
Pov.Aini
Fajar menggeliat perlahan muncul kepermukaan menyinari bumi dengan kegangatannya dan
membuat titik embun mengering. Pagi ini aku terbangun dari tidur pulasku semalam.
Meninggalkan mimpi-mimpi buruk yang masih menyisakan sesak dan perih dihati.
Dengan malas aku bangun dari tempat tidurku dan melangkah menuju kekamar mandi asrama
yang berada di ujung lorong asrama wanita tempat tinggal baruku ini. Beberapa kali aku
berpapasan dengan beberapa orang perempuan yang mungkin seumuran denganku atau mungkin
juga lebih tua dan bisa juga lebih muda dari usiaku saat ini, yang jelas kami disini semua terlihat
seumuran.
Belum ada tegur sapa antara kami, hanya sesekali aku melempar senyum kepada mereka yang
bermuka ramah. Diantara mereka ada yang membalas senyum juga dan yang lainnya seolah
memandang aneh kepadaku. Ini yang membuatku sedikit merasa risih, tapi sebisa mungkin aku
berusaha untuk mengusir segala rasa yang kurang menyenangkan itu. Kukatakan pada diriku
sendiri bahwa semua itu hanyalah perasaanku saja karena aku belum mengenal tempat ini dan
juga orang-orangnya. Mungkin tidak lama lagi kami akan saling mengenal satu dengan yang
lainnya.
Saat tiba dikamar mandi aku juga bertemu dengan beberapa orang wanita disana. Aku masih
mencoba bersikap seramah mungkin berharap supaya ada diantara mereka yang mau bertegur
sapa denganku. Namun sepertinya akuasih belum menukan waktu yamg tepat untuk sekedar
bertegur sapa dengan siapapun disini. Kulirik ada sebuah kamar mandi yang kosong lalu kemudian
aku masuk saja dan mandi tanpa peduli dengan tatapan-tatapan aneh yang tak kukenal itu.
Selesai mandi aku langsung keluar dan menuju kekamarku. Lalu mengganti bajuku dan bersiap-
siap untuk berangkat kerja. Untuk sarapan aku memesan roti tawar dengan slay kacang saja
dikantin asrama lalu melahapnya sambil berjalan keluar menuju kealamat restoran yang tertulis
disecarik kertas yang kemarin Nyonya Lili berikan padaku. Awalnya aku sedikit kebingungan untuk
memastikan jalan yang harus aku pilih karena dikertas itu tidak tertulis nama jalannya dan Nyonya
Lili juga tidak mengatakan setelah keluar dari asrama aku harus berjalan kearah kanan atau kiri
ataukah lurus saja kedepan. Ya, karena saat keluar dari asrama kami ini, aku langsung dihadapkan
dengan sebuah pertigaan yang tentu saja sangat sulit bagiku untuk memilihnya.
"Hei.. is you Indonesian?" Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sapaan seseorang dengan menggunakan
__ADS_1
bahasa Ingris.
Sejenak aku terdiam, siapakah yang ia sapa aku ataukah ada orang lain karena kebetulan saat ini
di luar gerbang asrama sedang banyak sekali orang yang berlalu lalang. Lalu karena penasaran aku
menoleh kearah sumber suara yang menyapa tadi.
Dan benar saja disana terlihat seorang wanita berjilbab tersenyum kearahku. Tapi siapa dia
sepertinya aku baru kali ini melihat perempuan ini. Dia masih muda dan cantik. Dengan tatapannya
yang lembut menampilkan aura jika ia mempunyai sifat bersahabat dan ramah.
"Yes, am i." Jawabku.
Wanita itu melangkah semakin mendekatiku. Dengan tatapan penuh arti dan ia seolah sangat
senang kami bisa berjumpa.
"Saya orang Indonesia juga." Katanya padaku.
"Wah.. Senang akhirnya aku bisa punya teman, maklum aku baru disini jadi belum punya kenalan.
Dan sangat senang rasanya begitu ada kenalan ternyata sama-sama dari Indonesia." Tuturku.
"Saya juga baru, saya Mahasiswa disini. Nama kamu siapa?" Tiba-tiba ia mengulurkan tangan
untuk berkenalan denganku.
