
Pov. Farenzy
Sudah beberapa kali pertemuan antara aku dan dia. Awalnya biasa saja. Aku menganggap dia adalah tamu di rumah kami. Rumah keluargaku maksudku. Karena aku meski belum menikah tapi sudah pisah rumah dengan kedua orang tuaku, adik dan juga nenek. Rumah itu aku beli sendiri dari hasil kerja kerasku. Tanpa campur tangan mereka. Sepuluh tahun yang lalu saat itu aku masih kelas X di sebuah SMA di magelang kami mendapat musibah. Yaitu rumah yang aku,nenek dan juga adik ku tempati mengalami kebakaran hingga hangus tanpa sisa. Nenek mengabari mama dan papa yang sebenarnya baru beberapa bulan saja pindah ke Hong Kong ini karena papa membuka usaha baru disini dan karena baru maka harus dikelola langsung oleh tangan papa sendiri. Dan akhirnya mama meminta kami untuk ikut dengannya dan papa tinggal di Hong Kong.
Sejak saat itulah aku dan adikku juga pindah sekolah. Sebuah kesan yang terburu-buru menurutku. Ya, mengapa begitu? Apa mama dan papa tidak bisa mengirimkan uang saja untuk membangun kembali rumah kami? Dan sementara rumah kami di bangun aku, nenek dan juga adikku Nasya kan bisa tinggal di rumah bu lek Fatimah yang tidak jauh dari rumah yang kami tempati. Bu lek Fatimah adalah adik kandung ibu anak nenek juga. Jujur aku lebih suka tinggal di indonesia dari pada di Hong Kong ataupun di Turki sebagai negara asal papa. Tapi apa lah daya, aku dan adik ku hanyalah anak-anak dan kami harus mengikuti kemauan mereka sebagai orang tua. Dua tahun setelah itu aku lulus sekolah setingkat SMA. Aku melanjutkan keperguruan tinggi di The Hong Kong Polytechenic University selama lebih kurang tiga tahun setengah aku menempuh kuliah S1 ku disanadan kemudian aku lulus.
Setelah lulus aku mencoba membuka usaha ku sendiri yaitu dibidang pembuatan mie instan organik. Meski kecil-kecilan dan meminjam modal dari papa tapi seiring berjalannya waktu usahaku terus berkembang hingga bisa membuka cabang di beberapa tempat. Dan dari hasil usaha itu aku bisa membeli rumah yang aku tempati saat ini. Baik, itulah sekilas tentang siapa dan bagaimana aku.
Sekarang kembali kepada perasaanku terhadap Aini. Wanita yang baru aku kenal belum genap dua bulan lalu. Meski aku mengganggapnya sebagai tamu di rumah kami, tapi entah kenapa setiap kali mama memintaku untuk menemaninya kesuatu tempat atau menjemputnya dari suatu tempat yang lain hatiku seolah terasa begitu senang, dan bahkan seakan aku tak pernah jemu dekat dengannya. Hei.. ada apa ini? Apa aku jatuh cinta?. Cinta? Ya.. dulu aku pernah juga jatuh cinta sebelumnya sewaktu masih SMA di Magelang dengan teman se kelasku, dan selagi kuliah aku juga pernah mencintai seorang gadis pribumi, namun karena perbedaan keyakinan keluargaku tidak menyetujui hubungan kami. Tapi bagaimana jika sekarang aku jatuh cinta dengan seorang asisten keluarga kami apa orang tuaku akan setuju. Atau akan kembali menolaknya?. Ah.. entahlah yang jelas rasa ini begitu indah aku rasa.
" Yau yan ta tinwa wan lei siu ye( ada telephone untuk anda tmuda )." Seorang karyawanku datang menghampiriku. Membuyarkan lamunanku tentang Aini. Aku segera menoleh kearahnya dan kemudian langsung menghampiri telephone yang ada di meja kerja yang tak jauh dari tempatku berdiri menatap keluar jendela tadi. Ternyata telephone dari mama.
"Assalamualaikum Ren, apa kemaren kamu beri tahu Aini detail tempat dan jalan tempat kursus itu?" Tanya mama.
