Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.92. Seolah Tak Percaya dengan Yang Ku Lihat


__ADS_3

Pov. Farenzy


"Kak, tadi dokter bilang katanya besok kemungkinan nenek sudah bisa pulang." Kata Nasya tapi dengan sedikit nada ragu.


Entah apa yang membuat ragu adikku ini. Mungkinkah karena ia merasa bersalah segingga berat untuk bicara dengan ku. Ataukah karena terlalu banyak masalah yang sedang terjadi dalam keluarga kami akhir-akhir ini. Bahkan komunikasi antara kamipun seolah sangat renggang.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Besok kalian bawa pulang saja nenek dari rumah sakit aku masih ada urusan di perusahaan dan tidak bisa untuk aku tinggalkan." Jawabku.


"Tapi kak, Papa juga bilang begitu. Mama pun sama. Apa ia aku sendiri yang akan membawa nenek pulang?" Nasya berkata dengan sedikit mengeluh.


Oh, ternyata papa sudah lebih dahulu mengatakan tidak bisa. Dan mama juga?. Tapi mengapa mama tidak mau membawa nenek pulang bukankah kemaren sewaktu nenek baru saja pingsan mama seolah sangat menyesali perbuatannya? Ah, ada apa lagi ini.


"Begini Nas, besok jika urusanku dikantor sudah selesai aku temani kamu untuk membawa pulang nenek. Tapi itu tadi, aku selesaikan dahulu pekerjaanku baru kita bertemu dirumah sakit." Aku mencoba untuk memberi solusi untuk masalah satu ini.


"Baiklah kak kalau begitu, aku tunggu kakak ya."


"iya."


Aku bersyukur akhirnya nenekku sudah diperbolehkan pulang besok oleh pihak rumah sakit. Walaupun kini kesehatan nenek sebenarnya jauh menurun dibandingkan sebelumnya. Semenjak siuman nenek selalu saja menanyakan keberadaan Aini padaku, sehingga ini yang menjadi semangatku untuk terus berusaha mencari Aini. Harapanku tidak pudar, aku bahkan semakin yakin bahwa aku akan menemukan Aini secepatnya.


***


Hari ini aku sudah menentukan jadwal untuk setiap urusanku, pagi-pagi aku peegi kekantor untuk sekedar meeting dengan para karyawan dan mengecek beberapa berkas penting perusahaan. Kemudian setelah itu aku pergi kerumah sakit untuk menemui Nasya untuk mengurus kepulangan nenek. Aku sudah menelpon Nasya untuk mengurus semua administrasi lalu nanti aku datang tinggal mengeluarkan nenek dari ruangannya saja.


"Apa semua sudah kamu selesaikan Nas?" Aku bertanya pada Nasya saat aku tiba dirumah sakit.


"Semua sudah selesai kak." Jawab Nasya.


"Baiklah kalau begitu panggilkan suster supaya sekarang juga kita bisa membawa pulang nenek karena setelah ini aku akan ada kegiatan lain lagi." Kataku pada Nasya.

__ADS_1


Kemudian Nasya keluar ruangan untuk memanggil suster, sementara itu hanya tinggallah aku dan nenek saja. Aku mendekat kearah nenek, dan nampak nenek tersenyum padaku.


"Ren, mana Aini?" Nenek bertanya padaku.


Masih sama dengan kemarin nenek bertanya perihal Aini. Aku tidak banyak kata untuk menjawab pertanyaanya ini.


"Aku masih berusaha untuk mencari Aini nek. Nenek sabar ya semoga secepatnya Aini bisa kembali bersama kita lagi." Aku berusaha untuk menenangkan hati nenek.


Dan nenek hanya menjawab dengan anggukan saja. Aku mengerti nenek sangat berharap bisa kembali bertemu dengan Aini. Sabarlah nek, aku pun sangat meri dukannya bukan hanya nenek saja. Kita sama-sama kehilangan Aini.


"Kak, ini susternya sudah datang." Nasya membuyarkan lamunanku.


