
Pov. Nasya
Aku masih rutin berkunjung kerumah kakakku untuk memintanya.mengajariku dalam pengerjaan tugas akhir kuliah. Tapi semakin hari aku semakin curiga dengan kakakku. Ia selalu saja berhasil menambah rasa cirigaku tentang ada hubungan apa sebenarnya antara dia dan Aini.
Tanpa sengaja beberapa hari yang lalu aku melihat wallpaper di Hp-nya dan disana terlihat bahwa kakakkuenggunakan potonya bersama dengan Aini dengan bergaya sangat mesra sebagai wallpaper dilayar Hp-nya tersebut. Aku memang tidak menanyakannya pada kakakku tapi aku cukup paham akan maksud yang tersirat dari apa yang kulihat. Itu menunjukan bukti bahwa ada sebuah hubungan percintaan antara kakakku dan Aini. Atau kalau tidak, apa mungkin kakakku hanya mengagumi Aini saja sedangkan Aini tidak tahu akan apa yang kakakku rasakan. Tapa apa iya? Kalau perasaan itu hanya sepihak mana mungkin bisa berpoto semesra itu.
Sebenarnya bukan maksudku untuk ikut campur urusan kakakku, tapi aku sebagai adiknya tidak mau jika sampai kakakku dimanfaatkan oleh para gadis. Aini memang cantik dan lembut, tapi siapa yang tahu isi hatinya seperti apa. Bisa saja ia hanya berpura-pura baik karena ingin mendapat apa yang ia inginkan. Aku hanya tidak mau kalau sampai kakakku dibutakan oleh cinta yang tidak jelas asal-usulnya. Memang benar kini status Aini adalah saudara angkat kami, karena mama dan papa mengangkatnya sebagai anak dan mencabut statusnya dari asisiten pribadi keluarga kami.
Tapi justru itu aku tidak mau kalau Aini sampai tidak tahu batasan-batasannya. Atau bahkan mungkin saja ia memanfaatkan kebaikan mama dan papa untuk menguasai apa yang telah dimiliki oleh kakakku. Siapa yang tahu kalaumungkin ada kebusukan semacam itu dalam hati Aini.
Karena dengan dalih ingin menyelamatkan kakakku aku bersepakat dengan mama untuk menjebak Aini sehingga ia bisa mengakui segala perbuatanya. Walaupun sebenarnya aku dan mama sama-sama pernah menyelidiki apa dan bagaimana hububungan yang telah terjalin antara Aini dan kakakku itu. Namun baik aku ataupun mama kami berdua sama-sama gagal, aku dan mama masih belum juga menemukan bukti yang akurat untuk itu.
Aini begitu pandai menyembunyikan semua ini. Maka aku dan mama harus mencari cara yang tepat untuk menjebaknya. Agar ia bisa masuk kedalam perangkap yang aku dan mama buat.
"Ma, kita harus hati-hati jangan sampai kita gagal lagi, kali ini kita harus berhasil." Kataku pada mama.
"Iya Nas, tapi mama belum menemukan cara untuk menjebak Aini kamu juga harus bantu mama mikir cari solusi yang tepat ya Nas." Pinta mama.
"Oke mama, Nasya juga sedang mencari cara terbaik." Jawabku.
"Ya sudah, nanti malam sebelum tidur kamu temui mama dulu di balkon ya. Semoga kita bisa secepatnya menemukan cara untuk menjebak Aini agar ia masuk kedalam perangkap kita." Kata mama lagi.
__ADS_1
"Oke siap ma..!" Timbalku.
Kemudian aku dan mama kembali bersikap biasa-biasa saja didepan semua orang. Termasuk juga papa dan nenek. Rencana ini hanya aku dan mamaku saja yang tahu dan tidak boleh ada orang lain lagi yang tahu selain kami.
Sesuai janji mama dan aku tadi sore, ketika keadaan rumah sudah sepi aku keluar ke balkon lalu aku mengirim pesan pada mama memberitahunya bahwa aku sudah menunggu. Tidak butuh waktu lama kemudian mama pun datang. Aku dan mama mulai berbincang dengan suara yang sengaja kami pelankan. Karena ini menyangkut sebuah rencana yang bersifat rahasia. Dan selain itu orang yang akan menjadi target kami ada dalam satu rumah dengan kami. Jadi aku dan mama benar-benar harus hati-hati.
