Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.56. Pertama yang terindah dengan Aini


__ADS_3

Pov. Farenzy


Hari ini adalah hari bersejarah bagi hidupku. Sebenarnya bukan ada kejadian apapun, tapi hanya karena aku telah mengalami sebuah gaya tarik yang luar biasa sehingga mampu membuatku terjatuh kedalam hangatnya ke**pan pada bibir indah Aini yang tak mampu untuk aku lupakan. Sejujurnya aku tak ingin ke**pan itu berakhir. Sensasi yang begitu indah aku rasakan saat kami saling meng**um. Harum nafasnya seakan tak mampu aku mengusirnya dari hidungku. Aku sungguh terpesona dengan kecantikannya. Hingga segalanya terasa indah bagiku.


Tapi, entah mengapa tiba-tiba saja Aini menarik wajahnya dan melepaskan rangkulanku hingga semua keindahan itu terpaksa harus berakhir begitu saja. Aku yang tak paham apa maksud Aini mengakhiri semuanya mencoba bertanya pada Aini ada apa sebenarnya sehingga Aini mengakhiri semua itu dengan begitu cepat. Namun Aini hanya mengatakan bahwa tidak seharusnya kami melakukan itu.


Ku rasa ini adalah pengalaman pertama Aini, maka dari itu kebahagiaanku semakin bertambah. Karena aku telah berhasil memberikan pengalaman pertama untuk Aini. Aku bisa merasakan dari sensasi yang hadir bahwa ini adalah kali pertama Aini melakukannya.


Tapi, bagiku ini bukan lagi hal yang baru. Sudah pernah beberpa kali melakukannya dulu dengan beberapa mantan pacarku sebelum-sebelumnya. Tapi entah mengapa kali ini sepertinya sangatlah berbeda. Sama sekali tak ada kesamaan dengan rasa yang dulu pernah aku alami. Jantungku tak pernah berdetak sekuat ini.


Sungguh ini adalah pengalaman terindah bagiku meski bukan yang pertama namun tak akan pernah terlupakan. Aini telah mampu membiusku dan membuatku jatuh tersungkur kedalam lembah hayalan yang bertamengkan surga.


Namun, ada sesuatu yang lain yang sebelumnya sempat membuat aku sedikit gelabakan. Yaitu tentang poto keluarga kami yang aku pajang di dinding. Sepertinya ada yang ingin Aini tanyakan tentang poto itu namun aku berhasil mengalihkan pertanyaannya itu.


Entah mengapa sampai sekarang aku seakan belum siap untuk memberitahukan kepada Aini tentang siapa aku sebenarnya. Semakin lama aku semakin takut kehilangan Aini.


Percakapanku dengan Aini terpaksa berakhir karena mama menelpon, dan menanyakan apakah Aini ada bersamaku. Karena sudah lewat jam pulang kantor dan Aini belum juga pulang.


"[Halo Assalamualaikum Ren]." Sapa mama diseberang sana.


"[Iya halo Waalaikumsalam ma, ada apa ma?]" Tanyaku pada mama.


"[Enggak ada apa-apa mama cuma mau tanya apa Aini ada bersamamu?]" Tanya mama lagi.


"[Oh, iya ma. Ini Aini ada disini bersama aku]." Jawabku.

__ADS_1


"[Kalian ngapin aja Ren]." Tanya mama lagi.


"[Enggak ngapa-ngapain ma, aku cuma mengajak Aini jalan-jalan sore melihat pemandangan kota Hong Kong karena aku pikir kasian juga Aini jarang rekreasi]." Jelasku pada mama, lumayan keras juga akunberpukir alasan apa yang harus akungunakan untuk meyakinkan mamaku. Dan akhirnya kalimat itulah yang ku luncurkan sebagai alasan pada mama. Semoga saja mama benar-benar percaya akan alasanku itu.


"[ Sekarang kalian sedang dimana?]." Tanya mama lagi.


"[Ini ma.. aku mengajak Aini mampir sebentar kerumahku]." Jawaku pada mama.


"[ Renzy, tidak baik kalian terlalu lama berduaan disana.. Ayo sekarang juga antarkan Aini pulang.]" Kata mama dengan nada sedikit meninggi.


Duh.. semoga saja mama tidak akan marah.


