Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.42. Liburan Akhir Tahun Di Batalkan.


__ADS_3

Pov. Aini


"Assalamualaikum,Aini.. Aini..!" Suara Nasya memanggil dari luar kamarku. Sepertinya ia sedang tergesa-gesa.


"Iya Nas ada apa?" Aku segera keluar dan membuka pintu kamarku. Ku lihat Nasya berdiri didepan pintu dengan menggenggam gawainya dan wajahnya tanpa ekspresi, seolah ada sesuatu yang sangat penting.


"Sini dulu Ai,ada yang mau aku kasih tahu ke kamu." Nasya mendorong pintu kamar dan masuk mendahului ku,sepertinya sangat aneh sikap Nasya kali ini. Lalu Nasya langsung duduk di tepi ranjangku.


Aku berdiri menatap tak mengerti pada Nasya. Kemudian aku mulai bertanya padanya.


"Ada sebenarnya Nas?"


"Jadi begini Ai. Aku mau kasih kamu sebuah kabar yang mungkin kamu belum tahu. Kita tidak jadi liburan akhir tahun di manapun. Baru saja kakak ku menelfon, katanya liburan akhir tahun kita kali ini sepertinya harus kita habiskan dirumah kita saja."


"Memangnya mengapa Nas, kok bisa begitu?"


"Iya Ai, kata kakak ku saat ini di dataran China sedang ada sebuah wabah penyakit baru yang sangat membahayakan. Dan penularannya sangat cepat. Dan juga yang lebih parah, penyakit ini belum di temukan obatnya. Sebenarnya tadi aku sempat tidak percaya dengan apa yang kakak ku kabarkan tapi aku mencoba untuk mencari informasi dan ternyata aku menemukan dari beberapa media pemberitaan lokal yang ada di Hong Kong ini pun sudah sejak beberapa hari terakhir memberitakan akan prihal wabah penyakit baru tersebut." Nasya menjelaskan pada ku.


"Astaghfirullah.. untung kita baru mau merencanakan saja ya Nas. Oya Nas, kalau benar berita tersebut berarti kita juga sedang dalam bahaya."


"Iya Ai. Kabarnya juga sih, pemerintah Hong Kong dalam waktu dekat akan menutup semua akses keluar masuk bagi turis atau pun warga lokal. Semua akan dilarang bepergian."


"Duh.. sedih juga dengar kabar ini Nas."


"Yaah.. tapi mau gimana, kita berdoa saja semoga wabah ini segera di temukan obatnya."


"Oya apa nama wabahnya?"

__ADS_1


"Belum ada nama Ai. Hanya baru diketahui saja bahwa wabah ini disebabkan oleh sebuah.Virus baru yang berbentuk mahkota. Dan ada beberapa ahli lokal yang menyebutnya sebagai Virus Corona."


Aku dan Nasya berbincang seputaran wabah baru yang tengah merebah di daratan China ini. Karena adanya wabah ini hingga akhirnya liburan akhir tahun yang Nasya rencanakan akhirnya dibatalkan. Tapi sebenarnya kalau bagi diriku sendiri tak berpengaruh apa pun karena jujur aku sebenarnya berat untuk liburan kemana pun, aku hanya ingin menghabiskan waktu liburan ini dirumah saja paling tidak sesekali saja berekreasi diseputaran kota Hong Kong. Tak perlu ke tempat-tempat mewah meski hanya sekedar berjumpa dan berkumpul dengan sesama pekerja dari indonesia saja itu sudah cukup aku rasa untuk mengisi hari liburku.


Aku tak terlalu ingin tahu lagi prihal tuan muda atau kakak laki-laki Nasya. Aku yakin jika sudah waktunya pasti nanti akan ada waktu bagiku untuk berjumpa dan mengenal tuan muda atau kakak angkat ku itu.


Akhirnya setelah mengantuk Nasya berpamitan untuk pergi tidur kekamarnya.


"Ai, aku sudah mengantuk berat nih. Aku kekamar dulu ya."


"Tidur disini aja Nas, temani aku."


"Ah, tidaklah Ai. Kasurmu kurang empuk. hehee." Nasya bercanda sambil kemudian ia berlalu keluar dari kamarku.


