
Malam ini udara terasa begitu hangat, tak seperti hari hari sebelumnya yang terasa lumayan dingin. Bulan purnama bersinar dengan begitu indahnya di langit gelap bersama dengan puluhan bintang yang menjadi partnernya. Di rumah sakit ini lagi lagi Zefa berada, namun kali ini dia tak sendiri, melainkan ada juga sang papa di sana menemaninya.
Setelah kembali dari jepang tadi siang, Wijaya selaku ayah Zefa tak bereaksi apapun selain hanya diam dan menjaga sang istri yang saat itu tengah tertidur karena sehabis minum obat.
Wijaya dengan telaten merawat, dan menjaga Salma dengan baik di hari sakitnya ini, dia bahkan tak membiarkan Salma melakukan segalanya sendiri. dia selalu membantu dan memberikan dukungan pada sang istri agar dia selalu semangat dan mau untuk sembuh. Namun, Wijaya masihlah kecewa pada Zefa. Dia cukup kecewa atas satu berlian berharganya yang hilang begitu saja karena gadis itu.
Wijaya bahkan terlihat dingin dan cuek pada Zefa yang tak pernah sekalipun dia perlakukan seperti itu. Karena selama menikah dengan Salma, Wijaya selalu sayang pada Zefa layaknya anak sendiri. Dia selalu memanjakannya dan memberinya kasih sayang yang berlimpah.
Bahkan saking sayangnya Wijaya pada Zefa, pria itu sampai lupa jika dia masih memiliki anak yang lain, yang merupakan anak kandungnya.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kaesang?" tanya Wijaya pada Zefa seraya memutar sedikit kepalanya dan mendapati sang gadis yakni Zefa tengah rebahan nyaman di sofa seraya memainkan hp nya.
"There's nothing special, kami hanya teman sekelas." jawab Zefa seraya menatap sekilas kearah sang papa yang masih menatapnya.
Wijaya pun berdecak lantas bangkit dari kursinya lalu berjalan kearah Zefa. Dia menepuk bahu Zefa dan menyuruhnya untuk duduk, sementara Zefa duduk dengan muka kesalnya karena dia dipaksa pindah dari posisi nyamannya, Wijaya langsung mengambil duduk di sebelah Zefa, tepatnya di tempat di mana Zefa merebahkan kepalanya.
"P**apa sayang banget sama kamu, Zef. Papa cuma marah aja atas rekan bisnis papa yang tiba-tiba memutus kontrak kerjasama apalagi alasannya karena alasan pribadi**." ucap Wijaya seraya memegang pundak kanan Zefa dan menoleh kearahnya.
Zefa yang mendengarnya pun lantas menoleh kearah sang papa dan menatapnya kesal.
"Tapi itu bukan salah aku, pa. Aku cuma korban disini." bela Zefa.
Alis Wijaya pun menyatu dengan sempurna. antara bingung dan kaget dengan respon Zefa yang diluar nalar.
__ADS_1
"Aku pacaran pa sama Kaesang. Dia itu pacar aku tapi dia selingkuhin aku. Dia bikin aku marah dan kecewa. Apalagi dia selingkuhnya sama guru aku lagi di sekolah." lagi Zefa seraya bersungut-sungut.
......................
Setelah selesai mengantarkan Tyas pulang dengan selamat ke rumahnya, Kaesang pun pergi. Dia berniat akan mampir sebentar ke starligh cafe untuk sekedar melepas penatnya. Namun di tengah jalan, tak sengaja dia melihat Lisa bersama dengan seorang perempuan dan sedang bertengkar. Awalnya Kaesang ingin membiarkan itu karena itu bukan urusannya, tapi, tanpa sengaja Kaesang mendengar seorang perempuan yang bertengkar dengan Lisa berteriak kencang dan mengatakan akan membunuh Indra dan keluarganya jika Lisa sampai tak menuruti perintahnya.
Karena saat ini Kaesang mengemudikan mobilnya dengan pelan, dia pun kaget dan langsung menghentikan laju mobilnya begitu saja. Dia meminggirkan kendaraannya lalu turun dan mendapati kedua perempuan itu tengah di kerumuni oleh beberapa orang.
Banyak pasang hp yang ikut mengabadikan momen ini sambil tak henti hentinya meneriaki kedua pasang yang tengah bertengkar itu sampai membuatnya ricuh.
Tak ... Tak ... Tak ... (suara langkah kaki Kaesang)
Kaesang pun berjalan kearah kerumunan itu lalu menarik paksa lengan Lisa dan membuatnya atau siapapun yang berada di sana kaget dengan tindakan Kaesang yang tiba-tiba itu.
