Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 11. Kejahilan Farenzy


__ADS_3

Pov. Aini


Dari kemaren Bu Tri sudah memberitahuku bahwa hari ini ia dan pak Saeful akan berangkat kerja pagi-pagi sekali. Sedangkan hari ini adalah jadwal nenek Siti untuk kembali berobat di rumah sakit. Bu Tri sudah wanti-wanti padaku bahwa aku harus menyiapkan segala sesuatunya. Aku menyiapkan semua yang mungkin akan dibutuhkan saat pengobatan tas yang berisi segala perlengkapan nenek sudah aku letakkan di samping tempat tidur nenek supaya nanti aku mudah untuk membawanya.


Bu Tri memberi tahuku bahwa pagi ini Farenzy akan datang. Ia akan mengantar aku dan nenek kerumah sakit. Farenzy? Duh, jantungku mulai terasa mau copot tiap kali mendengar nama itu disebut-sebut. Berulang kali aku mencoba menyadarkan hatiku bahwa ini nggak boleh terjadi. Aku nggak boleh jatuh Cinta dengan pria manapun. Tapi tiap kali itu juga aku tak pernah bisa menyingkirkan perasaan yang terlalu cepat ini hinggap dalam jiwaku. Aku baru saja selesai mengganti popok nenek tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi. Aku segera membukakan pintu. Ternyata Farenzy sudah datang. Ia menjemput aku dan nenek untuk pergi kerumah sakit.


"Sudah siap Ai?" Tanyanya begitu aku membukakan pintu untuknya.


"Sudah mas." Jawabku.


"Apa semua sudah disiapkan?" Ia kembali bertanya.


"Sudah mas, dari tadi sudah aku siapkan."


"Owh..begitu awas jangan sampai ada yang lupa atau tertinggal ya."


"Iya mas, tenang aja semua pasti beres."


Kami pergi ke rumah sakit tapi diperjalanan entah apa alasannya Farenzy tiba-tiba memutar balik arah mobilnya. Aku kebingungan melihat ini.


"Ada apa ya mas Farenzy?" Tanyaku.


"Nggak apa-apa." Jawabnya singkat. Aku hanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Mungkin ada sesuatu yang ketinggalan tapi entah apa itu dia tidak memberitahuku dan aku juga enggan untuk banyak bertanya. Kulihat nenek juga menatap ke arah Farenzy tapi nenek juga tidak bicara apa-apa hanya menatap Farenzy dengan tatapan aneh saja lalu menghela nafas panjang.


Tiba di depan Apartemen kami, Farenzy menepikan mobil lalu memarkirkannya. Dan kemudian ia turun dari mobil dan membiarkan aku dan nenek berdua didalam mobil. Terlihat ia sedikit berlari memasuki apartemen lalu masuk kedalam lift. Tak lama kemudian ia kembali turun dan keluar dari lift. Lalu buru-buru kembali masuk kedalam mobil dan kembali menyetir mobil dan melaju kembali menuju arah rumah sakit.


"Ada apa sih mas sebenarnya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya, soalnya aku penasaran.


"Apa ada yang lupa atau tertinggal?" Lanjutku.


"Iya ada." Jawabnya singkat.


"Apa?" Tanyaku lagi.


"Cintaku untuk mu." Lalu ia tersenyum dan melirik ke arah aku dan nenek.


Aku tak mampu menatap lirikan matanya. Jantungku terasa mau copot. Mungkin dia hanya sekedar bercanda, tapi candaannya membuat aku jadi baper. Duh Aini kontrol sikapmu..! Bisikku pada diri sendiri.


Aku berusaha bersikap biasa saja. Aku nggak mau Farenzy tahu tentang apa yang aku rasakan. Begitupun dengan nenek aku nggak mau nenek juga tahu tentang perasaanku. Biarlah cukup aku saja yang merasakan segalanya.


"Hei..Aini ayo turun..! Apa kamu masih mau dimobil? Masih kurang naik mobilnya?" Suara Farenzy membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


"Hah..o ya ya sudah sampai ya.." Aku terbata-bata karena kaget.


Farenzy membukakan pintu mobil lalu kami menurunkan nenek dengan bantuan seorang suster. Farenzy mendaftarkan nenek siti, lalu kami mengantar nenek Siti masuk ke ruangan yang ditunjuk. Dokter datang dan mulai memeriksa keadaan nenek. Sementara dokter memeriksanya, aku duduk di kursi tunggu diluar ruangan. Lalu Farenzy keluar dari dalam ruangan.


"Aini.. kamu di panggil suster didalam." Ia bicara dengan nada serius. Aku segera bangun dan hendak masuk kedalam ruangan dimana nenek sedang di terapi. Tapi kemudian Farenzy kembali menarik lenganku. Spontan aku menoleh kearahnya.


