Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.13. Menepis Rasa Curiga


__ADS_3

Pov. Bu Tri


Aku berjalan terburu-buru keluar dari kamar kecil pagi itu. Aku segera menyusul suamiku, ku lihat jam pada jam tanganku sudah menunjukan pukul 07.15 waktu Hong Kong. Pikirku hanya tinggal beberapa menit lagi meeting akan dimulai. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di depan ruangan suamiku. Jhun yi dan khang lee dua karyawan kami bagian administrasi dan keuangan yang ada di meja mereka masing-mading saat itu tiba-tiba saling pandang lalu kemudian seolah berusaha menghentikan langkahku.


"Chau san dai dai..!(Selamat pagi nyonya..!)". Sapa keduanya secara bersamaan. Dengan wajah gugup seperti ada sesuatu yang mengejutkan mereka. Tapi aku yakin bukan karena kedatanganku. Setiap hari mereka bertemu denganku. Dan sikap mereka tidak seperti ini. Ah.. biarlah. Ku tepis segala macam rasa kecurigaan yang tak jelas ini.


"Chau san (selamat pagi)." Jawab ku singkat. Kemudian aku langsung berlalu meninggalkan mereka tanpa basa-basi lain lagi, karena mengingat waktu meeting semakin dekat.


Ku raih gagang pintu ruangan suamiku. Ku dorong pintu ruangan itu. Deg... Aku tersentak kaget. Disana. Didalam ruangan kerja suamiku. Ada seorang wanita berparas cantik berkulit putih dengan tubuh tinggi semampai dan rambut hitam lurus lengakap dengan pakaian kerjanya yang berwarna merah muda. Tapi bukan seragam. Karena khusus karyawan yang kami pekerjakan di bagian backoffice tidak ada seragam khusus.


Drieeuuttt..


Suara kursi kerja suamiku bergeserdan memudian berputar. Disamping kursi itu kulihat dia suamiku dengan wajah terkejut memandang kearahku yang berada di depan pintu masuk sambil ia seolah merapikan jas hitamnya yang tadi pagi aku pakaikan untuknya. Sedangkan wanita itu, juga dengan wajah terkejutnya juga merapikan rok pendek seatas lututnya. Mereka berdua saling krasak krusuk. Ya, wanita itu adalah Lina Wong sekretaris baru suamiku dikantor ini. Sekilas ku lihat mereka saling menarik badan mundur kebelakang masing-masing satu langkah. Lalu sekretaris itu langsung pergi ke meja kerjanya, yang memang masih ada di dalam ruangan kerja suamiku hanya saja mereka berbeda meja saja.


Ada apa ini ? Tanyaku dalam hati. Ada kecurigaan menyelimuti batinku melihat sikap mereka yang baru saja aku saksikan. Apa yang tadi mereka lakukan sebelum aku datang?, Mengapa mereka terkejut dengan kedatanganku. Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang timbul dihatiku tanpa aku sadari.


"Ah, mama tadi darimana aja? Papa kirain mama ada di belakang papa. Pas papa tengok kok nggak ada." Suamiku membuyarkan pikiran kacauku yang tadi sedang berkecamuk.


"Eehmmm.. nggak pa,tadi mama mampir dulu ke toilet pa. Papa sedang apa?"

__ADS_1


"Nggg..ngg..papa nggak ngapa-ngapain kok ma.. tadi papa juga barusan masuk, Lina langsung datang minta tandatangan berkas." Jawab suamiku awalnya dengan nada putus-putus dan menggaruk kepala.


Sedangkan si sekretaris baru itu, tadi berjalan dengan menunduk menuju kursinya yang berada di posisi depan meja kerja suamiku dengan jarak mungkin hanya sekitar 2 meteran saja dalam satu ruangan itu. Entah dia mengerti atau tidak dengan percakapan aku dan suamiku tadi yang menggunakan bahasa indonesia bukan cantonise, bukan bahasa turki, dan bukan juga bahasa ingris. Karena dia memang asli orang cina dari Hong Kong ini.


Lalu ku sengaja ku alihkan pandanganku kearah Lina si sekretaris baru itu. Dia sperti gugup saat pandangan mata kami bertemu. Kemudian ia mencoba untuk menyapaku.


"Chau san dai dai..!( Selamat pagi nyonya..!)." Sapanya.


"Chau san.. ( selamat pagi )". Jawabku singkat lalu aku mendekat kearah suamiku.


"Papa sudah siap untuk meeting dan pertemuan-pertemuan pagi ini?" Tanyaku pada suamiku.


