Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 30. Terimakasih Atas Kesembuhan ini


__ADS_3

Pov.Aini


Perlahan-lahan aku mulai berjalan tanpa berpegangan. Awalnya aku belajar bamgun dari kursi roda, lalu bisa berjalan menggunakan tongkat. Dan sedikit-sedikit aku berlatih berjalan dengan melepas tongkat. Otot-otot kaki yang semula ku rasa berat dan kaku kini mulai terasa enteng saat ku bawa berjalan. Tulang punggung, pinggang dan pinggul yang tadinya terasa ngilu saat ku bawa berdiri kini sudah tidak lagi. Alhamdulillah terimakasih ya Allah atas kesembuhan yang telah Engaku berikan ini.


"Selamat ya sayang atas kesembuhan mu." Kata Farenzy pada ku saat ia berkunjung, dan melihat aku sudah bisa berjalan normal seperti biasa.


"Iya mas, terimakasih. Aku sangat bersyukur masih bisa sembuh seperti ini. Aku malu, aku selalu merepotkan keluarga pak Saeful dan bu Tri. Sekarang aku sudah bisa bekerja seperti dulu lagi."


"Iya tapi kamu harus tetap jaga kesehatan dan jangan dulu kerja terlalu berat ya."


"Iya mas."


"Oya sayang, aku pulang dulu ya. Nanti kapan-kapan kita jalan-jalan keluar. Kamu pasti sudah kangen kan pengen jalan-jalan lagi seperti dulu."


Aku hanya mengangguk, pertanda apa yang ia katakan itu adalah benar. Ya, memang benar aku sudah sangat bosan berada di dalam rumah selama dua bulan ini, tapi mau bagaimana lagi itu semua demi kesembuhan ku. Dan benar saja hasilnya sangat memuaskan. Kesabaran ku selama ini tidak sia-sia. Karena kini akhirnya aku bisa sembuh total seperti sedia kala.


Sementara Farenzy sudah pulang, kemudian nenek juga datang menemui ku.


"Aini, nenek senang sekali melihat keadaan mu saat ini. Nenek semakin bangga pada mu nak. Kamu benar-benar sosok yang kuat dan gigih."


"Terimakasih nek."


"Iya Ai. Oya nanti nenek berencana akan usulkan pada Tri dan Saeful supaya mereka memberikan pekerjaan baru untuk mu."


"Maksud nenek pekerjaan apa?"


"Apa saja lah Ai, yang lebih pantas untuk kamu kerjakan. Karena tugas mu mengurusku sudah tidak lagi maka harus di ganti dengan pekerjaan baru."


"Aini nurut saja lah nek. Terserah nenek sekeluarga saja, asal Aini jangan di pulangkan dulu ke indo. Soalnya Aini masih butuh pekerjaan di Hong Kong ini."


"Iya Ai. Kamu tenang saja, percayakan saja semuanya pada nenek. Nenek akan atur semuanya yang pasti kamu harus mendapatkan pekerjaan baru yang jauh lebih baik."


"Terimakasih nek..!"


"Iya Aini sama-sama."

__ADS_1


Entah pekerjaan baru seperti apa yang nenek maksud, yang jelas aku yakin nenek pasti akan memberikan yang terbaik untuk ku. Akhir-akhir ini Nasya masih sibuk dengan kuliahnya. Katanya dia sedang menghadapai ujian akhir semester. Jadi setiap hari hanya aku dan nenek saja yang ada di rumah.


Pak Saeful dan Bu Tri seperti biasa mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka di kantor.


***


Malam ini tak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu telepon dari Farenzy, hanya itu yang bisa mengobati rasa rindu ku padanya. Apa lagi kemarin dia mengatakan kalau dalam beberapa hari ini dia akan pergi ke Turki karena ada urusan yang harus ia urus disana. Mungkin pak Saeful memberinya tugas penting, tapi aku tak tahu dan Farenzy juga tidak memberi tahu ku tentang tugas apa yang di berikan oleh pak Saeful kepadanya hingga harus ke Turki negara asal pak Saeful.


"Kamu jadi mas ke Turki?" Tanya ku pada Farenzy saat kami sedang berbicara di telepon.


"Iya pasti jadi donk.. Nanti kamu mau oleh-oleh apa sayang?"


"Hemm.. nggak tahu terserah apa saja. Tapi yang jelas kamu harus hati-hati ya mas."


"Iya, kamu kok khawatir banget gitu sih."


"Ya, nggak apa-apa sih mas. Aku kan cuma bilang hati-hati aja."


