aini lakukan dibelakang kita. Papa mau tahu seperti apa
Aini sebenarnya?"
"
Aini orang baik-baik. Apa yang sudah ia lakukan sehingga mama mengusirnya?"
"Dia sudah menggoda dan merayu putra kita pa. Farenzy." Tegas nyonya Tri kepada suaminya.
"
Ah, mama ada-ada saja, mana mungkin Aini melakukan itu." Bantah Tuan Syaeful.
"Tidak ada yang tidak mungkin papa. Ini adalah kenyataannya." Nyonya Tri kembali menegaskan
kepada suaminya. Namun apa yang ia katakan seolah tak berpengaruh apa pun terhadap Tuan
Syaeful.
Tuan Syaeful berlalu pergi meninggalkan isterinya yang merasa lelah memberi penjelasan namun
sia-sia saja. Ia seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang baru saja Nyonya Tri katakan.
Baginya ini hanyalah sebuah kebohongan semata karena kecemburuan antara istri beserta
putrinya dengan Aini.
Menurut Tuan Syaeful, Aini tidak mungkin melakukan semua itu. Baginya ia sangatlah mengenal
sosok Aini. Baginya Nyonya Tri dan juga Nasya putri mereka khawatir jika sampai Aini menguasai
perusahaan mereka. Sedangkan status Aini dikeluarga mereka hanyalah sebagai seorang anak
angkat saja.
Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Tuan Syaeful. Ia merasa khawatir dengan Aini.
Dia merasa bersalah karena telahengabailan tanggung jawabnya kepada Aini. Saat ini dirinya tidak
__ADS_1
tahu dimana keberadaan Aini. Dan bagaimana keadaan Aini. Dan ini yang membuatnya semakin
kesal kepada Tri sebagai isterinya yang telah mengambil keputusan salah yaitu dengan mengusir
Aini tanpa sepengtahuan dirinya.
Dengan bergegas Tuan Syaeful pergi kekamarnya ia mengambil kontak mobilnya dan kemudian
keluar tanpa berpamitan dan basa-basi kepada isterinya tersebut. Niatnya ia berencana untuk
mencari keberadaan Aini. Meski ia sendiri tidak bisa memastikan kearahmanakah ia akan
menekan arah laju mobilnya tapi baginya ia harus tetap menemukan Aini secepat mungkin.
***
Sementara itu setelah melihat sikap suaminya yang seolah tak menerima jika Aini sudah terusir
dari rumah mereka, Nyonya Tri segera menghubungi Nasya. Nyonya Tri percaya hanya Nasya satu-
satunya orang dalam keluarga mereka yang bisa ia andalkan.
"Nasya, papamu baru saja keluar dari rumah sepertinya ia akan pergi untuk mencari Aini. Kalau
bisa sekarang juga kamu ikuti papamu." Nyonya Tri berbicara dengan Nasya putrinya.
"Tapi ma, sekarang Nasya sedang ada ujian dikelas. Mana mungkin Nasya bisa membuntuti papa."
Jawab Nasya.
Dan jawaban dari Nasya ini justru malah membuat Nyonya Tri geram. Lalu ia mencari cara supaya
segala upaya Tuan Syaeful untuk menemukan Aini akan gagal. Setelah berpikir beberapa saat
kemudian Nyonya Tri berniat membuntuti suaminya. Namun saat ia hendak keluar rumah ternyata
"Mau kemana kamu?" Tanya Nenek Siti kepada Nyonya Tri.
"Eh Ibu. Emmm.. anu, itu. Saya mau nyusul mas Syaeful bu." Jawab Nyonya Tri dengan terbata-bata
karena ia tak bisa menyemvunyikan keterkejutannya.
"Untuk apa?" Tanya Nenek Siti lagi.
"
Aku ada perlu dengan mas Syaeful bu." Jawab Nyonya Tri dengan nada kesal.
" Sudah biarkan saja Syaeful mencari Aini. Kamu tetap disini saja." Tegas nenek Siti pada anaknya
itu.
