Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 103 -Jatuh dari tangga


__ADS_3

Zefa langsung bergegas menuju rumah sakit cendikia setelah beberapa saat lalu di beri kabar bahwa ibunya, Salma Nandira Putri jatuh dari tangga di rumahnya.


Gadis itu begitu kesal pada sang ibu. Mengapa ibunya itu bisa tak berhati hati saat berjalan, jika sudah seperti ini kan, siapa lagi yang repot? tentu saja Zefa. dirinya yang akan direpotkan jika ibunya itu memang mengalami cidera parah dan harus di rawat di rumah sakit.


Sudah sedari tadi Zefa berusaha menghubungi sang papa guna menanyakan kondisi sang ibu. Namun, panggilan selalu dialihkan dan kini malah tidak aktif.


Aaaakkkhhhhhhh ... SIAL!!


Gadis itupun mengumpat dalam hati. Dia kesal sekesal kesalnya, selain karena sang papa yang tak dapat di hubungi, rencananya dia bersama kedua sahabatnya hari ini akan melakukan sebuah penjebakan kecil pada Tyas. Gadis itu masih cukup kesal dengan terbongkarnya hubungan Kaesang dengan guru itu. Dia berniat menginterogasi Tyas dan melakukan hal kecil padanya. Tapi setelah di kabari bahwa sang ibu masuk rumah sakit, tak mungkin untuk Zefa tetap melanjutkan rencananya itu. Alhasil dia pun hanya bisa menundanya sampai sang ibu sembuh atau disaat dia sudah memiliki waktu luang.


......................


"Ma, gimana mama bisa jatuh sih, apa saat mama jalan mama nggak liat jalan?" tanya kesal Zefa pada sang mama disaat dia dan kedua temannya sudah sampai di rumah sakit cendikia, dan sudah sampai di ruangan rawat Salma.


Pas Zefa baru sampai rumah sakit, dia pun menanyakan ruang mana mamanya di rawat pada resepsionis, nafasnya tersengal-sengal karena dirinya berlari dari arah parkiran mobil sampai meja resepsionis.


Hump, ternyata ibunya di rawat di ruang Dahlia VVIP II di lantai dua. Maka tanpa menunggu lama lagi, Zefa beserta Lina dan Zelyn segera bergegas menuju ke ruangan itu.


Huufft ... Melelahkan sekali harus menaiki tangga sebanyak itu, tapi saat sesampainya mereka bertiga di depan ruang rawat Salma, rasa lelah karena harus menaiki tangga itupun hilang disaat mereka bertiga melihat Salma tengah tertidur.


Zelyn yang melihat kondisi ibu sahabatnya terbaring tak sadarkan diri itupun hanya bisa terdiam. Dia kasihan, dan tak tega. karena pasti sakit sekali terjatuh dari tangga seperti itu. Terlebih di tangan kanan, dan kedua kaki Salma banyak di perban. Pelipisnya juga di perban, muka yang juga penuh luka goresan, semakin membuat Zelyn terbawa suasa. dia menjadi teringat disaat ibunya dulu yang juga sempat terjatuh dari tangga di rumahnya.


Saat itu adalah momen terburuk di hidup Zelyn. Dia harus menjaga sang ibu di rumah sakit, sambil menjaga kedua adiknya yang masih kecil.

__ADS_1


Dia harus sangat berjuang hari itu, karena sang ayah telah meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan, sementara saat itu di rumah mereka belum memperkerjakan baby sitter. Makanya Zelyn merawat kedua adiknya sendirian.


Mengetahui kedatangan seseorang kedalam ruangannya, Salma yang baru terlelap itupun kembali membuka mata dan menoleh kearah pintu. Dia terkejut sekaligus senang sesaat mengetahui jika putri kesayangannya lah yang datang menjenguknya.


