Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 52. Dilema Dihati Nasya


__ADS_3

Pov. Aini


Bulan Januari tahun 2020 ini sudah berada di hampir dipenghujung. Salju putih kian menumpuk menggunung sungai-sungai semakin membeku. Dingin. Sedingin suasana rumah kami. Kami semua berkumpul secara fisik namun tidak secara batin. Dibatin kami mempunyai berjuta-juta rasa yang tak sama. Aku, Dina, nenek, mama dan Nasya.


Aku merasa sangat merindukan kehangat dalam keluargaku di indonesia orang tuaku dan juga adik-adikku. Dan tak bisa aku dustai, aku juga sangat merindukan kekasihku Farenzy. Aku merindukan teman-temanku yang sama-sama pekerja dari Indonesia pula.


Sedangkan Dina, ia semalam bercerita bahwa ia tidak tahan dengan cuaca dingin ini. Tapi ya mau bagaimana lagi karena ini adalah waktunya musim dingin. Aku hanya mengajarinya bagaimana cara untuk menghangatkan tubuh yaitu dengam cara menyalakan perapian dan memakai pakaian hangat. Aku membelikannya beberapa pakaian hangat secara online. Aku memesankannya dari toko online langgananku.


"Terakasih Aini, kamu sudah mengajariku dan memberikanku pakaian-pakaian ini."


"Iya Din, ini adalah kewajibanku sebagai sesama rakyat Indonesia yang ada dirantauan ini. Kita adalah saudara Din. Kamu dan aku disini sama-sama mengadu nasib. Tidak ada yang bisa kita lakukan selaing menebar keabaikan dan saling membantu serta saling menyayangi." Jelasku pada Dina.


"Aku bangga dan bahagia bisa mengenalmu Ai." Dina mendekat danerangkulku.


"Iya Din terimakasih ya. Kamu harus tetap semangat bekerja disini. Apa-apa yang ku tidak ketahui dan ingin kamu ketahui seputar pekerjaanmu disini silahkan tanya saja padaku. Insyaallah nanti akan saya bantu." Aku memberitahu Dina.


Sementara nenek saat ini ia sedang berharap supaya papa bisa diberi kesadaran dan berharap supaya papa bisa taubat dengan sungguh-sungguh. Dan nenek juga saat ini sedang memberi semangat dan kekuatan untuk mama supaya mama bisa tetap fokus mengurus perusahaan dan saham-saham yang ada.

__ADS_1


Sedangkan mama sendiri saat ini aku tahu ia sangat sibuk. Karena.harus mengurus perusahaan, menjaga kesetabilan serta menjaga kepercayaan para klien meskipun saat ini mama harus bekerja dari rumah. Selain masalah pekerjaan mama juga saat ini sedang mengurus segala sesuatu yang mungkin nantinakan dibutuhkan dalam persidangan papa.


Mama kemaren mengatakan padaku bahwa ia sudah mendapatkan kuasa hukum dan juga pengacara untuk papa. Namun mereka belum bisa dipekerjakan disebabkan karena saat ini belum diperbolehkan untuk melakukan persidangan. Akibat adanya wabah penyakit Covid-19 yang kini tengah melanda sebagian besar daratan cina.


Sementara itu Nasya, ia sedang berperang melawan batinnya sendiri. Bagaimana bisa begitu? Ya, tentu saja bisa. Disatu sisi hatinya, ia sangat mencintai dan juga menyayangi papa dan disisi lain ia sangat membenci papa. Nasya kecewa dengan perbuatan papa. Nasya tahu bahwa papanya sama sekali tidak tidak terlibat dalam dua hal permaslahan utama yaitu sebagai pemakai dan pengedar barang haram serta pemakai jasa prostistusi. Tapi Nasya kecewa atas penghianatan papa terhadap mama.


"Aku benci papa Ai. Tapi aku juga kangrn sama papa. Aku tidak tahu semua perasaanku kacau tak menentu." Tutur Nasya padaku.


