Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 162 -Her Right to Happiness


__ADS_3

Kaesang berjalan dengan mantap menuju meja resepsionis, berharap bisa bertemu dengan Dinda. Namun, ketika ia tiba, Dinda ternyata tidak ada di sana.


"Maaf mas, tadi mbak Dinda baru saja pulang dijemput seseorang," ucap seorang wanita yang menjaga resepsionis dengan suara lembut.


Kaesang bisa merasakan kekecewaan merayap dalam hatinya. Setelah gagal menemui Dinda, Kaesang yang sudah cukup lelah memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Langkahnya berat, seakan menyeret rasa penasaran dan kekecewaan.


Setibanya di dalam kamarnya, Kaesang langsung berjalan menuju ranjangnya dan membiarkan tubuhnya jatuh lemas. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertanyaan tentang apa yang akan Tyas bicarakan besok dengannya. Rasa penasaran itu seakan-akan memenuhi setiap celah pikirannya.


"Huh! Jika saja aku tidak menghentikan ucapan Tyas tadi, mungkin sekarang aku tidak akan sepenasaran ini. Mungkin aku sudah tahu semuanya dan tidurku malam ini akan jauh lebih tenang," gumam Kaesang pada dirinya sendiri. Ia bangkit, melepas sepatunya, dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, mencoba menenangkan pikirannya. "Halah, udahlah, mending tidur aja daripada mikir terus yang gak jelas," ucapnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk melepaskan semua pikiran dan membiarkan tidur membawanya.


Kaesang menarik selimutnya, menutupi tubuhnya yang lelah. Dalam sekejap, ia merasakan kelelahan yang membebani pikirannya mulai mereda dan perlahan-lahan, ia terlelap dalam tidurnya.


Ketika pagi tiba, sinar matahari yang menerobos melalui celah-celah jendela kamarnya membangunkannya. Kaesang membuka matanya perlahan, merasakan kehangatan sinar matahari di wajahnya. Ia bangkit, mengusap matanya yang masih berat karena tidur, dan melihat sekeliling kamarnya.


Pertanyaan tentang apa yang akan Tyas bicarakan dengannya masih menggantung di pikirannya, namun sekarang, setelah tidur yang cukup, ia merasa lebih siap untuk menghadapinya. Hari baru telah dimulai, dan dengan itu, Kaesang berharap akan ada jawaban baru untuk pertanyaan-pertanyaan di pikirannya.


Kemudian, Kaesang menarik dirinya dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Air dingin dari shower membantu mengusir sisa kantuk di matanya. Ia merasa segar dan siap menghadapi hari baru. Setelah selesai mandi, ia mengenakan seragam sekolahnya, mengecek dirinya di cermin dan merasa puas dengan penampilannya.

__ADS_1


Ia mengambil kunci Lamborghini-nya dari meja dan berjalan keluar dari kamarnya. Langkahnya ringan, seakan semua penasaran dan kekecewaan semalam telah tercuci bersama air mandi pagi tadi. Ia berjalan melewati koridor hotel, menyapa beberapa staf hotel dengan menganggukkan kepalanya dan akhirnya tiba di lift yang akan membawanya ke lobi.


Setibanya di lobi, ia berjalan cepat menuju parkiran dimana Lamborghini-nya terparkir. Mobil sport berwarna putih itu terlihat menonjol di antara barisan mobil lainnya. Ia membuka pintu mobil, masuk, dan menyalakan mesin. Suara mesin Lamborghini itu mengisi udara pagi, membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh.


Dengan hati-hati, ia mengemudikan Lamborghini-nya keluar dari parkiran hotel dan menuju sekolahnya. Hari baru telah dimulai, dan Kaesang merasa siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.


......................


Sementara itu, Tyas dengan langkah ringan, memasuki gerbang sekolah. Senyuman cerah menghiasi wajahnya, mencerminkan semangat dan antusiasmenya yang tinggi. Ia berjalan melewati koridor sekolah, memberikan senyuman dan anggukan kepala sebagai sapaan kepada beberapa teman dan guru yang ia temui. Langkahnya yang mantap membawanya menuju ruang guru, tempat hari-hari kerjanya sebagai guru dimulai.


Namun, tepat ketika Tyas hampir mencapai pintu ruang guru, langkahnya tiba-tiba terhenti. Zefa dan gengnya muncul, berdiri dengan percaya diri di hadapannya. Mereka tampaknya berniat untuk menghalangi jalan Tyas, membuat suasana seketika tegang. Meski demikian, dengan sikap tenang dan percaya diri, Tyas tidak terpengaruh. Ia siap menghadapi tantangan yang baru saja muncul di depannya, menunjukkan kekuatannya dalam menghadapi rintangan.


