
"Siapa yang nelpon, kok serius gitu?"
Mendengar suara Kaesang yang tiba-tiba saja terdengar begitu dekat dengannya membuat Zeya kaget seketika. dengan buru-buru ia pun segera memalingkan wajahnya ke arah belakang dan begitu kagetnya ia sesaat mendapati Kaesang tengah menatap kearahnya dengan tatapan datar, Zeya tak terkejut dengan hal itu, melainkan ia terkejut dengan posisi Kaesang yang berada begitu dekat dengannya, saking dekatnya Zeya bahkan dapat mencium aroma tubuh Kaesang yang begitu harum dengan begitu jelas.
Dengan spontan Zeya pun langsung mendorong tubuh Kaesang dan membuatnya sedikit terjungkal ke belakang, Kaesang yang tak tau apapun hanya mampu terdiam dan menatap kaget kearah Zeya. tatapan Kaesang masih saja menatap tajam kearah Zeya atas perilakunya barusan.
"Lo gila ya! ngapain sih Lo dorong gue kek gini?!" tanya Kaesang seraya bangkit dari posisi terjatuhnya dan berjalan tergesa menuju ke arah Zeya, Kaesang duduk tepat di sofa kosong di hadapan Zeya dan tetap menatap tajam kearahnya.
Zeya yang memang merasa bersalah sontak mulai menggaruk kepalanya dan mengalihkan atensinya kearah lain. Ia perlahan lahan mulai menghela nafas panjang, dan mengalihkan atensinya kembali kearah Kaesang.
"Ya sorry, Kae. Habisnya Lo tadi ngagetin gue, Lo yang gue kira masih diatas tiba-tiba aja udah berdiri di belakang gue kan bikin gue jantungan. Huh, untung cuma gue dorong, kalo gue beneran kesel nih, bisa-bisa habis Lo!" ucap Zeya seraya menatap kesal kearah Kaesang.
Mendengar penjelasan Zeya yang terdengar serius namun tetaplah terlihat kesal sontak membuat Kaesang tertawa seketika. Ia pun perlahan mulai membuka buku-buku kamus yang dibawanya dari atas kemudian membacanya.
"Yaudah sorry ya Zey, gue cuma iseng aja sih tadi buat dengerin Lo teleponan, eh pas gue nyaut Lo malah kaget beneran, yaudah deh sebagai permintaan maaf, Lo boleh minta apapun ke gue, mau itu uang, barang atau apapun itu bakal gue kabulin." balas Kaesang seraya tetap fokus dengan kegiatannya yakni membaca sebuah kamus bahasa inggris yang dibawanya dari ruang belajarnya di lantai atas.
Kaget dengan respon Kaesang yang terdengar begitu jauh dari perkiraannya membuat Zeya terhenyak seketika.
Ia sebenarnya tak ingin memperpanjang masalah ini, ia ingin menutupnya dan selesai sampai di sana, namun mengetahui jika seorang seperti Kaesang perlu diberi pelajaran sontak membuat Zeya tersenyum miring dan mengalihkan atensinya kearah Kaesang.
Tatapannya terlihat tenang namun senyum di bibirnya tetaplah miring, ia perlahan menundukkan kepalanya sekilas dan menghela nafas kasar.
"Kalo Lo emang mau ngabulin semua permintaan gue, oke gue akan minta satu permintaan ke Lo." ucap Zeya seraya menyeringai lebar kearah Kaesang.
Melihat senyum Zeya yang terlihat aneh sontak membuat Kaesang terdiam, ia pun memikirkan segala hal yang mungkin saja menjadi permintaan Zeya.
Namun melihat gadis sepertinya, Kaesang pun yakin jika bukan barang ataupun uang yang Zeya minta, ia yakin jika Zeya pasti akan meminta suatu hal namun hal apa itu Kaesang tentu saja tidak tau.
__ADS_1
"Apa itu, katakan saja," ucap Kaesang santai dan tetap dengan posisinya, ia tidaklah menoleh sedikitpun kearah Zeya, tatapannya masihlah fokus kearah sebuah buku yang dibacanya.
Zeya yang mengetahui respon santai dari Kaesang sontak membuatnya memberengut kesal. Ia kira Kaesang akan marah padanya ataupun merasa takut padanya. Karena dengan pertanyaan dan senyumnya yang begitu aneh pasti membuat siapapun yang berada di sana ketakutan, namun melihat respon Kaesang yang tetaplah santai membuat Zeya begitu marah.
Ia marah namun ia tetaplah fokus dengan tujuannya, yakni mengerjai Kaesang.
"putus dengan Bu Tyas dan jadian sama gue." ucap Zeya begitu tegas dan tetap dengan senyum menyeringainya.
Namun, disaat Kaesang mendengar apa permintaan Zeya itu sontak membuatnya kaget dan tertawa seketika. Ia menganggap jika Zeya itu tengah bercanda padanya, semua perkataannya barusan tidaklah sungguh-sungguh, tapi sewaktu Kaesang mengangkat wajahnya dan menatap kearah Zeya, sontak membuatnya terdiam.
