
"Nggak bisa Pi, perjodohannya harus tetap di lanjutkan, aku nggak terima ini Pi, aku cinta sama Kaesang, aku mau dia menjadi suamiku Pi, pokoknya apapun yang terjadi, perjodohan itu nggak bisa di batalkan, aku akan lakuin segala cara agar perjodohan itu tetap terlaksana." ujar Celine tegas seraya menatap tajam kearah sang ayah.
"Ngomong ngomong alasan om indra batalin perjodohan itu apa?" tanya Celine seraya mengalihkan pandangannya kearah makanannya.
Mendengar itu Wisnu pun menghela nafas kasar dan menggelengkan kepalanya.
"Tadi om indra jelasin panjang lebar ke papi, dia mengatakan kenapa dia batalin perjodohan itu dan apa alasannya. Awalnya papi nggak percaya dengan omongannya, tapi setelah mendengar dia begitu frustasi, papi pun nggak bisa berbuat apa apa selain mengiyakan ucapannya." balas Wisnu.
Setelah mengatakannya, Wisnu pun kembali menghela nafas panjang kemudian menceritakan semua yang Indra tadi katakan padanya. Semua ia ceritakan dengan rinci dan jelas, tentang apa dan bagaimana perjodohan itu bisa dibatalkan. Namun setelah cerita itu selesai Wisnu ucapkan, Celine yang kaget tak mampu berkata kata selain hanya diam dan menatap tajam kearah Wisnu. Tangannya terlihat terkepal di atas meja dan wajahnya yang berubah dingin langsung membuat Wisnu ngeri, melihat Celine seperti ini, itu tandanya putrinya itu dalam keadaan marah.
"Pi, tenang aja, aku akan membuat om indra lanjutin lagi perjodohan itu, dan tentang perempuan tadi, papi sama mami nggak usah takut, aku akan membuatnya menyesal dan mengubur keputusannya itu dalam dalam." ujar Celine masih dengan ekspresi yang sama.
......................
"Dear, kita udah sampai." saat pandangannya dia arahkan ke Tyas, betapa terkejutnya Kaesang saat melihat Tyas tengah tertidur, posisi kepalanya sedikit miring kearah jendela mobil dan tangannya masih terlipat di depan dada. kasihan sekali, rasanya Tyas sangat kedinginan saat ini.
Namun, saat tangan Kaesang, ia arahkan ke tangan Tyas tuk bermaksud membangunkannya, tanpa sengaja tangan Kaesang itu justru mendarat di payudara kanan Tyas, betapa kaget nya Kaesang saat tanpa sengaja ia menyenggol benda keramat itu.
Aduh, jika Tyas sampai tau jika ia telah menyenggol kepunyaannya, bisa habis hidup Kaesang, tamatlah posisinya sebagai pacar Tyas, pastilah jika Tyas sampai tau dan merasa jika Kaesang telah menyenggol kepunyaannya itu, dia pasti akan sangat marah pada Kaesang, bahkan tak hanya marah, mungkin layangan tangan sudah Tyas lontarkan pada pipi Kaesang sampai pipi itu memerah dan meninggalkan bekas.
"Aduh, habis gue, kenapa sih nih tangan pake nyenggol itu segala, kalo Tyas sampai kerasa dan tiba tiba terbangun, matilah hidup gue, dia pasti bakal marah banget sama gue." gumam Kaesang.
__ADS_1
Huaammm ....
"Kae, udah sampe ya, astaga aku ngantuk sekali." setelah mengucapkan itu, Tyas pun kembali menguap, air matanya kembali menetes dan matanya sangatlah lengket.
"iya dear, udah." ucap Kaesang.
Dag dig dug serr ...
Sedari tadi mata Kaesang terus memandang kearah Tyas, dia ingin memastikan bagaimana reaksi Tyas selanjutnya setelah apa yang di lakukannya tadi. Namun, hingga detik ini Tyas tak mengatakan apapun selain menguap.
Astaga, sepertinya akan aman posisi Kaesang saat ini, Tyas tak merasakan apa yang Kaesang tadi lakukan padanya.
"Kae, kau tadi nyentuh payudara ku ya, gimana rasanya?" tanya Tyas sembari menatap kearah Kaesang dan tersenyum kearahnya.
"Ehm, dear maafin aku ya, aku nggak sengaja nyentuh punyamu tadi, sebenarnya aku tadi itu mau bangunin kamu, eh tanganku malah belok kesana, sekali lagi maafin aku ya, dear." ujar Kaesang merasa bersalah, dia menundukkan kepalanya dan matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat Kaesang yang merasa bersalah, Tyas pun menjadi tidak tega, ia pun meraih tubuh Kaesang lalu di peluknya dengan lembut.
