Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.39. Luka Hati Karena Papa


__ADS_3

Pov.Farenzy


Kadang aku merasa bersalah pada mama dan juga Aini. Aku merasa bersalah pada mama karena merahasiakan perbuatan curang yang dilakukan papa di belakangnya. Aku saja merasa sakit hati dengan kenyataan yang ada, bahwa papa ku adalah seorang penghianat. Apa lagi dengan mama andainya mama tahu mama pasti akan merasa lebih sakit hati lagi. Mama juga pasti akan lebih merasa kecewa karena sosok suami yang selama ini selalu ia puji-puji ternyata tidak sama dengan apa yang terjadi saat ini. Papa sungguh keterlaluan..! Andai aku bisa mengulang waktu ke masa lalu aku tak mau di lahirkan dengan menjadi anak dari Tuan Saeful pengusaha sukses asal Turki itu. Biarlah aku tak usah lahir saja kedunia ini. Terlalu menyakitkan setelah tahu bagaimana penghianatan yang dilakukan olehnya.


Sementara Aini, ah aku pun merasa bersalah padanya karena waktu kepulangan ku dari Turki aku berjanji akan segera menemuinya. Tapi karena aku benar-benar terluka akibat menyaksikan penghianatan papaku aku jadi menunda pertemuan ku dengannya. Ia pasti menunggu beberapa hari ini. Selain tidak jadi menemuinya aku juga jarang menghubunginya. Bahkan saat ia menghubungiku lebih dulu pun sangat jarang aku respon. Jujur beberapa hari yang lalu aku juga tidak masuk kerja. Aku benar-benar terluka dengan sikap papa.


Bahkan saat malam itu mama menelpon ku, kata mama mereka akan memberi tahu Aini bahwa mama dan papa akan mengangkat Aini menjadi anak angkat mereka. Mama bilang kalau semua berkas persyaratannya sudah mama urus dengan pihak agen penyalur tenaga kerja untuk Aini. Dan mama sufah mendapat persetujuan untuk itu. Mama dan papa juga akan memberi Aini pekerjaan baru. Yaitu Aini akan bekerja di kantor cabang perusahaan papa yang tempatnya tidak jauh dari kantor pusat dimana mama dan papa bekerja. Mama memberi tahuku panjang lebar di telepon seolah tak ada masalah apapun antara ia dan papa. Aku tak banyak menanggapi hanya mengiyakan saja semua apa yang mama katakan. Aku bahkan tak sanggup menahan air mataku saat mendengar suara mama di telepon sepertinya begitu ceria. Mama tidak tahu bagaimana penghianatan papa dibelakangnya. Aku kasihan pada mama. Bagaimana mungkin mama tidak mengetahui sama sekali perbuatan papa. Begitu rapatkah papa menyimpannya? Tapi sepertinya tidak juga. Aku rasa ada beberapa karyawan di kantor mereka tahu akan hal ini. Ataukah mama sudah mengetahuinya tapi mama berbuat seolah buta dan tuli dengan kejadian yang ia alami. Atau mamaku sudah kebal dengan segala macam penghianatan yang dilakukan papa dan hanya aku saja yang baru mengetahui akan hal itu. Ah, mau bagaimana pun aku tetap kasihan pada mama ku. Aku tidak tega dan tak mampu menatap lekat wajah ayu nan sendu wanita yang sudah melahirkan ku ini. Terlepas dari ia mengetahui atau tidak bahwa selama ini suaminya sendirilah yang telah menusuknya dari belakang.


Tapi hari ini aku bertekat untuk menemui Aini. Aku menjemputnya sepulang kerja. Aku membawakannya sebuah syal yang memang ku belikan untuknya sewaktu aku di Turki beberapa hari yang lalu. Pertemuanku dengan Aini setidaknya bisa mengalihkan pikiranku dari penghianatan yang di lakukan oleh papa.


"Ini untuk kamu sayang, aku kemaren dari Turki tidak ada oleh-oleh cuma ada ini saja tapi aku harap kamu menyukainya." Aku memberikannya pada Aini. Lalu Aini pun membukanya.


"Waah.. bagus sekali sayang, ini sangat cocok untuk aku pakai aku juga suka warnanya..!" Seru Aini dengan nada dan ekspresi kegirangan. Dan aku pun sangat senang mendengarnya.