"Iya jadi donk ma.." jawabnya.


"Oke.. papa juga sudah siap nih mau ke pertemuan itu. Biar nanti dikantor Lina saja yang handle." Terang suamiku.


Kemudian kami berpisah. Aku ke ruang meeting sementara suamiku berjalan keluar kantor untuk melakukan pertemuan dengan beberapa klien kami.


Sesampainya aku diruang meeting disana semua klien yang sudah hadir. Mereka hanya tinggal menunggu aku saja yang belum hadir saat itu. Setelah aku datang meeting pun langsung dimulai. Pukul 10.00 meeting pertamaku sudah selesai. Akan ada meeting lain lagi selanjutnya pukul 10.15. masih ada waktu 15 menit lagi. Pada meetung pertama tadi aku berhasil melewatinya dengan penuh konsentrasi, sehingga tidak klien kami yang kecewa. Dan semua sepakat untuk memperpanjang kerjasamanya dengan perusahaan kami.

__ADS_1


Selama menunggu meeting kedua dengan klien yang lain lagi aku menggunakannya untuk sekedar memikirkan apa sebenarnya yang tadi pagi terjadi antara suamiku dengan Lina sekretarisnya. Sikap gelabakan keduanya saat aku membuka pintu seolah memberi tanda-tanda yang tak biasa. Ah.. ada apa ini? Mengapa aku begitu memikirkannya? Sudahlah, aku percaya siamiku bukan laki-laki peng**t. Buktinya sudah berpuluh tahun pernikahan kami ia selalu setia padaku. Aku berusaha membantah apa yang ada dalam benakku. Beberapa kali aku menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi. Aku berusaha menguasai diriku. Aku masih ada beberapa acara meeting lagi yang akan aku hadapi hari ini juga akan ada kunjungan ke perusahaan lain. Aku tidak mau moodku terganggu hanya karena memikirkan hal-hal yang tidak jelas kebenarannya.


***


Semua meeting dan pertemuanku hari ini berjalan lancar. Tak terasa hari pun sudah malam. Kulihat jam sudah jam 20.25 waktu hong kong. Selesai meeting terakhir aku segera pulang. Aku menghubungi suamiku. Katanya dia masih ada satu meeting lagi dia memintaku untuk pulang duluan saja tanpa harus menunggu dirinya. Aku menuruti saja apa kata suamiku. Hari ini terasa sungguh sangat melelahkan. Sesampai dirumah Aini membukakan pintu untukku.


"Baru pulang bu?" Sapanya.


"Iya. Nenekmu mana?" Tanyaku.


"Ada dikamar masih nonton TV." Jawab Aini.


" Nasya?" Aku menanyakan Nasya anak gadisku.


" Nasya masih keluar sebentar katanya mau cari ramen bu." Jawab Aini lagi.


Aku kekamar ibuku sebentar untuk menyapanya. Lalu aku baru kekamarku dan kemudian langsung mandi. Saat anakku Nasya pulang ia membawa beberapa bungkus ramen, Aini memasakkannya untuk kami. Kemudian kami bertiga makan. Bersama sambil menonton acar TV. Ya dirumah kami ini, kami tidak memperlakukan Asisten kami denga terlalu banyak batasan. Meskipun Aini setatusnya sebagai asisten kami tapi ia kami perlakukan seperti keluarga. Apa lagi kami sama-sama berasal dari indonesia. Dulu dengan Lenny juga kami perlakukan sama seperti ini hanya saja Lenny tidak bisa memanfaatkan kebaikan kami sebaik mungkin. Malah ia sia-siakan.


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam saat suamiku baru pulang kerja. Semua seisi rumah sudah tertidur pulas. Hanya aku yang belum karena masih menunggu kepulangannya. Setelah mandi suamiku pun langsung tidur juga. Dia ku tawari makan tapi katanya dia sudah makan diluar sebelum pulang tadi dengan kliennya.

__ADS_1


Bayangan kelakuan suamiku dengan asistennya tadi pagi masih terus mengganggu di pelupuk mataku. Aku ingin menanyakannya lagi dengan suamiku tapi aku takut suamiku malah nanti akan marah. Kucoba menepis segala macam rasa curiga yang ada di hati. Kuyakinkan kembali berkali-kali pada hatiku bahwa suamiku tidak akan pernah menghianatiku. Semoga semua benar tidak ada apa-apa. Semoga apa yang ada dalam pikiranku hanyalah sebuah kecemburuan buta semata.


Bersambung...


__ADS_2