"Loh kok sedih sih, kan aku cuma nanya aja, lagian nggak masalah kok kalau kamu mau nyentuh payudaraku ini, mau kamu hisap, atau pun kamu jilat juga nggak papa Kae. Aku fine fine aja kok, nggak masalah." ucapan Tyas kali ini sungguh membuat Kaesang terlonjak kaget, dia yang awalnya menduga jika Tyas pasti akan marah padanya justru di buat menganga dengan ucapan Tyas yang tergolong aneh.
"Dear, apa yang terjadi sama kamu, kamu baik baik aja kan, kamu nggak terkena sakit apa gitu kan, dear harusnya kamu itu marah sama aku karena aku udah nyentuh benda keramat mu itu, harusnya kamu tampar aku dan maki aku karena dengan beraninya aku nyentuh punyamu itu, tapi ini kamu kok malah nawarin itu, kamu beneran nggak papa?" timpal Kaesang seraya mengurai pelukannya.
__ADS_1
Setelah mendengar itu, Tyas pun tersenyum lalu meraih tangan Kaesang, digenggamnya tangan Kaesang itu lalu ciumnya begitu lama.
"awalnya aku memang akan marah saat kamu dengan beraninya nyentuh punyaku ini, tapi setelah kuingat ingat lagi, dulu aku malah jauh lebih parah. Kamu tau Kae, dulu aku punya seorang mantan yang sangat baik, dia pintar dan sangatlah friendly, tapi aku marah dengannya, dia dengan beraninya mengajakku ke hotel dan berniat mengajakku begituan. Tapi karena dia cinta banget sama aku, dia pun nurut perkataanku, aku menolak ajakannya untuk begituan, aku takut jika aku sampai berani begituan, akan ada hal buruk yang menantiku di masa depan. Kae, hari ini aku memperbolehkan kamu menyentuh ini ku karena dulu mantanku juga pernah menyentuhnya, dia bahkan juga menghisapnya, menjilatinya bahkan meraba seluruh tubuhku dengan liar. Kae, jika kamu mau melakukannya lagi, ayo, nggak papa, aku akan menerimanya." ucap Tyas seraya mengarahkan tangan Kaesang yang di genggamnya itu kearah gundukan ***********.
'Astaga, apa yang Tyas katakan, apa dia sudah gila, apa dia tak sadar dengan apa yang dikatakannya itu' batin Kaesang.
Mendengar ucapan Tyas dan dia yang mengarahkan tangan Kaesang kearah benda keramatnya membuat diri Kaesang menjadi panas dingin, jantungnya berdegup kencang dan matanya mengerjap berulang kali.
"Dear, sungguh, aku boleh melakukannya, kamu nggak akan marah atau menamparku kan kalau aku sampai menyentuhnya?" tanya Kaesang hati hati.
Tangan Kaesang yang masih menyentuh milik Tyas perlahan mulai bergerak, dia seperti meremas pelan dan mengusapnya berulang kali.
"Kae, ahhh ... Kamu sudah berani ya, bag-ggus." tanpa sadar Tyas pun mendesah nikmat sembari tetap mengarahkan tangan Kaesang pada kepunyaannya.
Mendengar ******* Tyas yang terdengar menikmati pun membuat Kaesang yang semula takut takut menjadi berani. tangannya yang masih diarahkan Tyas pada kepunyaannya pun perlahan Kaesang remas dengan lebih keras.
"Dear, punyamu lembut sekali, pas dan sangat nikmat untuk di jelajahi." ucap Kaesang sembari merem melek.
Kini kedua pasang yang semula takut takut itupun menjadi lebih berani. Terlebih Tyas yang merasa jika Kaesang tak lagi takut pun mulai melepas tangan Kaesang yang di pegangnya, dia mengalungkan tangannya di leher Kaesang dan mendesah berulang kali.
"K-kae kam-kamu, boleh melakukan ini berulang kali. kapanpun, dimana pun pasti akan ku sanggupi, tapi ingat ya, kamu hanya boleh melakukan ini, tidak lebih. Aku takut dengan resikonya jika sampai melakukannya." ujar Tyas sembari tetap mendesah, karena kedua tangan Kaesang masihlah sibuk meremas miliknya, awalnya lembut dan perlahan lahan, namun setelah Tyas terlihat menikmatinya, Kaesangpun meremasnya dengan lebih keras dan brutal.
__ADS_1
Bersambung ...