
Pov. Aini
Dari hari ke hari kesehatan nenek Siti semakin membaik. Aku benar-benar merasa sangat bersyukur dengan keadaan ini. Karena dengan meningkatnya kesehatan nenek Siti menjadi salah satu bukti kerja keras dan ketulusanku dalam membantu perawatannya yang menjadi tugas utamaku dalam pekerjaanku ini. Sekarang nenek sudah bisa bicara. Lidahnya sudah tidak kaku lagi. Tangan dan kakinya juga sudah bisa di gerak-gerakan. Bahkan sudah bisa bangun dan duduk sendiri meski belum bisa berjalan.
"Wah.. nenek hebat!!, Ayo nek kita terus berlatih ya. Nenek harus semangat. Nenek harus yakin kalau nenek pasti bisa sembuh." Aku menyemangati nenek saat kami berlatih ditaman. Aku melatih nenek untuk menggerak-gerakkan tangan dan kakinya juga melatih nenek untuk bangun dari duduknya di kursi lalu duduk kembali begitu dan seterusnya secara berulang-ulang.
" Iya Ai. Nenek juga yakin." Jawabnya.
"Nenek haus?"
Nenek hanya menjawab dengan mengangguk sambil tersenyum padaku. Aku segera mengambilkan air minum yang tadi aku bawakan dari rumah. Lalu aku memberikannya pada nenek. Setelah aku rasa cukup untuk melatih otot-otot nenek lalu aku mengajak nenek pulang.
"Nek kita pulang dulu ya, nanti sore kita latihan lagi." Kataku pada nenek.
"Iya yuk pulang." Jawab nenek dengan nada masih sedikit kaku.
Diperjalanan pulang tiba-tiba aku mendengar seperti ads seseorang yang memanggilku dari kejauhan. Aku memutar kepalaku mencari sumber suara itu.
"Aini...Aini.. Ai..!!"
Dari jarak beberapa meter aku melihat seseorang datang menghampiriku.
Ternyata dia adalah Melly teman ku dari indo yang dulu satu PT denganku juga satu Agen bahkan kami baru berpisah setelah tiba di Hong Kong ini, karena dijemput oleh majikan kami masing-masing.
"Melly..!" Aku mengkentikan langkahku. Kutepikan kursi roda nenek tapi tetap tidak ku lepaskan dari pegangan tanganku.
__ADS_1
" Aini, apa kabar? Kamu tinggal disini juga?" Tanya Melly.
" Iya Mel. Alhamdulillah kabarku baik, kamu sendiri bagaimana?" Aku balik tanya kepada Melly.
"Alhamdulillah kabarku juga baik Ai. Oya kamu dari mana?"
"Ini aku habis mengantar nenek ke taman sekedar cari angin dan latihan menggerakan otot-ototnya. Kamu sendiri dari mana atau mau kemana?"
"Ini aku mau cari makanan untuk cemilan, pekerjaan rumahku semua sudah selesai tinggal menunggu majikanku pulang itupun nanti malam. Kamu bagaimana dengan majikanmu? Apa mereka baik sama kamu Aini?"
"Owh.. gitu. Ya Alhamdulillah majikanku sangat baik. Bahkan aku seperti keluarga mereka saja. Mereka masukan aku me tempat kursus. Mereka juga orang kita lho, orang indo. Oya ini nenek ku juga asli dari magelang."
"Waaaw.. beruntung sekali kamu Ai. Hemmm..jangan disia-siakan itu kebaikan majikanmu. Nanti kamu menyesal. Hai nek, aku Melly temannya Aini." Melly menjabat tangan nenek Siti.
"Nggih nek.." jawab Melly.
"Oya, kamu tinggal di apartemen yang mana?" Tanyaku pada Melly.
"Itu..! Aku tinggal di apartemen yang diseberang jalan ini Ai. Kamu di apartemen mana?"
"Ini aku tinggal di apartemen yang ini." Jawabku sambil menunjuk ke arah apartemen kami yang sekarang berada tepat didepan kami.