"Zef, Tante Salma baru kecelakaan loh, kok udah di marahin aja, kasihan dong Zef. Liat tuh perbannya, lukanya." ucap Zelyn mencoba menasehati Zefa. Mengingatkan dia bahwa sang ibu baru mengalami musibah. Tak seharusnya Zefa marah-marah seperti tadi, tak baik.


Sementara Zefa yang mendengarnya pun hanya bisa menekuk mukanya dan berdecak kesal.


"Mama udah nggak papa kok, sayang. Kamu nggak usah khawatir." ujar Salma sembari tersenyum lemah.


"Ma, papa udah tau belom kalau mama jatuh?" tanya Zefa sesaat dirinya teringat sesuatu.


Salma pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Zefa pun kembali berdecak.


"Kalau nggak parah ya nggak mungkin sampe di perban, ma. Tuh, muka mama juga banyak lukanya gitu. Ih, mama kok bisa nggak hati-hati sih?!" kesal Zefa.


Salma pun tersenyum mendengar ucapan putrinya itu. Dia tahu putrinya itu kesal karena mengetahui kecerobohannya sampai bisa terjatuh dari tangga, namun Salma tetap senang mendapat Omelan itu, karena dengan Zefa mengomelinya seperti itu tandanya ia masih sayang dan khawatir pada Salma.


"Namanya juga musibah, sayang. Lagian mama beneran udah nggak papa kok. Ini tinggal pemulihan aja." ucap Salma menenangkan putrinya yang tengah kesal itu.


"Tapi ma, kok mama bisa jatuh dari tangga? Itu nggak mungkin cuma kepleset doang kan?" curiga Zefa.

__ADS_1


Salma pun terdiam mendengar pertanyaan putrinya itu. Dia tak tau harus menjawab apa, dan bagaimana, sebab semua dugaan putrinya itu tidak salah. Dia memang tidaklah kepleset melainkan tak sengaja didorong oleh seseorang.


......................


"Apa gue nggak salah denger tadi? Dia masih suka sama gue? Dia udah gila ya, bisa-bisanya dia ngomong itu setelah hampir dua tahun ngilang tanpa kabar." ucap Kaesang sendiri sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.


Huufft ...


Helaan nafas kasar seketika Kaesang lakukan disaat dirinya kembali teringat semua perkataan Vierra tadi.


"Jika yang dia tadi omongin bener, lalu selama ini gue udah salah dong. gue udah tuduh dia yang enggak-enggak, bahkan tadi gue udah pergi gitu aja ninggalin dia dan abangnya. Kata-kata gue juga kasar banget tadi. Selama gue kenal Vierra, dia itu gadis yang cengeng. Dia nggak bisa dikasarin atau di bentak kayak gimanapun. Aaaakkkhhhhhhh ... Kenapa sih mereka pake datang?!" ucap Kaesang sendiri seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing itu.


......................


"Rani, Tante tadi udah beliin kamu nasi sama lalapan ayam. Kamu makan ya, pasti laper." ucap Tyas disaat dirinya dan Rani duduk bersama di ruang keluarga sembari menonton televisi.


Mendengar menu yang cukup menggugah selera itu tak cukup membuat anak berumur 8 tahun itu tersenyum. Dia tetap diam seraya menggelengkan kepalanya. Tatapannya pun tak berpindah dari layar televisi.


"Tante janji, Tante bakal bantuin kamu nyariin ibu kamu. Tapi sekarang kamu makan dulu ya, dari siang kamu belum makan loh." Tyas begitu sedih melihat Rani yang begitu sedih karena merindukan ibunya. Semalam Rani telah menceritakan semuanya pada Tyas.


Dia menceritakan semuanya, bagaimana dia kehilangan ayah serta adiknya, rumahnya, bahkan ibunya yang tak ada kabar. Air mata seketika menetes dari pelupuk mata Tyas. Dia terenyuh mendengar kisah Rani yang memprihatinkan itu.


"Nama ibuku Sekar Kusuma Tanjung, tante, tolong bantu cariin ibuku." ucap Rani seraya menoleh kearah Tyas dengan muka memelas.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2