Lalu kami mengeluarkan nenek dari ruangannya dengan ba tuan seorang suster tadi. Aku dan Nasya membawa nenek pulang dengan menggunakan mobil milikku. Disepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara hanya sesekali saja aku bertanya pada Nasya tentang makanan yang boleh dimakan oleh nenek.


Setelah sampai dirumah, aku dan Nasya membawa nenek kekamarnya. Kemudian aku berpamitan kepada Nasya dan juga nenek. Aku mengatakan bahwa aku akan pergi untuk menyelesaikan pekerjaanku. Tapi aku tidak memberi tahu mereka bahwa aku akan pergi untuk mencari Aini. Aku tidak mau memberikan harapan yang belum pasti kepada nenek. Dan aku juga tahu bahwa sesungguhnya Nasya belum mau menerima Aini.


***


Aku mengarahkan mobilku menuju sebuah restoran yang beberapa waktu lalu aku pernah makan disana. Dan aku juga pernah mengira seorang karyawannya adalah Aini.


Aku turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran, aku melambaikan tangan pada seorang karyawan peria itu, kemudian ia meminta soerang rekannya untuk menghampiriku. Tapi betapa terkejutnya aku setelah tahu bahwa yang datang menghampiriku adalah seorang yang selama ini aku cari. Aini. Ya, dia adalah Aini.


"Aini." Seketika mulutku menyebut nama itu.


"Mas." Jawabnya.


Aku segera berdiri berhadapan dengannya, ku sentuh tangannya dan ternyata benar. Ini adalah Aini. Ya Tuhan ternyata aku tidak sedang bermimpi.


"Ini benar kamu Aini?"

__ADS_1


"Iii..iya mas ini aku. Aini."


"Dari mana saja kamu selama ini Ai?" Spontan saja aku memeluk Aini. Entah apa yang membuatku melakukan hal senekat ini. Yang jelas aku sangat merindukannya dan sangat senang bisa menemukannya kembali.


"Mas sedang apa disini?" Ia bertanya padaku.


"Kamu yang sedang apa disini Ai?" Aku balik bertanya pada Aini.


"Aku kerja disini mas." Jawabnya.


Tak ada yang tahu apa lagi mengerti tentang betapa bahagianya hatiku saat ini. Hanya aku saja yang mengetahui dan merasakan semua ini. Aku sangat bahagia bisa menemukan Aini dalam waktu yang sama sekali tidak aku duga.


Ternyata memang benar filingku tidak pernah salah. Disinilah, ditempat ini. Di Herly Street ini aku akan menemukan orang yang selama ini aku cari. Lalu apakah benar yang beberapa kali pernah kulihat waktu itu adalah Aini? Ah, rencana Tuhan ternyata memang selalu indah dari yang kita duga.


"Kamu bisa keluar sebentar Ai?" Aku mencoba untuk memecah suasana.


"Ada apa ya mas?" Aini bertanya heran pada ku.


"Aku ada perlu Ai." Jawabku.


"Emmm, lima belas menit lagi waktu istirahat untukku. Mas bisa tunggu dulu ya." Aini memberi tahuku.


"Baiklah Ai kalau begitu, aku akan tunggu." Aku mengiyakan permintaan Aini.


Lima belas menit apalah artinya dibamdingkan dengan pencarianku selama ini. Berbulan-bulan aku menanti pertemuan ini. Berbulan aku mencarinya kesana kemari. Semenjak kepergian Aini hidupku seolah mati. Tak ada yang kucari setiap saat kecualu dia.


"Mas, aku sudah bisa istirahat sekarang." Ah, ternyata lima belas menit itu sudah terlewati.


"Ayo Ai kita bicara diluar." Aku mengajak Aini dan menuntun tangannya.

__ADS_1


Kami berjalan disekitaran taman yang ada disamping restoran tersebut, udara yang sejuk menyapa dengan lembut membelai jilbab yang dikenakan Aini. Lalu kami duduk disebuah kursi yang memang ada di taman itu. Aku tertegun melihat keanggunannya yang semakin bertambah karena ia menggunakan jilbab, sangat cantik. Aku seolah masih belum percaya dengan apa yang aku lihat. Aku telah menemukanmu Ai. Aku sangat merindukanmu.


Bersambung.


__ADS_2