Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 67. Curiga dengan Aini


__ADS_3

Pov. Bu Tri


Beberapa hari yang lalu putriku Nasya bercerita tentang sesuatu padaku. Nasya mengatakan kalau ia memiliki sebuah rasa curiga dan penasaran sekaligus dengan Aini. Bukan apa-apa, Nasya curiga katanya ia pernah melihat sesuatu yang aneh terjadi antara Farenzy kakaknya dengan Aini anak angkatku.


Nasya bilang katanya ia pernah menyelidiki itu dengan kakaknya tapi kata Nasya gagal. Kemudian ia juga menyelidikinya dengan Aini dan hasilnya tetap sama. Gagal. Tapi entah apa yang membuat putriku begitu yakin kalau ada sebuah hubungan spesial antara Farenzy dan Aini.


Kemudian karena melihat gelagat dari putriku yang begitu yakin ada hubungan percintaan antara kakaknya dan Aini akupun mencoba untuk mencari tahu akan kebenaran dari firasat Nasya tersebut. Malam harinya aku mencoba untuk bertanya langsung pada Aini, namun Aini mengatakan kalau ia dan putraku hanya berteman biasa saja.


Kurang puas dengan jawaban yang diberikan Aini maka aku merencanakan sesuatu. Seharian penuh aku mencoba untuk menyelidiki kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Aini. Terutama saat ia berada di luar rumah. Ketika ia pamit untuk berangkat bekerja aku memberitahunya bahwa hari ini aku dan suamiku tidak bisa mengantarnya kekantor karena kami sama-sama akan ada kegiatan yang sangat penting hari ini.


Dan saat Aini mengiyakan apa yang ku beritahulan padanya aku semakin merasa lega karena ia tidak menunjukan sedikitpun rasa curiganya padaku. Ini kesempatan baik bagiku untuk membuntutinya. Tapi ini kulakukan sendiri tanpa sepengetaguan siapapun termasuk juga suamiku sendiri.


Dari jarak beberapa meter dibelakang Aini aku membuntutinya tanpa ia sadari. Saat ia pergi kekantor ia menaiki kendaraan umum. Hingga turun di halte tepat didepan kantor dimana ia bekerja. Saat ia masuk kekantor aku mengawasinya dari jauh.


Aku masuk ke ruangan cctv dan menyelidiki setiap detik kegiatannya. Ia benar-benar bekerja dengan giat hari ini. Saat jam istirahat tiba ia juga tidak keluar area kantor ternyata ia membawa bekal makanan dari rumah. Ia memakannya di kantin. Lalu saat ia kembali masuk bekerja setelah berisrirahat dan makan aku juga tak luput mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh Aini.


Dan dari detik demi detik yang ku perhatikan sama sekali tak ada sesuatu yang mencurigakan dari kegiatan ataupun gerak gerik yang dilakukan oleh Aini. Watu jam pulang tinggal beberapa menit lagi, ku lihat dari cctv Aini seperti mempercepat penyelesaian pekerjaannya. Lalu sejenak ia berjalan kearah kamar mandi, mungkin ia akan akan buang air kecil.


Setelah keluar dari toilet Aini terlihat berjalan santai. Sepertinya sudah tak ada lagi yang membuatnya terburu-buru.

__ADS_1


'Ah, sialan.. Nasya sudah membuang-buang waktuku saja seharian hanya mengikuti kegiatan Aini namun semua tidak ada hasil apapun. Mungkin benar seperti yang Aini katakan bahwa ia dan putraku hanya berteman biasa saja'. Aku bergumam.


Kemudian saat satu persatu karyawan kami mulai keluar kantor dan pulang, Aini pun demikian melakukan hal yang sama setelah merapikan meja kerjanya ia terlihat keluar dari ruangan kerjanya dan turun kelantai dasar. Sesaat terlihat Aini mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya. Sepertinya Aini tengah menghubungi seseorang.


Aku memperhatikan setiap apapun yang Aini lakukan. Setelah menelpon Aini kembali memasukan ponselnya kedalam tas lalu ia berdiri dilobi seperti sedang menunggu kedatangan seseorang disana. Aku semakin penasaran, siapa yang sedang Aini tunggu.


