
Pov. Farenzy
Gempa bumi dahsyat itu datang ketika sedang dalam pertengahan acara kelulusan Aini dari kursus komputernya. Saat kejadian itu terjadi semua orang panik tak terkecuali dengan aku sendiri. Dari awal guncangan ktu terasa aku sebenarnya sudah siap mengambil ancang-ancang.
Nasya dan nenek yang duduk tepat disampingku menjadi prioritas utama untuk aku selamatkan waktu itu. Awalnya aku berpikir bagaimana untuk bisa sampai di pintu keluar itu terlebih dahulu sebelum orang lain sampai disana, karena ku pikir hanya itu satu-satunya jalan keluar dari dalam ruangan Aula di lantai empat ini. Tapi setelah semua orang panik dan guncangan itu semakin lama semakin kuat ada beberapa orang yang berlari kearah lain. Aku mencoba mengamati mereka akan pergi kemana.
Ternyata mereka pergi kesalah satu sudut ruangan dan disana terdapat lift yang tidak banyak orang lain tahu. Secepat kilat aku berlari membawa nenek dan juga Nasya. Sesampai dipintu lift ternyata mama dan papa juga sampai disana dan akhirnya kami sekeluarga beserta beberapa orang lainnyaasuk ke lift itu langdung ke lantai dasar tanpa terhenti dilantai-lantai lainnya. Sepertinya lift ini memang jarang digunakan tapi masih berfungsi dengan baik. Sesampai dibawah kami langsung keluar menjauh dari gedung.
"Farenzy.. apa kamu lupa ada satu lagi anggota keluarga kita yang masih ada didalam sana. Aini.. Aini masih didalam Ren.. ayo kamu bantu dia. Selamatkan Aini, Ren..!!" Tiba-tiba saja nenek mengatakan itu di tengah guncangan yang semakin kuat.
Aku baru saja akan melangkah kembali masuk untuk mencari keberadaan Aini tapi..
Bruuuuuk....
Tumm..
Bruuukkkk..
Bangunan tinggi itu runtuh di depan mataku. Astaghfirullahalazim..!!
Kulihat beberapa orang ikut terjatuh bersama runtuhan bangunan tersebut. Ada yang langsung jatuh ke aspal ada yang kemudian tertimbun. Badanku
gemetaran. Aku lemas. Sementara guncangan itu masih tetap saja berlanjut.
Aini dimana kamu?. Bisikku dalam hati. Aku mencoba untuk kembali berjalan mencari keberadaan Aini. Namun guncangan ini membuatku tak bisa lagi beranjak dari tempatku. Bahkan aku jatuh tersungkur.
"Farenzy..!! Awas nak..! " Teriak mama.
"Tetap diam disitu Ren...!!" Teriak papa juga.
Ya, aku benar-benar tak lagi bisa berpindah tempat. Ku lihat kedua orang tuaku, adikku juga nenek mereka semua dalam posisi duduk dan berpegangan dengan sebuah besi pagar di dekat pembatas jalan. Jarak kami memang hanya beberapa meter saja tapi meski begitu aku tetap tidak bisa bergerak dari tempatku untuk bergabung bersama mereka. Dalam hati aku berdoa semoga Tuhan menyelamatkan Aini, walau entah kini ia sedang berada dimana.
Bruuuuuk...
Kembali terdengar suara bangunan itu runtuh lagi. Tuhan, selamatkanlah Aini..! Jeritku dalam hati. Hanya air mata yang mengalir tanpa bisa aku bendung lagi. Ku tatap bangunan yang sudah luluh lantah didepan mataku. Jerit dan tangis orang-orang yang ada didalamnya terasa sangat pilu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian perlahan-lahan guncangan gempa mulai berhenti. Tapi kepiluan itu masih jelas terasa. Polisi mulai datang, tim penyelamat prmadam kebakaran juga datang pun dengan ambulan dan tenaga medis mulai berdatangan. Aku masih terpaku. Duduk di tempatku tadi dengan majah ku tundukan, ku tatap barisan batako yang ada didejat kaki ku. Hatiku terus memanggil-manggil Aini.
"Kak Renzy, ayo kita cari Aini kak.." Nasya membuyarkan lamunanku. Iya menepuk pundakku mengajak ku untuk mencari Aini. Aku mengangguk lalu mencoba untuk menguatkan diri dan bangun. Aku harus menemukan Aini.
