
Pov. Nasya
Siang ini aku masih malas mau pulang dari kampus. Aku baru saja menyelesaikan salah satu ujian.
Terasa sangat lelah sekali rasanya maka dari itu aku putuskan untuk beristirahat dulu baru
kemudian nanti pulang. Aku beristirahat dikantin bersama beberapa temanku sambil menikmati
makanan kecil dan minun kopi.
Semenjak kepergian Aini dari rumah kami, sejujurnya ada sebuah rasa bersalah dalam batinku.
Terutama saat aku melihat nenek. Nenek seolah begitu kehilangan. Nenek akhir-akhir ini sering
duduk melamun, tatapannya kosong. Sangat terasa jika nenek saat ini sedang merasakan
kehilangan yang sangat mendalam.
Mama baru saja menelponku, ia memintaku untuk membuntuti mobil papa karena menurut mama
papa akan pergi mencari Aini. Tapi aku katakan pada mama jika saat ini aku sedang ada ujian
dikelas jadi akuntidak bisa membuntuti papa seperti yang mama pintakan. Tapi sebenarnya bukan
itu alasanku. Ujianku dikelas sudah selesai sekitar tiga puluh menit yang lalu namun aku masih
belum mau terlibat lagi dengan urusan yang berhubungan dengan Aini. Aku memang tidak
menyetujui hubungan yang terjadi antara Aini dan kakakku tapi bukan berarti aku sangat
membenci Aini. Tidak. Sungguh aku sama sekali tidak membencinya. Walau bagaimanapun Aini
sudah banyak berjasa untuk keluarga kami. Selain pada nenek Aini juga berjasa padaku.
Dulu sebelum kehadiran Aini dirumah kami aku adalah seorang anak perempuan yang murung dan
tertekan oleh sikap mama. Namun semenjak kehadiran Aini dirumah kami perlahan keceriaan itu
datang menghampiriku. Aku jadi lebih terbuka dan bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja.
Aku selalu bisa mencurahkan segala isi hati dan keluh kesahku kepadanya. Dan Aini juga selalu
menjadi teman setiaku dia selalu memberikan solusi terbaiknya untukku.
Aini juga berjasa untuk perusahaan papa, Aini sudah bekerja dan memberikan sumbangan tenaga
juga pemikirannya yang sangat baik untuk kemajuan perusahaan papa. Tapi kini mama sudah
mengusir Aini dari rumah kami. Kadang aku sering merasa bingung saat aku hendak bercerita
namun tidak ada yang mau mengerti tentang apa yang aku alami. Dan sepertinya semua orang
tidak ada yang bisa bersikap baik seperti Aini dalam mendengarkan segala keluh kesagku.
Meski ada Dina sebagai asisten pengganti Aini namun cara Dina dalam menyikapi masalah
sangatlah berbeda dengan cara yang dimiliki oleh Aini. Terbukti saat aku bercerita mencurahkan
segala isi hatiku padanya Dina seolah enggan mendengarkan cerita-ceritaku. Dina terlalu sibuk
dengan urusannya sendiri sehingga ia menjadi sangat cuek pada urusan orang lain seperti saat
__ADS_1
mendengarkan curhatan-curhatanku. Dina hanya sesekali menanggapinya dengan senyum dan
tidak memberikan respon apa pun lagi selain dari senyuman tersebut.
Setelah beberapa saat lamanya aku dan teman-temanku makan dan minum dikantin, lalu kami
memutuskan untuk pulang. Namun setelah aku membayar makanan dan minumanku tadi dikasir
tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan kulihat ada panggilan masuk dari mama. Dengan malas aku
mengangkat telepin mama tersebut, karena terpaksa jika teidak aku angkat mama tidak akan
berhenti menelponku.
"Halo ma, ada apa?" Aku mengangkat telepin mama dan langsung bertanya apa.maksud dan
tujuan mama menelponku.
"Nasya nenekmu sakit nak, sekarang juga akan segera kami bawa kerumah sakit. Kamu sudah
selesaikan kuliahnya? Kalau sudah langsung kerumah sakit saja ya. Dan tolong kabari juga papa
dan kakakmu." Pinta mama padaku.
Tanpa menanyakan pada mama nenek sakit apa aku langsung saja menutup telepon dari mama
tersebut. Dan seperti yang mama pinta baru saja akupun segera menghubungi papa dan kemudian
juga menghubungi kakakku.
