Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 69- Kesalahpahaman


__ADS_3

...Kelanjutan dari episode kemarin......


Di sebuah lapangan basket dengan keramaian yang tercipta, nampaklah Zaky tengah berjalan sembari mengapit sebuah bola basket di pinggangnya. Ia yang baru saja memenangkan sebuah pertandingan basket dengan beberapa kawannya tengah berjalan pulang selepas beberapa lamanya berbincang. Dirinya yang saat itu tengah mengenakan kaos orange tanpa lengan dengan sebuah kain putih yang membalut siku kanannya terlihat begitu tampan, apalagi dengan keringat yang menetes di wajahnya, juga rambut berantakannya yang nampak begitu seksi. Saat dirinya hendak mengambil pakaian gantinya di jok motornya tiba tiba langkahnya terhenti selepas terdengar sebuah deringan telepon disana. Ia lantas merogoh handphone bertuliskan Vivo tersebut dari dalam tas kecil miliknya yang sengaja di titipkannya pada pelatih selama ia bertanding di lapangan tersebut. Ia buka, dan diswapnya layar kunci tak berpassword tersebut. Ditatapnya baik baik, dan ia terangkan sedikit kecerahan handphonenya manakala sinar matahari yang terlihat begitu terik, sehingga di bawah lapangan terbuka seperti ini dirinya kurang Napak jelas apa yang terpampang di layar handphonenya itu.


Selepas cukup terang dan Napak Zaky pun lantas menghela nafas, dan senyumannya pun perlahan memudar manakala menapaki sesiapa yang tengah menghubunginya itu. Ya--Viona. dialah gadis yang menelpon ke nomor Zaky tersebut. Awalnya Zaky hendak mematikan saja panggilan itu tapi mengingat viona akan uring uringan jika dirinya tak merespon panggilan darinya, Zaky pun lantas menswap dial hijau yang terpampang itu, kemudian dengan tatapan datar, dan nada dinginnya Zaky pun mulai bersuara, "Halo..sayang. Kenapa?"--Zaky.


"Sayang..kamu lagi dimana, ketemuan yuk. Aku kangen banget nih,"--Viona.


"Oh maaf sayang. Aku lagi di luar, habis pertandingan basket tadi. Jadi ini capek banget mau langsung pulang istirahat. Kamu gak papa kan kita ketemuannya lain kali aja, atau gak besok deh aku samperin kamu di kontrakan kamu gimana? sekalian kita tuntasin yang kemarin lusa,"--Zaky.


"Yah padahal aku kangennya itu sekarang. Gabisa apa sayang sepentin waktu bentar aja gitu ketemuan sama aku. Aku bener bener kangen banget nih. Habisnya dari saat terakhir kemarin lusa itu kamu gak ada kabar sama sekali, jadinya aku kan khawatir sayang sama kamu. Takut kamu pergi dan gak balik lagi. Tapi janji kan besok bakal ke kontrakan aku? awas kalau ingkar, gak bakal aku mau ketemu lagi sama kamu pokoknya."--Viona.


"Iya cantik. Aku janji. maaf ya karena sempat udah gak ada kabar, dan buat kamu khawatir gitu. Habisnya kamu tahu sendiri kan aku selama itu latihan terus buat pertandingan basket hari ini. Jadi sekali lagi maafin aku ya cantik, manis. Besok jam sepuluh pagi deh aku langsung cus otw ke kontrakan kamu, okey. Jadi hari ini kamu siapin diri kamu, stamina kamu buat kita perang besok sampai malem. Oh ya sayang sampai lupa, hari ini tim aku menang loh, terima kasih ya ini berkat kamu." --zaky.


"Iyadeh aku maafin, tapi tunggu tadi kamu bilang berkat aku? kok gitu, aku kan gak ngapa ngapain sayang, ini semua berkat kerja keras kamu dan tim mu. jadi sama sekali bukan karena aku, salah itu."--Viona.


"Eits siapa bilang kamu gak ngapa ngapain, kamu itu dah doain aku selama ini sayang, kasih cinta tulus ke aku, terus semangatin aku tanpa henti. Makasih ya sayang. Jadi kemenangan ini aku persembahkan buat kamu, orang yang paling aku cintai."--Zaky.


"Yaudah sama sama deh. Tapi kamu besok janji mau kesini kan, awas kalau bohong."--Viona.


"Kan tadi aku dah bilang sama kamu, besok aku pasti datang kok. HM ngomong ngomong kamu lagi dimana sayang, kok sepi banget, lagi gak kerja emang?"--Zaky.