Nasya berjalan selangkah didepanku. Kami berjalan masuk mencari Aini mungkin saja Aini masih terjebak didalam salah satu ruangan. Papa mencari disekitaran reruntuhan bangunan. Sedangkan mama dan nenek menunggu di tempat tadi. Kami semua berharap secepatnya bisa bertemu dengan Aini.
"Kak, sepertinya lift di sebelah sini mati." Kata Nasya memberi tahuku bahwa lift yang digunakan untuk naik turun di gedung ini tidak berfungsi.
"Coba ayo kita ke lift tempat yang kita pakai tadi." Ajak ku.
"Begini saja, kakak ke lift yang kita gunakan tadi, biar aku ke tangga darurat."
"Oke baiklah kalau begitu, ayo cepat kita cari Aini."
"Ayo kak."
Lalu aku dan Nasya berpisah. Aku pergike lift yang tadi kami gunakan untuk turun, dimana jarang orang yang mengetahui keberadaan lift ini. Sedangkan .Nasya menuju tangga darurat. Baru saja aku memencet tombol lift dan pintu lift terbuka. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Panggilan dari Nasya.
"Halo.. ada apa Nas?"
"Oke baiklah kakak kesitu. Kamu tunggu ya."
"Iya kak."
Lalu aku menutup teleponnya. Aku segera berlari menuju tangga darurat yang adikku Nasya maksud.
Sesampai disana benar saja ada beberaapa orang bergelimpangan disana. Ada laki-laki dan juga ada perempuan. Aku mencoba mengangkat sebuah balok kayu yang menimpa seorang perempuan itu. Lalu aku membalikkan badannya. Ya Tuhan.. ini benar Aini. Aku memeriksa detaknjantung dan nadinya.
"Aini.."
"Ini Aini kak.."
"Iya Nas."
"Dia masih pingsan."
__ADS_1
"Ayo kak cepat angkat. Kita bawa keluar."
Lalu aku mengangkat tubuh Aini keluar diikuti Nasya dibelakangku. Di pintu keluar kami bertemu dengan papa.
"Kalian menemukan Aini Ren?" Tanya papa.
"Iya pa." Jawabku.
"Ayo cepat bawa ke ambulance!" Seru papa.
Aku membawa Aini ke ambulance lalu bersama petugas ambulance itu kami membawa Aini ke rumah sakit terdekat. Sesampai dirumah sakit aku meminta petugas untuk segera menangani Aini. Lalu Aini dimasukan ke ruangan semacam UGD kalau di indonesia. Selang beberapa menit lalu mama, papa, dan juga nenek datang. Mereka menggunakan mobil yang tadi mereka bawa.
"Bagaimana keadaan Aini Ren?" Tanya nenek padaku.
"Aini masih ditangani nek. Dia belum sadar." Jawabku.
Tak terasa hari sudah semakin sore. Aini belum juga sadarkan diri. Kami semua masih menunggu di ruang tunggu rumah sakit ini. Tak ada yang lain yang kami harapkan kecuali Aini sadar. Hanya itu saja yang paling penting saat ini.
Waktu bergulir dengan takdirnya tanpa sedetikpun terhenti. Aku merasa bersalah, mengapa tadi aku tidak bisa menyelamatkan Aini. Mengapa hanya nenek dan Nasya saja yang ku selamatkan. Maafkan aku Ai. Hati ini terasa pilu. Malam datang dan Aini belum juga sadarkan diri.
"Ma, pa, ini sudah larut. Sebaiknya mama dan nenek pulang saja. Biarkan aku dan Nasya saja yang menunggu disini. Kasihan nenek." Aku bericara pada mama dan papa
"Ya sudah kalau begitu papa antar nenek dan mama pulang ya. Nanti papa balik lagi kesini." Jawab papa.
"Iya pa."
Sementara papa mengantar mama dan nenek pulang aku dan Nasya masih menunggu di rumah sakit. Tapi Aini masih tetap saja belum sadar. Detik demi detik seakan berjalan sangat lambat. Hatiku semakin gelisah. Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Aku menanyakan bagaimana keadaan Aini. Katanya Aini belum sadar. Aini mengalami patah tulang punggung. Ya Allah.. hamba mohon selamatkanlah Aini..!!
Malam berlalu dengan kecemasan yang mencekam. Pagi hari sekitar pukul 08.25 waktu Hong Kong Aini sadar. Awalnya ia menggerak-gerakan jari tangannya. Aku dan Nasya juga papa segera datang menghampirinya.
"Aini kamu sadar?" Kataku menyapa Aini.
"Aini, kamu harus kuat." Nasya menyamangati.Lalu Aini perlahan membuka matanya.
Bersambung..
__ADS_1