Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 89. Dia datang diwaktu yang tepat


__ADS_3

Setelah teman-temanku berpoto dengan peria itu lalu dia berpamitan pada kami semua, kemudian setelah itu dia pergi. Katanya dia hendak kembali berkumpul dengan para anggota penyelenggara kegiatan tadi.


"Oh ya sorry iam forget, what is your name miss?" Dia bertanyaku.


"Emm.. my name's Aini. And you what is your name?" Aku memberitahunya namaku, dan tak lupa juga aku bertanya siapa namanya.


"My name is Jianying Lim, but you can call me Lim." Jawabnya.


"Hǎo de, ài ní, xièxiè nǐ de xiāngshí…xīwàng xià cì wǒmen kěyǐ zàicì jiànmiàn." (Baiklah Aini terimakasih sudah berkenalan, semoga ada waktu untuk kita bertemu lagi).Lanjutnya tapi kali ini dia berbahasa Kantonis bukan lagi berbahasa Ingris.


"Xièxiè nǐ de shíjiān. Wǒ hěn gāoxìng rènshí nǐ."(terimakasih juga lim atas waktu mu. Saya senang bisa mengenal anda). Jawabku pada Lim.


Kemudian Lim pergi kembali masuk kedalam masjid Jamiya bergabung dengan kawan-kawannya, sedangkan aku dan kawan-kawanku pergi pulang ke asrama putri dimana kami tinggal disana. Sesampainya dikamarku aku sepertinya masih malas untuk melakukan apapun kecuali membayangkan wajah tampan Lim.


Dia pemuda yang ramah, dan pembawaannya yang tenang mampu membuat nyaman siapapun saja yang menatapnya. Ah, aku ini berpikiran apa. Urusanku dengan Farenzy dan juga keluarganya belum selesai. Oya apa kabar Farenzy ya? apa dia masih mencariku? Apa dia masih mencintaiku? Beberapa waktu lalu dia sebenarnya sudah melihatku di masjid Jamiya hanya saja aku beruntung masih bisa bersembunyi tanpa ia ketahui.


Aku sepertinya belum siap jika harus berhadapan kembali dengan Farenzy dan keluarganya. Rasa sakit dihatiku masih belum juga hilang. Namun meski begitu sejujurnya rasa cintakubpada Farenzy sedikitpun belum berkurang. Aku masih sangat mencintainya. Sewaktu aku melihat ada dia di masjid Jamiya rasanya jantungku berdebar semakin kencang dan aliran darahku mengalir dengan derasnya. Aku masih sangat mencintainya dan juga merindukannya.

__ADS_1


Disela-sela kesibukanku ada kerinduan mendalam yang selalu membayangi setiap langkah dan usahaku. Semakin aku mencoba untuk menjauh namun seolah semakin jelas pula bayangannya. Sering hati ini bertanya sendiri namun tak pernah ku temukan jawabannya. Hatiku sering bertanya-tanya tentang keadaan dan kabar Farenzy juga bertanya-tanya bagaimanakah perasaannya terhadap aku. Masih utuhkah seperti perasaanku padanya ataukah sudah berubah. Masihkah ia mencintaiku? Masihkah ia merindukanku? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu hinggap dihatiku.


***


Sudah tiga hari sejak kegitan Isro' Mi'raj di masjid Jamiya. Sejak saat itu pula teman-temanku tak henti-henti membicarakan sosok Lim yang waktu itu sempat berpoto-poto dengan mereka hanya aku saja yang tidak berpoto waktu itu. Dan benar aku akui ketampanan Lim tidak diragukan lagi. Selain tampan Lim juga sangat taat. Pantas saja jika dia dijadikan sebagai ketua dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.


Pagi ini seperti biasa aku bergegas pergi kerestoran dimana aku bekerja. Tapi pagi ini aku berangkat lebih awal dari pada teman-temanku. Karena hari ini adalah jadwal piket untukku. Namun ketika aku melalui sebuah gang yang tidak jauh dari asrama putri tempat tinggalku tiba-tiba saja dua orang pemuda mendekatiku. Aku tidak kenal siapa mereka.


Kedua peria ini terus saja berjalan disamping kiri dan juga kananku. Aku berusaha untuk mempercepat langkahku, nun usahaku sia-sia. Justru langkah mereka jauh lebih cepat dari pada aku. Aku mulai merasa tidak nyaman dikondisi seperti ini. Sesekali kedua peria ini melirikku dan kemudian melirik pula kearah tasku.