Muka Zeya sama sekali tidak terlihat bercanda, wajahnya terlihat begitu serius namun senyum menyeringainya tetaplah tersungging di bibirnya.
"Lo, bercanda kan Zey?" tanya Kaesang.
Mengetahui Kaesang telah masuk kedalam perangkapnya sontak membuat Zeya tertawa dalam hati. Ia pun memikirkan segala hal yang akan digunakannya nanti tuk mengerjai Kaesang, sebab rencananya tuk mengerjai Kaesang ini adalah sesuatu yang mendadak, ia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya.
Namun, setelah tau Kaesang membuatnya kaget sontak di pikirannya pun tercipta sesuatu ide tuk mengerjai Kaesang.
"Gue nggak bercanda, Kae, gue serius. Ini adalah satu satunya permintaan gue yang harus Lo penuhi." balas Zeya seraya menatap serius kearah Kaesang.
Melihat Kaesang yang terlihat marah dan mukanya menjadi merah padam sontak membuat Zeya tertawa seketika.
"Yaelah Kae, gue cuma bercanda kok, hahahaha ... gue puas banget liat muka Lo jadi marah gitu." ucap Zeya di sela-sela tertawanya.
saking senangnya melihat wajah Kaesang yang berubah marah sontak membuat Zeya kembali tertawa, ia tetap tertawa dan sesekali menepuk tangannya saking senangnya dengan rencana singkatnya yang berhasil.
"Bisa nggak sih Lo nggak usah bercanda kek gini sama gue, gue beneran kaget loh denger permintaan Lo tadi, oke kalo Lo emang marah sama gue karena gue udah kagetin Lo tadi Lo boleh marah, Lo boleh bales gue gimana pun yang Lo mau, tapi nggak kek gini caranya Zey, nggak kek gini!" ucap Kaesang seraya menaikkan nada bicaranya dan kembali meraih buku yang dibacanya tadi dari atas meja.
__ADS_1
Zeya yang tau jika Kaesang sudah sangat emosi padanya sontak membuatnya merasa bersalah. ia pun sontak menghela nafas sejenak dan mendekatkan wajahnya kearah Kaesang.
Dengan segala keberanian dan kerendahan hati, ia pun perlahan mulai meraih tangan Kaesang dan menggenggamnya erat.
Sementara Kaesang yang kaget mengetahui Zeya tiba-tiba menggenggam tangannya pun langsung menarik tangannya itu dari genggaman Zeya.
"Zey, sebenarnya Lo tuh kerasukan apa sih?! kenapa hari ini Lo tuh aneh banget, kenapa Lo jadi sok kenal sama gue dan kerjain gue sampai kek gini banget, hah? kenapa?!" ucap Kaesang seraya menaruh buku yang di pegangnya di atas meja, dan mulai mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Enak aja Lo, gue tuh normal ya, nggak kerasukan, lagian gue tuh cuma ngerjain Lo doang kok nggak ngapa-ngapain. Ehm tapi setelah gue pikir-pikir gue ada satu permintaan yang Lo harus penuhi." Zeya yang melihat tatapan tajam dari Kaesang sontak membuatnya kembali menghela nafas.
"Gue mau kita temenan Kae, gue mau Lo jadi temen gue, temen di sekolah maksudnya. ehm, gimana? mau nggak Lo temenan sama gue? kalau nggak sih ya nggak papa." ucap Zeya seraya menatap kearah Kaesang dan tersenyum tipis kearahnya.
Mendengar Zeya ingin berteman dengannya sontak membuat Kaesang kembali terkejut. Dengan mata membola ia pun kembali mengalihkan atensinya kearah Zeya dan menatap kaget kearahnya.
"Sejak kapan Lo mau temenan sama gue?" tanya Kaesang masih dengan ekspresi dan posisi yang sama.
"Sejak sekarang. Jadi gimana? mau nggak Lo temenan sama gue?" tanya Zeya.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Kaesang pun menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ucapan Zeya. Ia menerima tawaran Zeya tuk menjadi temannya, karena setelah melihat sifat dan perilaku Zeya ia pun menyukai Zeya, Kaesang menyukai sifat Zeya yang begitu mirip dengannya.
Lalu tanpa memikirkan apapun lagi, Kaesang pun menerima tawaran Zeya tuk berteman dengannya. Ia mau berteman dengan Zeya asal Zeya sendiri mau menuruti aturannya dan tidak macam-macam.
"Jadi sekarang kita berteman?" ucap Zeya seraya meraih tangan Kaesang dan mengajaknya bersalaman.
"Iya, kita temenan, tapi aturan gue tadi harus Lo ikuti, inget Zey Lo harus penuhi apa yang gue minta tadi." balas Kaesang seraya melepas jabatan tangannya, dan menatap serius kearah Zeya.
Bersambung ...
__ADS_1