
...Kelanjutan dari episode kemarin......
Dengan diliputi rasa canggung, dan gugup sedari tadi. Tyas kini tengah duduk di sebuah taman dengan dokter Ridwan di sebelahnya. Mengingat perkataan dokter Vera Tyas kembali berpikir, apa maksudnya lagi ini? dirinya sama sekali tak ada dalam situasi yang disebutkan oleh dokter Vera itu, dan menurutnya itu juga tak mungkin terjadi. Lantas ia pun mulai menghembuskan nafas perlahan, dan menolehkan wajahnya kearah dokter Ridwan di sebelahnya, ia nampak terdiam sembari pandangannya menghadap lurus kedepan tanpa adanya ekspresi sama sekali. Bahkan kedua tangannya pun saling bertautan sedari tadi. Sungguh Tyas begitu tidaklah nyaman berada dalam situasi ini. Hingga suara batuk dokter Ridwan berhasil membuatnya tersentak, dan langsung mengalihkan pandangannya kembali.
"Bu Tyas, saya mau nanya sesuatu ke ibu, apa ibu bersedia untuk menjawabnya?" Dengan sorot datar dan bariton rendahnya itu, Ridwan pun mulai menatap wajah elok Tyas dengan ekor matanya yang begitu mengintimidasi.
Tyas yang memang tak tahu apa apa lantas menganggukkan kepalanya sebagai respon. Ia kembali menatap mimik wajah dokter Ridwan dengan tatapan penuh tanda tanya.
Tapi sebelum melanjutkan perkataannya kembali, Ridwan sempat mengalihkan pandangannya itu dan menghadap pada posisi semula. Ia menatap kosong kedepan, lalu mengatakan sesuatu, "Hm menurut anda ya Bu, cinta itu salah gak sih. Maksud saya perasaan ke seseorang yang gak seharusnya. Hm menurut Bu Tyas sendiri bagaimana?" Mengatakan itu seolah tanpa beban sama sekali dengan pandangannya yang juga tak berubah. Tyas sempat merenung, sebelum akhirnya ia menghela nafas dan menjawab dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya.
"Hm kalau menurut saya ya dok, yang namanya cinta itu tidak ada kata salah, yang ada kita yang salah kenapa bisa kita mencintai dia jika menurut kita itu salah. Hm dokter Ridwan tumben tumbenan nanya ini ke saya. Pasti ada sesuatu nih."
Ridwan yang semula menatap lurus kedepan mulai mengalihkan atensinya dan kembali menatap lekat Tyas. Ia terdiam beberapa saat lamanya sebelum akhirnya ia buka suara kembali.
"Oh gitu ya Bu." Hanya dengan manggut-manggut dan tetap pada pandangannya itu, Ridwan pun mulai nampak berpikir, beberapa saat lamanya ia berpikir, lalu terdengarlah suara Tyas yang mulai menimpalinya.
__ADS_1
Dengan sorot bingung, dan sempat menghembuskan nafas kasar dari rongga hidungnya, Tyas pun mulai menggerakkan bibirnya kembali, ia tetap pada bola matanya yang menatap dokter Ridwan dan menangkap adanya sesuatu yang aneh darinya. "Iya dok, hm saya perhatikan dari tadi kayaknya dokter lagi ada masalah ya?"
Dengan polos Tyas pun menanyakan hal tersebut pada lelaki 30 tahun itu. Sebenarnya ada sesuatu hal yang tengah mengganjal pikirannya saat ini, tapi dirinya tak ingin gegabah, ia tunggu sampai dokter Ridwan sendiri yang menceritakan semuanya, termasuk yang mengganjal pikirannya saat ini.
Dengan menghembuskan nafas sejenak, dan tatapannya yang tetap lurus kedepan Ridwan pun kembali mengatakan sesuatu dari mulutnya, "Bu Tyas pasti tahu kenapa saya langsung tarik ibu dari ruangan Vera tadi, dan ujungnya malah kesini." Kini atensi mata dokter Ridwan kembali beralih padanya. Ditatapnya manik mata berwarna hitam kecoklatan milik seseorang bernama Ridwan itu, hingga tatapan datarnya berubah dingin sejauh ia menatap kearahnya.
