
Pov. Aini
"Ai, besok akan ada acara di masjid Jamiya. Kita semua mau ikut kamu juga mau ikut kan?". Tanya Latifa padaku.
"Acara apa? Tapi aku kan tidak dapat undangannya." Jawabku.
"Akan ada acara Isro' Mi'raj. Tidak apa-apa walaupun tidak ada undangan pribadi tapi kamu masih bisa ikut. Karena acaranya akan terbuka untuk umum." Latifa menjelaskan padaku.
Sepertinya aku tertarik untuk ikut dengan ajakan dari Latifa. Karena kebetulan juga besok adalah hari libur untukku. Jadi aku tidak bekerja. Dari pada aku hanya tinggal saja di asrama lebih baik aku ikut saja dalam acara Isro' mi'raj itu sekalian supaya bisa menambah ilmu dan juga supaya aku bisa lebih mengenal lingkungan yang baru ini. Siapa tahu disana juga aku akan mendapat teman baru.
Tentang Farenzy aku selalu saja berusaha untuk mengusirnya dari pikiranku meski sejujurnya itu adalah hal yang paling sulit buat aku namun aku tidak mau mama dan Nasya lebih memperlakukanku rendah seperti yang telah mereka lakukan waktu itu padaku.
Terkadang teman-temanku sering bertanya tentang sosok peria yang waktu itu membuntutiku dimasjid Jamiya. Namun aku selalu menepis ucapan mereka yang mengatakan bahwa Farenzy sangat cocok untukku.
***
Sore ini aku pulang kerja entah mengapa badanku terasa lemas dan kepalaku juga pusing. Aku mencoba untuk mengingat-ingat apa saja yang tadi ditempat kerja sudah kulakukan. Sepertinya tidak ada pekerjaan yang terlalu berat. Semua pekerjaan sama seperti hari-hari kemarin. Pengunjung juga tidak ada lonjakan yang besar. Bahkan aku hampir mengenal mereka semua karena yang berkunjung adalah rata-rata pengunjung yang sudah menjadi langganan di restoran tempat aku bekerja itu.
__ADS_1
Lalu aku mencoba untuk mengingat-ingat makanan dan minuman apa saja yang tadi kumakan dan aku minum. Sama. Tidak ada sesuatu yang berbahaya ataupun berbeda dari hari-hari kemarin. Aku makan dan minum direstoran itu. Sama seperti teman-temanku yang lain. Jika aku keracunan maka mereka juga pasti akan terkena.
Namun semakin lama semakin aku rasakan berat menyeruak terasa berat hingga keseluruh kepalaku. Pandangankupun mulai berkunang-kunang.
Aku mencoba untuk menghentikan langkahku. Aku mencoba untuk mencari tempat duduk. Lalu aku menemukan sebuah kursi yang berada di bawah sebuah pohon rindang. Aku duduk disana, karena sepertinya aku tidak kuat jika harus melanjutkan perjalananku ke asrama putri dimana kini menjadi rumahku.
Kemudian setelah aku merasa kuat untuk melanjugkan perjalanan pulang maka aku berdiri dari tempat dudukku itu. Perlahan aku berdiri lalu melangkah pergi menuju asrama putri. Aku tidak tahu apa penyebab keadaanku bisa menjadi selemah ini. Ah, tapi mungkin saja hanya karena aku cape meski tidak terasa tapi mungkin tubuhku sedang tidak fit untuk menjalankan pekerjaanku. Sesampainya aku diasrama langsung saja aku berbaring. Kemudian tanpa sempat mandi dan mengganti bajuku akupun tertidur pulas.
***
Aku berjalan disebuah taman bunga yang indah, dengan bunga-bunganya yang bermekaran dan harum aromanya menusuk hidung dan memberi kenyamanan bagi siapa saja yang berada disan. Tapi aku tidak tahu persis dimana taman bunga ini berada.