Zefa menatap Tyas dengan pandangan tajam dan penuh intimidasi. "Bu Tyas," ujarnya dengan suara yang berat, "Ini untuk anda." Ia kemudian menyerahkan sebuah bungkusan yang tampak seperti kado ulang tahun, membuat suasana menjadi semakin misterius.


Setelah sukses menyerahkan bungkusan misterius itu kepada Tyas, Zefa memberikan tatapan terakhir kepada Tyas sebelum berbalik dan pergi. Dua temannya, yang selama ini berdiri diam di belakangnya, segera mengikuti langkah Zefa. Mereka meninggalkan Tyas di depan ruang guru, dengan bungkusan aneh di tangan dan rasa penasaran yang membara di pikirannya. Mereka berjalan pergi dengan langkah pasti, seolah-olah mereka telah menyelesaikan misi mereka. Tyas, ditemani oleh keheningan lorong depan ruang guru, hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin menjauh.


"Ini bukanlah hari ulang tahunku, lalu mengapa mereka memberikanku hadiah? dan apa isi dari kotak ini? Kok setelah ku goyang-goyangkan rasanya lumayan ringan. Mereka tak mungkin mau menjebakku kan?" pikir Tyas sembari melangkahkan kakinya memasuki ruang guru.

__ADS_1


......................


Di kejauhan, Kaesang tampak berjalan melewati koridor sekolah. Ia berjalan dengan langkah mantap dan pasti, menuju ke kelasnya. Wajahnya tampak kosong tanpa ekspresi, seolah ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia berjalan melewati teman-teman dan guru-gurunya tanpa memberikan senyuman atau sapaan, yang biasanya ia lakukan. Langkahnya terus bergerak maju, tak terpengaruh oleh apa pun di sekitarnya.


Namun, di tengah langkahnya, tiba-tiba Kaesang teringat dengan Tyas. Wajah dan senyum Tyas muncul di benaknya, membuatnya berhenti sejenak dan merenung. Ia yang sebelumnya berjalan lurus menuju kelasnya, kini memutuskan untuk mengubah arah. Dengan langkah yang mantap, ia membelok dan mulai berjalan menuju ruang guru. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Tyas, dan ia merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.


"Sepulang sekolah nanti, gue harus serahin perhiasan semalem ke Tyas. Meski Tyas menolak, gue tetap harus serahin itu. jadi mumpung masih sepi mending gue samperin Tyas ke ruang guru." batin Kaesang dengan tekad yang kuat. Sementara itu, langkahnya tetap mantap menuju ruang guru, tak terpengaruh oleh keraguan atau kekhawatiran. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, dan ia bertekad untuk melakukannya.


Di lorong yang lumayan sepi itu Kaesang berjalan selangkah demi selangkah hingga tibalah Ia di depan ruang guru. Dari posisinya saat ini Kaesang melihat Tyas tengah mengobrol dengan salah seorang guru di sana. Kebahagiaan begitu tercetak di wajahnya, membuat Kaesang yang semula ingin sekali memanggilnya jadi mengurungkan niatnya itu.


Rasa-rasanya begitu bahagia melihat beberapa guru di sini bisa menerima Tyas dan mengobrol dengannya lagi seperti dulu. Karena jika guru di sini tidak menerimanya mereka pasti tidak akan mau mengobrol dengan Tyas seperti ini.


Lalu Kaesang yang memang tak mau mengganggu pembicaraan Tyas dengan temannya, kini mulai membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya.


"Nggak papa lah mending gue kasih perhiasan semalam ke Tyas nanti saat kita ketemu aja di taman, lagian, gak etis juga kan kalo gue ngasih Tyas perhiasan di depan ruang guru gini..." batin Kaesang.


"Senang banget gue, karena akhirnya ada juga yang mau ngobrol dengan Tyas, semenjak dia pacaran sama gue seorang pun nggak ada yang mau temenan atau bahkan deket sama dia. Semua orang menjauhinya dan itu karena gue. Karena perasaan cinta gue, Tyas harus menanggung semuanya. Huufftt ... Pokoknya setelah ini gue harus selalu ada buat Tyas, mendukungnya selalu, dan memberinya cinta tiada batas. Gue harus menunjukkan sosok pacar yang baik untuk Tyas dan mencukupi kebutuhannya. Anyway, whatever happens, I have to be able to look after and love Tyas. He must not be injured or hit by anything. He deserves to be happy." pikir Kaesang di tengah-tengah perjalanannya menuju ke kelasnya, hatinya dipenuhi oleh janji-janji yang telah dia buat dan tekadnya untuk selalu ada untuk Tyas.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2