"Oke.. kamu juga yang sabar ya. Aku nggak pergi lama kok paling juga cuma tiga hari disana. Dan kita kan masih tetap bisa saling menghubungi lewat telepon dan WA."


"Owh.. ya semoga saja pekerjaan yang jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Mungkin saja bekerja sebagai karyawan mereka di perusahaan atau bahkan menjadi Asisten untuk perusahaan mereka. Kamu mau nggak sayang, kaalau misalnya mereka memberi mu salah satu pekerjaan yang tadi aku sebutkan?"


"Ya jelas mau donk mas. Masa sih aku nolak rejeki."


"Oke.. syukurlah kalau begitu. Aku percaya dengan kemampuan kamu sayang. Kamu pasti bisa berhasil untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi."


"Amiin..terimakasih ya mas atas dukungannya."


"Oke sayang, kan kita ini sepasang kekasih jadi memang harus saling mendukung."


"Iya mas."


"Oya, sudah dulu ya sayang nanti kita sambung lagi telepon nya. Ada kerjaan yang harus aku kerjakan lagi."


"Oke mas."

__ADS_1


Lalu aku menutup telephonnya dan mencoba untuk menyatu dalam kehangatan malam bersama sejuta bintang yang bertaburan berharap mimpi indah membawa aku terbang melayang bersama kekasihku dalam keindahan yang tercipta oleh sang Maha cinta. Aku memejamkan mata, dan terlelap dalam dekapan malam yang indah.


Saat aku terbangun di pagi hari cahaya fajar menyinari seantero kota victoria, ku sambut pagi dengan seribu harapan baru.


"Aini..!! Apa kamu sudah bangun?" Suara nenek memanggilku dari luar kamar.


"Iya nek, sudah." Jawabku. Kemudian langsung berlari membukakan pintu kamar untuk nenek.


"Ada apa nek?" Tanya kunpada nenek setelah aku membukakan pintu.


"Kamu mau kemana hari ini Ai?" Nenek kembali bertanya padaku.


"Nggak ada rencana mau kemana-mana nek, memangnya ada apa ya nek?" Aku balik bertanya.


"Nanti kamu ikut nenek kesuatu tempat ya." Nenek mengajak ku


"Iya nek." Aku menerima ajakan nenek tanpa bertanya mau kemana dan untuk apa tujuannya.


"Ya sudah sana kamu mandi dulu, nenek tunggu kamu di ruang keluarga ya."


"Iya nek."


Lalu aku segera mandi dan kemudian bersiap-siap untuk menemani nenek pergi. Untuk sarapan aku hanya mengambil dua lapis roti dan aku olesi dengan slay. Setelah lama di Hong Kong ini akhirnya perutku pun perlahan terbiasa sarapan dengan roti. Maklum orang melayu indo dari kampung terbiasa sarapan dengan sepiring nasi penuh. Dan disini di Hong Kong ini kebetulan tugas ku bukan untuk memansak melainkan menjadi Asisten untuk orang tua jompo. Untuk urusan makanan apa saja yang mereka berikan itulah yang aku makan. Apa lagi akhir-akhir ini bu Tri terlihat sangat sibuk jadi jarang ia sempat memasak terlebih dahulu sebelum ia berangkat kerja. Dan yang selalu ada di atas meja makan adalah roti tawar dengan beberapa pilihan slay untuk olesannya.


Setelah sarapan aku segera menemui nenek, dan ku lihat nenek sudah berpakaian rapi dengan tas kecil yang ia bawa di tangannya. Meski sudah lanjut usia namun aura kecantikan nenek masih saja terpancar dengan jelas.


"Ayo nek, Aini sudah siap."


"Ayo." Nenek perlahan bangun dari duduknya.


Lalu aku dan nenek pergi yang aku sendiri juga tidak tahu mau kemana arah tujuan kami. Setelah sampai di lantai dasar apartemen nenek meminta ku untuk mencarikan taxi untuk kami berdua tumpangi. Dan tak butuh wakru lama akhirnya ada sebuah taxi yang kebetulan lewat didepan kami. Aku menyetopkan taxi tersebut. Lalu aku dan nenek pergi dengan menumpangi taxi tersebut.


Setelah mungkin lebih kurang setengaj jam perjalanan nenek meminta sopir taxi itu untuk berhenti didepan sebuah bangunan megah sepertinya itu adalah sebuah hotel yang menyatu dengan restourant. Kemudian aku dan nenek turun dari taxi tersebut. Dan berjalan masuk kedalam restourant, ternyata didalam sana sedang diadakan sebuah acara pernikahan yang sangat meriah.


Dan betapa terkejutnya aku, bahkan jantungku hampir saja copot bahwa yang menikah itu ternyata adalah..

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2