"Coba kamu telepon kantor polisi, dan mintalah bicara pada papa. Katakan apa yang ada dalam hatimu Nas. Beritahu papa apa yang saat ini kamu rasakan padanya."


"Maksudnya gimana ya Ai?"


"Aku pernah menelpon papa beberapa hari yang lalu Ai, aku mengatakan kalau aku sangat sayang pada papa. Dan aku juga mengatakan kalau aku merindukan papa. Tapi aku tidak mengungkapkan kekesalan dan kekecewaanku padanya. Karena papa bilang waktu telepon untuknya sudah habis. Kemudian akuengakhiri percakapan kami."


"Coba nanti ku telpon aja lagi Ai."


"Ya Ai, mungkin nanti akan aku lakukan apa yang sudah kamu sarankan tadi."

__ADS_1


"Nah.. gitu donk Nas. Lakukan dengan penuh semangat ya. Semoga berhasil."


"Baiklah Ai. Terimakasih ya Aini kamu sudah memberikan saran yang terbaik untukku."


"Iya Nas, sama-sama . Aku juga senang sekali kalau kamu mau menerima saran-saran dariku." Sejenak kami sama-sama terdiam, lalu aku memilih untuk kembali melanjutkan pembicaraan kami sebelumnya.


"Nas, kalau boleh jujur aku juga sangat sedih dengan keadan keluarga kita saat ini. Semenjak papa terkena masalah suasana rumah ini seperti berubah. Mama, kamu, dan nenek selalu teelihat murung. Aku tidak mau kehilangan sosok kalian keluargaku yang ceria. Terutama kamu Nas. Hari-hariku sepertinya semakin sepi tanpa keceriaan darimu." Lanjutku dengan tatapan mengarah ke langit-langit kamar Nasya. Aku berbicara padanya namun tanpa melihat kearahnya.


"Maafkan aku Ai. Kamu pahamkan, bahwa masalah yang sedang mendera papa saat ini sangat berpengaruh terhadap perusahaan yang selama ini mama dan papa bangun. Juga sangat berpengaruh dengan kepercayaan para klien serta saham-saham milik papa dan mama. Mama sangat pusing mencari berbagai macam cara untuk tetap menjaga nama baik keluarga dan juga perusahaan. Untuk tetap membersihkan nama baik itu sangat tidaklah mudah. Sedangkan nenek, dia juga mungkin sedih melihat mama.bekerja seorang diri. Begitupun dengan aku dan kakakku, apa yang aku rasakan mungkin sama dengan yang kakakku rasakan karena kami adalah anak-anak yang hancur saat mendapati penghianatan yang dilakukan oleh papa kami yang mana selama ini sama sekali tidak kami ketahui." Jelas Nasya padaku.


"Iya Nas, aku paham kok dengan apa yang saat ini sedang terjadi. Aku juga memaklumi itu semua. Tapi sekali lagi aku tidak mau kehilangan keceriaan darimu."


Lalu aku dan Nasya saling pandang dan kemudian Nasya tersenyum padaku. Aku tertawa pada Nasya. Kemudian kami tertawa bersama-sama. Sejenak bisa melupakan kekesalan yang ads dihati, dan kini Nasya sudah terlihat sedikit cerah wajahnya dari pada tadi.


Aku bahagia karena bisa kembali bisa menemukan senyum dan tawa di wajah saudara angkatku ini. Semoga keceriaannya akan segera kembali sehingga aku tidak merasa kesepian lagi.


Keesokan harinya Nasya melakukan seperti apa yang kemaren aku beritahukan padanya, ia menelpon papa dan memberitahukan pada papa akan apa yang Nasya rasakan. Dihadapanku Nasya menumpahkan segala rasa yang ada dihatinya pada papa. Meski hanya melalui saluran telepon namun itu sangat bisa membantu melegakan perasaannya. Ia mengatakan pada papa bahwa ia sangat menyayangi papa dan ia juga mengatakan akan kekecewaannya pada papa. Hingga tangis Nasya pecah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2