"Ada apa ya mas?" Tanya ku.


"Mau kemana?"


"Mau kedalam, kan katanya aku dipanggil."


"Ya udah sana masuk. Eh.. jangan jangan.. aku cuma bohong saja.."


"Duh..gimana sih mas, aku dipanggil apa nggak nih?"


"Hehe.. nggak.. aku cuma bercanda Aini." Farenzy lanjut menertawaiku.


"Kamu ini kok mudah banget percaya sama orang." Katanya sambil melirik dan tersenyum kepadaku. Duh... Jantung ini sungguh mau copot rasanya.


"Iih... Mas ini." Grutuku karena kesel. Lalu aku kembali duduk di kursi tunggu.


Farenzy mengikutiku dan juga ikut duduk di kursi tunggu yang tepat berada di sampingku.


"Oya boleh.. silahkan mau tanya apa?"


"Itu tadi mas Farenzy buru-buru memutar balik arah ke apartemen lagi buat apa ya mas?"


"Hahaaa... Memangnya kenapa?"


"Ya nggak, cuma nanya aja. Apa ada yang lupa atau tertinggal. Atau apa gitu?"


"Yah... Kamu kena deh.."


"Apa-apaan sih mas aku ini nanya lho.."


"Hahaaaa.."


"Lha kok malah ketawa lagi.."


Farenzy masih tetap saja tertawa tersenggal-senggal baru setelah itu ia menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Aku cuma ngerjain kamu aja Aini. Tadi aku lihat jam masih lama waktunya untuk giliran nenek di terapi. Dari pada nunggu lama dirumah sakit lebih baik aku putar balik arah dulu ke apartemen lagi. Sekalian supaya bikin kamu sedikit was-was. Ternyata aku berhasil.. yes..!


"Uuhhh...dasar..!"


"Oya Ai, gimana kurusus mu?" Tiba-tiba Farezy menanyakan tentang kurususku.


"Baik."


"Emmm... maksudku apa kamu bisa memahami materi-materinya?"


"Bisa donk."


"Owh.. syukurlah kalau kamu bisa memahami materinya.. semoga cepat lancar ya.."


"Iya mas..aamiin."


"Oya nanti kamu mau makan siang apa?"


"Apa aja lah.."


"Yuk kita cari makan, didekat sini ada kedai makanan halal." Farenzy mengajakku dan aku pun tak bisa menolak ajakannya.


Sementara nenek belum selesai di terapai aku dan Farenzy keluar mencari makan siang. Farenzy mengenalkan ku dengan beberapa menu khas hong kong. Sepertia Dim sum, bebek panggang, telur kukus, pasta wijen, egg waffle dan beberapa makanan lainnya yang namanya masih sulit untuk aku ingat dan sebutkan. Maklum masih baru. Selain itu Farenzy juga mengajak ku ke kedai makanan khas turki yaitu kebab, baba ganoush, baklava, shish dan juga beberapa makanan khas turki lainnya.


"Nah.. sekarang kamu udah tahu kan? Makanan apa yang kamu pilih untuk makan siang?" Farenzy menanyakan padaku.


"Aduh.. aku bingung mas. Terserah mas Farenzy aja deh mau pesan apa aku ikut aja." Jawabku jujur.


"Ya sudah kalau begitu kita beli dim sum, baba ganous, kebab, bakso sapi panggang dan minumnya kita pesan strowberry jasmine aja ya."


Aku hanya membalasnya dengan anggukan saja.


Setelah berbelanja makanan untuk makan siang aku dan farenzy kembali ke rumah sakit. Lalu kami makan di kantin yang ada di belakang rumah sakit tersebut. Setelah makan lalu kami kembali ke ruangan tempat nenek Siti sedang di terapi. Sekitar setengah jam nenek Siti pun selesai di terapi. Lalu setelah itu kami kembali pulang. Sesampai dirumah, Farenzy membantuku membawa nenek Siti dengan kursi roda.


"Ai, aku pamit pulang dulu ya."


"Iya mas. Terimakasih sudah bantuin aku mengantar nenek berobat hari ini. Sudah mau nungguin lama-lama juga."


"Iya nggak apa-apa. Kan emang udah tugasku. Oya maaf juga ya atas kejahilan ku hari ini."


"Iya mas nggak apa-apa." Jawabku. Lalu ia berpamitan dengan nenek. Dan kemudian ia langsung pulang. Hari ini sungguh hari yangenyenangkan bagiku. Aku dikasih kesempatan untuk dekat dengan Fatenzy dalam waktu yang lumayan lama. Hemmm.. aku senang sekali. Semoga masih ada lagi waktu untuk jalan-jalan berdua lagi dengannga seperti tadi siang. Walaupun cuma sekedar mencari makan tapi itu cukup berkesan untuk ku.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2