"Wah.. Aini, kalau begitu kita berdekatan ya. Oya aku boleh minta no. Hp mu. Hp ku yabg dulu rusak semua nomornya kehapus, dan aku baru beli lagi nih yang baru."
"Cie.. hp baru nih, dah banyak duit ya sekarang..! Nih catat no. Hpku. 085*********."
__ADS_1
"Iih.. kamu Ai. Belum banyak lah kan kita baru juga beberapa bulan disini. Baru punya tapi masih sedikit..heheee" jawab Melly diikuti dengan tawa khasnya.
Setelah lumayan lama ngobrol dengan Melly akhirnya kamipun berpisah. Aku harus pulang. Karena khawatir cuaca mempengaruhi kesehatan nenek. Tapi saat aku berjalan sambil mendorong kursi roda nenek menuju lift sekilas aku melihat pak Saeful. Majikan ku yang laki-laki. Dia bersama seorang wanita muda berjalan keluar dari lift lainnya yang berada dibelakang lift yang akan aku dan nenek naiki, mereka berjalan dengan bergandengan mesra layaknya sepasang kekasih.
Tapi itu bukan bu Tri. Lalu kemudian mereka menghilang kearah parkiran mobil. Tapi siapa wanita muda itu? Ah.. mungkin aku yang salah lihat. Pak Saeful orang baik, dia tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh. Mungkin itu hanya orang yang mirip saja dengan pak Saeful.
Cepat-cepat aku mendorong kursi roda nenek kedalam lift, aku nggak mau nenek melihat apa yang baru saja aku lihat. Meski disisi lain hatiku membantah sendiri pemandangan yang tadi ada di depan mataku. Langsung ku tekan tombol lift menuju lantai 12. Setelah sempat berhenti di beberapa lantai sebelumnya karena ada orang lain yang naik maupun turun lift akhirnya kami sampai di lantai 12 tempat kediaman kami berada.
Sesampai di rumah langsung ku raih kunci rumah yang tadi ku bawa. Tapi ternyata rumah sudah tidak terkunci lagi. Ada siapa didalam? Pikirku. Bukankah ibu Tri bilang kalau hari ini dia akan pulang telat mungkin pulang malam. Nasya juga belum pulang kuliah. Ku buka pintu pelan-pelan, lalu baru kemudian aku membawa nenek masuk dengan kursi rodanya. Diruang kelurga TV menyala. Ada ssorang laki-laki disana.
"Assalmualaikum.." aku mengucap salam.
"Waalaikumslaam.., Aini dan nenek sudah pulang? Maaf tadi aku lancang, aku pulang kerja dan badanku terasa sangat lelah. Aku putuskan untuk mampir dulu sebentar disini. Ternyata rumah kosong. Sudah aku tebak sih pasti Ainu dan nenek sedang ketaman pikirku tadi. Aku sudah mau pulang tapi sengaja menunggu kalian pulang dulu dari taman." Ucap Farenzy panjang lebar.
"Nenek gimana kabar? Sehat?" Lanjutnya.
"Alhamdulillah Le, nenek sehat. Kamu.sendiri gimana sehat?"
"Alhdulillah sehat juga nek." Jawab Farenzy.
Aku menghela nafas panjang. Ternyata Farenzy yang sudah masuk rumah slonong boy. Uhh.. syukurlah, tadi aku sempat merasa takut. Tapi dari mana ia dapatkan kunci serap rumah ini? Apa mungkin dia juga diberi kepercayaan menyimpan kunci serap rumah? Sebegitu baiknya kah majikanku sehingga bisa mempercayai semua pekerjanya? Mungkin memang sifat pak Saeful dan bu Tri begitu. Sangat mempercayai Asisten-asisten mereka. Dan aku beruntung karena menjadi salah satu orang kepercayaan mereka tersebut.
Aku membawa nenek masuk ke kamarnya dan membantunya duduk di tempat tidurnya. Kemudian Farenzy pamit pulang. Dalam hati aku masih bertanya-tanya tentang sosok laki-laki yang tadi kulihat di lift. Semoga saja aku salah. Dan itu benar bukan pak Saeful.
Bersambung
__ADS_1