
Pov. Bu Tri
Menghadapi sejuta permasalahan dikantor sungguh sangat melelahkan. Kurasa aku butuh sesuatu yang menyenangkan dan membuat rilek otakku. Belum lagi kecuriagaanku dengan suamiku kadang datang menghantui bertubi-tubi. Hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya. Saat aku pulang, suamiku dan sekretarisnya masih melakukan meeting dengan salah satu klien dari perusaan penyedia saham. Aku memang tidak punya bukti nyata tentang perselingkuhan suamiku. Tapi aku bisa merasakan kehadiran orang ketiga dalam hubungan kami.
Memang sekilas hubunganku dengan suamiku terlihat biasa-biasa saja. Seolah tak ada masalah apa pun. Bahkan anak-anak kamipun tak ada yang tahu tentang masalah ini. Karena aku belum berani mengungkapnya tanpa bukti yang nyata.
Ah .. sudahlah, lupakan dulu masalahku dengan suamiku itu, sekarang aku sangat lelah. Aku berencana akan mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan. Apalagi sekarang aku punya alasan tepat yaitu Aini asisten kami sedang menghadapi ujian akhir untuk
kedua jenis kursusnya. Memang kesehatan ibuku sudah jauh lebih membaik daripada sebelumnya. Tapi ia masih butuh orang didekatnya untuk membantu segala keperluannya.
"Ai, bagaimana kabar kursusmu? Maksudku berapa hari lagi kamu melaksanakan ujian ini?" Tanyaku pada Aini saat aku menemuinya dikamar ibuku ketika ia selesai melatih ibu berjalan.
" Tinggal lima hari lagi bu. Setelah itu akan ada libur selama seminggu lalu akan ada acara kelulusan bersama. Nanti siapa ya bu yang akan menjadi wali Aini saat acara kelulusan?"
" Memangnya harus ada wali begitu ya Ai?"
"Iya bu."
"Ya sudah kamu nggak usah khawatir, nanti ibu dan bapak yang akan menghadiri acara kelulusanmu sebagai wali mu Ai."
"Terimakasih bu. Ibu dan Bapak sudah sangat baik sama saya. Entah bagaimana saya nanti akan membalas jasa-jasa Ibu dan Bapak."
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja kami ini seperti orang tuamu. Kamu jangan sungkan-sungkan kalau Aini butuh apapun tinggal kasih tahu saja ke saya atau ke Bapak ya."
"Iya bu. Sekali lagi terimakasih."
Aku mengangguk dan tersenyum pada Aini. Sungguh aku sangat mempercayainya. Dan benar ia sudah aku anggap seperti anak sendiri.
"Oya Ai beberapa hari kedepan ibu libur kerja. Jadi kamu bisa fokus pada ujianmu saja. Untuk urusan nenek biar aku yang meng-handlenya."
"Iya bu." Jawab Aini.
Malam berlalu dengan kesombongannya tanpa peduli dengan siapa ia akan datang kembali. Aku memberitahu suamiku bahwa aku akan libur dalam beberapa hari ini. Dan suamiku meresponnya seolah ia sangat merasakan kelelahanku. Bahkan ia mengusulkan agar aku berlibur ke tempat-tempat yang akan membuatku merasa nyaman sehingga bisa mengembalikan stamina dan fokusku, katanya.
Tapi aku menolak untuk berlibur ke tempat yang jauh. Aku bilang aku hanya butuh rehat sejenak dirumah saja berkumpul bersama anak-anak dan ibuku. Ku beritahukan juga akan kelulusan Aini asisten kami. Ku katakan bahwa kami harus menghadiri upacara kelulusannya sebagai wali untuk Aini. Dan suamiku pun menyetujui itu.
***
Ini adalah hari ketiga aku cuti kerja. Hari-hari liburku kuisi dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan. Meski hanya membuat menu-menu masakan yang biasa keluarga kami makan dan juga mencoba menggabungkan beberapa menu masakan hingga bisa menghasilkan menu masakan baru. Dan itu sangat menyenangkan. Aku juga mengajari anakku Nasya memasak lalu kami akan mengirimnya pada kakaknya,Farenzy. Biasanya Farenzy akan menelfon dan kami akan tertawa bahagia bersama karena kelezatan ataupun keanehan dari rasa menu masakan yang baru aku temukan. Sungguh sangat menyenangkan. Aku benar-benar menikmati liburanku ku kali ini meski hanya beberapa hari saja.
Tok..tok..tok..
Suara pintu kamarku di ketok saat aku masih menunggu kepulangan suamiku di kamar sambil berselancar didunia maya (medsos).
__ADS_1
"Assalamualaiku..ma.." Ah.. ternyata anakku Nasya.
"Iya.Nas masuk saja pintunya tidak mama kunci..!" Seruku.
Lalu nasya membuka pintu kamarku, dan masuk.
"Mama belum tidur?"
"Belum. Mama masih menunggu papa pulang. Kamu sendiri kok belum tidur?"
"Iya ma, malam ini kan Aini ulang tahun. Kita kerjain yuk.. kita kasih kejutan gitu."
"Emm.. boleh juga, memang apa kejutannya?"
" Aduh.. apa ya ma? Nasya juga sebenarnya belum ada persiapan sih.."
"Coba kamu pikir-pikir dulu. Cari ide apa gitu..!"
"Oya ma Nasya punya ide.."
"Apa?"
"Sebentar mama panggil Aini. Mama ajak ia ngobrol tentang apa saja. Nasya akan kekamar nenek memberi tahu nenek. Dan nanti lihat saja apa yang akan terjadi."
"Ah.. nanti saja aku kasih tahu mama belakangan."