"Kalau Tante emang mau nikah dengan papa saya, jangan membuatnya malu dengan tindakan bodoh Tante ini." ucap tegas Kaesang pada Lisa seraya tetap mencengkeram lengannya.
"Kae-Kaesang,, bagaimana kamu bisa berada di sini?" Lisa terlihat gugup dan terkejut dengan kedatangan Kaesang. Dia bahkan menatapnya dengan mulut ternganga saking kagetnya.
KAGET ... SANGAT KAGET! BAHKAN HAMPIR TERKENA SERANGAN JANTUNG SAKING KAGETNYA.
Ya, perempuan yang bertengkar dengan Lisa dan sampai menjadi pusat perhatian karena terlihat bertengkar di tempat umum, dia adalah Agnes. Keponakan Lisa yang kapan hari sempat mendatanginya ke kontrakannya. Gadis muda itu terlihat begitu marah dan emosi dengan keputusan Lisa yang sangat di luar dugaannya.
Terlebih dengan bertengkar di depan toko seperti ini, Agnes sama sekali tak memperdulikannya. dia hanya ingin menuntaskan rasa marah dan kesalnya pada Lisa.
__ADS_1
Tapi, belum reda rasa marah yang membelenggu dadanya, Agnes harus di kagetkan dengan kemunculan seorang pria muda yang begitu di kenalnya. Pria itu datang tanpa suara lalu dengan cepat dia menarik lengan Lisa dan membuat pertengkaran itu terhenti.
Tapi, bukan itu yang membuatnya kaget. Namun, Kaesang yang tak mengenalinya lah yang membuatnya kaget. padahal saat ini Agnes tak mengenakan penutup muka apapun. Yang sudah jelas mukanya terekspos dengan bebas, siapa saja sudah tau mukanya. Namun, melihat Kaesang yang biasa saja, membuat Agnes berpikir jika saat ini mungkin Kaesang telah lupa padanya.
Aissshhh ...
Perih jika harus memikirkan itu, namun bagaimana lagi, sepertinya Kaesang memang telah benar-benar melupakannya.
"Itu tidak penting. Sekarang anda ikut saya. Saya tidak mau calon istri papa saya melakukan tindakan bodoh seperti ini." Lisa hanya diam mematung mendengar ucapan Kaesang yang terlihat tegas itu. dia tak percaya jika Kaesanglah yang mengatakan itu, dia masih belum percaya jika saat ini Kaesang menganggapnya calon istri papanya.
Namun, saat bersiap akan pergi, Kaesang yang semula menarik lengan Lisa dan akan berjalan pergi tetiba saja teringat sesuatu lalu membatalkan niatnya begitu saja.
"Oh iya, Agnes. Aku tak tau apa hubunganmu dengan calon istri papaku. Tapi apapun itu kumohon kau jangan mengganggunya lagi." saat berniat akan pergi lagi-lagi Kaesang menghentikan langkahnya, dan saat itu posisinya dia masih memegang lengan Lisa.
"Oh iya satu lagi. Setelah ini kau jangan mengirimiku kado lagi, sudah cukup penuh kado kado itu di tempat sampah rumahku, dan urungkanlah niatmu untuk membunuhku juga keluargaku, Lavanya Agnese Monica." setelahnya Kaesang pergi dari sana seraya menarik lengan Lisa.
**********
Plot twist!!
Sebenarnya Kaesang juga baru ingat akhir-akhir ini tentang Agnes. Teman sekaligus sahabatnya sewaktu SMP. Dia cukup dekat dengan Agnes, dulu sewaktu SMP namun, setelah semuanya lulus, keduanya hilang kontak dan tak pernah bertemu lagi sampai sekarang.
Oh iya, Kaesang masih mengingat wajah Agnes karena dulu mereka sangat dekat walau sekarang Agnes terlihat lebih cantik, namun Kaesang masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah teman lamanya itu, dan soal kado yang selama ini Kaesang terima ternyata bukanlah dari Vierra seperti yang tertulis, tapi itu dari Agnes. Selain karena waktu itu Vierra sempat berkunjung ke rumahnya, Kaesang sempat menanyakan perihal kado itu pada Vierra dan dia dengan yakin menjawab jika Agnes lah orangnya. Selain karena sewaktu SMP Agnes, Kaesang dan Vierra adalah sahabat dekat, Agnes juga masih ada ikatan saudara dengan Vierra. Yang otomatis Vierra tau sesuatu tentang gadis itu, yakni Agnes.
__ADS_1
*************
Bersambung ...