
Pov. Aini
Hari ini sungguh sangat melelahkan tapi sekaligus juga sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, Farenzy mengajakku berjalan-jalan kebanyak tempat untuk menikmati musim semi. Berjalan berdua? Iya benar, kami berjalan berduaan. Hemmm... Sampai-sampai aku tersenyum-senyum sendiri menatap wajahku dikaca rias yang ada dikamarku. Duhh... Mimpi apa aku semalam?. Sebelumnya Nasya sudah bilang padaku. Katanya kalau aku libur kerja Nasya mau mengajakku berkeliling kota Hong Kong. Semalam aku sudah memberi tahu Nasya kalau hari ini aku libur. Tapi sayang Nasya tidak bisa pergi bersamaku. Bu tri sedang sibuk dan banyak kerjaan katanya sehingga Nasya bertugas menggantikan aku untuk mengurus nenek. Awalnya aku sempat badmood karena rencana Nasya mengajak ku berkeliling Hong Kong terpaksa di batalkan. Tapi ternyata tadi pagi Farenzy yang mengajakku pergi. Awalnya aku kira hanya akan pergi sebentar tapi ternyata sampai sore.
Ku hempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Ku raih gawaiku dan ku buka galeri nya. Disana ada banyak foto-foto kami berdua tadi di taman bunga. Tapi kata Farenzy tadi jangan sampai ada orang rumah ini tahu kalau tadi aku sebenarnya keluar besamanya. Farenzy bilang itu bahaya bisa berakibat buruk pada pekerjaanku. Kata Farenzy bisa-bisa aku di berhentikan.
"Hei..Aini tadi kamu seharian kemana saja?" Tiba-tiba Nasya datang ke kamar dan mengagetkan ku. Segera aku smenyimpan gawaiku.
"Duh.. Nasya, bikin aku saja. Ng..ngak, aku tadi pergi bersama temanku." Jawabku.
"Teman apa pacar?"
"Teman,dia pekerja dari indo juga. Kebetulan hari ini dia juga sedang libur sama seperti aku."
"Habis pergi kemana kalian?"
"Awalnya ke taman bunga untuk berfoto-foto disana. Lalu kami ke Sham Shui Po. Kemudian ke Times Sqiare." Jawabku.
__ADS_1
"Wah.. Asyik donk.. Hemmm nanti kapan-kapan kita berdua ya Ai. Kamu mau kan kalau pergi bersmaa ku?"
"Iya, Nasya. Pastilah aku mau."
"Oya, kamu pasti belum mandi. Mandi dulu sana. Aku mau nemani nenek. Kalau sudah mandi temui aku di kamar nenek ya." Nasya keluar dari kamarku dan pergi ke kamar nenek Siti tanpa menunggu jawaban dariku.
Setelah Nasya keluar aku tidak langsung mandi. Aku masih membaringkan tubuhku di atas kasur yang empuk ini. Aku masih mencoba membayangkan dan mengingat-ingat apa saja yang tadi aku dan Farenzy lakukan. Sungguh sangat menyenangkan. Bisa seharian bersama dengannya. Bercanda gurau, berjalan bersama, makan bersama duh.. pokok nya hari ini akan selalu aku kenang. Tapi aku tidak tahu apa yang ia rasakan. Apa dia juga merasakan bahagia sama seperti yang aku rasakan ini? Apakah dia juga merasakan getaran-getaran yang sama dengan ku saat kami saling berpandangan? entahlah, sejauh ini aku belum tahu sama sekali tentang bagaimana perasaannya. Maka dari itu, aku juga berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaanku. Aku takut nanti cintaku bertepuk sebelah tangan dan hanya membuat luka makanya aku tidak berani untuk menunjukan padanya kalau ada sebuah rasa yang indah yang tersimpan jauh di hatiku. Karena mungkin dia hanya menganggapku sebatas teman biasa. Aku pun tidak berani untuk berharap banyak untuk dia tahu tentang perasaanku padanya.