"Jadi bagaimana ma, apa mama sudah menukan apa dan bagaimana kita akan menjeratnya. Nasya sudah tak tahan ma. Pengen deh Nasya secepatnya memberi pelajaran ke dia. Supaya dia tahu diri." Tanyaku pada mama dengan nada geram.
"Sabar Nasya cantik anak mama.. Ya memang benar mama sudah menukan sebuah rencana yang mama anggap tepat untuk kita kasih ke dia." Jawab mama. Dan jawaban mama itu semakin membuat aku tak sabar.
"Rencana seperti apa ma?" Tanyaku penasaran.
Lalu mama menarikku sedikit lebih dekat dengannya supaya aku bisa mendengar dengan jelas apa yang akan mama bisikan padaku.
"Tapi ma bagaimana caranya Nasya mengambil hp Aini? Bagaimana kalau dia tahu? Bagaimana kalau ternyata hpnya dipassword oleh Aini?" Tanyaku beruntun pada mama.
"Ah kamu ini Nas, ya kamu pelan-pelanlah ngambilnya. Perhatikan kapan ia lengah atau kalau tidak sewaktu dia mandi kamu ambil hpnya. Kamu lakukan seperti yang mama perintahkan. Begitu saja kok susah." Mama mengertu.
"Iya deh ma besok pagi Nasya coba." Aku menyetujui usul mama.
"Oya ma, setelah itu apa lagi rencana kita selanjutnya?" Tanyaku lagi pada mama.
__ADS_1
"Nah, kan nanti kakak mu pasti datang menemui Aini seperti yang diminta. Kemudian saat itu kita ikuti mereka dan saat ada momen-momen mesra dan romantis yang mereka lakukan maka kita poto dan saat Aini pulang kerumah kita akan perlihatkan bukti-bukti yang kita punya itu. Mau tidak mau Aini pasti akan mengakui semuanya." Mama menjelaskan panjang lebar padaku.
"Owh.. begitu ya ma.. baiklah ma kalau begitu."
"Iya Nas. Setelah itu nanti mama akan pikirkan dulu apa lagi yang akan kita lakukan supaya Aini tidak lagi mengusik kakakmu." Lanjut mama.
Aku hanya mengangguk merasa bahwa apa yang mama katakan semuanya adalah benar. Malam semkin larut aku dan mama masuk kekamar kami masing-masing. Saat melewati kamar Aini ku hentikan sejenak langkahku untuk sekedar menempelkan telimgaku didaun pintu kamar Aini. Hening. Mungkin Aini sudah terlelap tidur bermimpi indah, namun sayang mimpi indahnya itu selamanya hanya akan menjadi mimpu dan tak akan pernah menjadi nyata. Karena ia tidak tahu diri dan tidak.tahu berterimakasih atas segala kebaikan yang sudah kami sekeluarga berikan padanya.
Saat pagi hari, secara mengendap-endap aku mengintip Aini sedang apa. Lalu aku mengetuk pintu kamarnya dan tidak perlu menunggu lama Aini datang membukakan pintu untukku.
"Eh Nas, ada apa? Tumben pagi-pagi kekamarku. Apa ada yang bisa aku bantu untuk kamu Nas?" Tanya Aini dengan penuh nada heran padaku.
"Emm..eh, nggah ada apa-apa Ai. Cuma aku pengen kekamarmu saja." Jawabku meyakinkan Aini.
"Owh, aku kira ada keperluan apa? Oh ya kalau begitu aku tinggal mandi dulu ya. Kamu sendirian disini nggak apa-apa kan Nas?"
"Oh.. ya nggak apa-apa Ai. Silahkan lanjut aja mandinya. Aku tiduran dikasurmu boleh ya."
"Hehe..ya tentu saja boleh Nasya.. ah sudahlah.. aku mandi dulu nanti telat mau kerja."
"Ya sudah sanaandi..!"
__ADS_1
Sementara Aini berlalu pergi kekamarmandieninggalkan aku sendirian.'ini kesempatan emas' gumamku. Dan ini tidak aku sia-siakan, aky menjalankan misiku seperti yang sudah aku dan mamaku rencanakan sejak tadi malam. Dan yups.. semua berjalan lancar bahkansebelum Aini selesai mandi. Kemudian beberapa saat setelah itu aku kembali berpura-pura kembali keposisi semula yaitu berbaring di tempat tidur Aini. Dan kemudian Aini keluar dari kamar mandi dan membangunkanku yang sedang berpura-pura tertidur.
Bersambung..