
"Nggak kok, sayang. Mama cuma kepleset doang tadi." elak Salma. Dia tidak mungkin menceritakan semuanya pada Zefa. Terutama siapa orang yang membuatnya sampai terjatuh dari tangga. Sebab jika Zefa sampai tau, semuanya bisa runyam.
Zefa terdiam mendengar penjelasan mamanya itu. Dia sedikit tak percaya jika alasan mamanya terjatuh hanya karena kepleset, tapi dirinya juga tak punya bukti untuk mengatakan hal yang lain, seperti ada seseorang yang sengaja mendorong mamanya, makanya mamanya bisa sampai terjatuh. Namun dugaan itu hanya sekedar dugaan.
"Oh iya ma, mama udah makan belom? Kalau belom, mama bilang aja ntar aku gofood in." tawar Zefa seraya berjalan menuju sofa yang terletak di sebelah jendela ruang rawat Salma disusul dengan Lina dan Zelyn yang mengekornya di belakang.
Salma pun nampak berpikir.
"Kebetulan mama belom makan sih. Tadi emang ada suster yang nganterin makanan, tapi mama nggak makan. Nggak doyan mama makan makanan rumah sakit." jelas Salma.
Zefa pun terlihat menganggukkan kepalanya menanggapi jawaban sang ibu.
"Yaudah mama mau makan apa? biar aku pesenin sekarang." tanya Zefa lagi seraya mengeluarkan hp nya dari tas sekolah yang sedari tadi di gendongnya di punggungnya.
"Bakso boleh deh, yang pedes ya." balas Salma dengan muka berbinar-binar.
Dia memang sangat menyukai makanan berkuah itu. Terlebih bila diberi sambal yang banyak, dilengkapi dengan sayuran dan pentol uratnya, beuhh membayangkannya saja sudah membuat air liurnya menetes.
Zefa pun mengernyit mendengar jawaban ibunya itu.
"Hah? Bakso? Emang mama udah boleh makan bakso? mama kan lagi sakit? yang lain ajalah." tolak halus Zefa. Dirinya kurang setuju jika harus membelikan sang ibu bakso. Makanan berlemak itu tidak cukup bagus untuk sang ibu yang tengah sakit, terlebih ibunya juga meminta sambal yang banyak. Nanti, dirinya pasti kena amuk sang ayah bila sampai membelikan ibunya bakso.
Salma pun langsung menekuk mukanya. Dia merasa kecewa atas penolakan dari putrinya itu. Terlebih, bakso adalah salah satu makanan favoritnya.
"Huh, yaudah deh, apa aja terserah. Tapi jangan bubur ya, tadi aja dari rumah sakit udah dikasih bubur." ucap Salma lemah. Dia masih kecewa karena tidak jadi makan bakso, apalagi bayangan dari makanan berkuah itu sudah terbayang-bayang di kepalanya. Menikmati kelezatan bakso berkuah di kala tengah terbaring sakit seperti ini. Aduhh, dia merasa kecewa karena tidak jadi makan bakso hari ini.
"Hm, sup ayam, mau?" tanya Zefa tanpa menoleh kearah sang mama dan tetap fokus pada hp di tangannya.
Sang ibu pun mengangguk seraya menghela nafas kasar.
"Yaudah deh boleh." balas singkat Salma.
__ADS_1
Zefa pun menoleh kearah kedua sahabatnya di sebelahnya.
"Kalian ada mau nitip sesuatu?" tanya Zefa pada kedua temannya itu.
Mereka pun sontak menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis.
"Nggak usah lah Zef. Makasih." balas Zelyn.
Lalu Zefa pun mulai memesan satu porsi sup ayam, beberapa camilan dan tiga buah es Boba.
"Oh iya ma, tadi pagi si anak gila itu ada datang kerumah ya?" tanya Zefa pada sang ibu seraya menoleh kearahnya.
Salma pun mengernyit heran mendengar pertanyaan yang dilontarkan Zefa.
"Kok kamu tau?" tanya Salma.
Zefa pun tersenyum miring lalu berjalan kearah ranjang sang ibu. Dia mendekatkan wajahnya pada Salma yang tengah terbaring lalu berbicara lirih padanya.
Salma pun bingung harus menjawab apa. Dia membenarkan pertanyaan Zefa tapi dia juga takut untuk mau mengatakan iya. Sebab ada sebuah perjanjian yang melarangnya untuk mengatakan semuanya.
