
Pov. Bu Tri
Hari sudah sore ketika aku melangkah keluar dari kantor. Rasa lelah dan pegal-pegal sangat terasa setelah seharian berjibaku dengan setumpuk pekerjaan yamg seolah tak ada habis-habisnya. Aku coba menghubungi suamiku namun sepertinya hp-nya mati, karena sudah beberapa kali aku menelpon tapi tidak tersambung. Semenjak kasus yang menjeratnya kini suamiku hanya bekerja sebagai pimpinan yang mengelola salah satu anak cabang perusahaan kami.
Itu aku lakukan karena untuk tetap menjaga eksistensi perusahaan dan kepercayaan dari para klien kami. Hingga saat ini Alhdulillah, aku sangat bersyukur karena sikap suamiku sudah sangat jauh berubah dari sebelumnya. Kini hubunganku dengannya sudah kembali membaik. Aku sudah memaafkan segala kesalahannya. Dan menganggap bahwa semua tak pernah terjadi. Walau bagaimanapun aku sejujurnya masih sangat mencintai suamiku. Bukan lagi alasan hanya karena ia adalah ayah dari anak-anakku. Tapi lebih dari itu hatiku masih memilihnya.
Aku berencana mampir dulu ke tempat kerja Aini, siapa tahu ia belum pulang dan bisa aku ajak untuk pulang bersamaku saja. Tapi, saat aku sampai disana suasana kantor cabang tempat dimana Aini bekerja sudah lengang. Para karyawan sudah banyak yamg pulang hanya tinggal beberapa orang saja yangasih ada keperluan dan masihenyelesaikan pekerjaan mereka.
Aku menanyakan dimana Aini kepada salah satu karyawan yang saat ini masih belum pulang. Dan iaengatakan kalau Aini sudah pulang kira-kira lima belasan menit yang lalu. Aku mengangguk pertanda mengerti, kemudian aku berlalu meninggalkan karyawan tersebut.
Oh, ternyata Aini sudah pulang. Oya, sebenarnya aku jugalah yang salah karena tadi aku tidak mengabarinya terlebih dahulu supaya ia pulang bersamaku saja. Ah, mungkin Aini sudah pulang dengan angkutan umum. Gumamku.
Aku mengendarai mobilku menuju arah pulang, saat melewati sebuah pusat perbelanjaan tanpa sengaja aku sepertinya melihat mobil anakku Farenzy keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Tapi kalau aku tidak salah sepertinya Farenzy sedang bersama dengan seorang wanita didalam mobilnya. Tapi siapa wanita itu. Aku tidak bisa membuntuti mobilnya karena terhalang lampu merah.
Ah, sudahlah mungkin kekasih Farenzy. Tapi mengapa Farenzy tidak pernah memberi tahuku bahwa ia memiliki kekasih. Biasanya putraku itu selalu mengabariku jika ia sedang dekat dengan seorang gadis. Atau mungkin yang baru saja aku lihat hanya sekedar kawan Farenzy, mungkin ia adalah rekan kerjanya saja.
Ya ampun, apa-apaan sih aku ini. Mengapa aku sebegitu ingin tahunya dengan urusan putraku. Sejenak aku menghela napas panjang lalu kembali membuangnya. Hingga dadaku sedikit merasa lega dan pikiranku pun seakan lebih rilek dari pada sebelumnya.
Tak terasa aku sudah sampai di area parkiran apartemen kami. Setelah memarkirkan mobilku aku keluar dan berjalan menuju rumah. Setelah kuar dari lift, dan membuka pintu rumah kami semula kukira Aini sudah ada dirumah tapi ternyata belum. Hanya ada Ibuku dan Dina saja.
"Assalamualaikum..!" Aku menyapa yang ada dirumah dengan salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.. Ibu sudah pulang?" Dina menjawab salamku dan bertanya aku sudah pulang.
"Iya Din, nenek mana?" Aku menanyakan Ibuku pada Dina.
"Ada di kamar bu." Jawab Dina sambil ia menyambut tas kerjaku.
"Oya Aini?" Aku juga menanyakan Aini.
"Emmm.. Aini belum pulang bu." Jawaban Dina membuatku sejenak mengerutkan dahi. Karena seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Dina katakan.