__ADS_1


"Apa benar kamu menyukainya sayang?" Tanya ku penasaran.


"Iya mas, aku sangat menyukainya. Bahkan beberapa hari yang lalu aku pernah kepikiran untuk membeli syal, tapi aku hampir tak ada kesempatan untuk sekedar pergi ke toko untuk membeli syal." Aini memegang syal tersebut sambil tersenyum-senyum lalu ia memandang penuh isyarat cinta kepadaku. Ini sebuah kebahagiaan tersendiri untukku.


"Sekali lagi terakasih ya mas." Lanjutnya kudian ia menghamburkan tubuhnya kedadaku dan untuk sekian detik kami larut dalam pel**an yang menghangatkan hati kami.


"Ya sudah yuk kita pulang." Ajak ku.


"Eheemm.. ayok deh.." Aini menarik tubuhnya menjauh namun masih menyisakan aroma wewangian yang ia pakai tertinggal melekat di bajuku.


Kemudian kami menuju mobil yang terparkir di sekitar area taman. Aku membukakan pintu mobil tersebut untuk Aini. Aku melihat raut bahagia yang sangat nyata di wajahnya.


Kami melaju menuju apartemen milik orang tuaku yang mana disanalah Aini tinggal dan tanpa ia sadari bahwa aku adalah bagian dari keluarga angkatnya. Namun entah kapan aku baru akan bisa memberi tahukan padanya akan hal tersebut. Aku berharap akan ada keberanian bagiku dalam waktu dekat dan aku juga berharap agar Aini bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya ini dengan penuh keikhlasan. Dan juga semoga orang tuaku khusunya mama dan Nasya bisa menerima keberadaan cinta yang telah tumbuh di hatiku dan juga Aini.

__ADS_1


Tak terasa kami sudah sampai, aku menurunkan Aini di depan apartemen tersebut. Kami berpisah disini. Sebelum Aini sempat melangkah menjauh meninggalkan mobil aku kembali memanggilnya.


"Sayang..!"


"Iya mas,ada apa?" Aini menjawab setelah ia kembali menghentikan langkahnya dan kemudian membalikan badannya. Ia terlihat semakin cantik dari biasanya dengan syal yang tadi ku berikan melilit di leher mungilnya.


"Senyum dulu donk." Aku mencoba untuk tersenyum dan sedikit menggodanya.


"Ih.. apa sih mas, oya terimakasih ya sekali lagi syalnya aku sangat suka syalnya. Hangat." Ia pun membalas senyum denganku. Lalu kami berpisah, Aini ku biarkan berjalan masuk area apartemen lalu aku kembali memacu laju mobilku menuju ke arah pulang.


Sesampai di rumah aku langsung menggantungkan baju dinginku, kemudian menyalakan perapian. Hawa dingin sangat terasa. Menggigil rasanya seperti menusuk hingga ke dalam sendi-sendi. Kemudian aku duduk disana. Duduk di sekitaran perapian yang baru saja aku nyalakan. Lumayan bisa menghangatkan tangan berserta seluruh tubuh.


Ku raih tas kerjaku yang terletak di meja kecil yang terpasang diruangan ini juga. Aku membuka file-file kerjaku yang tadi belum bisa aku selesaikan saat dikantor. Hanya beberapa saat tapi kemudian aku larut dalam lamunan tentang Aini. Aini, ah nama itu selalu mampu menghadirkan getaran indah dalam setiap detakan jantungku. Setiap perjumpaan kami selalu menyisakan kenangan indah yang tak terlupakan. Mataku menerawang menatap langit-langit namun pikiranku melayang kepada Aini. Aku berharap cinta kami akan menjadi cinta yang abadi.

__ADS_1


Tuhan..! Satukan cinta kami, jangan pernah Kau pisahkan aku dengannya. Entah apa jadinya diriku andainya aku menjalani hidup tanpa dirinya. Aku sangat mencintainya tulus jauh dari dalam lubuk hatiku. Ku lalui malam ku dengan hayal yang berkelana mengitari keindahan dunia percintaan bersama bayangan Aini.


Bersambung...


__ADS_2