Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 85. Penyesalan Mama kepada Nenek


__ADS_3

Pov. Nasya


Siang ini aku masih malas mau pulang dari kampus. Aku baru saja menyelesaikan salah satu ujian.


Terasa sangat lelah sekali rasanya maka dari itu aku putuskan untuk beristirahat dulu baru


kemudian nanti pulang. Aku beristirahat dikantin bersama beberapa temanku sambil menikmati


makanan kecil dan minun kopi.


Semenjak kepergian Aini dari rumah kami, sejujurnya ada sebuah rasa bersalah dalam batinku.


Terutama saat aku melihat nenek. Nenek seolah begitu kehilangan. Nenek akhir-akhir ini sering


duduk melamun, tatapannya kosong. Sangat terasa jika nenek saat ini sedang merasakan


kehilangan yang sangat mendalam.


Mama baru saja menelponku, ia memintaku untuk membuntuti mobil papa karena menurut mama


papa akan pergi mencari Aini. Tapi aku katakan pada mama jika saat ini aku sedang ada ujian


dikelas jadi akuntidak bisa membuntuti papa seperti yang mama pintakan. Tapi sebenarnya bukan


itu alasanku. Ujianku dikelas sudah selesai sekitar tiga puluh menit yang lalu namun aku masih


belum mau terlibat lagi dengan urusan yang berhubungan dengan Aini. Aku memang tidak


menyetujui hubungan yang terjadi antara Aini dan kakakku tapi bukan berarti aku sangat


membenci Aini. Tidak. Sungguh aku sama sekali tidak membencinya. Walau bagaimanapun Aini


sudah banyak berjasa untuk keluarga kami. Selain pada nenek Aini juga berjasa padaku.


Dulu sebelum kehadiran Aini dirumah kami aku adalah seorang anak perempuan yang murung dan


tertekan oleh sikap mama. Namun semenjak kehadiran Aini dirumah kami perlahan keceriaan itu


datang menghampiriku. Aku jadi lebih terbuka dan bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja.


Aku selalu bisa mencurahkan segala isi hati dan keluh kesahku kepadanya. Dan Aini juga selalu


menjadi teman setiaku dia selalu memberikan solusi terbaiknya untukku.


Aini juga berjasa untuk perusahaan papa, Aini sudah bekerja dan memberikan sumbangan tenaga


juga pemikirannya yang sangat baik untuk kemajuan perusahaan papa. Tapi kini mama sudah


mengusir Aini dari rumah kami. Kadang aku sering merasa bingung saat aku hendak bercerita


namun tidak ada yang mau mengerti tentang apa yang aku alami. Dan sepertinya semua orang


tidak ada yang bisa bersikap baik seperti Aini dalam mendengarkan segala keluh kesagku.


Meski ada Dina sebagai asisten pengganti Aini namun cara Dina dalam menyikapi masalah


sangatlah berbeda dengan cara yang dimiliki oleh Aini. Terbukti saat aku bercerita mencurahkan


segala isi hatiku padanya Dina seolah enggan mendengarkan cerita-ceritaku. Dina terlalu sibuk


dengan urusannya sendiri sehingga ia menjadi sangat cuek pada urusan orang lain seperti saat

__ADS_1


mendengarkan curhatan-curhatanku. Dina hanya sesekali menanggapinya dengan senyum dan


tidak memberikan respon apa pun lagi selain dari senyuman tersebut.


Setelah beberapa saat lamanya aku dan teman-temanku makan dan minum dikantin, lalu kami


memutuskan untuk pulang. Namun setelah aku membayar makanan dan minumanku tadi dikasir


tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan kulihat ada panggilan masuk dari mama. Dengan malas aku


mengangkat telepin mama tersebut, karena terpaksa jika teidak aku angkat mama tidak akan


berhenti menelponku.


"Halo ma, ada apa?" Aku mengangkat telepin mama dan langsung bertanya apa.maksud dan


tujuan mama menelponku.


"Nasya nenekmu sakit nak, sekarang juga akan segera kami bawa kerumah sakit. Kamu sudah


selesaikan kuliahnya? Kalau sudah langsung kerumah sakit saja ya. Dan tolong kabari juga papa


dan kakakmu." Pinta mama padaku.


Tanpa menanyakan pada mama nenek sakit apa aku langsung saja menutup telepon dari mama


tersebut. Dan seperti yang mama pinta baru saja akupun segera menghubungi papa dan kemudian


juga menghubungi kakakku.


