
Pov.Nasya
Pagi ini aku dan mama dengan terburu-buru pergi ke kantor polisi menemui papa disana. Setelah semalam kami menerima telepon bahwa papaku ditahan oleh pihak kepolisian dikarenakan keterlibatannya dalam pengedaran Narkotika. Sesampai disanaa teenyata kakakku Farenzy baru sampai juga sehingga kami bertiga dengan bersamaan masuk kedalam kantor polisi untuk menemui papa.
Begitu melihat papaku dengan tangan dilingkari borgol seketika rasa sedih itu datang mengjampiriku. Sungguh aku tak tega melihat papaku dalam keadaan seperti ini. Dan aku adalah orang yang sangat tidak percaya dengan kasus yang polisi tuduhkan terhadap papaku. Karena aku sangat mengenal papaku. Papaku tidak mungkin melakukan hal semacam itu.
Sungguh hancur rasa hatiku menyaksikan pemandangan itu. Batinku menolak dengan keras apa yang terjadi dengan papaku. Namun kata mamaku inilah kenyataan yang harus kami terima. Berulang kali papa menyampaikan permohonan maafnya kepada aku, kakakku dan juga mama.
Tapi ada yang sedikit aneh disini. Mama dan kakakku hanya diam saja tidak menjawab permohonan maaf dari papa. Kemudian papa mendekatiku dan akupun segera menghambur untuk memeluk papa. Dan seketika itu juga tangisku pecah. Sedih, hancur rasanya melihat keadaan papaku. Kemudian papa melepaskan pelukannya untukku. Lalu papa mendekati mama, tapi aneh sikap mama malah terlihat dingin.
"Maafkan papa ya ma, mungkin ini pembalasan atas penghianatan papa terhadap mama." Penghianatan? Penghianatan apa yang papaku maksudkan?
"Ah, sudah lah pa. Toh dia juga kan yang menjerat papa ke dalam masalah ini. Wanita simpanan papa itu." Apa? Wanita simapanan papa? Siapa wanita yang mamaku maksudkan? Apa dia yang tadi aku lihat bersama papa di sel sebelah papa? Tapi sepertinya aku mengenal wanita itu.
Kemudian aku dan kakakku saling beradu pandangan. Mungkin kakakku sama seperti aku. Kami baru saja memdengar pengakuan yang tak pantas kami dengar dari orang tua kami. Ya, tentang perselingkuhan papaku. Aku berusaha untuk mengontrol emosiku. Antara dua rasa kini membaur menjadi satu. Disatu sisi aku merasa sedih dan kasihan dengan papaku atas tuduhan yang tuduhkan kepadanya. Tapi disisi lain aku merasa sangat kecewa karena perselingkuhan yang ia lakukan.
Melihat dari dinginnya pandangan mama terhadap papa, sepertinya mamaku sudah sejak lama menyimpan luka batin ini. Aku mencoba untuk memaklumi sikap dingin mamaku tersebut. Dan juga aku ingat betapa nenek sangat marah saat tadi malam menerima kabar penangkapan papa. Bahkan nenekenasehati mama untuk hanya fokus mengurus perusahaan saja tak usah lagi mengutus papa.
Tapi aku perhatikan kakakku juga juga bersikap dingin dengan papa. Apa mungkun kakakku juga sudah mengetahui akan perselingkuhan papa ini. Apa mungkin hanya aku saja yang tidak mengetahuinya.
"Sudah-sudah ma, pa. Sudah cukup.! Sekarang yang kita lakukan ialah menanyakan kepada kepolisian sudah sejauh mana perkembangan kasusny dan sampai sini apa setatus papa dalam hal ini?"
__ADS_1
Kakakku seolah ingin menengahi keributan yang sedang terjadi antara kedua orang tuakami. Kemudian seorang petugas kepolisian datang, kami semua duduk dikursi yang telah disiapkan.
Kemudian seorang petugas polisi juga datang bersama seorang wanita cantik dan ****. Ya sepertinya ini adalah wanita simpanan papa yang tadi mama sebut-sebut. Wanita inilah yang menjadi biang dari masalah yang saat ini menjerat papaku. Seketika tanganku terasa geram, aku ingin menjambak rambutnya. Tapi nasib beruntung masih berpihak padanya karena dengan sigap tangan kakakku menghentikan laju tanganku yang siap untuk menjambak rambutnya.