"[Iya ma, sekarang juga aku akan antar Aini pulang]." Jawabku.


"[Ya sudah mama tunggu dirumah, cepat ya Ren..!]." Pinta mama.


"[Ya sudah mama tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum]."


"[Waalaikumsalam ma]."


Aku memberitahu Aini bahwa yang menelpon barusaja adalah mama. Dan mama memintanya untuk segera pulang. Sepertinya Aini juga khawatir kalau mama marah padanya dan dia pun memintaku untuk cepat-cepat mengantarnya pulang.


Seperti yang mama dan Aini pinta aku segera mengantar Aini pulang. Diperjalanan pulang aku mengajak Aini berbincang-bincang sedikit untuk menghilangkan ketegangan yang aku rasa telah timbul akibat apa yang telah kami lakukan dirumahku tadi, meski aku dan Aini sama-sama menikmati. Namun tak bisa aku bohongi bahwa ada sedikit rasa kaku antara aku dan Aini setelahnya.


"Ai, nanti kalau mamamu tanya jangan katakan bahwa kamu tadi menemani aku berbelanja bulanan. Tapi katakan saja kalau kita hanya berkeliling untuk menikmati keindagan sore hari saja. Kamu pahamkan maksudku. Supaya mama tidak marah denganmu." Kataku pada Aini.

__ADS_1


"Iya mas, aku paham." Jawab Aini.


"Sayang kamu bahagia tidak hari ini?" Tanyaku lagi.


"Maksud mas?" Aini malah balik bertanya.


"Em..eh..tidak, tidak apa-apa." Aku membatalkan pembicaraanku. Aku takut malah akan menyinggung perasaan Aini. Aku tidak mau Aini marah padaku.


"Oya sudah sampai ni.. aku antar sampai sini saja ya, nggak apa-apa kan?"


"Iya mas, nggak apa-apa. Terimakasih ya mas."


"Iya, salam untuk semua yang ada dirumah."


"Iya mas."


Aini turun dan aku kembali melajukan mobilku untuk kembali pulang. Hari ini sungguh luar biasa bagiku. Hatiku seakan enggan untuk berpisah dengan Aini. Aku ingin selamanya bersama dengannya. Duh..Aini sungguh kamu gadis yang luar biasa, aku sudah pernah jatuh cinta sebelumnya namun baru kali ini aku yang seakan tak beradaya.


Sepulang dari mengantarkan Aini, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selain membayangkan sejuta keindahan yang tadi baru saja ku alami bersama dengan Aini. Setiap sudut rumahku seakan dipenuhi oleh bayangan Aini. Bahkan saat aku mengedipkan atau memejamkan matapun bayangan Aini seolah masih terasa nyata ada didekatku. Bahkan yang lebih bodoh lagi aku seakan tak bisa melupakan wangi hembusan napas Aini. Manis senyumnya, lembut kulitnya, dan segala yang ada panya tak ada cela sama sekali.


Tuhan..! Begitu sempurnakah Engkau telah menciptakan seorang makhlukMu? Seujung jaripun ia seakan tak ada kurangnya.


Ah.. dasar aku ini, begitu rapuhkah aku hanya karena sebuah rasa cinta semua keindahan seperti hanyalah milik Aini saja.


Aku menghela napas panjang, sesekali kubuang pandanganku keluar melihat sekeliling jalanan kota Hong Kong yang kini kembali mulai dipadati oleh kendaraan maupun pejalan kaki. Tapi sepertinya konsentrasiku benar-benar sedang diuji. Selalu saja bayangan Aini seolah menari di pelupuk mata.

__ADS_1


Sesampai dirumah, aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan selain membaringkan tubuhku keatas tempat tidur. Lalu aku mengenang saat-saat indah yang tadi terjadi spontan tanpa komando dan aba-aba semua keindahan itu terjadi begitu saja seolah tak peduli dengan burung-burung dara yang beterbang dan bertengger di dahan dan sesekali kepakan sayapnya terhentak karena menabrak jendela kaca. Dan seekor cicak yang bertengger pada kusen jendela mungkin ia mengira jika kawanan burung dara itu adalah mangsanya. Tapi sayang ia salah, burung dara jauh lebih besar darinya. Aini, andai kamu tahu siapa aku sebenarnya akankah kamu tetap mencintaiku?.


Bersambung..


__ADS_2