Lalu anak ku Nasya pergi memanggil Aini. Tak lama kemudian Aini datang menemuiku dikamar.
"Assalamualaiku bu.."
"Iya walaikumsalam. Sini masuk saja Ai."
Lalu Aini masuk. Seperti yang Nasya minta aku mengajak Aini mengobrol. Sambil aku memintanya untuk memijit-mijit kakiku. Setelah beberapa waktu lalu terdengar suara ibuku memanggil.
"Tri...Tri..Tri..!" Ibu memanggilku.
Lalu aku dan Aini bergegas pergi keruangan kamar ibuku setelah sebelumnya aku dan Aini salaing tatap memastikan kalau itu benar suara ibuku memanggil. Sesampai di depan kamar ibu aku kaget karena melihat pintu kamarnya yang terbuka. Disana ku lihat kamar ibuku berantakan sekali. Semua isi lemarinya keluar dari susunannya. Ini pasti ulah Nasya. Bisikku dalam hati. Aku langsung masuk dan mendekati ibuku.
"Ada apa ini bu?" Tanyaku.
"Kotak perhiasan ibu hilang Tri. Apa kamu memindahkannya?" Tanya ibu dengan tatapan sedih dan risau.
"Tidak bu. Saya nggak pernah memindahkan kotak perhiasan ibu. Bahkan menyentuhnya pun Tri nggak pernah bu." Jelasku dengan tegas.
__ADS_1
"Lalu dimana kotak perhiasan ibu?"
"Saya nggak tahu bu." Jawabku.
"Nasya, apa kamu yang ambil kotak perhiasan nenekmu?" Aku beralih bertanya pada anakku Nasya.
"Tidak ma, Nasya bahkan melihat saja tidak pernah, tahu tempat nenek menaruhnya juga tidak." Jawab Nasya.
"Owh.. apa jangan-jangan kamu Aini?" Aku kembali mengalihkan pertanyaan. Tapi kali ini oada Asisten kami, Aini. Nampak Aini sangat gugup dan ketakutan.
"Ng..ng..nggak bu.. saya sama sekali nggak pernah melihat kotak itu. Sumpah bu..! Saya tidak tahu." Jawab Aini dengan nafasnya yang tersendat-sendat.
"Atau kalau tidak coba kita periksa saja tiap lemari dan tiap kamar ma.." Usul Nasya.
"Iya.. kalau begitu mama setuju." Jawabku. Semua seakan menampakan wajah tegang terutama Aini. Ibu sangat nampak raut wajah sedihnya. Ternyata ibu bisa dikompromi juga. Batinku.
Kami langsung memeriksa setiap kamar dan lemari-lemari yang ada di rumah kami. Berawal dari kamar utama yaitu kamar aku dan suamiku. Lalu kamar dan lemari Nasya. Kemudian kami bersama-sama menuju kamar Aini. Aini semakin tegang. Aku memeriksa di sekitaran kasur Aini. Sedangkan Nasya memerisa lemarinya. Kemudian..
" Ma..!! Coba sini ma..!" Nasya memanggilku dengan nada seakan ia menemukan sesuatu. Aku dan Aini langsung berlari menghampiri Nasya
"Ada apa Nas?" Tanyaku.
"Ini apa bukan kotak perhiasan nenek?"
"Wah... Iya Nas, itu kotak perhiasan nenek mu."
Aini semakin menampakan ekspresi kagetnya. Ia juga terlihat sangat ketakutan.
"Nggak bu.. sumpah.. bukan aku. Aku sama sekali nggak pernah mengambil kotak perhiasan nenek. Aku sangat menghargai kalian. Mana mungkin aku berani mencuri. Dan aku pun dari kecil nggak pernah mencuri bu.. sungguh..!!" Aini mengatakannya sambil ia terisak. Air matanya jatuhenetes dipipinya.
Sementara tadi sewaktu Aini menjelaskannya padaku bahwa ia tidak mencuri. Nasya pergi sebentar ntah kemana lalu secepat kilat sudah ada kembali bersama aku dan Aini dengan tangannya yang ia simpan di belakang punggung. Aini masih saja terisak.
"Tapi Aini buktinya nyata ada di dalam lemari di kamar kamu ini." Tegasku.
"Iya bu, tapi sungguh bukan aku yang mengambil kotak itu." Jawabnya masih dalam keadaan menangis.
"Happy birthday to Aini.. Happy birthday..happy berthday Aini... Yeeeee..!!!" Nasya menyanyikan lagu ulang tahun dan mengeluarkan sebuah kue ulang tahun berukuran mini dengan sebuah lilin kecil diatasnya.
"Selamat ulang tahun ya Ai." Nasya mendekati Aini yang masih menangis dan tangisnya semakin pecah saat ia melihat Nasya membawakannya kue ulang tahun. Ia langsung memeluk Nasya. Kemudian memelukku.
Kemudian kami pergi kekamar ibuku. Dan kami kembali mendapatkan kejutan. Ya kami. Bukan hanya Aini sendiri. Begitu kami hendak memasuki kamar ibu ternyata kami melihat ibu sedang berjalan perlahan menuju ke arah kami tanpa menggunakan tongkat apa lagi kursi roda. Ibuku sembuh?, Ibuku kembali bisa berjalan?. Ya benar ibuku sudah sembuh dan bisa berjalan sendiri.
Aku yang merasa paling terharu saat melihat kenyataan ini langsung berlari mendekati ibuku. Lalu aku langsung memeluknya. Disusul dengan Nasya dan Aini kami saling berpelukan. Dan tak lama setelah itu suamiku baru pulang aku segera mengabarinya tentang berita bahagia ini.
__ADS_1
Bersambung..