Aku menyambut uluran tangannya dan membalasnya.
"Aku Nuraini. Panggil saja Aini. Aku TKW disini." Jawabku.
orang Indonesia juga." Katanya.
"Sekarang kamu mau kemana Nia?" Tanyaku.
"Aku mau kekampus, kalau kamu mau kemana Aini?"
"Aku mau berangkat ketempat kerjaku tapi sebenarnya aku sendiri juga masih bingung karena
alamat yang diberikan Agenku masih kurang jelas."
"Memang alamatnya dimana? Kamu baru mau pertama kali kesana?"
"Iya Nia, ini ada dikertas ini. Apakah kamu tahu dimana restoran ini berada?"
"Oh, ya ya saya tahu Aini. Reatoran ini memang tempat ku membeli makan dan minum setiap hari
tempatnya tidak jauh dari sini."
"Dimana? Kamu bisa antar aku kesana Nia?"
"Ya, tentu saja bisa."
Syukurlah pagi ini ada sebuah pertolongan yang tak terduga. Tuhan telah mengirimkan Nia untuk
membantuku yang sedang kebingungan mencari alamat restoran tempat kerja baruku. Dan
__ADS_1
ternyata benar restoran itu memang letaknya tidak jauh dari asrama putri tempat kami tinggal. Dari
depan asrama tadi memilih jalur kanan dan sekitar seratus meter dari pertigaan tersebut restoran
itu berada.
Nia mengantarku hingga kedepan restoran, lalu kami berpisah karena ia juga akan pergi
kekampusnya. Aku dan Nia sudah berjanji nanti sore kami akan kembali bertemu di taman yang
ada di halaman asrama.
Aku melangkah masuk menuju restoran, dan memulai pekerjaan baruku hari ini. Disini aku juga
kembali berkenalan dengan beberapa orang yang juga merupakan karyawan sama seperti aku.
Mereka semua merupakan orang-orang muslim karena restoran ini adalag memang restoran khusu
menjual makanan-makanan halal saja.
Mereka kebanyakan memang orang Chnia asli penduduk Hong Kong. Yang merupakan penduduk
minoritas. Mereka semua sangat ramah. Mereka mengajariku dengan lembut dan perlahan setiap
tugas-tugasku. Ada juga seorang petugas kasir lama ia sudah senior disini. Dia membimbingku
dengan sabar dalam setiap pekerjaan yang harus aku kerjakan.
Pekerjaan pertamaku hari ini Alhamdulillah berjalan dengan lancar-lancar saja. Aku bersyukur bisa
mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal baru dalam waktu yang sangat singkat ini. Meski
terkadang perasaan sedih itu masih sering datang menghampiriku manakala aku teringat dengan
semua kejadian yang terjadi di rumah Papa Syaeful dan mama Tri. Aku juga sedih jika teringat
dengan Farenzy.
Ku raih gawaiku yang sudah beberapa hari ini sengaja tidak aku aktifkan. Karena aku sedang tidak
ingin terganggu oleh Farenzy. Jika aku aktifkan sudah pasti Farenzy akan menghubungiku baik
melalui pesan ataupun telepon.
Lalu aku aktifkan dan benar saja langsung masuk beberapa pesan berturut-turut semua dari
Farenzy. Dan hampir semuanya sama. Yaitu ia menanyakan dimana aku, dan apa kabarku serta
bagaimana keadaanku.
Ku tarik napas dalam-dalam untuk semua masalah yang terjadi, ada sesak yang menyumbat
dihatiku. Entah ada apa dan bagaimana lagi urusan dan masalah yang akan terjadi didepan nanti
tapi untuk saat ini aku benar-benar hanya ingin menjalani kehidupanku jauh dari keluarga mereka.
Bukan berarti juga aku sudah tidak mencintai Farenzy lagi, bukan pula aku bisa melupakannya
dalam sekejap. Tidak, sungguh tidak seperti itu tapi luka ini terlalu berat bagiku. Terlalu sakit dan
__ADS_1
tidak mudah untuk terobati.
Bersambung...