Keadaan jalanan pagi ini memang senggang bahkan bisa dibilang sangat sepi, berbeda dari biasanya yang ramai. Kemudian tepat didepan sebuah ruko yang sedang tertutup salah satu pemuda memegangi tangan kananku, dan yang satunya lagi berdiri tepat dihadapanku sehingga membuat kakiku bergenti melangkah tiba-tiba.'Ada apa?' Dalam hati aku bertanya.


Kedua pemuda ini menarikku memasuki sebuah bangunan kosong. Aku mencoba untuk melawan njn tidak bisa. Aku meronta agar terlepas dari genggamannya tapi usahaku untuk terlepas tidak ada hasilnya tangan kedua pemuda ini sangat kuat.


Beberapa kali aku berteriak meminta tolong namun sepertinya tidak ada orang yang mendengar teriakanku. Akhirnya aku hanya bisa menangis ketika kedua pemuda ini mendorong tubuhku hingga terpental beberapa meter dari pintu masuk bangunan ini.


Salah satu dari pemuda ini meminta tasku, tanpa pikir panjang aku langsung memberikannya karena bagiku keselamatan adalah hal yang terpenting saat ini. Apalagi tasku itu tidak ada isinya kecuali sebuah handphone dan juga kunci restoran. Ups..kunci, ya kunci itu tidak penting bagiku tapi ini berakibat fatal dengan kepercayaan atasan terhadap aku. Ya Tuhan.. Aku benar-benar bingung dikondisi seperti ini.

__ADS_1


Setelah salah satu dari pemuda itu memeriksa tasku namun tidak ada apa-apa, kemudian ia melemparkannya dan mereka berdua semakin mendekat kearahku. Aku kembali berteriak meminta tolong, namun ketika aku hendak berteriak ketiga kalinya salah seorang pemuda itu menutup mulutku dengan telapak tangannya. Lalu keduanya mengangkat tubuhku entah apa lagi yang akan mereka lakukan aku hanya bksa meronta sekuat tenagaku.


Bruukkk...


Tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang berdiri diluar sana menyaksikan apa yang kedua pemuda ini lakukan padaku. Tapi sejenak wajah orang ini tidak nampak jelas karena ia berdiri membelakangi cahaya fijar dari arah luar bangunan ini.


"Aini...!"Ia menyebut namaku.


Sepertinya aku juga kenal dengan suara ini. Kemudian orang yang tadi menendang pintu itu melangkah masuk, dan barulah aku bisa melihat dengan jelas siapa dia. Ternyata dia adalah Lim. Pemuda yang baru beberapa hari lalu aku kenal.


Kemudian tanpa basa-basi Lim menghantam kedua pemuda yang tadi telah menyeretku kedalam bangunan ini dan merampas tasku. Kedua pemuda itu membanting tubuhku kelantai. Lalu mereka bergelut dengan Lim, aku semakin merasa ketakutan. Mereka saling hantam, dan juga saling tendang. Dua lawan satu seperti dalam film-film laga China. Tapi kalu ini aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku. Sungguh ini benar-benar terjadi. Suasana semakin tegang ketika kedya pemuda itu mengeroyok Lim. Sementara aku hanya bisa menangis, aku berusaha untuk bisa meraih kembali tas milikku tujuanku hanya satu yaitu aku akan meminta pertolongan baik dengan teman-temanku ataupun kepada polisi. Tapi tasku terlalu jauh untuk bisa ku gapai.


"Lim...!" Hanya teriakan itu yang bisa kukeluarkan dari mulutku.


Lim melihat kearahku dan kemudian ia bangun dan perlahan berdiri lalu menghantam lagi kedua pemuda tadi.


Ketika ketiganya sedang saling hantam ini kesempatan bagiku untuk bisa meraih tasku yang ada diseberang sana. Tapi ups... Salah satu pemuda itu menendang lagi tasku hingga tasku terpental lebih jauh dan tak bisa kuraih. Kemudian aku membalikkan badanku dan aku menyadari ternyata aku berada tepat didekat pintu keluar dari bangunan ini. Dengan perlahan aku keluar, semoga saja kedua pemuda ini tidakenyadarinya. Lalu aku berlari meminta pertolongan. Syukurlah ada beberapa warga didepan gang itu yang bisa kumintai pertolongan. Ada salah satu yang menghubungi pihak kepolisian dan yang lain ikut bersamaku menuju bangunan kosong tersebut untuk menangkap kedua pemuda yang berniat jahat padaku tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2