"Hussstttt..! Nasya ini kantor kepolisian Hong Kong dik. Sudah diam saja biarkan polisi yang menangani semua kasus ini dengan baik dan bijak. Jangan menambah masalah yang sudah ada!" Kata kakakku dengan nada pelan sedikit berbisik padaku.
"Tapi kak. Wanita itu sudah keterlaluan. Dia sengaja menjerat papakita kak."
"Kakak bilang sudah, ya sudah. Diam dulu sekarang bukan waktunya untuk bermain kasar."
Aku sangat geram melihat kehadiran wanita itu. Tapi kemudian mama malah melangkah mendekatinya.
Nǐ duì wǒ zhàngfū xiǎojiě zuòle shénme?"( "Apa yang sudah kau lakukan pada suamiku Nona?" ).
"Nǐ quèdìng nǐ néng bǎozhèng wǒ zhàngfū méiyǒu cānyù ma?” (apa kamu yakin bisa menjamin bahwa suami saya tidak terliabat?")
"Shì de, nǚshì, wǒ kěyǐ bǎozhèng." ("iya Nyonya, saya bisa menjaminnya").
"Hǎo ba, qǐng gěi jǐngchá zuì hǎo de jiěshì, yǐmiǎn wǒ zhàngfū juàn rù nǐ de wèntí." ("Baiklah, tolong berikan penjelasan sebaik mungkin kepada kepolisian sehingga suami saya tidak ikut terlibat dengan masalahmu ini").
"Hǎo fūrén." ("baik nyonya").
__ADS_1
Zhīhòu qǐng bùyào zài kàojìn wǒ zhàngfū." ("dan setelah itu tolong jangan pernah dekati lagi suamiku)".
"Wǒ yīdìng huì yuǎnlí de, fūrén, bié dānxīn." ("Pasti akan saya jauhi nyonya tak usah khawatir akan hal itu").
Sementara mama bercakap-cakap dengan wanita pelakor itu dengan sabar namun tetap mencerminkan ketegasannya aku dan kakakku hanya diam dan menyaksikan saja apa dan bagaimana cara mama kami dalam meenghadapi permasalahan yang saat ini sedang menjerat papa kami. 'Begitu tangguhkah hatimu ma?' bisikku dalam hati.
Mama bahkan sama sekali tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar dengan papa bahkan dengan pasangan selingkuhan papa itu. Namun dengan begitu lembutnya tapi tetap bisa menyentuh hati. Bahkan papa sendiri sampai-sampai sesegukan menangis menyesali penghianatannya pada mama.
"Renzy, Nasya. Ayo nak kita pulang. Pihak kepolisian masih mengumpulkan data-datanya untuk membuktikan bahwa papa kalian tidak terlibat dalam hal ini." Ajak mama pada aku dan kakakku.
"Kira-kira apa yang papa butuhkan lagi ma?" Tanya kakakku.
"Papa butuh pengacara Ren. Dan nanti akan mama carikan. Sepertinya mama punya kenalan pengacara di Hong Kong ini." Jawab mama.
"Renzy juga punya ma. Teman Renzy kuliah dulu yang saat ini sudah menjadi pengacara dan dia juga sudah beberapa kali menangani berbagau macam kasus. Kalau misal teman mama itu tidak bisa atau berhalangan hubungi Renzy aja ya ma. Nanti Renzy yang cariin pengacara untuk papa." Kakakky menawarkan pilihan pada mama.
"Iya Ren, yuk sekarang kita pulang dulu." Ajak mama pada aku dan kakakku.
"Ayo ma." Secara bersamaan aku dan kakakku menjawab ajakan mama.
Kemudian kami bertiga keluar dari kantor kepolisian itu. Sementara papaku kembali digiring oleh petugas kepolisian untuk kembali masuk kedalam sel tahanan dan begitu pula dengan teman wanita papa itu.
__ADS_1
Pagi menjelang ini sedikit terasa sepi dijalanan Kota Hong Kong hanya orang-orang yang sangat berkepentingan saja yang diizinkan keluar rumah karena wabah penyakit ini belum juga ditemukan obatnya. Tapi asal keberadaannya sudah diketahui yaitu dari Wuhan sebuah provinsi di China. Aku dan mama pulang kerumah begitupun dengan kakakku ia kembali kerumahnya.
Bersambung..