Setelah Nasya menutup pintu kamarku, aku coba untuk mengambil gawaiku. Aku menghubungi Farenzy melalui saluran telepon namun tak ada jawaban darinya. 'Mungkin dia sudah tidur'. Gumamku.


Sayup-sayup terdengar lantunan adzan subuh dari kejauhan, entah dari arah mana Masjid itu berada yang ku tahu setiap kali datang waktu sholat suara azdan berkumandang itu sayup-sayup terdengar dari apartemen tempat kami tinggal. Meski berat aku tetap paksakan untuk bangun dan mengambil air wudhu, lalu kudian sholat.


Selesai sholat berjamaah, mama bilang katanya dia pagi ini akan menjemput asisten rumah tangga baru.


"Aini, nanti kamu berangkat kerja diantar papa ya, mama mau jemput asisten baru kita. Dia nanti akan bekerja mengurus rumah dan segala maxam meperluan kita semua." Mama memberi tahuku.


"Iya ma, oya ma asisten barunya orang indonesia juga atau bukan ma?" Aku bertanya pada mama.


"Iya orang kita dari indonesia juga." Jawab mama.


"Wah.. Syukurlah kalau begitu ma. Dengan begitu Nasya makin nggak kesepian lagi. Karena bertambah satu lagi orang indonesia dirumah kita ini." Sahut Nasya penuh semangat.

__ADS_1


Setelah selesai semuanya, mama berpamitan untuk pergi lebih dahulu karena akan menjemput asisten baru kami. Kemudian seperti yang tadi mama katakan aku berangkat kerja bersama papa. Diperjalanan papa mengajak ku bercengkrama seputar pekerjaan dan juga rencana liburan akhir tahun yang terpaksa harus dilewati dirumah saja.


"Aini, apa kamu sudah dengar kabar yang beberapa hari ini merebak dimedia masa Hong Kong?"


"Kabar apa itu pa?"


"Kabar mengenai sebuah wabah penyakit baru yang belum ditemukan obatnya."


"Iya pa, saya sudah dengar semalam dari Nasya. Katanya libur akhir tahun kali ini kita tidak akan bisa pergi kemana-mana dikarena pemerintah akan menutup jalur keluar masuk Hong Kong."


"Iya, papa juga baru tahu kemaren dari Farenzy. Soalnya selama sebulan ini papa terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga papa nggak sempat untuk membaca berita ataupun menonton berita di TV. Padahal tadinya papa berencana untuk mengajak kalian pergi berliburan ke Paris." Tutur papa.


Saat aku dan papa sedang asyik bercengkrama dalam perjalanan menuju ke kantor dan papa sedang konsentrasi menyetir tiba-tiba handphone papa berdering. Sejenak papa melirik ke arah Hp nya. Kemudian ia mengambil dan mengangkat telepon tersebut. Dan entah dengan siapa papa bercengkrama dalam bahasa kantonis tersebut tapi sepertinya ada sesuatu hal penting yang sedang papa bicarakan dengan sin penelpon tersebut.


"Ada apa pa?" Aku mencoba untuk memberanikan diri bertanya pada papa.


"Emmm..ah, tidak ada apa-apa Ai. Hanya urusan pekerjaan biasa saja." Jawab papa.


Tapi sepertinya jawaban papa tidak sama dengan apa yang terjadi. Masalahnya setelah papa menutup telepon tiba-tiba raut wajah papa langsung berubah. Seperti ada kecemasan yang tersimpan dibalik wajah papa yang sengaja ia sembunyikan.


"Aini kamu turun didepan saja ya, lalu nanti kamu naik kendaraan umum. Papa buru-buru mau kesuatu tempat."


"Iya pa."


Kemudian papa menurunkan aku di sebuah halte yang memang tidak jauh dari situ. Aku turun, kemudian aku menunggu bus umum. Tidak berapa lama kemudian bus yang aku tunggu pun datang. Aku segera menaikinya. Aku mengambil kursi yang berapa tepat di depan pintu bus tersebut.


Dalam perjalanan pikiran ku melayang pada sikap papa tadi yang menurutku ada sesuatu yang ganjal dan tidak biasa. Ada apa sebenarnya, apakah yang tengah terjadi pada papa?..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2