"Jujur saya tidak tahu maksud dokter Ridwan apa, tapi saya ingin bertanya sesuatu hal sama dokter." Mulai tak dapat memendam lagi rasa penasarannya itu, Tyas pun mulai melontarkan apa yang kini menjadi bulan bulanan di kepalanya itu. Tapi sedetik setelah ia melontarkan kata-katanya itu, dapat dilihatnya sorot keterkejutan yang tergambar jelas di muka rupawan milik dokter spesialis penyakit dalam itu. Tapi belum sempat ia ikut menimpali Tyas kembali melanjutkan perkataannya itu, malahan tatapan yang semula hangat berubah datar seketika. Seolah sesuatu yang hendak dilontarkannya itu adalah sesuatu yang begitu besar dan menyakitkan.
Sempat merenung sejenak, Tyas pun kembali menghembuskan nafasnya perlahan, "Dokter pasti tahu kan apa maksud dari perkataan dokter Vera tadi?" Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Tyas pun kembali melanjutkan ucapannya. "Kenapa dokter Vera mengatakan jika saya telah ditembak oleh anda kemarin di ruangan saya? saya rasa saya tak ada dalam situasi itu, dan sudah pasti takkan terjadi. Hm dokter pasti ada andil kan di dalamnya?"
Sorot dingin yang semula tercipta di bola matanya kini berubah sendu seketika. Tapi Tyas yang mendengar itu lantas tersentak, dan mulai paham apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya ini.
......................
...Malam harinya......
__ADS_1
Masih di ruangan hotel yang sama, zefa yang semula tertidur nyenyak di sebelah kaesang perlahan membuka matanya, ia regangkan kedua tangannya itu, lalu menguap dan menatap kaesang dengan tatapan sayunya. Beruntung kaesang masih belum sadarkan diri saat ini, atau kalau tidak semua rencananya bisa gagal.
Gadis tujuh belas tahun itu pun bangkit dari tidurnya, ia tatap jam dinding yang terpasang jelas di hadapannya, lalu menganggukkan kepalanya setelah itu. Dikiranya pagi telah menjelang sebab ia rasa telah tidur lumayan lama hari ini, tapi ternyata jam masih menunjukkan pukul sebelas malam lebih sepuluh menit. Ia pun mengucek kedua matanya, ia kenakan lingerie tipis yang sempat dipesannya lewat aplikasi online beberapa saat yang lalu. semula merasa tak enak harus mengenakan pakaian seperti ini, terlebih zefa pernah memergoki ibunya tengah mengenakan pakaian seperti ini sembari menggoda ayah tirinya di dalam kamar mereka. Karena pintu yang tak dikunci atau memang sengaja dibiarkan seperti itu. Zefa yang semula hendak pergi hangout bersama teman temannya diluar pun sempat berhenti lalu mengintip dari balik celah yang terbuka di bilik kamar kedua orang tuanya itu. Semula ia tak berniat seperti itu, tapi selepas ia mendengar kata kata ibunya yang tergolong mesum, zefa pun memberanikan diri mengintip mereka di posisinya sekarang. Ia dapat melihat dengan jelas apa yang tengah dilakukan oleh kedua orang tuanya itu, bahkan ia pun melihat dengan kedua matanya sendiri kala kedua orang tuanya berciuman mesra dan bercinta dengan penuh gairah. Ia sempat melotot mengetahui itu, sebab baru kali ini ia menyaksikan hal seperti ini secara langsung, tapi tak ingin terlena dengan apa yang ada di hadapannya, dan membuatnya semakin panas, zefa pun memutuskan tuk pergi selepas itu.
Mengingat kembali kejadian memalukan itu, zefa pun menggelengkan kepalanya berulang kali sebelum akhirnya ia putuskan tuk pergi ke kamar mandi selepas seluruh tubuhnya tertutupi lingerie tipis berwarna maron itu.
Bersambung.
Hai hai guys
Maap nih author baru ngetik sekarang, karena dari kemarin hp aku rusak jadi harus benerin dulu;(
tapi untung sekarang dah bisa lagi, jadi bisa update deh:)
Oh iya semoga suka ya, dan jangan lupa like, dan komennya. Thank banyak banyak dari author:))
__ADS_1