......................
Rani terlihat tertidur dengan menjadikan paha Tyas bantalannya. Dia sehabis makan kemudian menangis kembali sampai tertidur. Sungguh kasihan sekali melihatnya. Tyas hanya mampu memberinya janji, namun sulit untuk menepati. Bagaimana caranya untuk membantu Rani menemukan ibunya, jika foto, dan alamat saja tidak ada.
Tadi saja Rani hanya menyebutkan nama ibunya dan karakter fisiknya. Sudah lumayan jelas sih, tapi Tyas masih bingung harus mencarinya bagaimana. Di jakarta ini ada ribuan manusia yang hidup dan tinggal. Semoga saja takdir mempertemukan Rani dengan ibunya.
"Besok kuminta bantuan Kaesang saja lah. Semoga dia bisa membantuku menemukan ibunya Rani. Kasihan sekali aku melihatnya setiap saat menangis seperti ini. Rasanya tak tega." ucap Tyas sendiri seraya membelai lembut rambut Rani.
......................
Indra yang tengah duduk di ruang tamu seraya memainkan hp nya seketika di kejutkan dengan ketukan beruntun di pintu depan rumahnya. Dia yang penasaran sontak berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan.
__ADS_1
Pria itu sontak kaget setelah melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Loh, sayang. Kamu datang? Kok nggak kasih kabar aku, kan aku bisa jemput." Indra yang kaget sontak mempersilahkan Lisa untuk masuk dan duduk di sofa di sebelahnya.
Tak lupa dia telah menutup pintu kembali, karena kebetulan suasananya sudah sore dan cuaca juga sedang mendung.
"Mas, aku mau ngomong penting sama kamu." ujar Lisa to the point.
Indra pun mengernyit mendengar penuturan Lisa.
"Hm, hal penting apa emangnya?" jawab Indra santai.
"Kapan kamu nikahin aku?" tanya Lisa serius seraya mengalungkan sebelah tangannya di leher Indra.
Indra yang terkejut akan pertanyaan itu sontak mengangkat tubuh Lisa untuk duduk di pahanya lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Kenapa tiba-tiba kamu nanyain itu? udah nggak sabar ya?" goda Indra seraya mengusap lembut rambut panjang Lisa.
"Itu salah satunya, tapi sekarang aku lagi hamil dan kamu harus segera nikahin aku." balas Lisa seraya menjauhkan tubuhnya dari Indra dan menatap serius kearahnya.
Bukannya kaget atau apa, Indra justru tersenyum lalu menarik kepala Lisa mendekat kearahnya dan mencium bibirnya lebih lama.
"Aku senang mendengar berita itu. Kamu tenang saja, aku akan segera nikahin kamu, dan bawa kamu kesini." ucap tulus Indra.
"Serius? Kamu nggak lagi bohongin aku kan? Aku takut kamu bakal ninggalin aku setelah tau aku lagi hamil." Lisa pun terlihat mengerucutkan bibirnya. takut sesuatu hal buruk yang sempat terlintas di pikirannya itu bakal terwujud. Terlebih, dia sudah terlanjur menyukai Indra, dan tumbuh benih cinta keduanya di dalam rahimnya.
"Justru aku seneng dengar kamu hamil anak aku. Kamu tenang aja ya, aku nggak bakal ninggalin kamu. Aku akan nikahin kamu, dan jadikan kamu satu-satunya ratu di rumah ini." mendengar penuturan Indra yang terdengar serius itu, berhasil membuat perempuan seperti Lisa meneteskan air mata dan sontak memeluk kembali pria yang telah beberapa bulan menjadi kekasihnya itu. Dia terharu akan ucapan Indra barusan. Menjadikannya ratu di rumahnya? Mimpi apa Lisa semalam sampai bisa menjadi kekasih Indra seperti ini? Bahkan akan segera menikah dengannya. Sungguh kebahagiaan terbesar dalam hidup Lisa, dia bahkan melupakan semua dendamnya dan tujuannya awal. Dia telah bertekad untuk melupakan semua dendamnya dan meraih kehidupan bahagia bersama Indra.
"Tapi, aku takut jika aku menikah dengan Indra, bagaimana dengan Agnes, dan pria itu? aku takut mereka akan membuat ulah nantinya. Huh, semoga saja kebahagiaan berpihak padaku kali ini." batin Lisa cemas.
Bersambung...
__ADS_1