Setelah menunggu beberapa menit, rasa penasaranku semakin memuncak ketika sebuah mobil datang dan berhenti tepat didepan lobi. Kemudian seseorang keluar dari dalam mobil itu. Orang itu ialah putraku Farenzy. Betapa terkejutnya aku menyaksikan semua yang terjadi didepan mataku. Kucoba menarik napas dalam-dalam,mencoba untuk menepis segala curiga yang semakin melambung tinggi.


Entah apa yang mereka bicarakan disana nampaknya sangat serius. Lalu mereka berjalan beriringan dan masuk kedalam mobil yang tadi Farenzy kemudikan. Aku tak mau kehilangan jejak mereka, maka dari itu secepat kilat aku langsung mengikuti mereka dari jarak yangbtidak begitu jauh. Hingga tiba disuatu tempat, yaitu kafe. Farenzy menghentikan laju mobilnya dan mereka berdua sama-sama turun dari mobil itu.


Aku juga turun dari mobil dan mengikuti mereka dari belakang tapi dengan sangat hati-hati sekali jangan sampai mereka tahu akan keberadaanku. Setelah masuk kedalam kafe tersebut ternyata disana sudah ada beberapa orang disana. Ada dua orang perempuan yang tidak aku kenal dan seorang laki-laki yang juga tidak aku kenal.


Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bahas. Ternyata mereka adalah klien dari perusahaan anakku Farenzy. Mereka merencanakan sebuah kerjasama yang akanenunjang kemajuan perusahaan putraku itu. Dan Aini sebagai salah satu rekan kerja Farenzy disini. Farenzy mengatakan pada para kliennya bahwa Aini adalah salah satu rekan kerjanya juga.


Duh.. Ternyata benar saja semua yang ku lakukan hari ini hanya sia-sia saja. Aku memutuskan untuk pergi saja meninggalkan mereka disana. Lalu aku memilih untuk duduk dimobil sambil melepas lelah setelah seharian ini mengikuti semua kegiatan Aini.


Setelah beberapa lama aku melepas lelah didalam mobil. Tiba-tiba kulihat putrku Farenzy keluar dari kafe itu bersama Aini. Tapi kini ada sesuatu yang berbeda. Ya, sangat berbeda dengan tingkah mereka sebelumnya saat baru datang kekafe ini tadi.


Mereka terlihat berjalan sambil bergandengan tangan. Sangat mesra. Sesekali mereka saling melempar senyum. Farenzy memberulkan rambut Aini yang tertiup angin. Keudian mereka kembali melanjutkan langkah menuju mobil. Kali ini Farenzy membukakan pintu mobil untuk Aini. Lalu mereka masuk. Kecurigaanku yang sejak tadi sempat hilang kini kembali hadir.

__ADS_1


Jangan-jangan apa yang dicurigai oleh Nasya benar. Aku segera mengemudi mobilku mengikuti mobil yang tadi dibawa oleh Farenzy dan Aini. Ternyata mobil itu menuju kearah apartemen kami. Ya, benar sekali. Tepat didepan apartemen tempat kami tinggal mobil itu berhenti dan Aini pun terlihat turun. Aku segera memasuki area parkiran dan memarkirkan mobil. Kemudian aku bergegas menyusul Aini.


Tiba didepan lift kulihat Aini sedang berdiri disana, aku menghampirinya.


"Hai, Aini." Aku pura-pura menyapanya.


"Eh.. iya mama, Assalamualaikum ma."


"Iya Waalaikumsalam Aini."


"Mama baru pulang juga?"


"Iya. Tadi mama lihat ada yang mengantar kamu pulang. Siapa dia?" Aku pura-pura tidak tahu.


"Ah, iya ma. Itu tadikan mas Farenzy kebetulan tadi kami habis bertemu dengan klien dan mas Farenzy meawarkan padaku untuk mengantar aku pulang?" Jawab Aini.


"Owh begitu."


Sejenak aku berpikir mungkin belum waktunya untuk aku tanyakan lagi perihal hubungannya dengan putraku. Aku masih harus mengumpulkan banyak bukti terlebih dahulu dan mencari cara yangblebih tepat lagi untuk mengungkap segala kebohongannya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2