Beberapa kali aku berusaha untuk menghubngi papa namun butuh waktu beberapa mebit baru


kemudian ada jawavan dari papa.


"Iya Halo pa, tadi mama menelpon Nasya kata mama nenek sakit lagi pa. Dan sekarang nenek


sedang dibawa kerumah sakit." Aku memberitahu papa.


"Oh, ya sudah kalau begitu kamu cepat nyusul mamamu kerumah sakit papa sekarang sedang ada


uruasan dan mungkin nanti malam baru papa akan pulang." Itu jawaban yang aku terima dari papa.


Aku tahu saat ini papa.sedang mencari keberadaan Aini. Entah papaendapatkan informasi ataukah


tidak tentang Aini papa juga tidak memberitahuku.


Kemudian aku juga segera menghubungi kakakku. Meski sebenarnya aku merasa khawatir jika


nanti kakakku tidak mau mengangkat telepon dariku atau jika tidak kakak justru akan memakiku


dan memarahiku. Namun aku tetap memberanikan diri, semoga saja kakakku bisa memaafkanku.


Dan semoga saja kakakku mau berbicara denganku.


"Halo Assalamualaiku kak." Aku menyapa kakakku.


"Hemm.. Waalaikumsalam, ada apa?" Tanya kakakku dengan nada ketus.


"Kak, aku cuma mau ngasih tau kakak kalau sekarang nenek sedang sakit dan sedang dalam


perjalanan menuju kerumah sakit." Jawabku dengan penuh hati-hati.

__ADS_1


"


Apa nenek sakit lagi?" Kakakku kembali bertanya.


"Iya kak." Jawabku.


"Nenek sakit apa?" Kakakku kembali bertanya.


" Nasya juga belum tahu kak, tadi mama menelpon dan mengatakan jika nenek sakit dan dibawa


kerumah sakit tapi mama tidak mengatakan nenek sakit apa." Terangku pada kakakku.


Owh, ya sudah nanti kakak nyusul kerumah sakit juga." Jawab kakakku.


Lalu aku menutup saluran telepon dengan kakakku. Aku segera bergegas mengambil mobilku di


area parkiran lalu kemudian pergi menuju kerumah sakit.


Sesampainya aku dirumah sakit aku langsung bergegas menuju ke ruangan IGD. Disana kutemui


sudah ada mama dan juga Dina. Sangat nampak raut wajah mama jika saat ini mama sedang


khawatir. Sepertinya mama baru saja menangis. Ku alihkan juga pandanganku kepada Dina.


Kulihat juga Dina sepertinya sekarang ia sedang merasakan kecemasan yang sangat mendalam.


"Bagaimana keadaan nenek, ma?" Kuberanikan diri untuk bertanya pada mama sekedar untuk


mencairkan suasana.


"Ini semua salah mama, Nas. Mama yang bersalah. Tadi mama yang sudah berbuat kasar pada


nenekmu." Jawab mama sambil ia kembali terisak.


Aku mendekati mama, dan memeluk mama. Mencoba untuk menenangkan hati mama. Kulihat


Dina mengalihkan pandangannya ketempat lain. Mungkin Dina juga sedang merasa berslalah


meski aku sendiri tidak berani memastikan entah apa penyebab rasa berslalahnya itu.


"Papa dan juga kakak sudah Nasya beritahu ma. Mungkin sebentar lagi mereka juga akan samai


kesini. Mama jangan menangis ya." Aku membujuk mama dan perlahan melepaslan pelukannya.


"Kakakmu pasti akan semakin marah dengan mama. Kalau papa tahu papamu juga pasti akan


marah pada mama. Mama benar-benar menyesal Nasya." Mama kembali berkata dengan


isakannya.


"Sudah ma, mama jangan nangis seperti ini donk. Sebentar lagi nenek sadar mama langsung minta


maaf ke nenek ya. Supaya hati mama bisa lega." Bujukku pada mama.


Mama membalasnya hanya dengan anggukan saja. Lalu kami duduk dikursi tunggu. Entah berkata


kasar seperti apa yang sudah mama lakukan kepada nenek tapi yang jelas sepertinya sangat


membuat mamaenyesal atas apa yang sudah ia lakukan terhadap nenek. Mama sangat menyesal,


semoga saja mama tidak akan mengulanginya kekhilafannya itu lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2