"Ibu..! Aku ini Isyrinya mas Syaeful anak kandung Ibu. Mengapa Ibu lebih memilih gadis
Kam*ungan itu. Ini rumahku bu..! Dan saya tidak mau kalau Aini sampai masuk lagi kesini. IbuĀ
mengerti?" Nyonya Tri berkata dengan nada keras kepada Ibunya.
Dan ini yang membuat jantung nenek Siti seperti mau jatuh. Nenek Siti merasa sangat sedih
dengan apa yang kini tengah terjadi dalam keluarganya. Bahkan ia sangat mengkhawatirkan Aini.
Bagi nenek Siti kehadiran Aini dalam leluarga mereka sangatlah berarti. Dan meski benar ada
hubungan percintaan yang terjalin antara Aini dan Farenzy cucunya nenek Siti bertekad untuk
mendukung hubungan mereka tersebut. Bagi nenek Siti Aini adalah wanita yang tepat untuk
__ADS_1
menjadi pendamping hidup Farenzy. Selama ini nenek Siti bahkan belum pernah sama sekali
melihat raut kebahagiaan di wajah Farenzy kecuali setelah adanya kehadiran Aini dalam keluarga
mereka ini.
"Tri.. dengarkan Ibu nak. Putramu Farenzy itu sudah dewasa sudah sepantasnya ia memilih sendiri
pasangan hidupnya. Bukankah Ibu sendiri tidak pernah mengajarkan sikap yang seperti ini
kepadamu?" Nenek Siti mencoba untuk meredakan emosi putrinya.
"Ibu..! Sudah cukup..! Kalau tidak ibu pulang saja ke Indonesia. Farenzy itu anakku bu.. dia penerus
perusahaan kami. Dia memang sudah dewasa dan dia memang berhak menentukan pilihannya
tapi harus dengan persetujuaanku. Karena aku tahu wanita mana yang terbaik untuk putraku."
Nyonya Tri kembali membentak nenek Siti.
Tanpa nenek Siti sadari butiran bening itu jatuh begitu saja dipipinya. Hatinya hancur tak mampu
menerima perlakuan dari anaknya sendiri. Andai tubuhnya tak serenta ini mungkin ia akan segera
pergi pulang ke tanah air meninggalkan semua yang ada di Hong Kong ini. Tapi itu semua sudah
tidak mungkin lagi baginya. Kesedihan dan kepiluan itupun langsung menjalar keseluruh aliran
darah nenek Siti. Dadanya terasa sesak. Jantungnya sakit.
Bruuuukkk..
Tubuh nenek Siti terjatuh kelantai. Pandangannya gelap, ia sudah tak bisa mengingat apa-apa lagi.
"Bu..!"
Nyonya Tri yang melihat tubuh nenek Siti terjatuh itu segera berhambur kembali mendekati ibunya.
Ada sesal yang tak lagi berguna dalam hati Nyonya Tri.
"Dina..! Tolong Din..!" Nyonya Tri memanggil Dina.
Secepat kilat Dina sang asisten itupun datang. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat tubuh nenek
Siti sudah jatuh dilantai.
"
Ada apa ini bu?" Tanya Dina.
"Nenek terjatuh Din.." Jawab Nyonya Tri tanpa ia menceritakan kepada Dina tentang permasalahan
yang sebenarnya tadi terjadi.
Lalu Nyonya Tri dan Dina membopong tubuh nenek Siti ketempat tidurnya kemudian Dina
menelpon dokter. Kemudian setelah beberapa waktu lamanya dokter itupun datang. Lalu langsung
memeriksa keadaan nenek Siti. Tapi dokter itu menyarankan agar nenek Siti segera dirujuk
kerumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih akurat.
Nyonya Tri sangat merasa menyesal atas yang telah ia lakukan pada ibunya. Nyonya Tri benar-
benar khilap telah berkata kasar pada Ibunya hingga kini membuat ibunya tidak sadar dan haeus
dirawat dirumah sakit.
__ADS_1
Bersambung..