Beberapa kali aku berusaha untuk menghubngi papa namun butuh waktu beberapa mebit baru
kemudian ada jawavan dari papa.
"Iya Halo pa, tadi mama menelpon Nasya kata mama nenek sakit lagi pa. Dan sekarang nenek
sedang dibawa kerumah sakit." Aku memberitahu papa.
"Oh, ya sudah kalau begitu kamu cepat nyusul mamamu kerumah sakit papa sekarang sedang ada
uruasan dan mungkin nanti malam baru papa akan pulang." Itu jawaban yang aku terima dari papa.
Aku tahu saat ini papa.sedang mencari keberadaan Aini. Entah papaendapatkan informasi ataukah
tidak tentang Aini papa juga tidak memberitahuku.
Kemudian aku juga segera menghubungi kakakku. Meski sebenarnya aku merasa khawatir jika
nanti kakakku tidak mau mengangkat telepon dariku atau jika tidak kakak justru akan memakiku
dan memarahiku. Namun aku tetap memberanikan diri, semoga saja kakakku bisa memaafkanku.
Dan semoga saja kakakku mau berbicara denganku.
"Halo Assalamualaiku kak." Aku menyapa kakakku.
"Hemm.. Waalaikumsalam, ada apa?" Tanya kakakku dengan nada ketus.
"Kak, aku cuma mau ngasih tau kakak kalau sekarang nenek sedang sakit dan sedang dalam
perjalanan menuju kerumah sakit." Jawabku dengan penuh hati-hati.
__ADS_1
"
Apa nenek sakit lagi?" Kakakku kembali bertanya.
"Iya kak." Jawabku.
"Nenek sakit apa?" Kakakku kembali bertanya.
" Nasya juga belum tahu kak, tadi mama menelpon dan mengatakan jika nenek sakit dan dibawa
kerumah sakit tapi mama tidak mengatakan nenek sakit apa." Terangku pada kakakku.
Owh, ya sudah nanti kakak nyusul kerumah sakit juga." Jawab kakakku.
Lalu aku menutup saluran telepon dengan kakakku. Aku segera bergegas mengambil mobilku di
area parkiran lalu kemudian pergi menuju kerumah sakit.
Sesampainya aku dirumah sakit aku langsung bergegas menuju ke ruangan IGD. Disana kutemui
sudah ada mama dan juga Dina. Sangat nampak raut wajah mama jika saat ini mama sedang
khawatir. Sepertinya mama baru saja menangis. Ku alihkan juga pandanganku kepada Dina.
Kulihat juga Dina sepertinya sekarang ia sedang merasakan kecemasan yang sangat mendalam.
"Bagaimana keadaan nenek, ma?" Kuberanikan diri untuk bertanya pada mama sekedar untuk
mencairkan suasana.
"Ini semua salah mama, Nas. Mama yang bersalah. Tadi mama yang sudah berbuat kasar pada
nenekmu." Jawab mama sambil ia kembali terisak.
Aku mendekati mama, dan memeluk mama. Mencoba untuk menenangkan hati mama. Kulihat
Dina mengalihkan pandangannya ketempat lain. Mungkin Dina juga sedang merasa berslalah
meski aku sendiri tidak berani memastikan entah apa penyebab rasa berslalahnya itu.
"Papa dan juga kakak sudah Nasya beritahu ma. Mungkin sebentar lagi mereka juga akan samai
kesini. Mama jangan menangis ya." Aku membujuk mama dan perlahan melepaslan pelukannya.
"Kakakmu pasti akan semakin marah dengan mama. Kalau papa tahu papamu juga pasti akan
marah pada mama. Mama benar-benar menyesal Nasya." Mama kembali berkata dengan
isakannya.
"Sudah ma, mama jangan nangis seperti ini donk. Sebentar lagi nenek sadar mama langsung minta
maaf ke nenek ya. Supaya hati mama bisa lega." Bujukku pada mama.
Mama membalasnya hanya dengan anggukan saja. Lalu kami duduk dikursi tunggu. Entah berkata
kasar seperti apa yang sudah mama lakukan kepada nenek tapi yang jelas sepertinya sangat
membuat mamaenyesal atas apa yang sudah ia lakukan terhadap nenek. Mama sangat menyesal,
semoga saja mama tidak akan mengulanginya kekhilafannya itu lagi.
__ADS_1
Bersambung...