"Masa iya? Coba periksa kamarnya!" Aku meminta Dina untuk memeriksa kamar Aini untuk memastikan apakah Aini sudah pulang atau belum.
Dina melangkah agak cepat karena aku memerintahnya dengan sedikit nada tinggi. Mungkin ia belum pernah mendengar aku bicara dengan nada tinggi sehingga membuat ia mempercepat langkahnya, entah apa yang ia pikirkan tentang aku yang jelas aku tidak peduli.
Sejurus kemudian Dina yang tadi aku suruh untuk mengecek keberadaan Aini dikamarnya datang.
"Bagaimana Din, apa Aini ada dikamarnya?" Tanyaku pada Dina.
Dina hanya berdiri mematung ia tidak langsung menjawab pertanyaanku, lalu Dina menggelengkan kepalanya dan baru menjawab pertanyaanku.
"Tidak bu, Aini tidak ada dikamarnya. Kamarnya masih kosong seperti saat tadi pagi saya membersihkannya." Jawab Dina.
__ADS_1
"Aduh, kemana ini anak. Kenapa dia belum pulang juga." Gumamku namun sedikit terdengar lebih jelas, layaknya aku sedang berbicara papda diriku sendiri.
"Apa kamu tahu kontak teman-teman Aini yang biasa bersamanya?" Tanyaku lagi pada Dina yang sejak tadi masih berdiri mematung didepanku. Mungkin ia menunggu pertanyaan lain atau perintah lain lagi dariku.
"Tidak bu, saya tidak ada yang tahu kontak teman-teman Aini. Tapi saya tahu ada dua orang teman Aini yang bekerja di lingkungan sekitar apartemen kita ini. Mereka Rahma dan Dwi hanya itu saja yang saya tahu bu." Jawab Dina padaku.
"Owh, baiklah terimakasih silahkan kamu lanjut pekerjaanmu. Biar Ibu saja yang mencari Aini." Kataku pada Dina.
Kemudian Dina pergi berlalu meninggalkanku yang masih duduk terhempas di sofa. Sambil berpikir siapa orang pertama yang harus aky hubungi untuk mencari tahu keberadaan Aini anak angkatku itu.
Kemudian terlintas dipikiranku untuk lebih dahulu menelpon anakku Farenzy. Siapa mungkin saja Farenzy punya salah satu atau beberapa kontak teman Aini. Atau mungkin ia sendiri juga tahu dimana saat ini Aini berada.
Kuraih Hp-ku yang ada didalam tas kecilku. Lalu aku mencari nama putraku Farenzy. Dan segera aku menghubunginya. Syukur panggilan teleponku langsung tersambung.
Farenzy mengangkat teleponku, aku langsung saja menanyakan apakah saat ini Aini sedang bersamanya. Entah kenapa pertanyaan itu terlintas begitu saja dibenakku.
Kemudian putraku Farenzy menjawab pertanyaanku itu. Ia membenarkan kalau saat ini Aini sedang ada bersamanya. Farenzy bilang katanya tadi ia sengaja menjemput Aini sepulangbkerja dan mengajak Aini untuk sekedar berkeliling menilmati suasana sore hari di Hong Kong. Kemudian Farenzy mengajaknya beristirahat sejenak di rumahnya.
Mendengar jawaban dari putraku itu ada rasa lega di hatiku. Tapi juga ada rasa khawatir yang tak bisa aku bantahkan. Aku lega karena sudah tahu keberadaan Aini dan Aini aman saat ini bersama putraku. Namun ada rasa khawatir juga menyelimuti batinku sebagai seorang Ibu. Aku takut ada hubungan apa-apa dengan putraku dan Aini. Karena tadi sewaktu di perjalanan pulang aku melihat Farenzy bersama dengan seorang wanita keluar dari salah satu pusat perbelanjaan. Bisa jadi wanita muda yang tadi kulihat bersama putraku adalah Aini. Tapi apakah mereka sedekat itu? Seakrab itu?.
Aku mengatakan pada Farenzy untuk segera mengantarkan Aini pulang secepatnya. Semoga saja hubungan mereka hanya sebatas pertemanan atau tidak lebih dari hubungan antara kakak dan adik angkat. Aku tak ingin ada hubungan lain diantara mereka.
__ADS_1
Bersambung..