"Waalaikumsalam. Iya ma, sudah Renzy beritahu detailnya. Kemaren juga Renzy kasih kan nomor hp kalau-kalau ia lupa bisa langsung nelphon Renzy ma." Jelasku pada mama.
"Owh .. ya sudah kalau begitu. Nanti malam kamu bisa datang ke rumah tidak?" Tanya mama lagi.
__ADS_1
"Memang mau ada apa ma nanti malam?" Tanya ku balik.
"Kalau kamu ada waktu kita makan malam di rumah ya nanti malam. Mama kangen kita kumpul-kumpul makan malam bareng." Ajak mama.
"Oh.. kalau begitu iya ma, nanti malam Renzy akan datang." Aku tak pernah bisa menolak ajakan ataupun perintah mama.
"Oke sayang, sampai jumpa nanti malam, mama tutup telephonenya ya. Assalamualaikum."
"Iya ma, waalwaalaikumsalam."
Aku kembali meletakkan gagang telephon itu ketempatnya diatas meja kerjaku. Aku kembali bekerja. Mencoba untuk fokus dengan pekerjaanku tapi sepertinya itu sangat sulit. Sepertinya aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Ingin segera menatap wajahnya yang lugu nan polos tapi menampilkan sejuta pesona keindahan yang membuatku tak bisa bergeming sedikitpun dari bayangannya. Begitu indah. Begitu cantik. Senyumnya begitu manis. Membuat jiwa lelakiku menyeringai ingin memilikinya selamanya.
Sepulang dari tempat kerja aku langsung mandi dan bersiap untuk makan malam dirumah orang tuaku. Jarak antara rumah ku dan rumah orang tuaku memang tidaklah dekat. Aku tinggal di Tsim sa sui dan orang tuaku berada di Sheung Wan.
Sesampai di rumah orang tuaku. Sebenarnya ada sedikit kegetirsn dalam jiwaku. Makan malam berlangsung, nenek duduk di kursi rodanya. Aini berada di kursi sebelah kanan nenek, lalu Nasya di sampingnya, kemudian mama, lalu aku tepat berhadapan dengan Aini. Disampingku ada papa. Aku sekuat tenaga berusaha menyembunyikan segala rasa yang ada dihatiku. Kulihat Aini sesekali melirik kearahku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja. Jangan sampai ada yang tahu bahwa aku sedang merasakan getaran benih cinta dihatiku. Sekali pun itu Aini. Dia juga belum waktunya untuk tahu tentang rasa ini. Biarlah aku simpan sendiri dulu hingga nanti sampai waktunya yang tepat untuk aku ungkapkan.
"Farenzy ayo donk, nambah lagi makannya." Mama mulai buka suara. Dalam hati aku memohon supaya jangan sampai mama bilang didepan Aini kalau aku adalah anak mereka.
__ADS_1
"Iya. Nanti aku ambil sendiri kalau kurang." Jawabku.
"Aini, kamu juga yang enak ya makannya." Sahut papa kepada Aini.
"Iya pak." Jawab Aini singkat lalu ia kembali melanjutkan makan makanan yang sudah ada dipiringnya dengan sedikit malu-malu.
Sesekali Nasya mengajak Aini bercerita tentang kampung halamannya di Indonesia. Nasya menanyakan makanan kesukaan Aini dan makanan yang paling Aini rindukan selama ia bekerja di Hong Kong.
"Makanan kesukaan aku gado-gado Nas. Dan yang paling aku kangenin pastinya gado-gado juga dan ada satu lagi yaitu ketoprak."
"Owh.. kalau gitu nanti kapan-kapan aku ajak kamu keliling kita cari ketoprak dan gado-gado di sini ya."
Memangnya disini ada toh yang jual makanan itu?" Tanya Aini penuh semangat.
"Siapa tahu aja ada Ai. Soalnya aku pernah jumpain beberapa kedai makanan halal khusus indonesia." Kata Nasya memberi tahu Aini.
Lalu kami semua melanjutkan makan malam. Tapi debaran indah ini dengan nadanya yang menggema sekuat tenaga tetap aku sembunyikan.
__ADS_1
Bersambung..