Beberapa saat kemudian aku melihat nenek Siti hendak menyeberang jalan. Spontan saja.aku bamgun dari dudukku hendak mendekatinya, aku khawatir dengan nenek. Aku melangkah menuju kearah nenek Siti namun belum saja aku sampai tiba-tiba sebuah bus datang dan menabrak nenek Siti. Aku seketika histeris melihat pemandangan ini. Begitu nampak darah berceceran di jalan aspal hitam tersebut. Tubuh nenek tergeletak dijalan dan bus yang tadi menabraknya melaju dengan kencang hingga tak lagi nampak oleh pandangan.
Aku berlari mendekati nenek, hatiku sangat pilu menhaksikan kejadian ini dengan mata kepalaku. Aku sangat sedih. Sesampainya aku didekat nenek Siti yang terbujur dengan berlumuran darah itu sepertinya aku tak sanggup untuk melihat pemandangan ini seorang diri hingga aku berteriak.
"Nenek...!" Aku berteriak.
__ADS_1
Namun tiba-tiba aku terbangun. Ya Tuhan..! ada apa ini? Mengapa aku bermimpi buruk tentang nenek Siti? Apa nenek Siti sedang mengalami sesuatu?. Namun semoga saja tidak. Aku berharap nenek Siti disana baik-baik saja.
Kulirik jam didinding ternyata sekarang sudah pukul dua dinihari. Perasaanku benar-benar tidak nyaman akibat mimpiku tadi hingga aku memmutuskan untuk bangun dan sholat. Aku berdoa memohon keselamatan untuk nenek Siti. Tiba-tiba aku merasa sangat rindu pada sosok tua yang begitu menyayangiku seperti cucunya sendiri itu. Begitu banyak kenanganku bersanya sejak awal pertama kedatanganku di Hong Kong ini. Waktu itu nenek Siti sedang Strouke dan kedua kakinya lumpuh. Hingga ia perlaham sembuh dan bahkan sembuh total.
Tak terasa air mataku menetes saat aku mengenang kebersamaanku dengan nenek Siti. Saat aku mengingat satu persatu kebaikannya. Saat aku terngiang akan pesan-pesan dan petuah-petuahnya untukku. Aku semakin merindukannya. Semoga Allah selalu melindungimu nek. Aku merindukanmu.
***
Pagi hari datang menyapa dengan meninggalkan mimpi-mimpi semalam hingga hanya menjadi sisa-sisa bayangan yang berkelabat dalam ingatan. Sejak subuh sudah terdengar lantunan syair-syair sholawat dari masjid Jamiya. Masjid terbesar dikota Hong Kong ini. Aktifitas umat muslim disekitar Sherly Street sangat
menyejukan mata siapa saja yang memandang dengan jiwa dan hati yang penuh keimanan.
Aku bersiap-siap untuk pergi ke masjid Jamiya dimana akan diadakan Isro' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sudah lama rasanya aku tak mengikuti acara keagamaan seperti ini. Kecuali dulu sewaktu masih dikampung. Ya, karean meski keluarga Tuan Syaeful adalah keluarga yang termasuk bisa dikatakan agamis namun selama aku bersama mereka belum pernah sekalipun mereka mengajakku untuk pergi keacara seperti ini.
Kemudian setelah selesai bersiap-siap aku langsung melangkah pergi keluar asrama menuju ke masjkd Jamiya. Dari kejauhan sudah nampak ratusan orang telah berada disana. Pemandangan yang sangat menyejukan hati. Semakin mendekat aku semakin tahu bahwa orang-orang muslim yang kini sedang berkumpul di masjid Jamiya ini bukanlah hanya dari satu asal saja namun dari berbagai daerah bahkan dari berbagai negara juga ada disini.
Meski acara belum mulai namun aku memilih untuk tetap masuk saja kedalam masjid. Aku mengelilingkan pandanganku mencari teman-teman yang kukenal namun sepertinya sangat sulit karena tempatnya begitu luas juga orang-orang yang berdatangan begitu banyak. Lalu aku memutuskan untuk duduk saja dan sesekali aku melirik kearah para segerombolan pemuda dan pemudi yang berlalu-lalang itu. Sepertinya mereka adalah pengurus dari organisasi masjid ini. Nampak bahwa mereka adalah penduduk lokal dari perawakan mereka dan dari warna kulit juga bentuk mata yang sipit.
__ADS_1
Bersambung...