"Ah..Ehm aku..aku lagi gak enak badan sayang. Jadi tadi aku ijin gak masuk dulu. Emangnya kenapa sayang, jangan bilang kalau kamu khawatir sama aku, gak pokoknya gak boleh. Aku baik baik aja kok, ini aja aku lagi masak. Jadi kamu gak perlu khawatir okey."--Viona.

__ADS_1


"Kamu sakit?! kok kamu gak bilang dari awal sih kalau kamu sakit. Kalau gitu kan aku bisa langsung ke kontrakan kamu, HM sayang aku kesana Sekarang ya. Tunggu aku."--Zaky.


"Eh! gak usah sa--"--Viona.


Belum sempat viona melanjutkan ucapannya Zaky sudah lebih dulu memutus panggilan tersebut. Dia yang saat itu masih mengenakan baju basketnya itu, tanpa pikir panjang langsung cus ke kontrakan pacarnya itu dengan hanya mengenakan jaketnya sebagai tutup. Walaupun awalnya Zaky malas tuk bertemu dengan viona, mengingat ia sangatlah capek sehabis bertanding, tapi mengetahui jika viona tengah sakit, dirinya tak bisa tinggal diam, ia langsung memutuskan tuk menemui pacarnya itu walaupun kondisinya sendiri masih sangatlah berantakan.


......................................................................


Tyas yang telah sampai pada ruangan dengan nama Vera yang terpampang jelas di atas pintu. Menghela nafas sebentar sebelum akhirnya ia mengetuk pintu, dan masuk kedalam ruangan milik dokter Vera tersebut.


Setibanya ia di ambang pintu nampaklah olehnya seorang dokter cantik, berambut lurus Sepinggang dengan senyum di bibirnya yang tak pernah pudar. Mungkin itu menurutnya. Dokter Vera yang merupakan dokter kandungan plus seorang yang terkenal sukses dan sangat ramah pada semua orang itu tengah menulis sesuatu sebelum akhirnya ia menyadari kedatangan Tyas lalu menghentikan kegiatannya, dan menatap kearah Tyas dengan senyum yang sama.


Masih dengan senyum yang sama, dan tatapan matanya yang mengisyaratkan ketulusan Vera pun langsung berdiri dari duduknya,"Bu Tyas. Silahkan duduk Bu." Selepas mengatakan itu Vera pun lantas duduk kembali, Tyas yang saat itu masih terdiam pun lantas mulai menjawab walaupun sedikit terbata bata karena sempat terkejut manakala mendengar ucapannya tadi.


"I-iya dok." Walau terasa canggung Tyas pun lantas duduk tepat di hadapan Vera yang hanya tersekat oleh sebuah meja. Tyas yang tak tahu akan tujuan Vera ingin menemuinya, lantas mulai tak enak manakala Vera tetap saja menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan. Tapi saat Tyas hendak mengatakan sesuatu tiba tiba Vera pun mulai berkata dengan senyumannya yang masih melekat di bibirnya itu.


Masih dengan sedikit keraguan Tyas pun kembali bertanya dengan senyumannya yang perlahan terukir, "Ehm baik dok. Tapi dokter ada apa ya panggil saya kemari?"


Vera menatap Tyas lembut, dan penuh arti, sedang Tyas hanya memandang dengan tatapan penuh tanda tanya.


Dan dengan sedikit mengukir senyum di bibirnya Vera pun lantas menghela nafas kemudian berkata, "Hm to the points aja ya bu Tyas, waktu saya juga tidak banyak."


"Bu Tyas kenal dokter Ridwan kan?" Imbuhnya.

__ADS_1


Kini Gaya bicara dokter Vera beralih seperti mengintimidasiku. Tatapannya yang semula hangat kini berubah dingin seketika.


Karena Tyas memang tau, dan mengenal dokter Ridwan, ia pun lantas kembali tersenyum sebelum akhirnya mulai berkata, "Kenal dok. Beliau adalah orang yang baik, dan ramah pada semua orang. Apalagi beliau juga pernah menangani saya sebelumnya. Ehm kalau boleh tahu kenapa ya dok?"


Merasa jika pertanyaan ini pasti akan terucap dari mulut dokter Vera, Tyas pun kembali mengernyit heran, kenapa dokter Vera sampai memanggilnya kemari? apa ini ada hubungannya dengan dokter Ridwan, tapi kenapa harus dengannya?