Setelah selesai mandi aku pergi menemui Nasya dan nenek Siti. Disana kami bercengkrama dan bercerita apa saja yang ada dalam benak kami. Bercerita tentang teman-teman kuliah Nasya, dan juga bercerita tentang kehidupan di indonesia. Lalu setelah itu kami makan malam. Bu Tri mengirimkan makan malam untuk kami yang sudah ia pesan dari sebuah restoran halal, karena bu Tri akan pulang malam bersama pak Saeful katanya. Setelah itu aku kembali kekamarku, sementara nenek sudah tidur Nasya juga pergi ke kamarnya
Malam Menyapa dengan gemerlap lampu-lampu berwarna-warni menghiasi seantero kota Hong Kong. Bertaburan bak taburan mutiara yang berkilau. Sungguh indah. Tapi tak seindah perasaan yang kurasakan dalam hatiku untuk Farenzy. Fa.. ren.. zy.. aku mengeja nama itu dalam hatiku. Nama yang selalu mampu membuat debaran jantungku lebih kencang dari biasanya. Perlahan ku pejamkan mataku berharap ia akan hadir dalam mimpiku malam ini. Lalu aku terlelap bersama indahnya mimpi dan harapan.
Kesehatan nenek sudah jauh samakin membaik dari pada saat kedatanganku. Meski belum seutuhnya sembuh namun sudah mencapai 50% dari kesembuhannya. Ini sesuatu yang sangat luar biasa.
Sesampai di tempat kursus aku membuka pintunya dan didalam ruangan sudah ada beberapa orang teman kursusku disitu yang juga sama akan melakukan ujian akhir seperti aku. Hari ini hari ujian pertama kami. Dan alhamdulillah semua berjalan lancar. Setelah selesai di tempat kursus komputer aku langsung keluar untuk melakukan ujian yang lain di tempat kursus bahasa ingris. Siang pukul 13.00 aku selesai melaksanakan ujian di kedua tempat kurusus itu. Sebelum pulang aku mampir terlebih dahulu ke kedai makanan tempat menjual berbagai macam makanan halal. Disana aku tak sengaja melihat sosok seorang laki-laki paruh baya yang wajahnya sama persis dengan pak Saeful. Ini adalah kali kedua aku bertemu pria ini. Dan kali ini pun masih sama ia bersama dengan wanita cantik itu lagi. Aku mencoba mengamatinya dari jarak yang lumayan jauh. Aku hanya ingin memastikan kalau laki-laki itu benar bukan pak Saeful majikanku. Kali ini aku semakin penasaran, karena baju yang laki-laki itu kenakan juga sama persis dengan yang tadi pagi aku lihat pak Saeful pakai. Alu mencoba mendekat beberapa langkah suapaya lebih jelas melihat wajahnya. Namun sayang, saat aku bersaha untuk memastikannya itu pak Saeful atau bukan tiba-tiba handphone ku berdering. Ada panggilan telephone dari Farenzy. Aku menganggakat telepon itu karena khawatir ada sesuatu yang penting karena tadi pagi aku belum sempat memberi nenek minum obat. Tapi sudah aku titipkan kepada Nasya.
"Halo.. Ren"
__ADS_1
"Assalamualaikum Aini.."
"Waalaikumsalam.. ada apa Ren?"
"Enggak ada apa-apa cuma mau tanya kamu sekarang ada dimana? Soalnya majikanmu menyuruhku menjemputmu. Tapi aku ketempat kamu kurusus dua-duanya sudah tutup."
"Owh.. iya aku sudah selesai ujian ini aku sedang membeli makanan di kedai makanan dekat tempat kursus vahasa ingrisku."
"Owh.. ya sudah aku tunggu di tempat parkir ya. Kalau sudah selesai cepat kesini."
"Oke iya, sebentar lagi aku kesana."
Duh.. gara-gara mengangkat telephone dari Farenzy aku jadi hilang kesempatan untuk memastikan orang itu siapa. Apa dia pak Saeful atau bukan. Karena begitu aku menutup telephonenya kulihat kedua orang tadi sudah tidak ada lagi ditempat mereka semula..
Aku keluar menemuai Farenzy di parkiran, lalu kami pulang dengan menggunakan mobilnya. Pertemuan ku dengan Pria yang mirip pak Saeful itu mampu menggangguku sehingga aku seakan tak begitu memperhatikan Farenzy.
"Hei.. Aini, kamu kenapa kok malah melamun?"Tanya Farenzy padaku.
__ADS_1
Bersambung..