Kini Tyas kembali tersentak manakala Vera mulai menatap dingin kearahnya, tatapan yang begitu dingin tajam dan menusuk. Sangat sangat berbeda dengan dirinya saat Tyas baru saja datang tadi.


"Bu Tyas tahu kan kalau saya ini pacar dokter Ridwan?" Ucapnya masih begitu dingin. Tapi Tyas yang tak mengerti lantas mengernyitkan dahinya, ia tak paham kenapa dokter Vera tiba tiba menanyakan ini padanya, dan mengintimidasinya layaknya ia telah ketahuan menjalin hubungan diam diam dengan dokter Ridwan.


Tyas yang memang tak ingin berkata panjang lebar lantas mengangguk sebagai respon. Ia masih menatap kearah perempuan berumur satu tahun lebih muda darinya itu yang juga sama sama tengah menatap kearahnya. Masih dengan penuh tanda tanya, dan senyuman yang ia paksakan, tapi berbeda dengan Vera, ia justru tetap pada tatapan dinginnya itu.


"Terus kenapa ibu mau saja saat dia nembak ibu jadi pacarnya?" Tanyanya datar tapi penuh selidik. Sedang Tyas yang tak tahu menahu lantas terkejut dengan keningnya yang mengerut. Apa maksudnya lagi ini?!


Tyas bingung dan masih mencerna maksud dari ucapan dokter Vera tersebut. Apa, pacar? nembak? aku, dokter Ridwan?? tak mungkin! lantas siapa yang sudah menyebar gosip ini?!


"Hah?? maksudnya dok?" Masih dengan sorot bingung, Tyas mencoba untuk tetap baik baik saja walaupun dalam pikirannya sudah menandakan kegelisahan, dan juga penuh dengan rentetan pertanyaan.


Bisa terlihat dokter Vera tertawa kecil mendengar responku, tetapi sesaat kemudian tawanya hilang diganti dengan wajahnya yang berubah kesal.


"Tak usah berpura pura lagi deh Bu Tyas, saya sudah tahu semuanya. Kemarin dokter Ridwan nembak ibu kan di ruangan ibu. Dengan berbekalkan rasa cinta ibu terima gitu aja perasaannya, dan mengesampingkan saya yang masih sah jadi pacarnya. Padahal ibu tahu itu, tapi ibu lebih memilih tak mau tahu, bahkan Ridwan dengan gentle nya mengakui semua itu ke saya, tanpa rasa malu dia bilang cinta ke ibu. Masa sekarang giliran ibu Bu Tyas gak mau mengakuinya sih. Saya gak nyangka kalian bisa Setega ini sama saya." Semakin terkejut dan tak dapat berkata kata, Tyas yang semula telah terkejut kini bertambah terkejut manakala mendengar penuturan dokter Vera tersebut. Walaupun Tyas tak menangkap adanya kebohongan di matanya. Tapi itu sama sekali tidaklah benar, bahkan sampai membuat dokter Vera salah paham seperti ini, sungguh ini sama sekali tak terpikirkan olehnya sebelumnya.


"Bu ini tidaklah benar.." Disaat Tyas belum menyelesaikan ucapannya tiba tiba terdengarlah pintu dibuka dari luar, dan sesaat kemudian nampaklah dokter Ridwan masih dengan seragam dokternya. Ia nampak tersentak manakala mendapati adanya Tyas di ruangan milik Vera. Apalagi keduanya yang nampak bersitegang. Tapi Ridwan yang tak mau ambil pusing langsung masuk begitu saja, lantas sesampainya ia di antara kedua perempuan itu, Tanpa diduga tiba tiba Ridwan menarik lengan Tyas lalu berjalan keluar dari ruangan Vera tersebut. Tyas yang masih tak percaya hanya bisa terbengong dengan perlakuan tiba tiba dokter Ridwan tersebut.

__ADS_1


Tapi Vera yang melihat itu lantas semakin kesal. Ia sempat tersentak dengan perlakuan tiba tiba dari kekasihnya itu pada Tyas. Bahkan ia tak menganggapnya sama sekali. Sungguh melihatnya seperti itu, Vera takkan membiarkannya begitu saja. wajahnya sudah sangat memerah, dan darahnya mulai mendidih. Dengan sekejap ia langsung melempar segala yang ada di atas mejanya begitu saja. Bahkan ruangannya nampak berantakan saat ini. Tapi Vera tak perduli, ia masih berambisi tuk menghancurkan hubungan mereka seperti mereka yang telah menghancurkannya seperti ini.


Bersambung.


__ADS_2